Posts Tagged ‘muntilan’

Ke Sirahan Kami Kembali

9 Maret 2011

Kami kembali ke Sirahan setelah kunjungan awal beberapa waktu sebelumnya. Pada tanggal 25 Pebruari dan 5 Maret 2011 saya dan beberapa rekan mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang, dalam rangka mendistribusikan bantuan kepada dua buah sekolah TK dan sebuah SD. Bantuan ini merupakan titipan amanah dari para sahabat yang peduli dengan beban kesulitan yang dihadapi anak-anak di desa Sirahan.

Seperti biasa, selalu ada nuansa berbeda dalam setiap perjalanan saya yang ingin saya “dongengkan”. Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Semoga menjadi inspirasi…

***

Berbagi Dengan Anak-anak TK

(1)

Akhirnya kesampaian juga untuk membantu dua sekolah TK yang gedungnya satu hancur satunya lagi lenyap tak berbekas diangkut lahar dingin di desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang.

Alat tulis, mainan edukatif dsb. Jum’at yll (25/02/11) diserahkan ke TK Pertiwi dan TK Ibnu Hajjar. Kami disambut suka cita oleh para ibu guru TK (entah kenapa kok tidak pernah dengar ada pak guru TK, mungkin khawatir murid-muridnya diajari mbetulin genteng).

(2)

TK Pertiwi (25 murid) saat ini menumpang di salah satu rumah warga yang ditinggal mengungsi karena ancaman banjir lahar dingin kali Putih belum usai. Sekolahnya model lesehan seperti makan gudeg Malioboro.

Menurut Bu Atun sang kepala sekolah, pemilik rumah sudah memberitahu akan pulang menempati rumahnya. Jadi mereka harus pindah. “Tapi ya belum tahu mau pindah kemana?”, tutur bu Atun nglangut (menerawang jauh)…

(3)

Dari TK Pertiwi kami menuju TK Ibnu Hajjar (119 murid) yang kini terbagi di tiga lokasi sekolah darurat. Salah satunya menempati sebuah bangunan kosong milik warga di dusun Gudang Gedolon (warga suka menyebutnya nDolon saja), desa Sirahan. Model sekolahnya sama, lesehan.

Sama seperti TK Pertiwi, TK ini pun kini juga sedang menghimpun bantuan dari mana saja berupa apa saja, asal anak-anak tetap bisa tertangani pendidikannya.

(4)

Sempat menyaksikan sebuah kelas yang anak-anaknya belajar sambil duduk lesehan. Senang rasanya melihat anak-anak itu. Ceria sekali, seperti tidak peduli dengan serba daruratnya sarana belajar yang ada.

Tapi jangan salah. Kata bu guru Suryati: “Ketika cuaca berubah mendung gelap, anak-anak itu gelisah minta segera pulang…”. Rupanya trauma banjir lahar dingin yang telah menggondol sekolah mereka begitu membekas dalam pikiran anak-anak itu.

***

Kue nDeso Bolu Kelapa

(5)

Ada sembilan ibu guru TK Ibnu Hajjar (tidak ada pak guru) siang itu berseragam baju kaus warna biru-putih dan berkerudung menyambut kedatangan kami yang membawa bantuan untuk sekolah TK mereka.

Kami disuguh dengan penganan bolu kelapa. Tapi kok masih panas dan aromanya membuat tdk sabar ingin sgr mencicipi. Rupanya di belakang bangunan yg sementara digunakan untuk TK itu juga digunakan untuk usaha membuat penganan.

(6)

Bolu kelapa adalah penganan berbahan terigu seperti kue bolu kukus. Bedanya bolu kelapa ini terigunya dicampur dengn parutan kelapa yang sebelumnya sudah di-oven sehingga aroma kelapanya tajam merangsang, seperti kelapa yang dibakar untuk umpan tikus.

Itu baru aromanya. Rasanya? Hmmm, empat bolu bablass… “Usaha ini baru setahun”, kata ibu Bambang sang pengusaha yang juga tinggal di bangunan yang ditempati TK itu. Kini omsetnya terus meningkat.

(7)

Bolu kelapa… Kue bolu berbahan terigu bercampur parutan kelapa yang di-oven. Kue ndeso sederhana, dibuat dengan cara sederhana (siapapun mudah membuatnya, kalau mau), dijual dengan harga sederhana.

Tapi ribuan bolu kelapa berhamburan ke pasar-pasar dan warung-warung di sekitar Muntilan yang dapat dibeli dengan harga @Rp 500,- dengan merek DR (Doa Restu). Harga di pabriknya @Rp 400,- per biji.

