Posts Tagged ‘nasi bungkus’

Catatan Harian Untuk Merapi (6)

28 Desember 2010

(46). Senyampang Merapi Istirahat

Senyampang Merapi lagi istirahat sehari tadi, distribusi bantuan jalan terus untuk lokasi Desa Madurejo, Prambanan. Dana kiriman teman kemarin saya konversi menjadi 100 nasi bungkus untuk makan siang. Tambahan 200 nasi bungkus juga dapat dikirim dari sumber lain. Sementara sorenya masih bisa dikirim 200 nasi bungkus lagi untuk makan malam. Sekedar meringankan ibuibu PKK yang kewalahan harus menyiapkan ransum untuk sekitar 2000 pengungsi.

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(47). Semuanya Mendesak

Hari ini saya menerima transfer dana dari rekan di Papua dan Jakarta. Rencananya besok akan saya belanjakan untuk kemudian disalurkan sesuai kebutuhan pengungsi. Beberapa koordinator Posko sudah saya hubungi dalam rangka menyurvei barang kebutuhan yang paling mendesak. Lha kok ternyata semuanya mendesak…? Waduh, piye iki… Harus cari dana tambahan dari sumber lain…. (Thanks untuk mas Didiek Subagyo dan mbak Anita S. Nitisastro).

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(48). Biarkan Menemukan Keseimbangannya

Isi perut ini kalau sudah kebelet mau keluar memang tidak dapat ditahan. Tak juga hujan badai atau acara kondangan. Jangan pernah menyalahkan perut, melainkan manage-lah perut ini dengan arif. Biarkan perut menemukan keseimbangannya. Itu manusiawi…

Maka, jangan pernah menyalahkan Merapi. Jangan ditahan kalau isi perut Merapi kebelet keluar sesuai kodratnya. Manage-lah Merapi dengan arif. Biarkan Merapi menemukan keseimbangannya. Itu gunungwi…

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(49). Kampungku Juga Kedatangan Pengungsi

Malam ini aku baru tahu rupanya di kampungku juga kedatangan pengungsi yang menempati GOR sekolah. Jumlahnya sekitar 50 orang, al. dari kecamatan Cangkringan, daerah terparah korban Merapi. Kusempatkan untuk menengoknya, nampak sudah tertangani dengan baik. Tapi tetap saja perlu dukungan bantuan jika mengingat ketidakjelasan sampai kapan mereka akan bertahan. Semakin lama bisa semakin membuat “frustrasi” kedua belah pihak, ya pengungsinya, ya pengelolanya.

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(50). Merapi Normal Dan Baik

Seorang teman dari luar kota tilpun dan bertanya: “Gimana Merapi, mas?”.

“Alhamdulillah, kondisi Merapi normal dan baik…”, jawabku. Lalu kulanjutkan…: “maksudku, normal aktif bererupsi, dan itu lebih baik ketimbang tidak ada apa-apa tahu-tahu terjadi letusan besar…”.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(51). Anak Wedok Jadi Relawan

Anak wedok “ikut-ikutan” menjadi relawan. Kemarin membantu ke posko pengungsian di kecamatan Kalasan, Sleman. Ada 1300 pengungsi yang akan menjadi tujuan saya untuk penyaluran bantuan. Ketika kutanya kebutuhan apa yang paling mendesak? Katanya: pakaian dalam, handuk, air mineral dalam galon, beras…

Tapi saking semangatnya, pesan yang ditulis adalah: “Cd sama bh pria wanita…”.
Ya, jelas kutanya: “Bh pria, adakah? Seperti apa…?”.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(52). Belanja Lima Karung Beras

Berhubung kendaraan angkutannya agak sakit, berobat dulu, maka baru siang ini sempat belanja dan ngedrop lima karung beras ke Posko pengungsian di desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman (ada 3000-an pengungsi di sana). Dapur umum yang dikelola ibu-ibu PKK itu sehari rata-rata memasak delapan kwintal beras

(Note: lima karung beras itu adalah alokasi dari sebagian dana bantuan yang saya terima, sisanya insya Allah masih akan saya salurkan menyusul)

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(53). Bahaya Lahar Dingin

Hujan terus mengguyur kawasan Jogja dan Merapi sejak siang, disertai kilat dan geledek. Udara akan menjadi bersih dari abu vulkanik, tapi AWAS bagi mereka yang tinggal di dekat-dekat aliran sungai yang berhulu di Merapi.

