Posts Tagged ‘mozes kilangin’

Ke Tembagapura (6-14 September 2009)

28 September 2009

Berikut ini penggalan-penggalan catatan perjalanan ke Tembagapura (6-14 September 2009) yang sempat saya posting di Facebook).

——-

Walah.., mau buka bersama di SBY kok ya gagal….. Gara-gara Batavia Air Jogja-SBY delay 2 jam, jadi buka bersama penumpang lain di bandara Jogja saja….

(SBY : Surabaya)

Bandara Adisutjipto – Yogyakarta, 6 September 2009

——-

Insya Allah, melewatkan malam ini di angkasa antara Suroboyo-Timika. Moga-moga pramugarinya menyediakan makan sahur di pesawat, entah dimana…

Bandara Juanda – Surabaya, 6 September 2009

——-

Ngopi dan ngudut dulu di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar… Bandara bagus dan megah, tapi buruk akustiknya…

(Transit di Makassar lumayan lama….)

Bandara Sultan Hasanuddin – Makassar, 7 September 2009

——-

Tadi malam ke UGD Tembagapura, ngobrol-ngobrol dengan dokter, dicek ini-itu + EKG (rekam jantung), siang nanti check up, sore uji nyali dengan treadmill (biar kalau haus sudah dekat berbuka), lalu ngabuburit dengan dokter lagi….. Alhamdulillah, ibadah Ramadhan jalan terus….

(Ketika di pesawat kemarin malam, tiba-tiba sesak nafas, mual, keringat dingin, lemas dan les-lesan… Angin duduk atau jangan-jangan serangan jantung? Begitu pikirku…. Esoknya teman-teman saya menyuruh agar segera saja cek ke dokter, takut ada apa-apa. Akhirnya malamnya saya ke rumah sakit. Uji treadmill diundur karena dokternya pergi mendadak ke Jakarta…)

Tembagapura – Papua, 8 September 2009

——-

Pagi ini saya kirim SMS ke anakku : “Tadi malam ada gempa ya?”. Jawab anakku : “Ya, aku terbangun. Karena gak ada orang lain yang bangun, ya tidur lagi….”.

Kemudian saya balas : “Kalau nanti ada gempa lagi, bangun lagi, lalu tidur lagi ya….”. Ha..ha..ha..ha…

(Pagi ini memperoleh kabar ada gempa cukup kuat terasa di Jogja. Segera saya hubungi anak perempuanku menanyakan kabar mereka…)

Tembagapura – Papua, 8 September 2009

——-

Plong rasanya….. Usai rekam jantung sambil menjalani treadmill siang ini, kata dokter kondisi jantung baik dan normal. Walhamdulillah…

(Menurut analisa dokter, yakin sekali dia bahwa yang saya alami di pesawat waktu malam beberapa hari yll bukan serangan jantung melainkan gejala maag… Sementara kesimpulan ini membuat saya lega dan tersenyum, karena sebelumnya sudah buruk saja pikiranku tentang kemungkinan gangguan jantung….)

Tembagapura – Papua, 12 September 2009

——-

Waduh… Tsel Flash-ku kumat lagiiiii…

(Setelah rada jengkel beberapa jam, akhirnya…)

Selamet…selamet…, Tsel Flash sudah bisa on-line lagi….

(Akhirnya bisa nginternet lagi, di Tembagapura, di atas pegunungan selatan Papua…)

Tembagapura – Papua, 13 September 2009

——-

Alhamdulillah, mission accomplished. Siap-siap mbonceng chopper dari Tembagapura ke Timika, siang terbang ke Solo via Makassar, njuk pulang Jogja…

(Situasi akibat insiden tembak-tembakan di jalur Timika – Tembagapura masih dianggap rawan, makanya saya turun ke Timika dijadwalkan naik helikopter)

Tembagapura – Papua, 14 September 2009

——-

1) Tembagapura-Timika naik heli batal karena cuaca buruk. Lewat darat, pakai rompi anti peluru, ditemani tentara bersenjata, polisi + TNI + panser betebaran…

2) Seperti daerah konflik tanpa musuh. Yang tetap tak terjawab : konflik dengan siapa? musuhnya mana? Biarlah tembaga yang jadi peluru yang nembak kemana2 menjawabnya..