***

Jum’atan Di Dusun nDolon

(8)

Menjelang tiba waktu dzuhur. TK Ibnu Hajjar, guru dan muridnya harus ditinggalkan sejenak untuk sholat Jum’at. Seorang bu guru menunjukkan jalan menuju masjid terdekat karena letaknya agak tersembunyi.

“Nurul Burhan”, nama masjidnya. Terlihat pak haji Furqon, takmir dan imam masjid, sedang duduk leyeh-leyeh seorang diri di selasar masjid. Waktu dzuhur sudah masuk, tapi masjid kecil itu kok sepi. “Jangan-jangan jum’atan di sini libur”, pikirku.

(9)

Kusalami pak haji Furqon. “Biasanya baru pada datang setelah bedug ditabuh”, kata pak haji tersenyum. Benar juga. Sesaat kemudian datang beberapa orang muda. Bedug ditabuh. 1-2 jama’ah mulai datang. Lalu adzan berkumandang.

Nuansa Islam tradisional kental terasa. Jum’atan dengan dua adzan, sang bilal banyak melagukan salawat, pak haji sebagai khatib sekaligus imam mencengkeram tongkat “komando” sebesar alu (alat tumbuk padi).

(10)

Khotbah Jum’at yang seluruhnya disampaikan dalam bahasa Jawa halus telah diselesaikan pak haji Furqon selaku khatib. Sholat Jum’at segera dimulai, pak haji Furqon pun siap di mimbar imam.

Tiba-tiba beliau membalikkan badan dan berkata: “Gus, Gus Yusuf, monggo…”, sambil tangannya mempersilakan. Aku menoleh ke kiri-kanan ingin tahu siapa yang diajak bicara. Astaghfirullah, rupanya ucapan itu ditujukan kepadaku.

(11)

Pak haji Furqon mempersilakanku menjadi imam. Aku memang agak kaget, tidak menyangka tiba-tiba dipersilakan seperti itu. “Monggo pak…”, jawabku balas mempersilakan sambil mengarahkan jempolku.

Bukan aku tidak mau atau tidak bisa, kalau aku menolak. Bukan juga karena aku hanya mengenakan celana blue-jeans belel dan T-shirt. Melainkan karena beliaulah sebenarnya orang yang paling pantas untuk mengemban tugas menjadi imam pada Jum’at siang itu.

(12)

Alasanku terbukti benar. Di usianya yang sudah lebih 70 tahun, pak haji Furqon ternyata masih mampu melantunkan surat Al-Fatihan dan Al-A’laa dengan makhroj dan tajwid yang jelas dan bersih.

Aku dibuatnya terkagum. Tidak banyak orang tua seusia beliau mampu melakukannya. Namun lebih dari semua itu, adalah kerendahan hatinya sehingga merasa perlu mempersilakan jamaah “barunya” di masjid yang memang jarang kedatangan “tamu” itu.

(13)

Usai jum’atan, kupamiti pak haji Furqon yang wajahnya tampak selalu tersenyum ramah dan kusalami dengan hangat. Subhanallah.., sungguh sepenggal pengalaman yang seharusnya dapat kupetik hikmahnya.

Pak haji Furqon mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah kami berikan. Aku tertegun sejenak. Apa “urusan” haji Furqon berterima kasih untuk bantuan kepada sekolah TK yang hanya numpang di situ… Sebuah kearifan yang sulit dijelaskan.

***

“Lahardi”

(14)

Sebelum kembali ke Jogja, kami sempatkan menengok seorg guru TK Pertiwi yang malam sebelumnya melahirkan anak pertamanya di RSIA Muntilan. Sekedar ingin memberi surprise kepada bu guru yang ketika hamil tua sempat menyaksikan detik-detik menegangkan bagaimana TK-nya dilabrak banjir lahar lalu lenyap.

Seorang teman usul agar bayi laki-laki bu guyu (sengaja pakai ‘y‘) Watik ini diberi nama “Lahardi” (agar selalu ingat dengan lahar dingin).

***

Entok Goreng “Pondok Rahayu” Muntilan

(15)

Agenda terakhir Jum’at siang itu adalah makan siang (ini juga bagian penting). Bagaimanapun juga harus makan, maka dipilihlah “Pondok Rahayu” di pojok Jl. KH A. Dahlan, Muntilan, Magelang.

Menu unggulannya bebek dan ayam kampong, tapi juga ada entok dan kalkun. Bakar atau goreng dengan sambal goreng atau sambal kosek. Dan, pilihanku adalah…entok goreng, yang dagingnya empuk, tekstur seratnya nyaman dikunyah, dan hmmm…

(16)

Tahun 1992 bu Rahayu memulai membuka usaha jualan menu ayam kampung dan bebek. Warungnya kecil dan bertahan di tempatnya yang sekarang dengan judul “Pondok Rahayu”.

