Posts Tagged ‘merbabu’

Para Pendaki Kecil Itu Sudah Kembali

11 Juni 2009

IMG_2512_r

Ketika mengantar anak-anak ke terminal bis Jombor, Jogja, saya dan anak-anak ada kesepakatan untuk memberi kabar via SMS setiap kali dapat sinyal ketika mendaki Merbabu. Kebetulan dua dari keempat anak-anak pendaki kecil itu membekali diri dengan ponsel. Tujuan saya sebenarnya hanya ingin terus memastikan perjalanan mereka dalam rangka menjalankan “kewajiban” sebagai orang tua.

Menjelang siang, sebuah SMS pendek saya terima. Bunyinya : “Magelang”, yang saya terjemahkan bahwa anak-anak itu sudah sampai di terminal bis Magelang. Tengah hari datang lagi SMS pendek berbunyi : “Wekas”, yang saya terjemahkan bahwa anak-anak itu sudah sampai di desa Wekas setelah berjalan kaki dari jalan raya menuju desa terakhir sebagai titik awal pendakian. Oleh anak-anak tempat itu biasa disebut dengan base camp.

Tidak lama kemudian datang lagi SMS berbunyi : “Masjid”. Dalam bayangan saya anak-anak itu sedang beristirahat di desa terakhir sambil sekalian menunaikan sholat dhuhur di masjid kecil yang ada di sana.  Kurang dua jam kemudian, sekitar jam 15:00 saya menerima lagi SMS pendek : “Pos 1”. Berarti mereka sudah mulai mendaki dan mencapai lokasi yang disebut Pos 1.

Hingga sorenya, lalu malam menjelang ternyata tidak ada lagi SMS masuk. Itu pasti karena sinyal ponsel sudah tidak sanggup lagi mendaki seiring semakin tingginya rute pendakian. Saya menduga anak-anak malam itu nge-camp di pemberhentian kedua atau Pos 2, sebab menurut informasi di sekitar Pos 2 lokasinya cocok untuk berkemah. Selain topografinya relatif datar, juga ada sumber air. Jika benar demikian, maka anak-anak itu sudah berjalan sesuai dengan rencana pendakian mereka. Esok fajarnya mereka akan melakukan summit attack atau mendaki menuju puncak. Setelah itu lalu langsung turun kembali.

IMG_2583_r1Esok siangnya saya tungu-tunggu kok tidak ada SMS masuk. Padahal kalau mereka langsung turun gunung mestinya saat tengah hari sudah sampai Pos 1 atau desa Wekas dimana sinyal sudah menunggu di sana. Hingga sore tidak juga ada kabar. Saya coba tilpan-tilpun juga tidak nyambung. Sempat sekali berhasil nyambung, tapi belum sempat bicara banyak kemudian terputus, dan setelah itu susah dihubungi lagi.

Mulailah pikiran saya mencoba menduga-duga. Kemungkinan yang terjadi adalah baterei HP mereka drop atau tidak bekerja baik, entah karena kebasahan, rusak karena jatuh, atau sebab lain. Kalau kehabisan pulsa rasanya tidak, sebab saat saya hubungi mestinya bisa nyambung. Tapi jelas mereka sudah turun dari puncak dan berada di sekitar Pos 1 karena tadi komunikasi bisa nyambung sebentar meski kemudian terputus lagi. Satu hal yang mengganggu pikiran saya adalah mereka tidak mau memenuhi saran saya untuk menyewa ranger atau penduduk setempat yang diajak menemani mendaki sebagai petunjuk jalan. Kelakuan ini sebenarnya sudah saya cium sebelumnya. Rasa percaya diri mereka tinggi sekali.

Hingga senja hari belum juga ada kabar dari anak-anak. Padahal menurut rencana mestinya mereka sudah turun dan setidak-tidaknya dalam perjalanan kembali ke Jogja. Kemungkinan terburuk adalah mereka bermalam di jalan sebelum mencapai desa terakhir, entah karena cuaca tiba-tiba berubah buruk atau sebab lain. Kalau hal terakhir itu yang terjadi mereka sudah siap dengan bekal lebih yang mereka bawa, minimal untuk satu hari kemudian.

