Posts Tagged ‘melayu’

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(6).  Purnama Di Tanjung Pinang

Malam ini langit bersih dan cerah sekali. Menurut kalender Jawa atau Arab, ini hari sudah dekat-dekat pertengahan bulan alias saatnya purnama datang menjelang. Semakin malam, sang rembulan pun semakin tinggi dan nyaris bunder-ser… Kami memutuskan untuk keluar mencari makan malam agak larut malam sekalian, wong tadi makan siangnya sudah sore. Perut belum terburu-buru untuk diisi lagi.

Jam sembilan malam lewat barulah kami jalan keluar. Kami menuju ke kawasan kota untuk makan malam di “Potong Lembu” rame-rame…… Rame-rame karena memang kebetulan ada kawan dan relasi lain yang menyusul ikut bergabung sambil bercengkerama, ya soal ha-ha-hi-hi, ya soal bisnis.

“Potong Lembu” adalah nama sebuah arena terbuka dimana berkumpul banyak pedagang makanan, minuman dan pokoknya macam-macam urusan perut, sehingga pengunjung tinggal memilih hendak memesan menu apa. Kebanyakan tentu saja menu ikan-ikanan khas Melayu punya dengan aneka cara memasaknya. Termasuk siput gonggong yang sempat saya coba pada malam sebelumnya, yaitu jenis siput laut yang banyak dijumpai di daerah Riau pada umumnya. Siput ini direbus dan disajikan bersama rumah siputnya sekalian. Kalau daging siputnya susah dikeluarkan dari rumahnya, cukup ditusuk pakai tusuk gigi, lalu dicocolkan ke sambal seperti makan kerang rebus. Rasanya lumayan enak, namun bagusnya kalau dimakan saat perut sedang benar-benar lapar. Soalnya bagi saya taste-nya terasa membuat nek….. Namun ada juga tersedia menu jawatimuran, seperti pecel lele dan ayam penyet.

Kawasan ini berada di seputaran ujung persimpangan jalan yang dikelilingi oleh kompleks pertokoan lama, umumnya berstruktur bangunan tingkat dan berkonstruksi kayu. Khas rumah atau ruko masyarakat Cina-Melayu atau Melayu-Cina. Konon menurut sohibul-cerita, dulu-dulunya kawasan tempat makan serbaneka ini merupakan tempat pemotongan hewan. Kebanyakan dari hewan yang dipotong adalah jenis lembu-lembuan. Makanya jalan dimana kegiatan pemotongan hewan itu berada disebut jalan Potong Lembu, dan arena tempat makan itu pun lalu disebut “Potong Lembu”. Kalau di Jawa bisa disamakan dengan riwayat Jalan Pejagalan, yang berarti tempat menjagal atau menyembelih hewan.

Setiap malam kawasan makan-memakan ini nyaris selalu penuh didatangi pengunjung. Kebetulan saja malam ini bulan purnama dan pengunjung masih ramai saja hingga larut malam. Bukan karena purnamanya kalau pengunjung masih ramai, melainkan karena hari tidak hujan. Sebab arena makan ini adalah gelanggang terbuka. Akhirnya baru menjelang tengah malam kami kembali ke penginapan.

***

Tiba di hotel bukannya langsung masuk kamar, melainkan ngobrol dulu di lobi. Lalu muncul ide ingin menikmati suasana malam purnamanya kota Tanjung Pinang. Kalau ada orang keluar malam, kemungkinannya hanya ada dua, yaitu orang yang kerja malam (night shift) atau orang kurang kerjaan. Mempertimbangkan saya termasuk kategori kedua, maka ya cari-cari kerjaan.

Mempertimbangkan lagi kalau di hotel satu-satunya kerjaan yang saya lakukan adalah nggeblak di tempat tidur, maka dipilihlah option keluar hotel. Dengan semangat menemukan sesuatu yang beda dan khas di tempat yang baru, maka kami pun meluncur membelah malam menyusuri jalan-jalan kota Tanjung Pinang. Ya tentu saja sudah banyak toko tutup dan masyarakat terlelap di peraduan (peraduan adalah bahasa puitis yang di kampung saya sebutannya nglekerrr……).

Menurut hemat kami (sak jane iki mung alasan……), dengan berada di luar hotel lalu duduk-duduk di suatu tempat, sambil menikmati bulan purnama, sambil berha-ha-hi-hi, sambil mengobrolkan hasil pekerjaan seharian tadi dan sambil merencana apa yang perlu dilakukan di sisa waktu setengah hari besok, sebelum siangnya meninggalkan Tanjung Pinang. Kenapa tidak di hotel saja? Ya, itu tadi. Di hotel kok diskusi, ya lebih baik nglekerrr……..