Taste-nya tidak diragukan lagi. Terbukti bertahan hingga dua dekade, malah semakin kondang dan diburu pelanggannya. Bahkan sekarang bu Rahayu memiliki armada untuk melayani pesan-antar. Sampai sekarang belum buka cabang, walau niat itu ada.

(17)

Daging entok dan bebek dimasak sedemikian ahlinya sehingga tidak terasa amis (anyir), melainkan pas benar taste-nya. Tadinya mau nyoba kalkun, tapi rupanya harus pesan lebih dahulu mengingat besarnya (seperti kalkun yang disusupi kepalanya Mr. Bean yang dagingnya cukup untuk 25 porsi normal, kecuali yang makannya tidak normal…).

Rahasianya? “Nggih namung sabar…” (ya cuma sabar saja), katanya. Maksudnya, sabar memproses sesuai kebutuhan.

***

Anak-anak, Seragam Dan Semangatnya

(18)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan 1 itu sudah menunggu kedatanganku di teras “sekolah”, bersama para ibu guru dan muridnya. Saya datang mengantar bantuan berupa pakaian seragam pramuka untuk 84 muridnya (sumbangan dari seorang rekan di Jogja yang tidak mau disebut namanya).

Seragam (tepatnya baju sekolah) itu mereka butuhkan, apalagi bagi mereka yang rumah seisinya telah diangkut banjir lahar.

(19)

SDN Sirahan 1, di kecamatan Salam, Magelang, bagian depannya tertutup pasir lahar Merapi, ruang kantornya morat-marit diacak-acak banjir lahar luapan dari kali Putih. Warga yang kebanyakan wali murid, belum mengijinkan sekolah beroperasi mengingat ancaman bahaya banjir lahar masih belum sirna.

Sementara “sekolah” yang ditempati sekarang sebenarnya adalah beberapa rumah warga dusun Purwosari, desa Sirahan, yang ditinggal mengungsi pemiliknya.

(20)

Kabarnya pemilik rumah yang sekarang difungsikan untuk sekolah itu kini bersiap pulang karena jenuh tinggal di pengungsian. Karuan saja para gurunya harus berpikir keras. Ketika kutanya: “Terus belajarnya nanti gimana pak?”. “Ya gimana nanti saja…”, jawab pak Katam pasrah sambil tersenyum (susah lho, pasrah tapi tersenyum…).

Nanti gimana atau gimana nanti? Tergantung pilihannya, kekhawatiran atau ketenangan perasaan..

(21)

Namanya juga anak-anak… Tiap hari hanya bermain di pengungsian membuat ortu dan gurunya bingung. Terpaksa diusahakan angkutan antar-jemput siswa ke/dari “sekolah” barunya.

Setiap minggu sekolah harus menyediakan biaya Rp 240 ribu untuk sewa kendaraan. Entah sampai kapan. Bukan jumlah yang sedikit dalam situasi darurat. Tapi anak-anak gembira berdesakan naik mobil bak terbuka setiap hari. Dan, semangat anak-anak itu masih ada, juga gurunya…

Yogyakarta, 27-28 Pebruari dan 5 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Sawah Pun Hilang, Sawah Pun Kekurangan Air

3 Maret 2011

Pada tanggal 16 Pebruari 2011 saya sempat numpang lewat ke desa Gondosuli, kecamatan Muntilan, Magelang. Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Semoga menjadi inspirasi…

***

Sungai Pabelan di wilayah desa Gondosuli, kecamatan Muntilan, yang semula lebarnya hanya sekitar 10-15 meter, kini menjadi puluhan meter akibat aliran lahar dingin yang memakan areal persawahan di sepanjang bantaran sungai.

(1)

Sungai Putih telah menghancurkan desa Jumoyo dan Sirahan di wilayah kecamatan Salam dengan banjir lahar dingin yang membawa pasir dan batu.

Di sebelah utaranya, rupanya sungai Pabelan juga tidak mau kalah merusak dusun Sudimoro, desa Adikarto, kecamatan Muntilan, juga kawasan persawahan di sepanjang bantaran sungai… Di desa Gondosuli, kecamatan Muntilan, puluhan hektar sawah yang membentang di sepanjang tepi sungai Pabelan kini musnah.