Salah seorang orang tua dari teman anak saya sudah dua kali menilpun menanyakan kabar anaknya, yang katanya sudah mencoba menghubungi HP-nya tidak bisa. Sebuah kekhawatiran yang sangat wajar kalau mengingat para pendaki kecil itu sebenarnya masih di bawah umur untuk mendaki gunung dengan tanpa didampingi orang dewasa. Kalau saja mereka jadi disertai oleh guru pembinanya seperti rencana awal pendakian mereka, tentunya orang tua tidak perlu terlalu khawatir.

IMG_2527_rHingga hari gelap belum juga ada kabar. Ya, sudah. Saya harus percaya pada kemampuan anak-anak itu untuk mengatasi masalah kalau-kalau ada hambatan di jalan sebagaimana mereka sudah menunjukkan tekad dan semangatnya untuk kekeuh ingin mencapai puncak Merbabu.

Eh… sekitar jam 19:30, tiba-tiba ada SMS masuk. Bunyinya : “Lg dlm p’jlanan plg”. Spontan saya tilpun mereka yang rupanya sedang naik bis Trans Jogja menuju rumah. Cuma yang membikin saya kami tenggengen… alias rada bengong, adalah kata-kata anak saya kemudian : “Sudahlah…., bapak tenang aja….”. Dalam hati saya rada jengkel juga, antara mau bilang “kurang ajar” dan “alhamdulillah” berbaur menjadi satu…..

Tapi sudahlah…., namanya juga anak-anak. Mungkin seharusnya saya merasa bangga karena mereka telah membuktikan tekad dan semangatnya dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Rupanya para orang tua seperti saya ini terkadang suka under estimate terhadap kemampuan anak-anak. Padahal dalam banyak pengalaman mereka seringkali memperlihatkan kemampuannya lebih dari yang saya sangka.

Orang tua memang tidak seharusnya terlalu protektif, melainkan bijaksana dalam mengarahkan keinginan anak-anaknya. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk membekali anak-anaknya dengan ilmu dan pengalaman yang benar. Masalahnya adalah bahwa ternyata tidak mudah menentukan batas antara yang boleh dan tidak boleh, sebab setiap anak memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda-beda. Maka kemudian menjadi wajar kalau adakalanya orang tua lalu besikap protektif berlebihan karena menerapkan faktor pengaman yang terlalu tinggi. Kalau di-umbar begitu saja seperti kambing nanti jangan-jangan dianggap sebagai orang tua tidak bertanggungjawab. Peran untuk menjadi nyinyir, reseh dan cerewet adakalanya perlu dilakonkan oleh orang tua.

***

IMG_2581_rSesampainya Noval dan ketiga temannya di rumah, segera saya “interogasi”. Tujuan saya sebenarnya ingin mengapresiasi mereka dan menjajaki seberapa banyak mereka telah belajar dari perjalanan pendakiannya. Tahulah saya kemudian bahwa Noval dan seorang temannya berhasil melakukan summit attack mencapai salah satu puncak Merbabu dan menunaikan sholat Dhuha di puncak Merbabu. Sedang dua temannya yang lain menyerah dan hanya menunggu di Pos 2.

Namun rupanya anak-anak bisa juga menjadi kurang suka kalau dicereweti orang tuanya. Sementara ibunya Noval hanya berkomentar sambil lalu, membela anaknya : “Bapak ini kayak Satpam saja banyak tanya, ya….” (padahal setahu saya tidak semua Satpam suka banyak tanya).  Lalu disambung : “Sudah…., itu pakaian kotornya dikumpulkan di belakang……”.

Saya hanya tersenyum kecut, sambil agak bangga berkata dalam hati : “Para pendaki kecil itu sudah kembali, sambil cengengesan… Kalian memang ruarrr biasa….”

Yogyakarta, 11 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Puncak gunung Merapi dilihat dari puncak gunung Merbabu

Puncak gunung Merapi dilihat dari puncak gunung Merbabu

IMG_2543_r

Para Pendaki Kecil Yang Ruarrr Biasa

10 Juni 2009

IMG_2624_rJanjinya anak-anak akan selalu meng-update bapaknya via SMS… Lha ini sampai malam kok tidak ada kabarnya, padahal mestinya sudah turun gunung dan pasti ada sinyal. Jangan-jangan harus nge-camp di gunung semalam lagi? Ujuk-ujuk masuk SMS : “Lg dlm p’jlanan plg”. Kontan saya tilpun mereka. Suara kecil di seberang sana : “Sudahlah…., bapak tenang aja….”. Dalam hati saya, antara bilang ‘kurang ajar’ & ‘alhamdulillah’ jadi satu… Rupanya kita para ortu ini suka under estimate terhadap anak-anaknya..

