Posts Tagged ‘merokok’

Hawa Segar Tanpa Asap Rokok

25 Maret 2010

Tahu kalau kepala rumah tangganya sudah beberapa hari libur merokok, maka segenap warga pun menyambut gembira. Bukan saja udara di rumah jadi lebih sehat, tapi juga hawa di kamar mandi/WC dimana surat kabar suka berserakan kalau pagi… jadi lebih alami menyegarkan (sebab bau WC-nya tidak bercampur asap rokok…)

Yogyakarta, 25 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Kepingin Merokok

19 Maret 2010

Seorang sahabat yang sejak lahir tidak pernah menyentuh rokok, penasaran ingin tahu bagaimana sih rasanya merokok? Lalu dia kepingin mencobanya dan mengambil rokokku. Sebagai teman yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, tentu saja kucegah.

Kubilang: “Janganlah, itu tidak baik untukmu”.
Dia protes: “Lha kalau tahu tidak baik kenapa kamu merokok?”.
Jawabku: “Tidak baik untukmu, tapi baik untukku karena rokokku tidak jadi kau ambil…”.

Yogyakarta, 18 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Dinyanyikan Istri

31 Januari 2010

Kepada teman baruku yang datang ke rumah tadi pagi, kutanyakan: “Merokok pak?”. Dijawbnya: “Saya sudah lama berhenti, karena setiap kali merokok istri saya pasti bernyanyi…”. “Kalau begitu sama pak”, kataku. “Oo bapak juga sudah stop rokok ya”, tanyanya. Aku pun menjawab: “Bukan pak, maksud saya, istri saya juga suka bernyanyi. Tapi karena saya suka dengan nyanyiannya, maka saya merasa sayang kalau berhenti merokok….”.

Yogyakarta, 31 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Sehari Tanpa Udut (1)

21 Maret 2008

Besok, Sabtu tanggal 31 Mei 2003, adalah Hari Tanpa Rokok Sedunia (World No Tobacco Day). Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly), sebuah badan di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization), telah menetapkan bahwa pada akhir setiap bulan Mei setiap tahunnya dihimbau kepada masyarakat dunia untuk stop udut (berhenti merokok) selama sehari. Tema global yang dikumandangkan diantaranya tempat kerja yang bebas dari rokok, tumbuh dan berkembang tanpa rokok, media dan rokok.

Niat WHO ini sebenarnya sangat mulia, memberi dukungan kepada para perokok yang ingin berhenti merokok dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya merokok atau dampaknya terhadap kesehatan. Karena itu, para perokok dihimbau agar mensukseskan Hari Tanpa Rokok Sedunia, dengan cara TIDAK MEROKOK pada tanggal 31 Mei 2003. Sehari saja, dalam 365 hari. Atau, hanya 1/365 tahun. Tapi jangan tanya kepada para perokok, sehari tanpa udut, bukan main kecut-nya…….

Pariwaranya memang menyeramkan : 3,5 juta orang per tahun di dunia meninggal karena rokok, atau gampangnya setiap hari 10,000 orang di dunia meninggal karena rokok. Di Inggris, 120 ribu orang meninggal setiap tahun karena rokok. Di Amerika, 346 ribu orang meninggal setiap tahun karena rokok. Di Indonesia, “hanya” 57 ribu yang setiap tahun meninggal karena rokok. Lho, kok sedikit sekali? Padahal jumlah penduduknya saja sedikit di bawah Amerika dan peredaran komoditas hisap-menghisap ini luar biasa bebasnya, nyaris tanpa kendali, dibanding di negara-negara maju.

Peraturan untuk maksud pengendalian sebenarnya sudah ada, yaitu PP No. 81 tahun 1999, tentang pengamanan rokok bagi kesehatan. Tapi, ya peraturan tetap saja peraturan. Pelaksanaan dari peraturan itu bisa jadi ceritera yang berbeda. Menurut Komite Nasional Penanggulangan Masalah Merokok (KNPMM), pemerintah tidak tegas dalam pelaksanaannya. Saking gemasnya, KNPMM pada tahun 2000 melemparkan sinyalirnya bahwa sekitar 85 juta penduduk Indonesia berusia remaja saat ini akan menjadi perokok berat dan 12 sampai 13 juta diantaranya akan tutup usaia dalam usia setengah baya. Nah, lu….