(2)

Desa Gondosuli kini juga kesulitan air. Tong-tong plastik biru bantuan PMI tampak banyak tergeletak di depan rumah warga. Hampir setiap hari tong-tong plastik itu diisi air oleh mobil pensuplai air. Tentu saja hanya cukup untuk kebutuhan pokok harian. Sedang untuk sawah-ladang tetap harus bergantung kepada kemurahan alam yang membagikan hujan. Di satu sisi sawah-ladang kering, di sisi lain sawah di dekat sungai telah lenyap diterjang banjir lahar. ‎

(3)

Banyak kawasan korban bencana yang hingga kini masih mengalami masalah kesulitan air bersih. Memasuki musim kemarau, pertanian mereka makin terpuruk karena hujan berkurang.

Kebutuhan air bersih harian terus bergantung kepada mobil pemasok air (yang dikelola pemerintah maupun LSM), yang pasti kemampuannya tidak tak terbatas. Memperbaiki infrastruktur air bersih maupun irigasi? Nah, ini yang saya dan lebih-lebih masyarakat hanya bisa berdoa…

Yogyakarta, 19 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Candi Asu Sengi

3 Maret 2011

Candi ini benar-benar Candi Asu…, di desa Sengi, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang. Lokasinya berada sekitar 12 km arah timur dari kota Muntilan.

Yogyakarta, 17 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Catatan Harian Untuk Merapi (8)

28 Desember 2010

(69). Ketika Sawah Ladang Rusak Dan Ekonomi Lumpuh

Dusun Pepe, Muntilan, berada pada Ring 22 Km, sedikit di luar “zona merah”. Sebagian warganya masih bertahan sejak letusan besar Merapi (5/11). Mereka memilih tidak mengungsi dan memang tidak harus mengungsi. Walau dekat situ ada posko pengungsian Van Lith, apa bedanya dengan tetap tinggal di rumah. Tapi masalahnya, karena sebagian besar dari mereka adalah buruh harian dan petani, maka tidak ada yang dapat mereka perbuat. Sedang semua sawah ladang rusak, aktifitas ekonomi lumpuh.

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(70). Ke Dusun Pepe Muntilan

Kemarin saya menerima transfer sejumlah dana dari Papua. Maka hari ini saya kirimkan enam karung beras (150 kg) dan satu karung gula pasir (50 kg) ke dusun Pepe, Muntilan. Sekitar 90 KK kini termangu-mangu di rumahnya. Tidak ada yang dapat mereka kerjakan untuk mengais upah, selain membersihkan abu tebal yang mengotori rumahnya. Beberapa rumah roboh karena tidak kuat menahan beban gumpalan tebal abu vulkanik, apalagi ketika basah kena hujan (Terima kasih untuk mas Anto Kadyanto).

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(71). Mengais Sisa Padi

Mbok Yanti gusar. Padinya yang sudah menguning siap dipanen itu rupanya bukan rejekinya. Abu vulkanik yang seperti tiada jeda menghambur sejak letusan besar Merapi (5/11) telah memupus harapannya. Hari-hari ini, janda beranak empat itu dengan dibantu seorang anaknya berusaha mengais, memilih dan memilah sisa padinya yang hancur rata dengan lumpur sawah. Batang padi yang masih bagus dipotong lalu dikeringkan seraya berharap masih ada beras dapat diperoleh, seadanya.

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(72). Korban Merapi Non-Pengungsi

Korban Merapi Non-Pengungsi… Mereka tinggal di sekitar kawasan batas Ring 20 Km. Mereka tidak harus mengungsi, tapi praktis tidak banyak yang dapat dikerjakan. Sebagian mereka adalah buruh harian (tani/bangunan/pasar/jasa). Tidak ada aktifitas bertani, bahkan sawah-ladang rusak. Tidak ada aktifitas usaha/ekonomi. Maka tidak ada juga penghasilan harian. Mereka nyaris tak tersentuh bantuan, berbeda dengan pengungsi yang jelas-jelas meninggalkan rumahnya dan full bantuan…

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(73). Menjelang Kota Muntilan

Menjelang masuk kota Muntilan dari arah Jogja, hamparan abu vulkanik tampak di sepanjang jalan. Sebagian sudah dibersihkan, sebab jika tidak, saat hujan akan menjadi licin. Namun gumpalan abu yang melekat di aspal masih tebal di setengah bagian luar dan tengah-tengah jalan. Saat kering, abu berhamburan nyaris tak menyisakan jarak pandang.

Maka bagi para sopir, jangan lupa nyalakan lampu dan kurangi kecepatan. Hati-hatilah, masih ada abu vulkanik yang akan lewat…

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(74). Masih Ada Peluang “Berbisnis”

Malam ini saya menerima SMS dari dusun Pepe, Muntilan, mengabarkan bahwa bantuan yang tadi siang sedang didistribusikan dibagi dalam paket-paket untuk 88 KK prioritas yang dipandang membutuhkan (dari sekitar 150 KK yang ada di sana). Tidak lama kemudian Pak RW-nya juga tilpun.