Bandara Mozes Kilangin, Timika – Papua, 14 September 2009

——

Puasa berarti menahan haus dan lapar. Tapi kalau harus menempuh perjalanan Timika-Solo lalu waktu berbukanya diundur 2 jam….. Aaaaaaaalhamdulillah...

(Akibat dari perjalanan dari wilayah WIT ke WITA lalu ke WIB)

Bandara Adisoemarmo – Solo, 14 September 2009

——-

Jam 19:30 WIB masuk rumah… puji Tuhan walhamdulillah. Badan agak nggregess…. Insya Allah, siap-siap dengan another important mission tomorrow…

Yogyakarta, 14 September 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Ramadhan Dan Malam Ke Tujuhbelas

11 September 2009

Ketika mendadak saya diminta datang ke Tembagapura, Papua, di pertengahan Ramadhan ini dan tidak bisa ditawar untuk ditunda usai Lebaran, hati kecil saya rada ngelangut….. Bukan karena jauhnya, bukan karena situasi kurang kondusif pasca insiden tembak-tembakan, dan bukan juga karena komitmen kerja yang menanti di sana. Melainkan lebih disebabkan kekhawatiran jangan-jangan komitmen pribadi untuk berbisnis dengan Ramadhan akan gagal tidak seperti niat ingsun di awalnya. Atau memang ini tantangan menuju kesempurnaan berbisnis dengan Ramadhan?

Apa bedanya ber-Ramadhan di rumah sendiri dengan di tempat orang? Hanya pada keleluasaan kesempatan, kekhusyukan dan tantangannya. Setiap keputusan dan pilihan tentu mengandung konsekuensi dan resiko. Adanya komitmen untuk memenuhi undangan, berakibat waktu yang tersisa menjadi tidak seleluasa dibandingkan dengan komitmen untuk menjalankan rencana kegiatan sendiri di rumah. Ya, ini memang hanya kegalauan perasaan hati yang tidak tampak di mata yang bagi sebagian orang barangkali kedengaran seperti mengada-ada.

Akhirnya, saya mengiyakan permintaan itu. Sempat saya pesimis lalu menyampaikan excuse kepada anak lelaki saya : “Wah, boss…”, kata saya kepada anak lelaki saya. “Sepertinya bapak bakal tidak bisa khatam baca Qur’an kali ini….”. Komentar anak saya malah bernada manas-manasin : “Ah, bapak pasti bisa…!”. Lalu sebuah kitab suci lusuh yang lebih setengahnya sudah saya baca di Ramadhan kali ini pun saya sisipkan di samping laptop di dalam tas ransel yang sama lusuhnya yang akan saya gendong kemana-mana.

***

Hari Minggu, 6 September 2009 sore saya siap terbang meninggalkan bandara Adisutjipto, Jogja. Menurut jadwalnya, Batavia Air yang akan saya tumpangi akan mendarat di bandara Juanda, Surabaya, bersamaan dengan waktu berbuka. Rupanya pesawat ke Surabaya mengalami penundaan sekitar sejam. Tapi itu justru berakibat waktunya jadi nanggung terhadap waktu berbuka puasa, akhirnya pesawat ditunda lebih dua jam guna memberi kesempatan kepada penumpang untuk berbuka dahulu di bandara Jogja sekaligus sholat maghrib. Barangkali inilah jenis penundaan keberangkatan pesawat yang tidak digerutui penumpangnya. Sekotak nasi padang yang rasa padangnya kurang mak nyuss pun dibagikan sebagai teman berbuka.

Tiba di Surabaya langsung check-in ke pesawat Airfast Indonesia yang akan terbang jam 22:35 menuju Makassar dan Timika. Waktu menunggunya cukup lama. Kebetulan, pikir saya. Cukup waktu untuk mampir mushola menunaikan sholat Isya’, lalu sholat tarawih, dan kitab suci lusuh pun saya keluarkan dari tas ransel. Surat An-Nur (surat ke 24 yang berarti cahaya) dapat saya selesaikan membacanya di mushola bandara sambil menunggu saat panggilan boarding. Akhirnya pesawat MD 82 Airfast Indonesia mengangkasa menjelang tengah malam menuju Makassar dan Timika. Sudah terbayang kalau sepanjang malam itu bakal saya lewatkan di angkasa antara Surabaya dan Timika hanya dengan duduk atau tertidur.