Tanjung Pinang terasa sepi dan tenang, sangat bertolak belakang dengan saat siangnya yang lalu lintasnya cenderung semrawut. Di salah satu perempatan jalan besar yang berlampu lalu lintas dimana biasanya pengendara kendaraan cenderung ngebut, saya lihat sudah dipasang lampu hitung mundur (count down). Lampu ini akan menunjukkan berapa sisa detik yang masih ada sebelum lampu hijau berganti menjadi merah. Harapannya tentu agar pengendara dari jarak agak jauh sudah ancang-ancang untuk berhenti jika sekiranya sisa waktu menyalanya lampu hijau tinggal sedikit. Tapi biasanya yang terjadi sebaliknya, sisa detik itu menjadi golden seconds untuk tuancap gas setancap-tancapnya agar lolos dari lampu merah…… Huh! 

Sampailah kami di “Melayu Square” yang masih buka tapi sudah mulai sepi pengunjung. Di dekat tempat ini ada café, biasa disebut “Sunset Café”. Barangkali karena di café ini ada balkon terbuka di lantai atasnya yang posisinya menghadap pantai sehingga pada saat matahari tenggelam akan tampak pemandangan indah ke arah pantai dan laut. Sedangkan di bagian bawahnya juga ada café-nya, tapi dilengkapi dengan pentas musik yang genjrang-genjreng suaranya.

Kami memilih duduk-duduk di balkon atas saja, agar tidak terlalu bising ketika ngobol melewatkan malam purnama. Baru sedetik meletakkan pantat, seorang gadis berpenampilan seronok seksi dengan warna bajunya didominasi hijau menghampiri sambil menawarkan menyebut beberapa merek minuman bir. Berhubung saya tidak suka minum jenis bir-biran maka saya minta menu lainnya. Terpilihlah es jus jagung, yang saya anggap tidak biasa. Biasanya kalau jagung itu dibakar, dibuat perkedel, brondong, marning, popcorn atau dithothol pitik (ayam). Ini pasti bukan jagung dari Klaten, melainkan dari Malaysia yang rasanya manis.

Sambil menikmati jus jagung sinambi leyeh-leyeh dan bercengkerama ngalor-ngidul, sambil menatap sang rembulan purnama yang tepat menggantung di atas kepala, semakin malam semakin bergeser sedikit-sedikit. Kantuk pun tiba, lalu kami kembali ke hotel meninggalkan purnama di Tanjung Pinang……. Uah! 

Tanjung Pinang, Kepri – 12 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(8).  Semalam Di Batam

Ini sebutan semalam versi saya yang orang Jawa, maksudnya saya menginap satu malam di Batam. Sebab kalau versinya orang Melayu Riau, semalam maksudnya adalah hari kemarin. Ya, kami memang sengaja menyempatkan untuk menginap satu malam di mBatam sebelum kembali ke Jogja. Hitung-hitung sekedar refreshing setelah muter-muter di Bintan.

Siang kemarin telah kami tinggalkan pulau Bintan dengan bauksitnya dan Tanjung Pinang dengan kopi O-nya yang mbludak….. Di pelabuhan feri kami tidak repor-repot lagi membeli tiket penyeberangan, karena  tiket pergi-pulang feri “Baruna” yang kami beli di Punggur saat berangkatya masih berlaku untuk perjalanan kembali dari Tanjung Pinang, ke Telaga Punggur lagi.

Setiba di Batam sebenarnya kami belum tahu hendak kemana. Yang kami tahu hanya ada tempat yang terkenal dengan nama Nagoya. Ya itu saja pedomannya. Maka naik taksi dari Telaga Punggur pun cukup dengan meminta tolong pak sopirnya agar dicarikan hotel murah di sekitar Nagoya. Kata “murah” yang menjadi kata kuncinya. Itulah bedanya dengan dulu sewaktu masih jadi orang gajian di sebuah kumpeni kelas antarbangsa.

Dulu kalau plesir semuanya sudah di-set lengkap sejak sebelum berangkat, termasuk hotel yang berbintang-bintang. Sehingga ketika meletakkan pantat di taksi pun bisa sambil dehem-dehem….., sambil rada nggleleng menyebut nama hotelnya. Sedangkan kini harus memposisikan diri bak seorang petualang kehabisan bekal. Meskipun ada yang mbayarin, namun toh mesti tanggap ing sasmito bahwa itu bukan privilege melainkan sekedar sarana. Toh fungsi hotel sebenarnya hanya untuk nggeblak (merbahkan tubuh) dan buang hajat saja…..  Akhirnya kami temukan sebuah hotel yang agak murah, kelas backpacker naik sedikit, di bilangan wilayah pinggiran Nagoya.