Tertangkap kesan betapa mereka sangat membutuhkan dan karena itu juga sangat berterima kasih. Masih ada kesempatan dan peluang “berbisnis” dengan pengungsi atau korban yang lain…

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

(75). Merapi Sedang Leyeh-leyeh

Sejak siang tadi hingga malam ini sebagian kota Jogja seperti dikepyuri (ditaburi) hujan abu tipis. Entah datang darimana kalau mengingat Merapi sedang leyeh-leyeh seharian ini. Semakin ke arah utara semakin terasa. Memang tidak terlalu tampak dipandang mata, tapi dapat dirasakan. Ada baiknya gunakan masker ketika bepergian keluar. …Jika tidak, jangan kaget kalau tahu-tahu rambut terasa kotor dan pernafasan agak sesak.

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

(76). Menyusuri Dusun Pepe Muntilan

Tengah hari, berjalan menyusuri dusun Pepe, Muntilan. Pepohonan tampak berwarna keabu-abuan. Sebagian besar dahannya patah tak mampu menahan beratnya gumpalan abu vulkanik yang melekat. Nyaris semua rusak dan hancur, padi di sawah yang berteras, kebun salak, cabe, tomat, terung, bahkan daun kelapa pun lunglai tak kuasa menahan beban. Kebetulan sedang tidak hujan abu, tapi saat angin bertiup kencang, kepala seperti diguyur debu yang rontok dari pohon.

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(77). Datanglah Ke Jogja

“Merapi mengancam, Muntilan mencekam”… Itu bahasa televisi. Berita itu tidak salah. Merapi sejak jaman nabi Adam ya begitu itu. Muntilan mencekam pada satu kawasan saat malam Jum’at, listrik mati, langit mendung, ada petir, hujan abu, terdengar suara gemuruh, sepi tidak ada orang lewat, perut lapar… Padahal tidak seluas Muntilan seperti itu.

Maka kalau ingin menikmati rasa takut, tontonlah TV. Tapi kalau ingin menikmati Merapi, datanglah ke Jogja.

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

(78). Ketika Tenggorokan Terasa Serak

Tenggorokan kok terasa agak serak-serak gitu… Sepertinya ada abu vulkanik yang singgah di sana. Obatnya? Mampir ke angkringan-nya kang Umar di Bintaran Kulon Jogja, beli teh jahe… Sembuh? Siapa bilang…, cuma rasa abu berganti dengan rasa jahe, sedang abunya ya tetap di sana…

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (11)

28 Desember 2010

(94). Pe-er Besar Menghadang

Pertengahan minggu keempat sejak Merapi meletus pertama kali (26/10), cuaca Jogja hari ini cerah. Debu, yaa… masih ada dikitlah... Mbah Merapi ingin istirahat. Erupsi menurun. Berharap ancaman letusan segera usai. Konsekuensinya, ancaman banjir lahar dingin masih berstatus AWAS. Di balik semua itu ada timbunan rejeki dari pasir. Tinggal para korban langsung, baik yang mengungsi maupun yang tidak, lha ini dia pe-er besarnya…

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(95). Ayo Balik Jogja

Anyway…, sinaoso mekaten… Jogja aman! Jogja bangkit! Jogja bersemangat! Insya Allah… AYO BALIK JOGJA…!

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(96). Bantuan Hasil Saweran

Hasil saweran dari rekan-rekan pensiunan Freeport, dapat dibelanjakan beras, gula, mie instant, dkk. Sore tadi langsung dikirim ke lingkungan dusun Pepe, kecamatan Muntilan, yang sebagian besar warganya adalah buruh harian lepas. Sebagian bantuan lagi diarahkan ke dusun Bandung, kecamatan Dukun, yang berada di lereng baratdaya Merapi (di radius 7 km dari puncak). Karena sudah terlalu sore dan mendung, terpaksa minta mereka untuk mengambilnya sendiri. Tatuuut…

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(97). Bakmi “Mbah Dhumuk” Sleman

Hari sudah petang ketika pulang dari mengirim bantuan ke Muntilan. Kepingin mengisi perut dengan menu beda, terpilihlah mie rebus (mie jawa) warung “Mbah Dhumuk”, di Jl. Magelang Km-12, Sleman. Mbah Dhumuk yang sudah malang-melintang di dunia perbakmian sejak lebih setengah abad yll, kini sudah tiada dan anak-anaknya meneruskan usaha itu. Taste-nya agak beda dan lumayan enak. Pantesan selalu ramai. Cuma waktu tunggunya itu lho… Loamaaa banget…

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(98). Cerita Tentang Sebuah Batu Besar

Sebuah batu sebesar sapi kurban nongkrong magrong-magrong di tengah jembatan sungai Tlising sehingga menghalangi jalur evakuasi di desa Paten, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang. Batu itu mau nyebrang ke atas jembatan karena sungai di bawahnya penuh dengan material lahar dingin Merapi hingga meluber.