(Malam ini menjelang pukul 20:00 WIB, anak-anak itu sampai di rumah dari pendakiannya ke gunung Merbabu sejak berangkat dari Jogja kemarin, sambil cengengesan…. Selamat… selamat…., para pendaki kecil…. Kalian memang ruarrr biasa…)

Yogyakarta, 10 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Selamat Mendaki, Para Pendaki Kecil

9 Juni 2009

100_3786_MerbabuAwalnya anak saya (Noval, 15 tahun) mengajak mendaki gunung Rinjani (3726 mdpl), di pulau Lombok, dalam rangka mengisi waktu libur sambil menunggu hasil UAN SMP-nya. Tapi sayang, bekalnya belum memadahi. Pesawat Jogja-Mataram pp. plus akomodasi, konsumsi, transport lokal, dll, untuk berdua pasti lumayan banyak jumlah rupiahnya. Pada waktu yang bersamaan ibunya sedang butuh tambahan dana cukup banyak untuk membuka toko. Dengan sangat menyesal, saya menjanjikan untuk menjadwal ulang rencana pendakian ke gunung Rinjani.

Sudah berbulan-bulan ini Noval suka menunggu acara adzan maghrib di depan televisi. Bukan tanda waktu sholatnya yang ditunggu (wong waktu sholat Jakarta), melainkan gambar awal tayangan adzan maghrib di saluran Trans7 adalah pemandangan danau Segara Anak yang membentang indah di tengah perjalanan mendaki Rinjani.

Rupanya diam-diam Noval merencanakan pendakian alternatif. Beberapa temannya termasuk guru sekolahnya dihubungi dan diajak mendaki ke gunung Merbabu (3142 mdpl). Walhasil, tiga orang temannya jadi bergabung, sementara gurunya berhalangan. Lalu dimatangkanlah rencana pendakian ke gunung Merbabu, tanpa saya ketahui.

Tiba-tiba Noval minta ijin besok mau mendaki Merbabu. Waduh….. Lalu bermunculan aneka pertanyaan untuk memastikan kesungguhannya. Ternyata memang rencana sudah matang. Bahkan ketika gurunya berhalangan pun mereka tetap berniat berangkat. Jelas, rencana tidak mungkin dibatalkan, sebab semua sudah disiapkan oleh Noval dan ketiga temannya.

Terkadang terpikir juga, jangan-jangan saya ini tergolong orang tua yang kelewat reseh dan khawatiran. Ya, sementara saya berpikir panjang untuk mengijinkan anak saya mendaki gunung dengan tanpa pendamping orang yang lebih dewasa, sementara itu pula para orang tua dari ketiga temannya Noval sepertinya biasa-biasa saja.

Sebenarnya bukan soal diijinkan atau tidak diijinkan, melainkan saya hanya khawatir kalau anak-anak itu menganggap bahwa mendaki gunung itu sekedar olah raga kuat jalan mendaki sambil membawa beban di punggungnya. Seperti halnya anggapan para kawula muda umumnya yang baru menyukai hobi petualangan di alam liar. Sedang yang sesungguhnya mendaki gunung itu jauh lebih memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tidak sesederhana itu. Berita terakhir tentang pendaki yang tersesat di gunung Argopuro (Jatim) dan Ciremai (Jabar), hanyalah sedikit contoh dari tidak sederhananya kegiatan mendaki gunung itu.

Rupanya tekad dan semangat untuk mendaki sudah telanjur tidak bisa dipadamkan. Akhirnya ijin orang tua pun turun, tinggal kewajiban orang tua memberi bekal ilmu dan pengarahan yang cukup.  Saya tidak ingin mereka sekedar berhasil mencapai puncak, melainkan harus ada yang mereka pelajari dan hikmahi melalui kegiatan yang tidak biasa bagi anak-anak seusianya itu.

Selasa pagi ini cuaca Jogja sedang rada muram. Sejak pagi teman-teman Noval sudah berdatangan ke rumah dengan masing-masing membawa tas ransel besarnya. Noval minta diantar ke terminal bis Jombor di Jogja utara. Saya pun segera menyiapkan kendaraan. Namun sebelum berangkat, Noval dan ketiga temannya (Alfian, 15 tahun; Irman 14 tahun dan Faisal 14 tahun) saya kumpulkan untuk diberi pengarahan. Sementara komentar ibunya sederhana saja : “Wah, harus siap-siap menerima setumpuk pakaian kotor, nih….”.

