Posts Tagged ‘mendaki’

Anak Saya Mulai ”Gila” Mendaki Gunung

26 Desember 2008

img_0658_gunung1

Sepuluh minggu terakhir ini saya perhatikan anak saya (Noval, 14 tahun, kelas 3 SMP) sudah mendaki empat gunung. Mula-mula gunung Welirang (3.159 meter di atas permukaan laut) di Jawa Timur, lalu gunung Merbabu (3.142 mdpl), puncak perbukitan Menoreh (1.019 mdpl), dan terakhir gunung Sundoro (3.150 mdpl) di Jawa Tengah. Belum termasuk kegiatan outdoor lainnya seperti rapeling (turun dengan tali) yang biasanya dilakukan di jembatan Babarsari, Condong Catur, Sleman. Terakhir, hiking dari gua Ceremai hingga menyusuri pantai Parangtritis.

Setiap ada tanggal merah di kalender, dia mulai kasak-kusuk untuk mencari teman agar bisa mengadakan kegiatan mendaki gunung. Nyaris saban hari yang terlintas di pikirannya adalah soal daki-mendaki dan kegiatan adventure lainnya.

Ibunya yang belakangan jadi manyun kalau anak laki-lakinya ini sudah mulai merengek-rengek minta uang untuk membeli perlengkapan outdoor. Sekali waktu saya minta dia membuat daftar inventaris, perlengkapan apa saja yang sudah dimiliki atau dibelinya, dan berapa total nilai rupiahnya. Rupanya dia sudah siap, lalu disodorkannya sebuah daftar panjang yang antara lain tertulis : tenda, sleeping bag, nesting (alat masak), tas punggung dan cover bag-nya, matras, sarung tangan, sepatu, sabuk, sentolop (senter jarak jauh), aneka piranti untuk mengikatkan tali ke tubuh saat naik atau turun, seperti carabiner, figure of 8, tali prusik, webbing. Masih ada lagi kompas, pisau komando dan termasuk kantong HP. Daftar itupun masih ditambah dengan perlengkapan lain yang direncanakan mau dibelinya juga (sambil menunggu pusar ibunya bolong… katanya biar dikasih uang).

Ketika ibunya menggerutu : “Lha uang yang sudah keluar kok banyak sekali?”.

Jawabnya ringan saja : “Makanya ibu jualan perlengkapan outdoor saja, nanti untungnya untuk saya…., untuk beli alat-alat lainnya…..”.

Mendengar dialog spontan ini, yang terlintas di pikiran saya justru sisi peluang bisnisnya… Barangkali benar juga, buka toko outdoor bisa jadi adalah peluang bisnis yang berprospek bagus di kawasan Yogyakarta dimana banyak orang-orang muda yang hobi adventure alias kegiatan di alam terbuka. Soal kegiatan outdoor, masyarakat Yogya memang tergolong termanjakan oleh fasilitas alam. Dekat gunung, sungai, pantai, gua, bukit terjal, dsb.

Sebagai orang tua, memperhatikan anak yang gejala-gejalanya mulai “gila” dengan aktifitas mendaki gunung ini, tentu saja lama-lama membuat khawatir. Bukan soal kegiatannya yang bertubi-tubi, melainkan khawatir kalau jadi lupa atau abai dengan tugas sekolahnya, sebab sebentar lagi ujian akhir SMP. Sementara orang tuanya tahu, bahwa Noval bukanlah tergolong anak yang mudah dalam belajar, alias perlu didorong-dorong, dikejar-kejar, disemangati dan terkadang agak dipelototi, itu pun masih ngos-ngosan untuk dapat nilai di atas 7. Agaknya, IQ-nya memang tidak dirancang untuk menghafal atau mengerjakan matematika.

