Posts Tagged ‘mesra’

Menunggu Dimimpikan

15 November 2009

Minggu pagi ini ada yang aneh pada istriku. Beliau terlihat baik sekali di depan saya, lebih dari hari biasanya. Gaya bahasanya pun terdengar lebih halus dan manis dari biasanya. Ada apa gerangan? Ada yang berulang tahun? Ada yang sedang syukuran? Menang lotere? Meraih sukses lebih? Semua jawabannya ternyata tidak.

“Mau dimasakin air untuk bikin kopi, enggak mas?”, tanyanya mesra.
Kok tumben saya ditanya begitu”, kataku heran tapi hanya dalam hati. Biasanya kalau saya bikin kopi sendiri dengan menggunakan air dari dispenser, sering dikomentari : “Kopi terusss…..”. Kebetulan hari ini air mineral di galon di atas dispenser memang sedang habis dan telat diganti. Dalam keadaan seperti ini maka kalau mau bikin kopi mesti menjerang air dulu.

“Pasti ada apa-apa”, kataku lagi dalam hati. Tapi apa ya? Di depan beliau ekspresi saya sengaja cuek aja…, pura-pura seperti tidak ada apa-apa (boro-boro memuji, dasar…!). Tapi hati saya penuh dengan rasa penasaran dan curiga. Meski beliau penggemar Mario Teguh, dampaknya pasti tidak sedrastis pagi ini. Sampai akhirnya istri saya yang justru tidak bisa menahan perasaannya, tipikal seorang wanita.

Barulah kemudian istriku duduk mendekat dan berkata : “Semalam aku mimpi buruk…… Sampeyan meninggal dunia……”.
“Innalillahi wa-inna ilaihi rojiun”, kata saya spontan dalam hati. Wooo….., itu to sebabnya. Pantesan pagi ini kok tampak lain dari pagi biasanya, rupanya saya ‘meninggal dunia’ tadi malam.

Sejujurnya saya sendiri sempat galau. Kenapa sampai mimpi buruk itu hadir menjadi bunga tidur istriku. Jelas ini bukan bunga yang mekar indah harum mewangi, melainkan bagai kuncup bunga kembang tak jadi karena diserang hama KPK (kutu putih kecil). Kalau kebanyakan orang berangan-angan tentang dream comes true. Tapi kali ini sungguh saya berharap jangan comes true dulu, deh…..

***

Sambil menikmati secangkir kopi susu yang susunya full enggak setengah-setengah…., dan menghisap sebatang rokok putih dalam-dalam, saya merenung dalam hati (padahal biasanya kalau merenung itu dalam pikiran). Hasilnya?

Sssttt……, hari ini saya punya alasan dan bargaining position untuk rada dimanjakan oleh beliau…”.

Sssttt yang kedua…., saya punya alasan tambahan untuk menjadi lebih mesra….”. Lebih mesra kepada istri? Ya. Dan kalau itu sih sudah jelas menjadi kewajiban harian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tapi bagaimana menjadi lebih mesra kepada Sang Pemilik Hidup?  Ampun Gusti wastaghfirullah. “Masak sih saya harus menunggu dimimpikan dulu untuk menambah kemesraanku padaMu?”……..

Yogyakarta, 15 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Iklan