Posts Tagged ‘muara muntai’

Menuju Lokasi Survey Batubara Di Perian

31 Mei 2008

Menuju ke sebuah desa di salah satu sisi di pedalaman Kalimantan Timur
Desa Perian namanya, masuk wilayah Muara Muntai, Kutai Kartanegara
Melakukan survey batubara
Menangkap sisi lain kekayaan dan keindahan alam nusantara

Perian_Muara Muntai

Truck pengangkut batubara di Muara Muntai

Perian_Ladang Kamalia

Hutan kamalia yang baru ditebang

Perian_Jalan Tsunami

Penggal jalan yang longsor dan tidak mungkin dilewati ketika hujan deras

Perian_Bedeng3

Bedeng darurat (field camp)

Perian_Bedeng1

Bedenga darurat (field camp)

Perian_Bedeng2

Bedeng darurat (field camp)

Perian_Menunggu Matahari

Menunggu matahari di pagi hari

Perian_Jalan Longsor

Sebagian jalan yang longsor

Perian_Istirahat

Beristirahat sejenak di tengah survey 

Semalam Di Perian

31 Mei 2008

PerianPerian adalah nama sebuah desa, termasuk wilayah kecamatan Muara Muntai, kabupaten Kutai Kartanegara, provinsi Kalimantan Timur. Dari Samarinda jaraknya hanya sekitar 120 km atau sekitar 4 jam perjalanan darat dan dapat dicapai melalui kota Tenggarong lalu setiba di perempatan Muara Muntai belok ke selatan.

Penggal jalan antara Samarinda – Tenggarong sepanjang kurang lebih 40 km kondisinya bagus melewati jalan cor-coran beton seperti jalan tol dan menyeberang sungai Mahakam melalui sebuah jembatan gantung yang tampak megah. Karena itu untuk melewatinya menuju Tenggarong harus mbayar, meski bukan mbayar tol jalan atau jembatan melainkan judulnya adalah penggunaan aset Pemda.

Dari Tenggarong ke perempatan Muara Muntai yang jaraknya hampir 40 km juga, kondisinya cukup bagus. Seperti bahasa ramalan cuaca, keadaan jalan beraspal bagus sebagian, karena sebagian lainnya banyak berlubang atau aspalnya dikelupas. Rencananya mau ditambal agar bagusnya tidak sebagian-sebagian. Konon sudah cukup lama rencana itu hingga kini masih tetap rencana. Maka kondisi jalan aspalnya ya tetap beraspal bagus sebagian itu tadi. Tapi secara umum cukup enak dilewati tanpa kesulitan selain perlu jeli mengantisipasi lubang di sana-sini.

Perempatan Muara Muntai ini oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama Pos 19, karena merupakan kilometer ke-19 dihitung jarak dari pelabuhan sungai Mahakam di daerah Senoni. Jalan lintas dari pelabuhan Senoni menuju Perian memotong jalan raya Tenggarong menuju Kotabangun dan Melak. Jalan lintas ini kini banyak dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan tambang batubara sebagai jalan angkut batubara dari tambang-tambang kecil yang menyebar di kawasan Muara Muntai selatan menuju ke pelabuhan tongkang sungai Mahakam di Senoni.

Dari perempatan Muara Muntai ke desa Perian jaraknya sekitar 40 km juga. Sebagian melewati jalan tanah padat dan sudah mengalami pengerasan serta cukup lebar, sehingga kendaraan bisa melaju agak kencang. Sebagian sisanya berupa jalan tanah lunak dan mengandung banyak material lumpur serta lebarnya pas-pasan, sehingga rentan terhadap guyuran air hujan.

Seperti pengalaman sebulan sebelumnya, saya gagal mencapai desa Perian yang sebenarnya tinggal sekitar tiga kilometeran lagi. Gara-gara karena turun hujan deras malam sebelumnya telah menyebabkan kondisi sebagian jalan tanah ini berubah jadi kubangan lumpur dan agak longsor (longsor kok agak…..). Yang jelas, jalan tanah menjadi tidak bisa dilalui meski dengan kendaraan 4WD alias double gardan.