Selewat tengah malam, belum lama meninggalkan bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, yang indah, megah dan bertampilan futuristik tapi akustik sistem suaranya mengecewakan, saat liyer-liyer hendak tidur, mendadak dada saya terasa seperti ditekan benda berat. Tarikan nafas menjadi berat sekali, keringat dingin membasahi badan, perut terasa kembung, mata seperti berat untuk dibuka sepertinya ingin segera terlelap, kepala kliyengan dan les-lesan… (entah apa bahasa Indonesianya) seperti berada antara sadar dan menjelang pingsan.

Benar-benar situasi yang tak terlukiskan tidak enaknya. Seumur-umur midar-mider naik pesawat belum pernah saya mengalami situasi yang seperti malam itu. Saya lihat penumpang di sekeliling saya semua ngleker dalam tidurnya, di bawah cahaya temaram kabin pesawat. Sementara saya sendiri klisikan (sibuk dalam hening) menahan sakit dan ketidak-nyamanan yang tak terperikan.

Hampir saja saya memanggil pramugari minta pertolongan saking tidak tahannya merasakan apa yang saya alami. Tapi sempat terpikir, kalau hal itu saya lakukan, betapa seisi pesawat akan geger oleh ulah saya. (Heran juga masih sempat mikir. Inilah jadinya kalau punya otak terbiasa digunakan mikir apa saja. Hanya sedekah dan hajat yang terbuang saja rasanya yang tidak ingin saya pikir…).

Sempat mengingat-ingat tentang hal yang pernah saya dengar dan saya baca terkait fenomena yang saya alami saat itu, sepertinya menyerupai tanda-tanda orang terkena serangan jantung. Sementara saya menyadari adalah seorang yang rentan dengan kemungkinan mengalami hal itu. Seorang perokok, pemalas olah raga, jenis hewan berakal pemakan segala, dan rekam jejak saya dulu pernah divonis dokter memiliki gejala penyumbatan pembuluh jantung, meski kemudian dinyatakan sehat kembali. Uiiih…, klop sudah. Semua syarat terpenuhi. Kemungkinan terburuk segera membayang di pikiran saya. Jangan sampai mengikuti cara Munir, sang tokoh Kontras, menghadap Sang Khalik.

Hal yang kemudian saya lakukan adalah berusaha sekuat tenaga agar tidak pingsan supaya saya tahu persis apa yang terjadi pada setiap detik yang saya lalui dan memastikan bahwa jantung saya tetap berdetak. Selain itu tentu saja berdoa. Segera kalimat-kalimat dzikir menghiasi bibir, hati dan pikiran saya. Sementara penumpang lain tetap terlelap dalam tidurnya, saya berjuang mengatasi masalah saya sendiri.

Saya gunakan kedua kuku ibu jari untuk menekan dan menusuk-nusuk sekuat-kuatnya ujung-ujung jari yang lain, dengan tujuan untuk menciptakan sensasi rasa sakit sesakit-sakitnya agar saya tetap terjaga. Kalaupun sampai berdarah, barangkali saya tidak perduli. Sesekali saya mencoba batuk sebatuk-batuknya meskipun saya tidak sedang sakit batuk, dengan tujuan agar jantung saya terangsang untuk terus bekerja. Kalimat-kalimat dzikir pun terus saya lafalkan dalam hati nyaris tanpa putus.

Sekitar 4-5 menit yang bagi saya malam itu begitu menegangkan, kemudian mereda dan berlalu, kondisi berangsur normal, saya bisa menarik nafas panjang, sedang kalimat dzikir tetap terus tak terputus. Akan tetapi sekitar 15 menit kemudian situasi dramatis itu berulang kembali. Perjuangan yang sama kembali saya lakukan melawan datangnya serangan kedua.

Hingga detik itu sebenanya saya belum tahu pasti apakah itu serangan jantung, serangan perut, serangan atau sebab lain, karena memang saya belum pernah mengalami hal semacam itu sebelumnya. Akan tetapi saya pikir, kemungkinan terburuk haruslah menjadi satu-satunya alasan saya untuk bertindak semaksimal mungkin dalam situasi yang tanpa punya pilihan. Konon, orang dulu sering menyebutnya angin duduk. Tapi duduknya angin ini pun memang tak terduga duduk penyakitnya, artinya bisa berarti macam-macam penyebabnya. Sekitar 4-5 menit serangan kedua berlangsung, lalu situasi kembali mereda.

