Posts Tagged ‘mertua’

Membangunkan Sopir Ngantuk

15 Agustus 2008

Niat ingsun mau menuju bandara Soeta (Soekarno – Hatta) naik taksi lalu meninggal tidur sopirnya. Maka begitu nyingklak taksi, segera mengomando sopirnya : “Ke bandara, pak”, dan lalu duduk santai. Pak sopir yang kelihatan sudah cukup tua, saya taksir umurnya 60an tahun, dengan lincahnya segera masuk ke jalan tol. Siang hari jalan menuju bandara masih relatif sepi, tidak kemruyuk seperti ketika hari beranjak sore. Taksi pun melaju lancar.

Belum lama melaju di jalan tol yang masih belum gegap-gempita, saya perhatikan gerak laju taksinya kok rada mereng-mereng. Injakan gasnya memunculkan bunyi mesin yang tidak konstan. Kendaraan lebih sering berada di atas marka pembagi lajur jalan (bukannya di antara garis putih putus-putus).

Tidak biasanya sopir taksi memilih berada di lajur paling kiri dengan kecepatan sedang-sedang saja (padahal jalanan lagi sepi dan longgar). Gerak-gerik sopirnya terlihat gelisah, kaki kirinya (kaki yang kanan tidak kelihatan) sering digoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Tangan kirinya (tangan yang kanan juga tidak kelihatan) sebentar-sebentar menggaruk kening yang sepertinya tidak gatal dan mengusap belakang kepala yang sepertinya dari tadi tidak ada apa-apanya. Sesekali berdehem, sengaja batuk dan melenguh seperti sapi.

Tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa pak sopir taksi sedang ngantuk berat. “Wah, bahaya, nih”, pikir saya. Terpaksa saya jadi ikut waspada memperhatikan jalanan di depan. Niat untuk tidur di taksi saya batalkan, sebab saya merasa sedang berada dalam situasi unsafe condition. Sekali saja pak sopir mak thekluk….., tersilap sedetik saja karena ngantuknya, maka bahaya mengancam keselamatan taksi dan penumpangnya. Gimana nih? Mau minta berhenti lalu ganti taksi di tengah jalan tol kok ya gimana gitu loh…..

Maka saya putuskan untuk mengajak ngobrol sopirnya. Itulah yang kemudian saya lakukan.

“Pak…”, panggil saya memecah keheningan (sebenarnya ya tidak hening, wong deru kendaraannya cukup bising). “Bapak kelihatannya capek sekali…”, kata saya.

“Iya pak, saya agak kurang tidur”, jawab pak sopir. “Kurang tidur kok agak. Ya tetap saja tidurnya kurang”, kata saya tapi dalam hati.

“Ngantuk ya pak?”, tanya saya lagi berbasa-basi memastikan, karena tujuan saya hanya untuk mengajak bicara (lha wong sudah jelas ngantuk kok ditanya juga….)

Di luar dugaan saya, pak sopirnya malah berkata jujur : “Iya pak, saya sendiri heran. Mungkin cobaan saya, ya…..”, sampai di sini saya masih belum ngerti apa maksud perkataan pak sopir. Lalu, lanjutnya : “Kalau sedang tidak narik penumpang, saya enak saja nyusup-nyusup jalan. Tapi kalau sedang membawa penumpang rasanya sering sekali ngantuk”.

“Waduh, gawat nih”, kata saya dalam hati. Lha, saat itu saya sedang jadi penumpang yang ditarik pak sopir je….. Ini kejujuran yang jelas tidak pada tempatnya. Ini adalah perilaku jujur yang tidak dianjurkan dan tidak terpuji (yang mau memuji ya siapa……). Jujur yang malah bikin takut.

Tiba-tiba saya ingat kalau di dalam saku tas ransel saya ada tersimpan permen “Davos”. Permen “Davos” adalah permen jadul (jaman dulu) yang bungkusnya berwarna biru tua dengan rasa peppermint yang tajam. Rasa pedasnya sangat nyegrak, sehingga sering membuat pengulumnya rada megap-megap. Tapi jangan heran kalau permen pedas ini masih banyak penggemarnya.

Segera saya rogoh saku ransel, saya ambil permennya, saya sobek bungkusnya, lalu saya tawarkan kepada pak sopir. Agak malu-malu tapi mau juga pak sopir menerimanya. Akhirnya saya dan pak sopir kompak mengulum permen “Davos” bersama-sama.

Entah karena kepedasan ngemut permen, entah karena kemudian saya ajak ngobrol, yang jelas kemudian pak sopir sudah tampak lebih sumringah, tidak lagi ngantuk seperti tadi. Tampaknya pak sopir sudah lupa dengan ngantuknya. (Aha… Ini dia. Tips baru untuk menghilangkan ngantuk, yaitu berusahalah untuk melupakan ngantuknya. Cuma cilakaknya, cara termudah untuk melupakan ngantuk, ya tidur….. Huh…!).

Permen pedas cap “Davos” berhasil menjadi pemecah kesuntukan yang dialami pak sopir taksi. Menit-menit berikutnya suasana berubah menjadi obrolan di dalam taksi. Obrolan yang makin asyik aja…. Apalagi kalau topiknya adalah kisah “kepahlawanan”. Maksud saya adalah kisah nostalgia pada jaman “perjuangan” episode kehidupan seseorang.

