Posts Tagged ‘maskapai’

Rejeki Di Ketinggian

3 Maret 2010

Lho kok tumben check-in maskapai Singo pagi ini di Adisutjipto lancar. Padahal biasanya klelat-klelet (lelet) seperti anakku kalau disuruh mandi sore (ya…kadang-kadang saya juga). Mudah-mudahan rejeki yang nyanthol di ketinggian 32.000 kaki juga mudah dipetik…(fissamaa-i fa anzilhu..)

Yogyakarta, 1 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Gratis Makanannya, Bayar Minumannya

31 Juli 2008

Coba bayangkan : Anda sedang bertamu. Kemudian tuan rumah berbaik hati menyuguhi Anda dengan kue donat yang dari tampilannya saja sudah membuat rasa tidak sabar menunggu dipersilakan menikmatinya. Akhirnya sebuah donat pun langsung membuat mak sek…., di tenggorokan hingga tembolok.

Lalu Anda menunggu lima menit, lima belas menit, setengah jam, hingga sejam, ternyata setetes air pun tidak disuguhkan kepada Anda. Sementara air liur di tenggorokan dan tembolok sudah terserap habis oleh donat yang barusan lewat dan semakin membuat Anda sesak napas. Mau minta minum takut dikatakan tidak sopan.

Cara terbaik untuk keluar dari situasi serba tidak enak ini adalah segera mohon diri, lalu mampir ke warung terdekat membeli minuman. Apapun makanannya, minumnya ya air…

***

Itulah yang terjadi dalam perjalanan udara dengan burung Singa dari Jakarta menuju Makasar pada suatu tengah malam. Kalau sebelumnya tak setetes air pun mengalir di pesawat, kini tetap juga tidak mengalir tapi diberi bonus ransum kue donat cap Dunkin’ Donuts dalam kantong kertas yang tampilan luarnya cukup menggairahkan. Sepotong donat gemuk yang di atasnya ditaburi gula pasir halus sungguh merangsang untuk segera dilahap.

Untung saya agak ngantuk, jadi ransum donat saya sisipkan dulu di kantong kursi. Sementara penumpang di sebelah saya yang nampaknya seorang dari Ambon langsung menyikatnya hingga habis. Sesaat kemudian, si Abang dari Ambon itu nampak tolah-toleh. Saya menduga pasti kehausan cari minum. Agak lama, barulah muncul mbak pramugari cantik di tengah malam di atas pesawat mendorong gerobak dagangannya menawarkan minuman. Kali ini tentu bukan pembagian gratis, melainkan siapa mau minum harus membelinya. Dan, laku keras………

Sebuah trik bisnis. Ya, trik bisnis….. Dalih, alasan, atau malah mau ngeyel seperti apapun, pokoknya itu pasti trik bisnis (Cuma, gimana ya…. rasanya kok enggak seberapa cerdas, gitu…). Makanannya disediakan gratis, tapi minumannya harus mbayar. Si burung Singa boleh berkilah. Toh, maskapai sudah berbaik hati menyuguhkan makanan gratis kepada penumpangnya. Perkara penumpangnya lalu mau beli minuman apa tidak, ya terserah saja…. Maka, penumpang pun ter-fait-a-compli pada situasi tidak ada pilihan, di atas ketinggian lebih 10 km.

Memang tidak ada yang salah dengan trik bisnis semacam ini. Dalam banyak kasus, banyak bentuk, banyak cara, banyak situasi, trik bisnis seperti ini banyak digunakan oleh para penjual atau pedagang dalam rangka meningkatkan omset penjualan dan keuntungannya. Sah-sah saja.

Gratiskan ikannya, kail dan umpannya mbayar. Gratiskan software-nya, jasa pelatihan dan purna jual-nya mbayar. Jual rugi mobilnya, suku cadang dan perawatannya dijual mahal. All you can eat, karcis masuk untuk bisa eat-nya mahal. Gratis biaya perawatan setahun, gratis ikut seminar, gratis nambah nasi, tapi biaya awalnya dinaikkan. Sepertinya lumrah-lumrah saja.

Ada yang bisa dipelajari dan dihikmahi dari trik bisnis semacam ini, baik oleh penjual maupun pembeli. Agaknya, ajakan teliti sebelum menjual dan membeli, atau jeli sebelum bernegosiasi dan bertransaksi, masih layak dikiblati. Agar tidak merasa dikibuli di belakang hari, melainkan tahu dan paham dengan apa yang sedang terjadi. Dengan demikian, maka kaidah-kaidah jual-beli (oleh kedua belah pihak) tetap tidak menyalahi kaidah bisnis yang saling menguntungkan dan saling ikhlas dalam berserah-terima jasa maupun barang.

Jadi? Sebaiknya Anda waspada kalau sedang dalam perjalanan dengan pesawat tiba-tiba disuguhi makanan gratis. Sabar dulu untuk menikmatinya. Atau malah tanyakan dulu ada pembagian minumannya atau tidak, kecuali Anda siap untuk membeli atau setidak-tidaknya Anda telah siap lahir-batin untuk kehausan atau keseredan (apa bahasa Indonesianya, ya…).