Saya tanyakan kepada salah seorang warga: “Kenapa batunya tidak digelindingkan saja agar tidak menghalangi jalan”.
Jawabnya serius: “Belum boleh sama Mbah Merapi…”.

(Yogyakarta, 20 Nopember 2010)

——-

(99). Masih Ada Satu Letusan Lagi

Radius bahaya Merapi sudah dipersempit. Sebagian warga memang berangsur meninggalkan pengungsian. Tapi kaum bapak di dusun Bandung, desa Paten, kecamatan Dukun, Magelang, masih berjaga-jaga seperti mau perang gerilya, di dusunnya yang berada pada radius 7 km dari puncak dan belum mau membawa keluarga pulang dari pengungsian.

“Kenapa pak?”, tanyaku pada salah seorang yang dituakan.
“Kami merasa masih ada satu letusan lagi”, jawabnya serius. Waduh…! Blaik…!

(Yogyakarta, 20 Nopember 2010)

——-

(100). Sejenak Menghirup Hawa Segar

Hanya Merapi yang tak pernah ingkar janji… Tidak Merpati, tidak juga Turangga Jogja-Bandung ingkar janji. Katanya 7 jam, malah diimbuhi jadi 8 jam. Abu vulkanik dan pengungsi Merapi sementara kutinggalkan dulu sejenak untuk menghirup hawa segar Bandung… Huuuaah…!

(Yogyakarta, 20 Nopember 2010)

——-

(101) . Bandung Dan Bandung

Warga kampungku di Kalangan, Umbulharjo, Jogja, mengumpulkan dana untuk dibelikan sembako plus plus. Ingin disalurkan langsung kepada korban Merapi yang benar-benar membutuhkan. Lokasi yang dituju berada di lereng baratdaya Merapi di wilayah kab. Magelang.

Hari ini rombongan kampungku berangkat menuju dusun Bandung. Saya sendiri tidak bisa gabung karena sedang dalam perjalanan pulang dari kota Bandung… (Sebuah kebetulan belaka kalau namanya sama).

(Yogyakarta, 21 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (15)

28 Desember 2010

(123). Mencari Daun Pisang Untuk Sapi

Sore mendung di dusun Babadan, Magelang, seorang ibu berjalan letih menggendong daun pisang dengan selendang lusuhnya.

Kutanya: “Untuk apa bu?”.
Dijawab: “Ngge nedo sapi..(untuk makan sapi)”.

Ya, sapi2-sapi tetap harus makan, sedang rumput tak lagi hijau setelah didera abu vulkanik panas. Ketela dan hati batang pisang adalah alternatifnya. Tapi sungguh itu bukan pilihan…, bagi si ibu harus mencari daun pisang, tak juga bagi para sapi yang terpaksa memakannya.

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(124). Ikan Wader RM “Purnama” Muntilan

Sore pulang dari Sawangan, teringat belum makan siang. RM “Purnama” di Muntilan, menjadi tujuan. Ini jenis warung pojok yang dulu suka jadi ampiran sopir-sopir truk pasir, tapi kini menjadi jujukan penggemar kuliner. Ikan wader, terkenalnya. Dengan tagline: “Spesial mangut lele, ikan tawar”.

Wow…taste ndeso-nya khas skali. Yang harus dilakukan: Datang, pesan (pilih sendiri), dilayani, dihitung, duduk, makan, mbayar.. (Jangan lupa yang terakhir!).

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(125). Genset Untuk Mushola

Pulang dari Sawangan kemarin, ngirim 3 genset untuk 3 mushola berbeda (amanah dari Himpunan Masyarakat Muslim di Papua). Salah satunya diterimakan melalui seorang teman di dusun Pancoh, desa Girikerto, kecamatan Turi, Sleman, yang berada di radius 12 km selatan Merapi.

Masyarakat sudah pada pulang dari pengungsian. Banyak kebun salak pondoh di sana, tapi sebagian rusak, buahnya jadi abu-abu tersaput abu Merapi. Ternak sebagian mati karena tak terurus selama ditinggal mengungsi.

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(126). Tak Lagi Cantik Alami

Bagi sebagian masyarakat yang kebun salaknya tidak terlalu rusak (kalau yang rusak nggak ada lagi yang dapat diceritakan…), harga salaknya bisa jatuh, karena buahnya kotor oleh abu Merapi yang melekat di kulitnya.