***

Hal pertama yang saya pastikan kepada ketiga teman Noval adalah apakah sudah memperoleh ijin dari orang tua masing-masing bahwa mereka akan mendaki Merbabu dengan tanpa guru pendamping. Jawaban mereka kompak : “Sudah”. Setelah itu saya tanyakan rencana perjalanan pendakiannya. Lalu saya ingatkan bekalnya harus cukup termasuk untuk antisipasi keadaan darurat jika harus bermalam lebih lama di gunung. Selanjutnya mulailah saya memberikan kultum (kuliah tujuh menit, lalu molor sampai 15 menit).

Hal-hal pokok yang saya ingin tegaskan adalah bahwa mendaki gunung itu tidak boleh dianggap sebagai kegiatan yang remeh. Tidak boleh sombong, betapapun kuatnya. Harus kompak dan bertenggang rasa dengan kondisi fisik temannya. Jangan memaksakan diri jika di tengah jalan cuaca menjadi buruk, dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Lalu saya suruh mereka sebelum mendaki supaya meminta bantuan penduduk setempat untuk menemani pendakian. Seseorang yang oleh para pendaki sering disebut dengan sebutan salah kaprah “ranger”. Terakhir saya minta supaya mengirim SMS setiap kali ketemu sinyal.

Gunung Merbabu sebenarnya bukan gunung dengan tingkat kesulitan tinggi. Bentang alam topografi dan pepohonannya relatif tidak menyulitkan. Untuk mencapai puncaknya tidak seberat dan seberbahaya puncak Merapi. Namun tetap saja kemungkinan terburuk harus diantisipasi, di antaranya adalah perubahan cuaca seputaran komplek gunung Merbabu-Merapi.

Itulah sebabnya kenapa saya sebagai orang tua menjadi kedengaran begitu reseh? Karena mereka adalah pendaki-pendaki kecil yang masih suka cengengesan, yang saya khawatirkan belum mampu berpikir jernih ketika terjadi keadaan darurat di tempat yang adoh lor adoh kidul (jauh dari mana-mana), sementara kondisi fisiknya sangat terkuras. Noval dan seorang temannya memang sudah dua kali mendaki Merbabu, tapi dua orang temannya yang lain belum pernah. Dan kali ini adalah pendakian pertama mereka dengan tanpa didampingi oleh seorang dewasa. Akhirnya, sebelum berangkat mereka saya suruh melakukan sholat safar, sebagaimana kebiasaan kami setiap kali sebelum bepergian jauh.

“Selamat mendaki, para pendaki kecil……”. Ibu kalian di rumah menunggu dan siap menerima order cucian pakaian kotor tanpa biaya….

Yogyakarta, 9 Juni 2009
Yusuf Iskandar

(Note : Ilustrasi foto di atas diambil dari http://morishige.wordpress.com)

Akhirnya Berangkat Juga Ke Merbabu

9 Juni 2009

Akhirnya….. Pagi tadi saya mengantar Noval dan tiga orang temannya ke terminal bis Jombor, setelah sebelumnya saya briefing mereka yang rata-rata berumur 14-15 tahun itu. Beberapa jam kemudian melalui HP temannya kirim SMS, bunyinya : “Magelang” (maksudnya sudah sampai di terminal bis Magelang). Tidak lama kemudian datang lagi SMS : “Wekas” (maksudnya sudah sampai di base camp Wekas, di kaki utara Merbabu). “Selamat mendaki wahai para pendaki kecil…”

……. Tengah hari datang lagi SMS, bunyinya : “Masjid” (maksudnya sudah sampai di masjid terakhir di base camp, sholat dhuhur sebelum mulai mendaki). Kurang dua jam kemudian datang lagi SMS : “Pos 1” (berarti sudah mendaki sampai di Pos 1)…. Take care kids…..

