Posts Tagged ‘mine automation’

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (2)

2 Maret 2008

Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 24:00 (21:00 WIB)

MassMin memang ajang pertemuan bagi para professional tambang endapan masif bawah tanah, karena itu banyak topik yang akan didiskusikan menyangkut berbagai pengalaman dan masalah-masalah yang dihadapi oleh tambang-tambang bawah tanah di dunia.

Beberapa topik yang diketengahkan dalam sesi pertama dan kedua tadi pagi sebagai bahasan overview mengawali konferensi ini antara lain mewakili Rio Tinto Ltd., group De Beers yang mengoperasikan banyak tambang intan di Afrika, Codelco yang mewakili kelompok BUMN-nya Chili yang berhasil mengoperasikan tambangnya secara effisien dan menyajikan visinya untuk go international, dan tentu tinjauan tentang keselamatan kerja oleh wakil dari pemerintah negara bagian Queensland, Australia.

Ada beberapa topik menarik yang dipresentasikan di sesi kedua dan ketiga. Di antaranya adalah membahas karakterisasi tambang bawah tanah ditinjau dari studi mekanika batuan, dan beberapa pemikiran baru dari WA Hustrulid tentang pemilihan metode penambangan untuk tambang bawah tanah berskala besar. WA Hustrulid adalah Professor of Mining, University of Utah dan juga seorang konsultan tambang di USA. Mengikuti paparan Pak Hustrulid ini serasa seperti sedang mengikuti kuliah. Sayangnya, sebagaimana seminar atau konferensi, waktu yang disediakan hanya 30 menit untuk setiap makalah, sehingga tentu tidak mungkin untuk membahasnya secara mendalam.

Dengan kata lain, untuk memahami lebih jauh tentang pemikiran baru Pak Hustrulid ini saya mesti mempelajari lagi naskah lengkap dari makalahnya yang cukup panjang. Topiknya Pak Hustrulid ini agaknya cukup menarik juga bagi peserta lain, terbukti dari cukup banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang ditujukan kepada beliau seusai presentasi.

Ada satu topik lainnya yang cukup menarik adalah tentang optimasi pengoperasian alat angkut dan muat di tambang bawah tanah yang kini dikenal dengan istilah mine automation. Istilah ini sekarang mengacu kepada sistem pengoperasian alat bergerak di tambang bawah tanah secara kendali jarak jauh (remote control). Bagaimana mengoperasikan alat LHD (load haul dump) yang cukup dilakukan dari depan layar monitor termasuk pengaturan perjalanannya yang disesuaikan antara lain dengan rencana penambangan dan produksinya. Dengan demikian tidak diperlukan operator yang langsung berada di dalam kabin untuk mengemudikan LHD di lorong-lorong produksi tambang.

Sistem pengoperasian tele-remote LHD ini sekarang sudah diterapkan di tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia, terutama di lokasi wet muck (material timbunan yang basah) yang sewaktu-waktu dapat terjadi runtuhan material dalam jumlah banyak secara tak terkendali akibat adanya air yang terperangkap di dalamnya.

Terlepas bahwa presentasi makalah ini “berbau” promosi oleh pihak pembuat perangkat komputerisasinya, tetapi banyak informasi baru yang patut dikaji lebih dalam dari segi pengembangan dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi bagi operasi tambang bawah tanah. Terbukti sekarang ini sistem automation untuk alat LHD ini sudah menjadi semacam standard bagi tambang-tambang endapan masif di dunia. Dalam perkembangannya sistem ini juga akan masuk ke sistem pengoperasian alat angkut (truck) di bawah tanah.

***

Setelah selesai dengan segepok presentasi makalah di hari pertama ini, acara dilanjutkan sore dan malam harinya dengan Welcoming Cocktail Party di lantai 30 Sheraton Brisbane Hotel, tempat keseluruhan acara konferensi diselenggarakan. Acara minum-minum dan ngemil bersama sambil berdiri ini tentu saja menjadi semacam ajang pertemuan bagi segenap peserta. Dari yang serius membicarakan bisnis sampai yang hanya sekedar ngobrol ketemu teman-teman lama. Saya memilih menjadi kelompok yang kedua, sambil sesekali bicara serius biar tidak “ketinggalan jaman”. Bagaimanapun juga membina relasi tetap diperlukan. Eh, siapa tahu suatu saat saya butuh mengontak seseorang untuk mencari informasi atau rujukan bertukar pikiran, paling tidak sudah terbuka jalannya.

Konferensi MassMin ketiga ini diselenggarakan atas dukungan utama dari JKMRC (Julius Kruttschnitt Mineral Research Centre) Brisbane, Australia beserta perusahaan tambang De Beers dan Northparkes.-

Yusuf Iskandar

Iklan

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(8).    Tambang Northparkes Menuju Mine Automation

Hari Senin dan Selasa, 6 dan 7 Agustus 2001 kemarin saya mempergunakan kesempatan untuk bergabung dengan para penambang (miner) di tambang bawah tanah Northparkes. Kali ini saya sengaja ikut dengan salah satu kru dengan maksud agar memperoleh gambaran lebih lengkap tentang bagaimana para pekerja tambang ini mengorganisasikan dan menyelesaikan pekerjaannya. Tentu saya berharap agar mereka tetap bekerja sebagaimana biasanya, dalam arti bukan lantaran diikuti orang lain lalu bekerjanya diproduktif-produktifkan.