Tidak berapa lama setelah serangan kedua, kemudian lampu kabin pesawat menjadi terang. Rupanya tiba saatnya pramugari membagikan makan malam menjelang pagi, atau makan sahur bagi yang berpuasa. Tidak sabar rasanya saya ingin segera minum teh manis hangat. Menu pagi itu rupanya lontong opor, mengingatkan saya pada menu unggulan saat Lebaran. Lima iris kecil lontong dengan opor daging (bukan ayam kampung) ditemani sambal dalam sachet dan sebungkus kecil kerupuk, dengan lahap saya habiskan, meski taste opornya sebenarnya agak kurang pas (heran juga, kalau sudah urusan makan sepertinya tak terpengaruh dengan derita yang barusan saya alami).

Serangan fajar rupanya belumlah usai. Kejadian yang pertama dan kedua sebelumnya sungguh membuat saya trauma ketika beberapa menit setelah makan saya mulai merasakan tanda-tanda yang sama seperti sebelumnya. Itulah kemudian datangnya serangan ketiga dan keempat yang berselang sekitar 10-15 menit. Hanya kali ini kekuatannya tidak seberat yang pertama dan kedua. Bagai gempa susulan yang biasanya intensitasnya menurun dibanding gempa utamanya. Tapi perlawananan yang sama kerasnya tetap saya lakukan. Saya tidak ingin lengah sedetikpun. Jangan sampai serangan kelima dan seterusnya datang lagi di saat saya sedang terlelap. Entah sudah berapa ribu kalimat dzikir saya lafalkan tanpa henti, tak juga saat makan dan minum. Karena hanya itu senjata pamungkas yang saya miliki.

Hingga akhirnya saya kecapekan sendiri dan tertidur selama beberapa menit. Sebelum kemudian terbangun dan saya lihat jam di ponsel (saya tidak punya arloji) menunjukkan sekitar pukul 3:30 WITA atau 4:30 WIT, dan saya tidak tahu sedang berada di atas mana. Sholat subuh segera saya tunaikan sambil duduk di pesawat yang sedang menuju ke timur. Kalau dunia ini bulat maka terus menuju ke arah timur akhirnya akan sampai ke barat juga, dan di sana ada kiblat. Tidak lama kemudian dari jendela pesawat tampak langit mulai cerah dengan semburat awan putih mulai menghiasi angkasa Indonesia.

Sekitar jam 5:30 WIT, hari Senin, 7 September 2009, akhirnya pesawat Airfast Indonesia mendarat dengan selamat di bandara Mozes Kilangin, Timika. Lengkap beserta seorang penumpangnya yang semalam tadi merasa nyaris “wassalam”…. Dari pintu kedatangan bandara lalu berpindah menuju ke landasan helikopter, naik ojek bayar Rp 5.000,- dan akhirnya tiba di Tembagapura setelah menempuh perjalanan dengan chopper bersama tumpukan sayur-mayur (harga sayurnya pasti jadi mahal, lha wong naik chopper) sekitar 20 menit menyusuri punggungan pegunungan Papua selatan.

***

Tinggal kemudian saya dheleg-dheleg…. diam tepekur, sambil mencoba merenungi pengalaman dramatis yang saya alami malam itu. Sederet pertanyaan menggelayut di pikiran dan mencari jawabannya. Lakon apa sebenarnya yang sedang diajarkan Tuhan kepada saya dalam perjalanan malam itu? “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya di malam hari minal-Surabaya ilal-Timika…”, begitu yang ingin saya kaji, kalau boleh saya menyitir penggal ayat pertama kitab Qur’an surat Al-Isra’.