Para “ahli-hisap” ini kini dihadapkan dengan fakta yang menyatakan bahwa dari jumlah 1000 orang, 1 (satu) orang meninggal karena pembunuhan, 6 (enam) orang meninggal karena kecelakaan dan 250 orang meninggal karena rokok (termasuk tentunya hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan aktifitas merokok). Dengan kata lain, ada angka statistik yang cukup menakutkan : 3 dari 10 orang meninggal karena rokok.

Seorang rekan bertanya kepada saya : “Piye, Mas…?”.

Maka sambil cengengesan saya berkomentar : “7 dari 10 orang meninggal karena tidak merokok……!”

Bagaimanapun juga, sejujurnya harus saya katakan, bahwa tidak merokok itu lebih baik dari pada merokok, kalau mau. Lha, kalau tidak mau? Resiko ancaman kesehatan serius menanti Sampeyan semua para “ahli-hisap”, cepat atau lambat.

Maka — Insya Allah — saya berniat memenuhi ajakan simpatik kali ini : “Jadikan tanggal 31 Mei sebagai hari pertama dalam hidup Anda tanpa asap rokok”. Indah sekali!.

Tembagapura, 30 Mei 2003.
Yusuf Iskandar

(Yang merasa menyesal minggu lalu menipu dokter dengan mengatakan sehari hanya menghisap 5 batang rokok, padahal sebenarnya menghabiskan hampir satu pak).-

Sehari Tanpa Udut (2)

21 Maret 2008

Tidak merokok, sehari saja, bagi seorang perokok tentu bukan pekerjaan yang mudah. Perlu  perjuangan yang luar biasa untuk mampu melakukannya. Ini memang kata-kata yang kedengaran bombastis, di telinga mereka yang bukan perokok. Tapi coba tanya kepada para perokok, maka jawabannya : “Ya kecut……..”.

Kemarin, 31 Mei 2003, adalah hari “Sehari Tanpa Rokok” atau yang dikenal dunia dengan sebutan “World No Tobacco Day”. Berbagai ajakan dan himbauan diluncurkan kepada para perokok untuk mengambil bagian dalam sehari yang istimewa ini. Namun tampaknya, kampanye tentang hal ini masih belum gencar. Masih memerlukan trik perhumasan yang lebih provokatif. Masih memerlukan sistem pemasaran (marketing) yang lebih sistematis, sehingga mampu menjangkau segenap lapisan masyarakat kaum “ahli-hisap” ini.

Saya memang bukan seorang perokok berat, setidak-tidaknya sehari paling-paling “hanya” membakar belasan batang rokok saja, masih dalam bilangan satu pak kurang sedikit, sejenis rokok putih Marlboro. Ukuran berat tidaknya seorang perokok, bagi saya adalah kalau pembandingnya mereka yang sehari berhasil menghabiskan lebih dari satu pak rokok.

Meskipun demikian, sekali lagi, sungguh bukan pekerjaan mudah untuk stop udut, sehari saja. Barangkali kalau hari “Sehari Tanpa Rokok” itu jatuh pada hari kerja, rasanya akan lebih menguntungkan. Mengingat kawasan tempat kerja termasuk kawasan bebas rokok (maksudnya bebas dari asap rokok, dan bukan bebas untuk merokok), sehingga kesempatan untuk merokok menjadi sempit, dan situasi yang menerpaksakan ini akan sangat membantu untuk mengambil bagian dalam kampanye untuk tidak udut sehari.

Sialnya, hari istimewa ini jatuh pada hari Sabtu, dimana kebanyakan dari kita sedang dalam kondisi libur, istirahat dan pokoknya santai tanpa beban. Lha, situasi nglaras seperti ini justru enak-enaknya untuk menghisap rokok, kata para perokok.

Berbekal niat untuk menyambut ajakan simpatik : “Jadikan tanggal 31 Mei 2003 sebagai hari pertama dalam hidup Sampeyan tanpa asap rokok”, maka saya ingin mewujudkannya. Meskipun sebenarnya ya hil yang mustahal. Mana ada orang yang sejak lahir langsung udut hingga dewasa, sampai-sampai perlu menciptakan hari pertama tanpa rokok dalam hidupnya.

Seperti biasanya, pagi-pagi saya langsung menyeruput secangkir kopi kental manis (kalau kopi pahit ya namanya jamu). Believe it or not, setiap perokok yang terbiasa berada dalam suasana seperti ini akan mengekspresikannya dengan satu kata : “nikmaaaaat….” (dengan “a” agak panjang…..).  Apalagi, berada di daerah yang cuacanya selalu dingin dan matahari sering terlambat datang, seperti Tembagapura atau daerah pegunungan umumnya. Seperti biasanya juga, otomatis sebatang rokok secepatnya nangkring di bibir.