Bagi pak sopir taksi, kisah itu adalah tentang pekerjaannya sepuluh tahun yang lalu sebelum menjadi sopir taksi. Masa keemasan pak sopir ketika masih menjadi koordinator Satpam di kawasan pertokoan Mangga Dua. Dengan semangat empat-lima, pekerjaan hebatnya yang dulu itu diceritakannya dengan runtut sampai ke detil-detilnya, hingga akhirnya beliau terpaksa lengser keprabon saat terjadi kerusuhan Mei 1998. Dengan getir dituturkannya bahwa beliau akhirnya di-PHK karena saat terjadi kerusuhan rupanya banyak anak buahnya yang terbukti turut menjadi aktivis. Maksudnya, turut aktif menjarah toko-toko yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya.  

***

Ada dua pelajaran tidak terlalu penting tapi nyata. Pertama, tentang membangunkan sopir ngantuk. Kedua, tentang “menjinakkan” orang tua agar suka diajak bicara (tidak semua orang tua suka diajak cerita-cerita, lho…..)..

Untuk yang pertama, siapkanlah permen pedas. Semakin pedas semakin baik, asal bukan permen rasa sambal…. Untuk yang kedua, menggiring pembicaraan ke arah kisah “kepahlawanan”, “perjuangan”, “semangat empat-lima”, atau pokoknya yang sejenis itulah…..

Maka bagi kawan-kawan muda yang sedang mencari calon mertua, ada baiknya melakukan orientasi medan dan studi referensi tentang kisah “kepahlawanan” dari kandidat mertua. Hanya satu hal sebaiknya jangan dilakukan, yaitu ketika tahu sang kandidat mertua sudah ngantuk, janganlah lalu disuruh ngemut permen pedas…..

Yogyakarta, 15 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Bukan Saya

13 Mei 2008

Hari ini akan saya ingat sebagai hari yang agak beda dari biasanya. Ada dua peristiwa biasa tapi memberi hikmah yang tidak biasanya.

Jam delapan pagi saya sudah bergegas meluncur ke rumah seorang teman lama untuk melayat ibu mertuanya yang meninggal kemarin. Sudah agak lama saya tidak berkomunikasi dengan teman saya, yang hampir 29 tahun yll pernah sekamar kost di Yogya. Saya sempatkan untuk melayat ke rumah duka dan mengantar jenazahnya hingga ke pemakaman.

Baru saja tiba di rumah sepulang melayat, ada tilpun dari ibu mertua yang minta diantar ke rumah sakit. Segera bergegas lagi bersama istri menjemput ibu mertua dan mengantarnya ke RSUD Wirosaban, Yogyakarta. Setelah mengurus ini-itu di loket, kemudian tiba di ruang tunggu poliklinik penyakit dalam. Namanya juga ruang tunggu, jadi mestinya ya ruang untuk menunggu. Dan yang namanya menunggu dokter di rumah sakit rakyat jelata, tak terprediksi berapa lamanya. Tingkat kelamaannya akan berbanding lurus dengan tingkat kemanyunan pengantar dan penunggu seperti saya.

Sambil melamun manyun, terkadang duduk terkadang berdiri, sambil tersenyum kecut dalam hati seperti ada yang mengingatkan perjalanan saya beberapa jam sebelumnya pagi tadi. Sebenarnya tidak ada yang salah, dua pekerjaan telah dan sedang saya jalani dengan tanpa beban dan ikhlas (meski agak manyun juga kelamaan menunggu), mengantar jenazah mertua teman dan mengantar mertua sakit.

Tiba-tiba saya seperti sedang disadarkan. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar jenazah mertua teman ke pemakaman, bukannya saya yang diantar. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar mertua ke rumah sakit, bukan saya yang diantar.

Seringkali kita berlindung dan merasa nyaman berada di balik kata “bukan saya”. Bukan saya yang digusur, bukan saya yang jadi korban kecelakaan, bukan saya yang terkena bencana, bukan saya yang kesulitan beli minyak, bukan saya yang terpaksa meminta-minta, bukan saya yang di-PHK, bukan saya yang disia-sia Satpol PP, bukan saya yang gagal ujian, bukan saya yang…… , bukan saya…….

Semua berlalu tanpa makna. Begitu saja. Lalu kita pun lupa. Tapi dua pengalaman pagi tadi yang sebenarnya biasa-biasa saja, entah kenapa tiba-tiba menggetarkan hati saya. Bukan saya….., lalu apakah akan tetap begitu saja sambil menunggu tiba kesempatannya (kesempatan kok ditunggu…..), diantar seperti ibu mertua teman saya dan ibu mertua saya?

Padahal yang namanya kesempatan itu sama sekali tidak berbanding lurus atau berbanding terbalik atau berpersamaan matematika dengan waktu, melainkan adalah eksistensi diri kita sendiri. Bak quiz tapi judi di televisi yang direstui petinggi negeri, berbiaya premium tinggi dan dipandu mahluk cantik merak ati : siapa cepat dia dapat…… Begitu juga kesempatan mengantar atau diantar silih berganti tidak mengenal antri.

Yogyakarta, 13 Mei 2008
Yusuf Iskandar