“Mengapa demikian?”.

Jawabnya: “Buah salaknya tidak cantik lagi..”.

Jawaban bernada canda ini ada benarnya, karena buah salak harus dicuci dulu sebelum dijual. Itu berarti bersih dan cantiknya buah salak tidak lagi alami. Hmm…, yang cantik alami memang lebih mahal…

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(127). Awas Kolesterol

Teman yang tinggal di Girikerto itu selain punya kebun salak juga ternak burung puyuh. Selama ditinggal mengungsi setengah puyuhnya yang jumlahnya ribuan itu mati, tidak terurus pakannya. Sedang sisanya yang masih hidup pada stress tidak mau bertelur. Kasus ternak mati tidak terurus ini terjadi di banyak lokasi.

Meski begitu toh teman saya itu masih nyangoni kami dengan sekotak salak dan telur puyuh. Mengingat telur puyuh, maka statusku jadi seperti Merapi, AWAS kolesterol..!

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(128). Merapi Tenang Tapi Waspada Harus

Hari ini, sebulan sudah sejak letusan pertama Merapi (26/10). Malam ini, memasuki minggu keempat sejak letusan besar Jumat dini hari (5/11). Merapi tenang tiga hari ini dibanding hari-hari sebelumnya. Berharap Mbah Merapi pun sedang khusyuk bersujud kepada Sang Penciptanya menyambut malam hari raya Jum’at. Kemudian teruslah beristirahat panjang dalam kedamaian dan ketenangan…

Walau begitu, warga Jogja dan seputaran Merapi tetap harus WASPADA dan jangan lengah..!

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(129). Disambut Di Dusun Ngaglik, Sawangan

Warga dusun Ngaglik, desa Soronalan, kecamatan Sawangan, Magelang, yang hanya 25 KK, siang tadi nampak begitu antusias menyambut kedatanganku. Para bapak-ibunya menyalamiku. Aku jadi rada kikuk. Sebagian lalu ikut nimbrung saat aku ngobrol dengan Kepala Dusun, setelah menurunkan bantuan yang “tidak seberapa” itu.

Rupanya itulah pertama kali ada bantuan masuk ke dusunnya yang memang tidak mudah dicapai, sejak letusan besar Merapi 3 minggu yll.

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(130). Sekedar Penyambung Hidup

Saweran yang kuterima tiga hari yll akhirnya kusalurkan ke dusun Ngaglik, dari rencana semula ke dusun Soronalan. Ngaglik berada sekitar 1 km lebih jauh dan lebih atas dari Soronalan. Kondisi masyarakat di kedua pedusunan itu sama-sama lumpuh akibat letusan merapi.

Beras, mie instan, kecap dan sarden, yang kukirim tadi siang, hanya sekedar penyambung hidup… (Trims untuk pak Probo Jatmiko, bu Nuning dan seseorang yang tidak mau disebut namanya).

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(131). Tak Ada Lagi Kelapa Dideres

Mata pencaharian utama warga Ngaglik adalah penderes nira dari pohon kelapa untuk dibuat gula jawa dan pembuat keranjang bambu untuk wadah sayur. Kini pohon kelapa rusak oleh abu Merapi. Tak ada lagi yang dapat dideres. Perlu waktu berbulan-bulan menunggu agar pohon kelapa dapat dideres kembali.

Begitu pun, tanaman sayuran hancur juga oleh abu Merapi. Tak ada lagi yang membutuhkan keranjang. Sedang memulai bertani bukanlah pekerjaan mudah. Lalu harus ngapain…?

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(132). Sebuah Kearifan Yang Begitu Indah

Ketika abu Merapi berhamburan, semua tanaman hancur, ternak mati, masyarakat kehilangan pencaharian dan penghasilan, beras tak terbeli, bantuan tak kunjung tiba…

Ada warga yang masih punya simpanan padi, jagung, singkong. Maka saling berbagilah mereka, senasib-sepenanggungan, guyub rukun tanpa hitungan laba-rugi, mangan ora mangan kumpul… Sebuah kearifan yang tak pantas disebandingkan dengan hiruk-pikuk di Jakarta tentang aneka kepentingan…

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (16)

28 Desember 2010

(133). Kepala Dusun Itu Seorang Wanita

Ada yang istimewa dengan dusun Ngaglik. Saat bertemu pak Parman yang sedang cari bantuan ke dusun tetangga, beliau ditemani istrinya yang cantik berkerudung warna cerah. Relawan “ndeso” itu membawa istrinya untuk urusan yang lebih perlu kegesitan seorang pria.