Operasi tambang Northparkes yang berproduksi rata-rata 15.000 ton perhari ini dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari sembilan orang dalam setiap gilir kerja (shift) yang bekerja selama 12 jam. Oleh karena itu dalam satu hari ada dua gilir kerja. Jumlah sembilan orang ini sudah termasuk kepala timnya yang disebut team leader, 3 atau 4 orang operator alat muat (loader) yang disebut dengan alat LHD (load-haul-dum), seorang operator control room dan beberapa pekerja lainnya yang umumnya perkemampuan serba bisa.

Salah satu kru yang saya ikuti disebut dengan secondary breaker. Salah satu tugas dari kru ini adalah mengatasi bongkahan-bongkahan batuan besar (boulder) yang jika langsung dimuat, diangkut dan ditumpah ke dalam mesin pemecah batuan (crusher) maka dapat menggangu proses operasi mesin ini. Selain itu tim ini juga bertugas mengatasi draw point (tempat pengambilan bijih hasil penambangan) yang tersumbat, sehingga material bijih tidak mau turun atau keluar ke mulut draw point. Keadaan ini disebut dengan hung-up.

Untuk melakukan pekerjaannya, kru yang terdiri dari dua orang ini ternyata seringkali berpisah dengan masing-masing saling berbagi tugas. Kalaupun kemudian perlu melakukan pengeboran dan peledakan ulang, maka jika memungkinkan akan diselesaikan oleh salah seorang saja. Demikian halnya misalnya untuk pekerjaan perbaikan jaringan pipa, perbaikan lantai beton (concrete) yang rusak, penyanggaan batuan, dsb. jika memungkinkan mereka akan berbagi tugas dengan masing-masing menyelesaikan tugas yang berbeda.

Demikian seterusnya sehingga pekerjaan hari itu dapat dituntaskan. Seringkali dalam melakukan tugasnya mereka tanpa diawasi oleh team leader-nya, sepertinya sudah otomatis mereka tahu apa yang mesti dikerjakan. Padahal mereka juga menyelingi kegiatannya dengan berhenti untuk merokok, makan dan ngobrol sebagaimana lazimnya.

***

Di bagian ruang kontrol (control room) yang juga berlokasi di bawah tanah, seorang pekerja duduk di depan layar monitor sambil sesekali mengangkat tilpun dan ngomong di pesawat radio komunikasi. Di atas layar monitor utama terdapat enam layar monitor lainnya yang menayangkan hasil liputan kamera-kamera yang di pasang di banyak lokasi strategis sehingga sewaktu-waktu dapat dilihat apa yang sedang terjadi di lapangan dengan mengubah-ubah salurannya.

Semua sistem aliran bijih (ore flow) hasil penambangan mulai dari penumpahan batuan dari alat muat LHD, mesin pemecah batuan (crusher), pengangkutan dengan ban berjalan (belt conveyor) pengangkutan dengan alat pengerek (hoisting), hingga ban berjalan di permukaan tanah, dikendalikan dari ruang kontrol ini. Semuanya berlangsung secara otomatis tanpa perlu ada orang yang menjaga di tiap-tiap alat tersebut.

Oleh karena itu banyak sekali jenis pekerjaan yang dapat dirangkap oleh seorang operator di control room. Kalau di tambang-tambang lain umumnya perlu beberapa operator khusus yang menjalankan dan mengawasi masing-masing bagian crusher, conveyor, winder, dsb. maka di tambang Northparkes para pekerja itu tidak diperlukan lagi.

***

Saat ini operasi LHD masih dilakukan oleh seorang operator. Namun dalam rencana penambangan endapan bijih pada tahap pengembangan berikutnya, direncanakan operasi LHD juga akan dikendalikan dari ruang kontrol ini. Inilah yang kini disebut sebagai konsep otomatisasi tambang atau mine automation.

Pada saat ini tambang Northparkes sedang mempersiapkan rencana penambangan endapan yang ada tepat di bawah dari yang saat ini sedang ditambang yang disebut dengan Lift 2. Cadangan baru ini sebenarnya merupakan kelanjutan ke arah bawah dari endapan yang saat ini ditambang dan disebut sebagai Lift 1.

Lift 2 kini menjadi proyek tersendiri yang ditangani oleh sebuah tim khusus yang melibatkan semua disiplin ilmu terkait. Tujuannya tentu agar proyek Lift 2 tambang Northparkes ini dapat segera beroperasi secara tepat waktu pada saat tambang Lift 1 yang ada saat ini habis cadangannya. Dan hal itu diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun 2003.

Parkes, 8 Agustus 2001
Yusuf Iskandar