Kaidah pertama yang harus saya pegang adalah bahwa saya harus berprasangka baik kepada Tuhan, karena “Aku mengikuti prasangka hambaKu dan Aku menyertainya di mana saja ia ingat Aku”, kata Allah dalam sebuah Hadits Qudsi. Kaidah kedua adalah bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam ini yang kebetulan belaka. Apakah itu adalah cara Tuhan memaksa saya agar beribadah di malam itu, sementara tidak mungkin dengan sholat atau baca kitabnya, maka semalaman saya “dipaksa” berdzikir sejak dini hari hingga pagi tanpa terputus.

Tapi untuk apa Tuhan repot-repot memaksa saya? Jangan-jangan itu adalah jawaban atas kegelisahan dan kegalauan hati saya sebelum saya berangkat yang ketika itu khawatir tidak bisa berbisnis dengan Ramadhan secara sempurna sebagaimana kalau saya tinggal di rumah.

Tapi kenapa harus malam itu saat saya sedang di angkasa entah dimana? Kenapa bukan pada malam berikutnya saja ketika saya sudah santai-santai di pelukan dinginnya hawa pegunungan di Tembagapura? Tiba-tiba…. Subhanallah, Maha Suci Allah, saya baru ngeh bahwa rupanya malam itu adalah malam tujuh belas Ramadhan. Malam dimana segepok ayat-ayat Qur’an diturunkan dari lauhil mahfudz (langit tertinggi) ke baitul izzah (langit dunia), sebelum kemudian di-icrit-icrit (bertahap) diwahyukan kepada nabi Muhammad saw selama 23 tahun.

Malam lailatul qodar? Kalau iya, maka Tuhan sungguh telah menjawab dan memberikan solusi atas kegalauan hati saya. Kalau tidak, maka Tuhan telah menegur dan mengingatkan saya agar jangan terputus berdzikir kepada-Nya kapanpun dan dimanapun saya berada, baik sedang sehat maupun sakit, sedang lapang maupun sempit, sedang suka maupun duka. Wallahu a’lam.

Tembagapura, 9 September 2009 (19 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Kandang Itu Kini Berubah Jadi Cantik

29 Juli 2008

(Terminal Baru Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua)

Dalam perjalanan dari Jayapura menuju Jakarta hari Rabu, 23 Juli 2008 yang lalu, burung Garuda yang saya tumpangi transit di Timika dan Denpasar. Saat transit di bandara Timika selama 30 menit, pramugari mengumumkan bahwa penumpang diberi pilihan untuk tetap menunggu di pesawat atau boleh juga kalau mau turun ke ruang tunggu.

Mulanya saya agak ragu hendak turun. Sebab segera terlintas di benak saya kondisi ruang tunggu di terminal keberangkatan bandara Timika yang oleh sebagian teman yang pernah transit di sana diolok-olok seperti kandang (terjemahannya, mana ada kandang yang menyenangkan….). Dan memang seperti itulah kesan dalam ingatan saya sejak terakhir saya ada di sana sekitar tiga setengah tahun yang lalu.

Namun seperti kebiasaan saya, selalu berharap siapa tahu ada yang berbeda atau ada pengalaman baru yang barangkali dapat mengungkit ide atau inspirasi. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut turun dari pesawat menuju ke terminal ruang tunggu keberangkatan.   

Sebelum memasuki bangunan terminal, mulailah ada yang saya rasakan agak beda, kok saya disuruh masuk ke ruang kedatangan. Padahal seingat saya terminal keberangkatan termasuk bagi penumpang transit berada di bangunan terpisah sekitar 250 meter dari terminal kedatangan. Dalam keraguan lalu saya tanyakan kepada mbak security alias satpam perempuan bandara : “Untuk yang transit dimana?”. Dijawabnya : “Masuk saja, pak”.

Begitu masuk ruang kedatangan, barulah saya lihat tampilan ruang kedatangan yang kini terlihat bagus, bersih, tertata rapi, dan pokoknya jauh berbeda dengan ruang kedatangan bandara Timika yang saya kenal sebelum ini. Penumpang transit kemudian diarahkan ke pintu keluar lalu masuk lagi ke ruang tunggu keberangkatan di sebelahnya.

Saat di luar depan bandara inilah saya baru tahu bahwa bandara ini sudah direnovasi. Semakin surprise ketika tiba di dalam ruang tunggu. Semua tampak baru, lantai dan dindingnya terlihat bersih, bangku-bangku tertata rapi, tata ruang dan dekorasinya terkesan indah, suasananya sejuk ber-AC, berhiaskan aneka informasi tentang kegiatan tambang PT Freeport Indonesia (mudah ditebak, pasti perusahaan tambang inilah yang mbangun) dengan display yang apik dan menarik.