Ketika kemarin pak Parman saya panggil pak Kadus (Kepala Dusun), pak Parman berkata: “Yang Kepala Dusun sebenarnya istri saya pak”. Aha.., dan bu Parman adalah satu-satunya Kadus wanita di kawasan itu.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(134). Disuguh Singkong Rebus

Saat ngobrol-ngobrol tentang makan, saya disuguh bu Parman dengan teh panas dan singkong rebus. “Ya ini yang kami makan pak”, kata pak Parman ramah. Barangkali mereka memang sudah “terlatih” dengan keterbatasan hidup seperti saat ini, tapi tidak dengan ‘rasa’ kita.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan singkong, yang berkarbohidrat tinggi. Hanya saja, mereka makan singkong karena tidak punya pilihan. Sedang kita di tempat lain, makan singkong karena punya banyak pilihan untuk dimakan…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(135). Jum’atan Di Soronalan

Untuk sholat Jum’at, kemarin saya harus turun ke dusun Soronalan sekitar 1 km di bawah Ngaglik. Sengaja saya minta dibonceng sepeda motor. Kebiasaan masyarakat saat jalan menurun, matikan mesin dan motor pun njumbul-njumbul melewati jalan berbatu.

Masjid “Al-Huda” itu terisi sekitar 30 jamaah. Seseorang membisiki saya: “Kami perlu genset untuk masjid pak”.

Bersyukur, petang harinya saya bisa kirim SMS: “Genset sudah di Muntilan, tolong diambil” (Trims untuk HMM Papua).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(136). Serah Terima Bantuan Di Gubug makan “Mang Engking”

Pulang dari Ngaglik kemarin sore, ditunggu teman-teman di Gubug Makan “Mang Engking”, Jl. Soragan/Jl. Godean Jogja (pionir restoran spesial menu udang galah. Halah, udangnya ittuuu…).

Ada acara serah terima bantuan dari keluarga besar PT Freeport Indonesia melalui program “Freeport Peduli” untuk korban Merapi yang dipercayakan penyalurannya kepada Paguyuban mantan karyawan yang ada di Jogja. Wah, bakal kluyuran maneh ki… (siap-siap kluyuran lageee...).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(137). Pilpen Conggambul

Tengah hari, hujan lebat merata seantero Jogja. Nyopiri “boss” ke toko sambil nyetel RRI Jogja. Acaranya, “Pilpen-conggambul-tupon-tugu”. Woppo kuwi…? “Pilihan pendengar, keroncong, langgam, stambul”; dengan kata kunci: “satu pohon satu lagu”.

Elok tenan..! Masyarakat lereng Merapi akan menyukainya. Biar gunungnya lebih sejuk, seperti pantun seorang pendengarnya: Tuku terong simpen ning lemari es, lagu keroncong pancen mak nyesss…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(138). Status Awas Ex Pengungsi

Radius kawasan bahaya Merapi diturunkan sehingga sebagian pengungsi pun pulang ke rumah masing-masing. Selama di posko-posko pengungsian, hidupnya terjamin. Setelah pulang? Bantuan yang menumpuk itu ya ditinggal di posko-posko (entah siapa yang ngurus dan mau dikemanakan). Tinggal pengungsi dheleg-dheleg di kampungnya. Siapa yang perduli?

Pertanian hancur, ekonomi mandek, tidak ada penghasilan. Dan, ada ribuan ex pengungsi yang statusnya AWAS…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(139). Week-End Ke Jogja Mengirim Bantuan

Minggu lalu seorang sahabat week-end ke Jogja pingin menyalurkan bantuan. Bahkan bantuan diantar di tengah malam ke sebuah lokasi di Sawangan, Magelang. Sayang saya tidak bisa menemaninya. Ternyata sekarang mengirim lagi bantuan untuk perlengkapan sekolah. Bahkan bertanya lokasi mana lagi yang mendesak dibantu.

Uuuh.., senang sekali mendengar semangatnya, lebih senang lagi saya sempat memfasilitasi. Semoga Tuhan melimpahkan berkah untuk semuanya.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(140). “Datanglah Ke Jogja”

Pekan-pekan ini, logistik adalah kebutuhan mendesak bagi sebagian besar korban Merapi, terutama mereka yang baru kembali dari pengungsian dan non-pengungsi tapi terkena dampak langsung. Hari ini saya identifikasi ada empat lokasi terpisah yang layak untuk dibantu dan akan menjadi sasaran saya berikutnya.

Ingin saya ajak kepada siapa saja: “Datanglah ke Jogja, lalu kunjungi korban Merapi…”.

Sebuah perjalanan indah dan inspiratif akan Anda kenang sepanjang hayat…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-