Yogyakarta, 9 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Anakku Mau Mendaki Merbabu

9 Juni 2009

Anakku yang lagi nunggu hasil UAN SMP minta ijin besok mau mendaki gunung Merbabu (ini untuk yang ketiga kalinya) bersama teman-temannya. Sementara saya tahu guru pembinanya yang semula akan mendampingi ternyata tidak bisa. Tapi anakku ngotot pokoknya tetap akan mendaki… Karena saya sedang repot ngurusin toko, maka lewat HP saya pesan : “Tunggu dulu, nanti malam kita diskusikan….”. Sebenarnya saya sedang mengulur waktu untuk berpikir keras agar ada jalan keluar terbaik… Njuk piye yo…?

(Noval, 15 tahun, berniat mengisi waktu liburannya dengan mengajak tiga orang temannya mendaki gunung Merbabu, 3142 mdpl, di Jawa Tengah. Semula akan mengajak guru sekolahnya, tapi belakangan sang guru berhalangan ikut, dan Noval tetap ngotot mau mendaki juga…)

Yogyakarta, 8 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Dibohongi Anak Saya (Mendaki Gunung Merbabu)

16 Juli 2008

Ke_Merbabu1

Pada penghujung tahun lalu (31 Desember 2007), anak laki-laki saya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP swasta di Jogja ngotot minta ijin ikut mas-mas mahasiswa mendaki gunung Lawu (+3265 meter dpl). Padahal cuaca lagi jelek-jeleknya. Karena bapak dan ibunya tidak bisa menolak tapi juga tidak tega melepasnya, akhirnya bapaknya turun kaki ikut menemani mendaki gunung juga.

Pada bulan Juli ini, dalam rangka mengisi kegiatan liburan kenaikan kelas sekolah SMP-nya, anak saya terlibat merencanakan kegiatan petualangan juga. Menjelang sore di awal minggu lalu (tepatnya 7 Juli 2008), mendadak anak saya minta diantar ke terminal Jombor, Jogja. Padahal rencana semula berangkatnya bersama-sama dari sekolahnya.

Anak saya minta ijin, katanya mau melakukan survey lokasi untuk kegiatan outbond teman-teman sekolahnya. Boleh juga, pikir saya. Anak saya dipercaya untuk melakukan survey pendahuluan. Tentu saja ada sepercik rasa bangga sebagai orang tua. Maka saya pun berangkat mengantarnya ke terminal Jombor. Selanjutnya bersama seorang teman dan gurunya akan naik bis, katanya menuju ke lokasi survey di daerah perbukitan Menoreh, Magelang.

Keesokan sorenya anak saya kirim SMS, entah dari HP siapa, isi pesannya minta dijemput di terminal bis yang sama seperti kemarin. Oke, memahami kondisi fisiknya yang pasti kecapekan, sementara dia juga membawa perlengkapan berkemah, maka saya legakan juga untuk menjemputnya.

Di perjalanan pulang dari terminal, saya tanyakan bagaimana hasil survey-nya? Jawabnya sambil nyengenges : “Saya tidak jadi survey kok, tapi kemarin langsung mendaki gunung Merbabu…”.

Wow…, tobil anak kadal……! Jebul aku diapusi anakku (ternyata saya dibohongi anak saya).

Ini pasti hasil karya akal-akalan. Mau mendaki gunung Merbabu (+3142 mdpl), tapi pamitnya survey lokasi outbond. Ya tidak salah juga. Mendaki gunung juga aktifitas outbond, untuk survey berarti juga melakukannya. Kalau anak saya kemarin berterus-terang pamit mau mendaki gunung, memang ya belum tentu akan diijinkan ibunya.

Dulu waktu turun dari gunung Lawu anak saya memang pernah usul bahwa kalau nanti liburan kepingin naik gunung lagi. Berhubung bapaknya sibuk keluyuran midar-mider kemana-mana, akhirnya ketika liburan tiba belum sempat membicarakan rencana atau angan-angan anak saya enam bulan yang lalu. Barangkali karena itu, agar bapak-ibunya tidak reseh lalu dia mencari cara agar bisa naik gunung. Ya, dengan alasan survey lokasi outbond itu tadi.

(Mestinya anak saya tidak perlu berbohong dan tidak perlu takut mengatakan yang sebenarnya. Sebab bapaknya pasti kepingin ikut juga kalau tahu mau naik gunung…….)

Kini anak saya sudah booking lagi, kalau nanti liburan minta diajak ke gunung Semeru (+3676 mdpl) atau Rinjani (+3726 mdpl)…. Ugh….! Alamat mesti pasang status waspada bakal dibohongi lagi nih….

Yogyakarta, 16 Juli 2008
Yusuf Iskandar