Juga kalau kebetulan Anda sedang bertamu, lalu tidak biasanya suguhan kue keluar lebih dahulu. Segera aktifkan piranti deteksi dini dan lakukan quick assessment. Jika kesimpulannya menunjukkan bahwa tuan rumahnya adalah penganut fanatik aliran burung Singa, segera tanyakan warung terdekat, lalu Anda pamit sebentar untuk beli minuman………..

Yogyakarta, 30 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Berani Terbang Murah Harus Berani Kehausan

11 Juli 2008

Bepergian dengan pesawat pada seputar waktu peak season, seperti misalnya musim libur akhir tahun ajaran sekolah, mencari tiket pesawat minta ampun susahnya. Apalagi kalau tidak memesan jauh hari sebelumnya. Kalaupun akhirnya dapat juga, biasanya harus rela membayar harga tiket jauh lebih mahal dari biasanya. Belum lagi kalau inginnya naik burung garuda (maskapai Garuda Indonesia), dijamin bakal berebut seat yang tersisa dengan harga bisa lebih dua kali lipat harga tiket maskapai lain. Artinya, apapun pesawatnya, mbayarnya tetap lebih mahal dari biasanya.

Untuk alasan mencari harga termurah di antara yang mahal, maka pilihan terbang dengan burung garuda terpaksa dikesampingkan. Maka alternatifnya adalah harus berani menunggang pesawat dari maskapai bertarif murah. Tapi terkadang naik pesawat bertarif murah juga bukan pilihan, melainkan karena memang tinggal itu adanya. Ya, karena sedang peak season itu tadi.

Berniat terbang ke Jayapura dari Jogja. Rupanya karcis burung garuda sudah ludes. Lalu pilihan jatuh ke burung singa (Lion Air) yang ternyata harga tiketnya lebih murah. Rutenya Jogja – Jakarta – Makasar – Jayapura. Waktu tempuh di udara total 6,5 jam belum termasuk waktu transit. Waktu tempuhnya sih, oke saja. Hanya saja burung singa ini pelit ransum air, atau memang menerapkan prinsip hemat air. Sepanjang enam setengah jam yang terdiri dari satu jam tambah dua jam tambah tiga setengah jam, tak setetes air minum pun digelontorkan, apalagi mengalir sampai jauh……

Empat hari kemudian kembali dari Jayapura ke Jogja. Tidak ada pilihan lain selain kembali naik burung singa yang ternyata harga tiketnya sudah lebih dua kali harga ketika berangkatnya. Apa boleh buat. Tetap juga berlaku prinsip hemat air, tidak ada pembagian ransum sekalipun segelas air putih. Kalau kepingin minum dan lupa membawa bekal ya salahnya sendiri. Berani naik pesawat bertarif murah berarti harus siap kehausan di udara.

Dua hari kemudian harus menuju Kuala Lumpur. Kali ini sengaja memilih maskapai bertarif murah yang bebas tempat duduk (maksudnya, bebas memilih alias dulu-duluan masuk pesawat). Meskipun namanya Air Asia, tapi sumprit… selama dua setengah jam duduk di dalam pesawat tidak ada pembagian air. Kalau kepingin minum ya harus membeli ke gerobak dorongnya mbak pramugari. Empat hari kemudian kembali ke Jakarta naik burung asia yang sama, yang sudah pasti juga tanpa dropping air di udara.

Terkadang bukan soal harga airnya. Tapi, masak iya pelit amat sih……. Di warung saya harga segelas akua paling mahal gopek (lima ratus rupiah). Seingat saya maskapai bertarif murah di Amerika pun masih sempat membagikan segelas kecil air mineral. Membereskan sampah plastik kosongnya juga mudah. Sementara maskapai burung besi lainnya berlambang benang ruwet (Sriwijaya Air) dan perut semar (Batavia Air) masih berbaik membagi ransum.

Sebagai alternatif barangkali di dalam pesawat bisa disediakan kendi (tempat air dari tanah) seperti orang-orang desa yang suka menyediakan kendi di depan rumah saat musim panen tiba. Sehingga siapa saja yang sedang lewat dan kehausan bebas menggelonggong (minum dengan cara tidak menempelkan cucuk kendi ke mulut), sepuasnya………..

Ketika iseng-iseng saya kirim SMS kepada bagian customer care tentang usulan membagi ransum air putih, dijawab : “pesan anda akan segera kami tindak lanjuti”. Saya merasa perlu bersiap mafhum bahwa “ditindaklanjuti” tidak sama artinya dengan “dipenuhi”. Jadi, nampaknya saya harus tetap berpegang pada pesan bijak : berani terbang murah harus berani kehausan.

Yogyakarta, 11 Juli 2008
Yusuf Iskandar