***

Sejak beberapa waktu yang lalu, Noval membujuk-bujuk bapaknya agar mau menemani mendaki gunung Semeru (3.676 mdpl) di Jawa Timur atau Rinjani (3.726 mdpl) di pulau Lombok, pada penghujung tahun 2008 ini. Sebenarnya ingin juga saya memenuhinya, karena perjalanan pendakian ke kedua gunung itu memang sangat menarik. Selain medannya cukup menantang, pemandangan alamnya begitu indah. Terakhir saya mendaki Semeru tahun 1983 dan Rinjani tahun 1989.

Namun saya mencoba memahamkan Noval untuk menunda rencana itu, pasalnya akhir tahun adalah bukan waktu yang tepat untuk menikmati pemandangan gunung. Cuaca lebih sering mendung, hujan atau setidaknya banyak kabut. Telanjur jauh-jauh pergi dari Yogya dengan pengorbanan waktu, tenaga dan biaya, kalau kemudian tidak bisa melihat apa-apa di sepanjang perjalanan pendakian, rasanya rugi sekali. Sedangkan menikmati cantiknya pemandangan alam adalah salah satu hal yang sebaiknya jangan dilewatkan ketika mendaki gunung. Mudah-mudahan saya masih punya kesempatan untuk menemaninya, entah kapan.

Akhirnya Noval dapat menerima alasan saya. Tapi….. (lha ini yang bikin deg-degan), harus ada gantinya. Kata Noval, pokoknya tahun baru mau muncak (menggapai puncak gunung), seperti tahun baru setahun yang lalu ke puncak gunung Lawu (3.265 mdpl). Rupanya kemudian diam-diam dia sudah punya rencana untuk mendaki gunung Merbabu, untuk yang ketiga kalinya.

Ibunya hanya bisa nggrundel….. : “Naik gunung kok terus-terusan ki ngopo to, Le?” (Le, adalah panggilan ndeso untuk anak laki-laki).

Noval hanya nyengenges sambil berkata : “Saya mau ngalahin bapak….”.

Weleh, blaik, ki….. Daripada…daripada…., saya terpaksa ngalah lagi (selain ya karena memang kepingin juga….), kami berdua kemudian merencanakan untuk mendaki gunung Merapi (2.968 mdpl), melalui jalur Selo, Boyolali.

Saya sendiri pernah mendaki Merapi pada tahun 1985, lebih duapuluh tahun yang lalu. Kali ini saya ingin menemani Noval, bukan karena takut dikalahin seperti tekatnya, melainkan ngiras-ngirus ingin saya manfaatkan untuk menanamkan pelajaran filosofi hidup tentang kemampuan untuk survive dalam menghadapi rintangan atau tantangan. Saya pikir, ini adalah salah satu bekal penting bagi seorang entrepreneur.

Insya Allah pada tanggal 31 Desember 2008 nanti kalau tidak ada aral melintang, kami berdua, Noval dan bapaknya, akan mendaki dan menggapai fajar baru tahun 2009 di puncak Merapi. Itulah sebabnya hari Kamis kemarin (25 Desember 2008), saya bersama kedua anak saya jalan-jalan rekreasi sambil melakukan survey ke daerah Selo yang pada sore kemarin berkabut cukup tebal.

Ingin Bergabung Ke Puncak Merapi?

Jalur melalui Selo adalah lintasan pendakian termudah (tapi ya tetap saja bakal melelahkan), jarak tempuh menuju puncak Merapi hanya sekitar 4-5 jam. Rencananya kami berangkat dari Yogya hari Rabu, 31 Desember 2008 siang dan akan memulai pendakian dari Selo pada tengah malam saat pergantian tahun. Mudah-mudahan ketika fajar baru tahun baru 2009 menyingsing, kami sudah berada di puncak Merapi. Hari itu juga langsung turun dan kembali ke Yogya.

Jika ada rekan-rekan yang ingin bergabung dalam pendakian ke Merapi ini, silakan hubungi saya. Bisa berkumpul di Yogya atau langsung ketemu di Selo. Kalau tidak ada yang ikut, ya sudah…. Biar kami berdua saja yang menikmati capeknya……..