Rupanya anak laki-laki saya memperhatikan ulah bapaknya. “Katanya sehari tanpa rokok……..”, sindirnya. Wah, saya benar-benar lupa. Kepalang basah, setelah sempat “mencuri” beberapa hisapan lalu saya matikan rokoknya. Sudahlah! Pokoknya sehari ini harus tanpa rokok, tekad saya dalam hati.

Tapi, sialnya ya itu tadi. Karena “Sehari Tanpa Rokok” ini jatuh di hari Sabtu, maka godaan sungguh lebih berat. Leyeh-leyeh di depan TV tanpa rokok, jalan-jalan menghirup udara segar di luar rumah tanpa rokok, lebih-lebih ada undangan kumpul-kumpul, tidak ikut merokok saat orang lain pada cuek merokok. Jadinya, ya tuambah kecut……

Sore hari, kembali menyeruput kopi manis tanpa rokok menyertai. Malam hari ada acara kumpul-kumpul (namanya juga malam Minggu), lagi-lagi tanpa rokok. Setiap habis makan, ya cuma tolah-toleh celingukan dan menahan diri. Malam hari sekitar jam sepuluh, saya nyaris gagal. Mengambil rokok, keluar rumah (karena khawatir ditegur lagi sama anak saya), menyelipkan sebatang rokok di bibir, lalu menyalakan korek api….. Ya, ndilalah…. kok ya sempat mikir : “Lha ngapain Sampeyan menahan tidak udut seharian tadi kalau akhirnya digagalkan juga?”, demikian kata hati saya. Akhirnya, rokok saya masukkan kembali.

Dalam hati saya sebenarnya juga heran. Sebenarnya untuk apa saya melakukan kebiasaan “menyimpang” ini? Ini memang semata-mata komitmen pribadi. Ukurannya adalah ukuran moral diri sendiri. Sebab, saya langgar atau tidak, tidak bakal ada yang mengolok-olok atau memuji, bahkan diketahui orang pun tidak. Saya langgar atau tidak, yang berwajib juga ora urus (tidak perduli), tidak ada konsekuensi hukum. Saya langgar atau tidak, ya tidak berhubungan langsung dengan dosa (meskipun sebagai orang Islam saya tahu kalau saya berhasil tidak merokok maka saya akan memperoleh ganjaran dari Yang Maha Kuasa).
                         
Rasanya, menahan diri tidak merokok selama sehari (tidak plus semalam), seperti yang dilakukan orang di bulan Ramadhan, terasa lebih ringan. Sebab ada konsekuensi hukum agama yang membatasi saya. Situasi lingkungan juga mendukung. Dan lagi, setelah tiba waktu berbuka, saya bisa “balas dendam” merokok sepuas-puasnya hingga tiba saat sahur.

Nah, kalau hari Sabtu kemarin ini, tidak ada hujan tidak ada angin tapi saya mesti tidak merokok sehari-semalam. Tantangan dan godaan lebih banyak dan bervariasi. Sungguh saya merasakannya sebagai upaya yang luar biasa beratnya.

Namun akhirnya, alhamdulillah…., kok ya saya bisa melakukannya, meskipun di awal paginya sempat “mencuri” beberapa hisapan akibat lupa. (Ibarat orang yang sedang berpuasa tapi lupa sehingga dia minum, maka dia bebas dari sangsi atas kelupaannya itu).

Paling tidak, kini terselip sedikit (saja) rasa bangga bahwa saya berhasil mensukseskan hari istimewa “Sehari Tanpa Rokok” pada tanggal 31 Mei 2003. Tanpa pujian. Tapi setelah itu, lalu apa? Merokok lagi hingga tanggal 30 Mei 2004? Atau, lebih baik menambah jumlah “Sehari Tanpa Rokok”, tidak hanya sehari kemarin saja? Cilakak lagi, hari keduanya ternyata hari Minggu, yang berarti frekuensi godaannya kurang lebih sama dengan kemarin.

“Selamat”, bagi para perokok yang berhasil mewujudkan tanggal 31 Mei 2003 kemarin, sebagai “Sehari Tanpa Rokok” dalam hidupnya. Tapi, apa kira-kira ada, ya? Jangan-jangan hanya saya saja yang sehari kemarin ngoyoworo (melakukan perbuatan yang sia-sia) berperilaku “menyimpang”……….

Tembagapura, 1 Juni 2003.
Yusuf Iskandar