Lalu saya masuk ke toiletnya, tercium bau harum (dalam arti sebenarnya) dan terlihat bersih bak toilet hotel berbintang. Saya pun dibuat kagum. Bukan kagum kepada bandara barunya, melainkan kagum kepada diri sendiri kenapa baru sekarang saya mengalaminya…. (bukan sepuluh tahun atau sebelum sepuluh tahun yang lalu, misalnya).

Sangking penasarannya, saya pun bertanya bodoh kepada seorang petugas yang ada disana : “Bandaranya baru, ya pak?”. Dengan bangga bapak petugas itu pun menjawab : “Iya pak, baru diresmikan Menteri Perhubungan beberapa hari yang lalu”.

Ooo…, pantesan….. Masih bau SIRSAT….. SIRSAT yang saya maksud bukanlah nama buah melainkan kependekan dari pasir sisa tambang, padanan bahasa Indonesia untuk pasir tailing yang berupa pasir atau material halus yang dihasilkan dari kegiatan penambangan.

Terminal baru bandara Mozes Kilangin, Timika (ibukota kabupaten Mimika), memang baru saja diresmikan pada tanggal 18 Juli 2008 oleh Menteri Perhubungan. Hal yang membanggakan, bahwa rupanya konstruksi bangunan bandara itu terbuat dari hasil pemanfaatan pasir sisa tambang (SIRSAT) yang memang jumlahnya melimpah ruah nyaris tak terhingga.   

Kalau boleh disebut bahwa prestasi pemanfaatan limbah SIRSAT ini sebagai sebuah kesuksesan, maka semestinya pemerintah dan masyarakat kabupaten Mimika pada umumnya akan bisa memanfaatkannya bagi kemudahan kegiatan pembangunan mereka, baik untuk keperluan pemerintah, kemasyarakatan maupun individual. Lha wong jumlahnya enggak bakal habis dipakai hingga tujuh turunan….. Tentu saja mesti ada aturan main yang benar.

***

Bandara Timika pertama kali dibangun tahun 1970 sebagai bandara perintis, terutama untuk menunjang operasi penambangan PT Freeport Indonesia. Lalu pada awal tahun 1990-an bandara ini diperbesar, diperlebar dan diperpanjang, hingga kini memiliki panjang landas pacu 2930 m. Tahun 2002 secara resmi nama bandara Mozes Kilangin mulai digunakan.   

Keberadaan sebuah bandara bagi sebagian besar kota kabupaten di kawasan Papua adalah sebuah pintu gerbang bagi kemudahan transportasi ke dan dari wilayah lain, apalagi lintas pulau dan negara. Ketertinggalan dan keterbatasan sarana transportasi darat antar wilayah di Papua ini agaknya mendesak untuk diatasi secepatnya, kalau tidak ingin begita-begitu saja perkembangan ekonominya. Perlu orang-orang yang berwawasan ke depan untuk membangunkan raksasa yang seprana-seprene dibiarkan tidur tidak bangun-bangun.  

Kini masyarakat kabupaten Mimika dan sekitarnya boleh bangga memiliki terminal baru bandara berkelas internasional dengan segala kelengkapan fasilitasnya yang jauh lebih baik dibanding sebelum tanggal 18 Juli yang lalu. Begitu pun bu Maria Kilangin boleh tersenyum bangga nama almarhum suaminya diabadikan sebagai nama bandara Timika yang kini tampil lebih cantik, nyaman dan “layak”.

(Sebenarnya dalam hati saya kepingin bertanya : kira-kira sampai kapankah kebersihan, kecantikan dan kerapiannya itu akan mampu bertahan? Tapi, enggak jadilah…. Nanti dikira berprasangka buruk dan sinis…..).

Singkat kata, berada di terminal bandara Mozes Kilangin kini…., benar-benar serasa sedang berada di terminal bandara……. (Lho, memang sebelumnya tidak? Ya serasa berada di dalam kandang, itu tadi……).

Yogyakarta, 27 Juli 2008
Yusuf Iskandar