Posts Tagged ‘mudik’

Gunakan Common Sense

12 September 2010

Bagi pemudik tujuan Jogja, perhatikan saat ketemu traffic light karena banyak lampu hijaunya yang menyala cuma sak nyuk-an (sebentar saja), sekitar 10-15 (detik). Jadi bagi pemudik tipe tidak sabaran yang hobinya membunyikan klakson, siap-siap bermain adrenalin menyerobot jalan. Jika hal itu terpaksa harus dilakukan, maka gunakanlah common sense dan lakukan dengan sopan, baik, benar, aman, tidak merugikan orang lain, serta jangan sampai ketangkap polisi…

Yogyakarta, 9 September 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Antara Sholat Dan Olahraga

3 Maret 2010

Seorang teman bertanya, di usia nyaris gocap kok masih mampu (+ nekat) mendaki gunung: “Olahraganya apa pak?”. Jawabku: “Sholat”.

Maka bagi orang muslim pemalas olahraga dan belum punya alasan untuk apa sholat, coba lakukan sholat dan niatkan untuk olahraga. Setelah bisa menikmati setiap gerakan jungkar-jungkir dari ‘olahraga’ itu, ubahlah niatnya menjadi beribadah kepada Allah. Itulah jalur alternatif mudik ketika jalur utama macet.

Beberapa komentar di Facebook :

Slamet Abu Farros – Yogyakarta:
Sholat sama olahraga dalilnya beda lho om

Catatan saya:
Kang Slamet: Sampeyan 100% benar. Ini memang bahasanya ‘tukang kompor’. Jangn lalu disimpulkan “aku sudah sholat jadi nggak perlu olahraga”, atau “aku mau olahraga dulu sajalah, sholatnya nanti saja”…
Untuk mendaki gunung saya pun perlu persiapan fisik yang luar biasa, meski sudah sholat

***

‘Olahraga’ sholat..? Yang wajib 17 rakaat. Yang sunnah (katakanlah) 23 rakaat (rawatib/tahajud/witir/dhuha) & asumsikan hanya bisa 35%-nya. Bulatkan total rata-ata 25 rakaat/hari.

Bayangkan, ‘jungkar-jungkir-gedebug’ 25 kali tiap hari, pagi-siang-sore-malam. Rasakan dan nikmati sensasi tiap gerakan persendian dan posisinya, bernafas dengan santai. Wow, …garansi! Tidak terbukti, sholatlah kembali. Atau kalau mau, boleh juga minta disholati…

Beberapa komentar di Facebook :

Rita Punto – Jakarta:
Nggak bisa dibayangkan pak.. Buktinya banyak kok yang bela-belain mangkir dari keasyikkan ini..

Lelly Iriantho – Bandung:
Jangankan yang sunnat yang wajib aja sering ditinggal pa ?

Bambang Sidharta – Riau:
Saatnya beranjak ke pemahaman lebih tinggi, tidak hanya ibadah dengan gerakan fisik/ritual belaka (maklum banyak dugaan nabi yang shalat dan puasa yang didapat hanya letih dan lelah saja).. Beranjak ke ibadah dengan menggunakan hati, kesadaran jiwa, kesadaran ruh dan terus meningkat.. Shalat sebagaimana Nabi shalat bisa ditiru, namun kondisi hati dan bathin nabi dalam ibadahnya yang belum bisa ditiru ummat..

Catatan saya:
Very good discussion. Tentu saja status saya ini jangan lalu diterjemahkn secara harafiah, melainkan “sholatlah, maka kalian akan sehat (jasmani-wal-rohani)”. Hayuuuk…

Yogyakarta, 2 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Jika Harus Mudik : Berhati-hatilah…!

27 September 2008

Mudik lagi…, mudik lagi…

Semakin tahun, perjalanan mudik sebagai agenda tahunan masyarakat Indonesia di seputar hari lebaran, sepertinya semakin meriah, padat, rumit, berbiaya tinggi, tidak aman dan bahkan belakangan cenderung tidak rasional.

Maka jika tetap harus menempuh perjalanan mudik : “Berhati-hati dan waspadalah…..!”.

Ini bukan lagi soal hari raya orang muslim atau non-muslim. Juga bukan soal ketaatan beribadah. Belakangan maknanya malah cenderung tidak melulu soal silaturrahim dengan sanak keluarga. Melainkan soal mnempuh perjalanan untuk pulang kampung. Maka hajatan tahunan masyarakat Indonesia itu pun berulang kembali.

Sekian tahun yang lalu, mudik identik dengan berebut naik angkutan umum, kereta api dan kapal laut. Lalu, seiring dengan tingkat kemakmuran masyarakat, bertambah menjadi berebut naik pesawat terbang dan kendaraan pribadi. Nah, beberapa tahun terakhir ini semakin mencengangkan dengan berbondong-bondong naik sepeda motor. Seperti tidak peduli berapa kilometer jarak harus dijalani dan berapa jam perjalanan harus ditempuh. Maka, faktor keselamatan (safety) di perjalanan nampak semakin memprihatinkan, nggegirisi dan nyaris terabaikan.

Infrastruktur perhubungan dan perjalanan nampaknya tidak bisa mengikuti pesatnya hajatan tahunan ini, sehingga para pengguna jalan dan sarana transportasi yang berniat mudik pun harus siap berhadapan dengan segala resiko atas keterbatasan infrastruktur itu. Ugh….., sungguh berat dan penuh resiko….  Tapi ya tetap harus mudik, begitu yang terpikir oleh para pemudik.

Selamat menempuh perjalanan mudik. Senantiasa berhati-hati dan waspada. Jangan lupa melakukan persiapan yang semestinya. Berdoa dan terus berdoa, agar selamat sampai tujuan dan kembali dari perjalanan melelahkan.

Semoga pesta Ramadhan 1429 H dapat disempurnakan, agar bisa meraih nilai kemenangan yang hakiki di hari Idul Fitri 1429 H.

Saling memaafkan bagi dan untuk segenap handai taulan dan sanak kerabat.

Taqabbalullahu minna wa-minkum, taqabbal Yaa Karim……

Yogyakarta, 27 September 2008 (27 Ramadhan 1429 H)
Yusuf Iskandar