Acara pertama di Batam adalah jalan-jalan sore, menemukan kedai kopi di salah satu sudut perempatan jalan. Lalu ngopi sepuasnya sambil ngobrol ngalor-ngidul. Menikmati pemandangan lalu lintas kota Batam yang semrawut, lebih-lebih di perempatan jalan yang tanpa lampu lalu lintas. Menikmati berseliwerannya aneka merek dan jenis mobil yang tidak pernah ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tentu saja saya tahu, bahwa pemandangan kesemrawutan yang saya potret sore itu adalah bukan mewakili  keseluruhan lalu lintas di pulau Batam. Sebab di belahan lain pulau ini, terutama di luar kota, saya justru menikmati rapi dan bagusnya pengaturan lalu lintas, penataan rambu jalan dan tata ruang jalan, yang menyerupai di negara maju. Menempuh perjalanan dari Telaga Punggur ke bandara atau ke kawasan kota, rasanya seperti sedang melaju di sebuah highway di Amerika. Sayang, kerapian dan kebagusan ini tidak konsisten saat memasuki kawasan bisnis dan pemukiman.

***

Batam diidentikkan sebagai halaman belakang Singapura. Di sini ada lebih dari 500 perusahaan asing telah menanamkan investasinya, yang berarti terbukanya banyak lapangan kerja. Pulau seluas 400 km2 itupun dikembangkan dan ditata sedemikian rupa agar siap mengimbangi kemajuan bisnis dan investasi yang datang dari tanah seberang. Namun sepintas nampaknya kesiapan penataan ruang dan wilayahnya baru sempat menyentuh sektor-sektor yang terkait langsung dengan kemajuan industri saja.

Bisa jadi penglihatan saya yang hanya semalam ini salah. Namun ketika saya berkesempatan mengunjungi rumah seseorang di sebuah kompleks perumahan, agaknya dugaan saya agak-agak benar. Pertumbuhan penduduknya jauh lebih cepat dari tata ruang yang direncanakan. Akibatnya ibarat kebanyakan menuang kopi O dalam cangkir kecil, ya mbludak kemana-mana tanpa sempat direncana.

Keberadaan industri di Batam telah menarik minat pendatang dan pencari kerja, berduyun-duyun memasuki pulau Batam untuk mengadu untung tanpa bekal keahlian yang memadai. Karena mbludak, maka tingkat pengangguran menjadi cukup tinggi dibanding tempat-tempat lain di Indonesia. Sementara pada saat yang sama Batam dibanggakan sebagai kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.

Memang pertumbuhan penduduknya luar biasa. Tahun 1995 penduduk Batam masih sekitar 196 ribu jiwa, tapi tahun 2002 sudah mencapai lebih 560 ribu jiwa. Sekarang? Suk-sukan ora karu-karuan (berdesakan tidak karuan) di pusat keramaian…… Terhimpun dalam cluster-cluster di tengah hamparan luas tanah gersang yang mengandung banyak macam mineral tambang, karena memang tidak sembarangan boleh membuka lahan untuk pemukiman.

Keadaan ini membuat ingatan saya terbang ke ujung timur, ke kota Timika di Papua. Kejadiannya sungguh mirip dengan Batam. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa pertumbuhan kota Timika akan sedemikian pesatnya sebagai dampak dari beroperasinya perusahaan tambang raksasa Freeport di lokasi dalam radius kurang dari 100 km. Akibatnya pihak pemerintah setempat jadi “telmi”, mangsudnya, benar-benar terlambat untuk memikirkan. Belum sempat selesai memikirkan bagaimana sebaiknya menata ruang dan wilayah kota Timika secara integratif. Eeee….., enggak tahunya pertumbuhan penduduknya lebih cepat luar biasa. Jadinya, ya mbludak ….., penduduk yang bertambah-tambah itu menempel di mana-mana jadi sulit dikendalikan.