Barulah ketika keadaan cuaca sedang cerah, kendaraan yang saya tumpangi dengan mudah melaluinya. Hingga sampailah saya ke desa Perian. Ini adalah kunjungan ke lapangan dalam rangka melakukan survey batubara. Maka kunjungan saya pasti bukan ke kawasan pemukiman melainkan ke kawasan yang jauh dari pemukiman.

Dengan kata lain, saya tinggal di sebuah bedeng darurat di tepi jalan hutan eks-jalan logging atau jalan pengangkutan kayu di jaman jaya-jayanya pembalakan kayu dulu. Namanya juga bedeng darurat, konstruksinya menyerupai rumah panggung. Tapi jelas bukan bangunan rumah melainkan gubuk seadanya dari rangkaian batang-batang pohon, berdinding papan yang dipaku seadanya, beratap terpal warna-warni, dan berlantai papan kayu juga.

Malam memang sedang tidak berteman rembulan purnama. Gelap-gulita sudah pasti, tapi langit sangat bersih sehingga nampak bertaburan bintang-bintang. Ada penerangan bertenaga genset yang dinyalakan hingga tengah malam saja agar hemat BBM (lebih-lebih setelah harga BBM naik) dan dibantu lampu minyak. Banyak nyamuk dan serangga kecil seperti agas yang menjengkelkan, karena itu mesti sedia lotion anti nyamuk. Kalau tidak siap dengan sleeping bag maka sarung atau sekedar selimut menjadi piranti penting, karena juga membantu mengatasi hawa dingin di balik dinding papan yang pasti tidak kedap angin dingin dini hari hingga pagi.

Mandinya di sungai berpornoaksi, telanjang bebas di tepi sungai yang airnya jernih dan dingin menyegarkan dengan arus airnya yang cukup kuat tapi masih aman. Inilah di antara saat-saat paling mengasyikkan. Bukan telanjangnya, melainkan sentuhan dinginnya air sungai yang merata di sekujur tubuh. Segar nian….! Hanya jika habis turun hujan, terkadang air sungai agak tinggi, berarus deras dan jadi kotor kecoklatan. Kalau sudah begini mendingan tidak usah mandi, daripada cari penyakit!

Bahan makanan mesti dibawa dari luar, wong lokasinya jauh dari warung dan kawasan pemukiman. Kebutuhan air untuk masak diambil dari sungai dengan cara dipompa dan terkadang dengan menampung air hujan. Lokasi sekitarnya juga bukan kawasan sawah-ladang penduduk sehingga sangat jarang bertemu dengan petani yang berlalu-lalang. Paling-paling segelintir manusia yang cari kayu atau curi-curi menebang pohon.

Hal yang paling menyebalkan adalah kawasan ini tidak dikunjungi sinyal telepon seluler. Memang ada titik-titik tertentu yang ditengarai udaranya mengandung sinyal. Tapi sayang lokasinya berada di puncak perbukitan.

Di desa Perian inilah saya sempat tinggal satu malam, pada tanggal 26-27 Mei 2008 yang lalu, menemani teman-teman saya melakukan survey batubara. Ketika masyarakat Kaltim sedang berpesta demokrasi memilih calon gubernurnya yang baru, beberapa warga masyarakat lokal yang membantu pelaksanaan survey seperti tidak perduli perkara coblos-menyoblos ini.

Memang bukan pengalaman pertama, tapi pengalaman seperti ini selalu saja mengesankan, karena pasti ada nuansa tersendiri pada setiap waktu dan setiap lokasi yang berbeda. Mereka yang sudah terbiasa melakukan survey lapangan pasti memiliki kesannya sendiri-sendiri.        

Yogyakarta, 31 Mei 2008
(Saya lupa hari ini adalah hari “Dilarang Merokok” alias World No Tobacco Day, telanjur klepas-klepus hingga siang….)
Yusuf Iskandar