Untuk masyarakat kota Jogja, ancaman itu berada di sepanjang bantaran Kali Code. Potensi bahaya banjir lahar dingin bisa lebih besar dari banjir biasanya, sebab material lahar di seluas lereng Merapi akan kompak turun gunung rame-rame.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(54). Kurban Untuk Pengungsi

Sepekan lagi Hari Raya Kurban. Sebagian masyarakat muslim bersiap memilih kambing dan sapi untuk menjadi tunggangan “masa depan”. Tapi sebagian masyarakat lainnya sedang tak berdaya, juga hewan mereka lebih dulu tekapar oleh wedhus gembel.

Maka alangkah indahnya kalau para penerima daging kurban “langganan” selama ini, turut berkurban mengalihkan sebagian jatahnya kepada para pengungsi. Diberikan mentah atau matang, itu soal teknis. Yang pasti mereka berhak dan butuh…

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(55). Kesalehan Itu Masih Ada

Jogja pagi ini cerah sekali. Sejak dini hari tadi bintang berkelip di angkasa. Langitpun bersih tak berabu. Mengawali minggu ke-3 AWAS Merapi, tetap dengan KEWASPADAAN tinggi sambil menemani Merapi menanak magma. Pengungsi bertahan mengatasi kebosanan. Relawan terus berjuang mengabdi di bidangnya. Saatnya membuktikan bahwa kesalehan individual, sosial dan lingkungan masih ada. Sebab tak sia-sia semua itu tercipta (ma kholaqta hadza bathila)

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(56). Berkolaborasi Dengan Anak Wedok

Hari ini berkolaborasi dengan anak wedok belanja barang bantuan dan langsung mengirimnya. Setelah di-survey sebelumnya, maka segera menuju lokasi pengungsian Posko SMP I Kalasan ngedrop 12 lusin sandal jepit. Dilanjut ke Posko Balai Desa Madurejo, Prambanan, ngedrop 4 lusin handuk dan 80 lembar selimut. Sedang lima karung beras kemarin telah dikirim ke Posko Balai Desa Bokoharjo, Prambanan. (Thanks untuk mas Didiek, mbak Anita dan mas Budi Yuwono).

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(57). Kaos Relawan

Koordinator relawan yang berbasis di Balai Desa Madurejo, kecamatan Prambanan, Sleman, menghubungi saya minta diusahakan kaos seragam bertuliskan RELAWAN. Tujuannya untuk membedakan dengan orang-orang tidak jelas yang membantu-bantu.

“Ada pesan sponsornya nggak apa-apa pak”, katanya.
Wuah…, dan jawab saya: “Nggak janji ya pak, hanya kalau nanti ada yang bersedia menjadi sponsor…”. Lha jumlahnya 60 orang je…

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (9)

28 Desember 2010

(79). “Penggampangan Bahasa”

Mbah Merapi masih AWAS, tapi tadi malam Mbah Rono (Ketua PVMBG) mengubah status aman per wilayah kabupaten. Kalau semula sama pada radius 20 km dari puncak Merapi, kini: Boyolali 10 km, Magelang 15 km, Klaten 10, Sleman 20 km.

Ada yang salah? Ya, lagi-lagi soal “penggampangan bahasa” (alias: pokoke ngerti dhewe lah..). Status aman pada jarak 20 km dari Merapi, artinya pada area itulah yang aman. Padahal yang dimaksud adalah sebaliknya. Oh, bahasaku, bahasaku…

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

(80). Penanganan Pasca Bencana

Penanganan pasca bencana bagi korban Merapi akan jauh lebih rumit dibanding korban gempa Jogja 2006. Rehabilitasi korban gempa lebih ke infrastruktur dan fasilitas, seperti rumah-rumah yang roboh. Tapi rehabilitasi korban Merapi?

Ribuan hektar sawah ladang dan prasarana rusak. Mereka yang umumnya petani penggarap dan pemilik lahan harus mulai dari nol. Selama itu pula mereka tidak punya penghasilan. Dan ini rawan. Maka bagi pemerintah statusnya menjadi AWAS..!