Ibarat tanaman, tumbuh sak thukule, asal tumbuh di mana saja. Padahal dulu sempat terpikir untuk membuat penataan kota agar menjadi lebih baik, sehat dan indah. Tapi ya terlambat, keburu para petualang pencari kerja berdatangan dari mana-mana. Ibarat mengambil KPR tipe 36 di atas lahan 100 m2. Belum seperempat cicilan dipenuhi, tahu-tahu sudah mbegogok (nongkrong) rumah tingkat di atas lahan 100 m2 penuh-nuh, tanpa sisa sedikitpun bahkan untuk sekedar menaruh pot bunga. Akhirnya, pak Camat pun bengong-terbengong melongo…..

***

Sambil jalan-jalan menyusuri pertokoan, saya sempatkan membeli koran Jakarta. Maklum beberapa hari ini rada ketinggalan informasi nasional. Kata seorang pelayan toko yang agaknya pendatang dari Jawa, mengatakan bahwa kalau soal makan maka Batam adalah tempatnya. Jadi tidak perlu khawatir soal makan apa atau dimana. Pernyataan ini tidak salah, namun agaknya ada yang kurang.

Tidak dipungkiri, Batam sudah menjadi pilihan tempat hiburan bagi masyarakat Singapura, juga Malaysia. Soal makan sebenarnya hanya aktifitas sampingan saja. Wong namanya orang hidup ya pasti butuh makan. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa yang sebenarnya menjadi tujuan utama turis akhir-pekanan dari Singapura dan Malaysia (ngngng….. rasanya dari Indonesia juga…..) adalah main golf, berjudi dan “esek-esek”. Yang terakhir inilah yang kemudian mendominasi bisnis hiburan di Batam. Dampaknya meluber ke pulau tetangga dekatnya, yaitu pulau Bintan dan Karimun. Maka sangat beralasan kalau masyarakat penduduk asli ketiga pulau itu yang umumnya adalah masyarakat yang taat dalam beragama, semakin hari semakin risau melihat “kemajuan” jaman yang tidak terelakkan.

Tidak di Batam, tidak di Bintan, tidak terkecuali di pulau Karimun. Seorang teman yang tinggal di Karimun mengeluh bahwa keluarganya terpaksa menjual rumahnya yang ada di kota yang sudah turun-temurun ditinggali, lalu terpaksa pindah. Pasalnya rumah keluarga besarnya yang ada di kota Tanjung Balai, Karimun, itu kini sudah dikepung dengan fasilitas entertainment (ini adalah kata lain untuk bisnis bernuansa “esek-esek”). Akhirnya keluarga teman tersebut merasa risih dan mengalah pindah ke luar kota.

***

Berbekal semangat ingin melihat suasana beda di tempat yang baru pertama kali saya datangi. Maka satu malam di Batam pun tidak ingin saya lewatkan begitu saja dengan nglekerrr….. (tidur nyenyak). Satu-satunya hiburan yang cocok adalah makan. Di Batam banyak pilihan tempat makan, seperti kata penjual koran tadi. Akhirnya kami memilih untuk makan malam di “Nagoya Food Court”. Kelihatannya ini tempat yang representatif untuk menggapai suasana berbeda, di kesempatan yang hanya semalam.

“Nagoya Food Court” adalah arena terbuka sangat luas yang dikelilingi oleh kedai-kedai yang menawarkan aneka menu masakan. Mirip-mirip pujasera yang ada di Tanjung Pinang, bedanya “Nagoya Food Court” ini bangunannya lebih permanen, tertata rapi, bersih dan enak dikunjungi. Ideal juga bagi yang membawa keluarga karena tersedia juga arena bermain untuk anak-anak. Selain itu, di bagian tengah arena makan-memakan ini terpasang layar tancap. Menu utamanya memang ikan-ikanan (sea food), tapi lebih banyak variasi jenis masakannya, termasuk kalau menginginkan masakan ala Jawa.

Memasuki tempat ini, lalu tolah-toleh mencari tempat kosong di antara pengunjung yang cukup ramai. Begitu duduk langsung dikerubuti oleh para SPG yang mengenakan pakaian seragam masing-masing sambil menawarkan produk bir segala macam merek. Karena kami memesan teh obeng, akhirnya mereka bubar jalan. Tinggal pelayan biasa yang menawarkan menu masakan biasa.

Sampai selesai makan, kami masih merasa betah ngobrol sampai malam. Suasananya memang tidak membosankan, hingga kami pun dapat benar-benar menikmati malam di Batam dalam suasana santai. Agaknya inilah suasana berbeda yang dapat saya peroleh dalam masa yang hanya semalam. Saya memang tidak punya banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang Batam. Mudah-mudahan masih ada kesempatan berikutnya. Insya Allah.

“Sampun nggih, pareng ……”

Batam, Kepri – 14 April 2006
Yusuf Iskandar