Posts Tagged ‘memorial hill’

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(11).  Malam Terakhir Di Parkes

Sore hari sepulang kerja saya menyempatkan untuk mampir dulu ke sebuah tempat menarik di kota Parkes. Nama tempat itu adalah Memorial Hill, yaitu sebuah bukit di tengah kota Parkes di mana di atasnya dibangun sebuah tugu atau monumen kenangan. Kenangan bagi para pejuang Parkes yang tewas di medan tugas di Asia di tahun-tahun sekitar masa Perang Dunia.

Kota Parkes memang mempunyai topografi yang  agak berbukit-bukit, sehingga kalau kita berdiri di puncak permukaan bukit yang di atasnya berdiri tugu kenangan itu akan tampak pemandangan kota Parkes dari ketinggian. Itu sebabnya daerah puncak bukit ini disebut Outlook Memorial Hill. Sebuah tempat yang cocok buat rekreasi, terutama di saat matahari belum tinggi atau sudah agak lengser. Sebab kalau di siang bolong tentu akan terasa panas berada di areal terbuka di atas bukit.

Seperti halnya yang saya lakukan senja tadi. Matahari pas menjelang tenggelam, tampak bulatannya yang bergerak amblas bumi di horizon barat kota Parkes. Berkas cahaya merahnya nampak semakin lama semakin menghilang ditelan cakrawala. Sebenarnya pemandangan yang biasa saja, tapi jarang sekali dapat saya jumpai kalau tidak sedang berada di tempat ketinggian atau di pantai.

***

Malam ini adalah malam terakhir saya di kota Parkes. Atas saran seorang rekan, saya makan malam di sebuah restoran Italia. Begitu disuguhi roti, salad, steak, satu poci teh dan nambah, semuanya bablass. Sampai pelayannya berkomentar : “Sampeyan pasti sedang lapar sekali”. Dan jawaban saya singkat saja : “Nyet….” (memang), sambil agak nyengenges (nyengir).

Wong nyatanya memang saya sedang lapar berat. Tadi siang saya hanya berbekal sebuah apel hijau. Sedangkan makan siang yang disediakan perusahaan sudah terlanjur dikirim ke kantor tambang bawah tanah, sementara saya berada di kantor di luar tambang. Jadi ya hanya sekedar ngemil makanan kecil saja. Untungnya saat di kantor tadi perut terasa biasa-biasa saja, justru rasa lapar berat baru datang saat di restoran tadi.

Besok hari Sabtu pagi saya akan meninggalkan kota Parkes yang telah saya tinggali hampir dua minggu. Yang saya ingat sebenarnya bukan dua minggunya, melainkan dua Jum’at, karena berarti sudah dua kali Jum’at saya tidak ikut sholat Jum’atan. Lha, kemana mau Jum’atan wong di Parkes tidak ada masjid dan tidak ada komunitas muslim. Masjid terdekat tentunya di kota Sydney yang berjarak 365 km atau sekitar empat jam kendaraan darat atau satu jam lewat udara.

Sejauh ini saya belum tahu bagaimana caranya ngakalin kalau tiba saatnya sholat Jum’at tapi sedang berada di tempat yang jauh dari masjid atau komunitas muslim. Setidak-tidaknya cara ngakalin yang dibenarkan menurut syari’ah (hukum agama Islam).

Padahal menurut rencana sebelumnya saya akan berada di Parkes selama enam minggu untuk mengerjakan rencana kerja yang berskala lebih besar. Kalau benar jadi demikian apa ya saya mesti setiap 2-3 kali Jum’at terbang ke Sydney untuk sholat Jum’atan agar lepas dari tiga kali berturut-turut tidak Jum’atan. Wah, mesti ada anggaran tambahan. “Untungnya” akhirnya program enam minggu diperpendek menjaqdi dua minggu saja.

Omong-omong soal Jum’atan (dan yang sebangsa itu) memang kedengarannya kuno karena tidak ada yang pernah membicarakannya, sehingga topik semacam ini “ditinggalkan” orang. Kalau demikian, ya nyuwun sewu… (mohon maaf) biar saya bicarakan sendiri saja.

Parkes, 10 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Iklan