Yogyakarta, 26 Desember 2008
Yusuf Iskandar
(HP. 08122787618)

img_0638_puncak_sundoro

img_0591_puncak_sundoro2

img_0490_batu1

img_0786_r

Iklan

Dibohongi Anak Saya (Mendaki Gunung Merbabu)

16 Juli 2008

Ke_Merbabu1

Pada penghujung tahun lalu (31 Desember 2007), anak laki-laki saya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP swasta di Jogja ngotot minta ijin ikut mas-mas mahasiswa mendaki gunung Lawu (+3265 meter dpl). Padahal cuaca lagi jelek-jeleknya. Karena bapak dan ibunya tidak bisa menolak tapi juga tidak tega melepasnya, akhirnya bapaknya turun kaki ikut menemani mendaki gunung juga.

Pada bulan Juli ini, dalam rangka mengisi kegiatan liburan kenaikan kelas sekolah SMP-nya, anak saya terlibat merencanakan kegiatan petualangan juga. Menjelang sore di awal minggu lalu (tepatnya 7 Juli 2008), mendadak anak saya minta diantar ke terminal Jombor, Jogja. Padahal rencana semula berangkatnya bersama-sama dari sekolahnya.

Anak saya minta ijin, katanya mau melakukan survey lokasi untuk kegiatan outbond teman-teman sekolahnya. Boleh juga, pikir saya. Anak saya dipercaya untuk melakukan survey pendahuluan. Tentu saja ada sepercik rasa bangga sebagai orang tua. Maka saya pun berangkat mengantarnya ke terminal Jombor. Selanjutnya bersama seorang teman dan gurunya akan naik bis, katanya menuju ke lokasi survey di daerah perbukitan Menoreh, Magelang.

Keesokan sorenya anak saya kirim SMS, entah dari HP siapa, isi pesannya minta dijemput di terminal bis yang sama seperti kemarin. Oke, memahami kondisi fisiknya yang pasti kecapekan, sementara dia juga membawa perlengkapan berkemah, maka saya legakan juga untuk menjemputnya.

Di perjalanan pulang dari terminal, saya tanyakan bagaimana hasil survey-nya? Jawabnya sambil nyengenges : “Saya tidak jadi survey kok, tapi kemarin langsung mendaki gunung Merbabu…”.

Wow…, tobil anak kadal……! Jebul aku diapusi anakku (ternyata saya dibohongi anak saya).

Ini pasti hasil karya akal-akalan. Mau mendaki gunung Merbabu (+3142 mdpl), tapi pamitnya survey lokasi outbond. Ya tidak salah juga. Mendaki gunung juga aktifitas outbond, untuk survey berarti juga melakukannya. Kalau anak saya kemarin berterus-terang pamit mau mendaki gunung, memang ya belum tentu akan diijinkan ibunya.

Dulu waktu turun dari gunung Lawu anak saya memang pernah usul bahwa kalau nanti liburan kepingin naik gunung lagi. Berhubung bapaknya sibuk keluyuran midar-mider kemana-mana, akhirnya ketika liburan tiba belum sempat membicarakan rencana atau angan-angan anak saya enam bulan yang lalu. Barangkali karena itu, agar bapak-ibunya tidak reseh lalu dia mencari cara agar bisa naik gunung. Ya, dengan alasan survey lokasi outbond itu tadi.

(Mestinya anak saya tidak perlu berbohong dan tidak perlu takut mengatakan yang sebenarnya. Sebab bapaknya pasti kepingin ikut juga kalau tahu mau naik gunung…….)

Kini anak saya sudah booking lagi, kalau nanti liburan minta diajak ke gunung Semeru (+3676 mdpl) atau Rinjani (+3726 mdpl)…. Ugh….! Alamat mesti pasang status waspada bakal dibohongi lagi nih….

Yogyakarta, 16 Juli 2008
Yusuf Iskandar