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

(81). “Let’s Think and Do Something”

Masalah penanganan pasca bencana Merapi, Mentawai atau Wasior hampir sama… Sama-sama rumit. Membangkitkan kembali kehidupan ekonomi masyarakat yang telah terpuruk. Maka kepada rekan-rekan yang berbasis di LSM, kampus atau manapun, ajakannya adalah: “Let’s think about it and do something. They need you!”, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Setelah itu, monggo… kalau mau meneruskan mencak-mencak dan misuh-misuh lagi di depan istana…

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

 

(82). Abu Tipis Masih Mengotori

Jogja siang ini redup, mendung berawan, agaknya bersiap mau hujan. Merapi mengeluarkan awan panas. Lahar dingin sewaktu-waktu siap menggelontor ke kali Code. Abu tipis masih mengotori udara Jogja, tidak terlihat tapi nampak jelas menempel di mobil yang berwarna hitam. Ada baiknya lengkapi diri dengan masker jika Minggu ini hendak keluar rumah, kecuali kalau hujan… (bawa payung atau ponco maksudnya, karena airnya akan bercampur abu)

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

(83). Nasi Bungkus Untuk Berbuka

Sore tadi membantu persiapan sholat Ied dan ritual penyembelihan kurban di kampung untuk Hari Idul Adha besok. Tiba waktu maghrib, tiba waktu berbuka bagi mereka yang berpuasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah). Di masjid sudah tersedia segelas teh hangat dan sebungkus nasi Padang. Bukan pengungsi saja yang makan nasi bungkus rame-rame… Hanya bedanya, nasi bungkus yang saya makan bukan karena keterdesakan melainkan direncanakan. Ada “taste” yang beda…

(Yogyakarta, 15 Nopember 2010)

——-

(84). Berbekal Masker Di Malam Takbiran

Malam ini, sebagian besar masyarakat Jogja bermalam takbiran, menyongsong datangnya Idul Adha 1431H besok. Gaung suara takbir, tahmid, tahlil, membahana ke penjuru langit Jogja yang cukup cerah dan nampak bersih. Rembulan tanggal 10 Dzulhijjah 1431 melintas jelas di tengah angkasa… Tapi sebagian wilayah Jogja utara terjadi hujan abu tipis. Para pejalan malam dan pentakbir jalanan perlu waspada dengan berbekal masker, kecuali kambing-kambing dan sapi2-sapi…

(Yogyakarta, 15 Nopember 2010)

——-

(85). Happy Ending Sandiwara Merapi

Indah sekali cara Mbah Rono (Surono, Kepala PVMBG) menyikapi Merapi sejak status AWAS tiga minggu yll. Polah Gunung Merapi yang susah ditebak, tidak seperti biasanya, bagi Mbah Rono bagai sebuah permainan. Harus dipahami tidak dalam konteks meremehkan melainkan kearifan moral dalam bersikap.

Kata Mbah Rono: “Ingin happy ending dalam sandiwara Merapi ini…” — “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan sendau gurau…” (QS.47:36).

(Yogyakarta, 16 Nopember 2010)

——-

(86). Berkorban Di Kala Sempit

Berat nian derita para petani-peternak dari lereng Merapi. Rumahnya luluh-lantak, sawah-ladangnya porak-poranda, ternaknya gosong-terpanggang, tinggal jiwanya nglangut di pengungsian bersama anak dan ternak yang terbawa. Kini masih diimbuhi peluang yang luar biasa yang diberikan Tuhan kepada mereka, ketika dengan spirit Ibrahimnya memutuskan untuk “berkorban di kala sempit” dengan sapi-sapinya. Hanya jika mereka mengetahui…(dan kita boleh iri).

(Yogyakarta, 16 Nopember 2010)

——-

Batal Seminar

20 Desember 2010

Rencana mengisi seminar pagi ini, tentang berbahasa tulisan di dunia maya, dibatalkan. Kawasan tempat seminar (kampus UPN “Veteran” Yogyakarta) sedang disibukkan sebagai tempat pengungsian sejak memburuknya dampak letusan Merapi tadi malam. Simpan dulu file Powerpoint, diganti dengan penggalangan nasi bungkus…

Yogyakarta, 5 Nopember 2010
Yusuf Iskandar