Posts Tagged ‘maryland’

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(7).     Jalur Lintas Angkasa Di Pegunungan Blue Ridge

Usai istirahat di pinggir kota Beckley, perjalanan hari Senin siang itu kami lanjutkan dengan menyusuri jalan Interstate 64 (I-64), lalu pindah ke I-81 dan menyambung kembali ke I-64 menuju arah timur. Sekitar dua setengah jam kami melewati jalan bebas hambatan sehingga bisa melaju lebih cepat sambil sesekali mencuri batas kecepatan maksimum. Akhirnya tiba di kota kecil Waynesboro dan kembali kami berada di wilayah negara bagian Virginia.

Dari kota Waynesboro ini selanjutnya saya masuk ke jalur pegunungan Blue Ridge melalui pintu selatan dari penggal jalur jalan yang disebut dengan skyline drive (jalur lintas angkasa). Disebut demikian barangkali karena jalur sepanjang 105 mil (sekitar 168 km) ini menyusuri gigir puncak pegunungan Blue Ridge (Blue Ridge Parkway) yang membentang utara – selatan, yang beberapa puncaknya berada pada ketinggian lebih 1.800 m di atas permukaan air laut.

Di kota Staunton, sekitar 10 km sebelum tiba di Waynesboro saya sempat berhenti istirahat sebentar, sambil mencoba menghubungi Mas Prapto Supeno via tilpun. Sekedar ingin mengkonfirmasi bahwa saya sudah dalam perjalanan menuju ke kotanya, dan secara hitung-hitungan sekitar jam 8:30 malam baru akan tiba di Wheaton.

***

Rute panjang pegunungan Blue Ridge (Blue Ridge Parkway) sendiri tepatnya berada membentang antara Taman Nasional Senandoah di sebelah utara hingga Taman Nasional Great Smoky Mountain di sebelah selatan, dengan panjang keseluruhan sekitar 469 mil (sekitar 750 km). Karena itu memasuki jalur skyline drive dari Waynesboro berarti saya berada di pintu masuk Taman Nasional Shenandoah sebelah selatan yang disebut dengan Rockfish (South) Entrance Station.

Sebagai pemegang kartu National Park Pass, saya bisa langsung memasuki Taman Nasional Shenandoah dengan tanpa perlu membayar uang masuk yang besarnya US$10 per kendaraan.

Wilayah hutan liar Shenandoah yang secara resmi ditetapkan sebagai salah satu Taman Nasional pada tanggal 26 Desember 1935 mempunyai luas areal sekitar 794 km2. Di wilayah hutan liar ini masih banyak dijumpai jenis-jenis binatang seperti beruang hitam, rusa dan kalkun liar, yang hidup di antara hutan tanaman oak-hickory. Pada musim-musim tertentu wilayah hutan ini menjadi tempat berburu, terutama untuk berburu kalkun liar.

Setiap tahun Taman Nasional Shenandoah dikunjungi oleh tidak kurang dari dua juta wisatawan yang umumnya memilih jalur skyline drive. Jalur lintas angkasa ini menjadi sangat ramai terutama pada liburan musim panas (sekitar bulan Juni – Juli) dan pada musim gugur (sekitar pertengahan bulan Oktober) saat daun-daun berubah warna menjadi kuning kemerah-merahan. Di saat musim dingin jalur skyline drive ini biasnya tertutup salju, oleh karena itu ditutup untuk umum. 

Jalan dua lajur dua arah ini cukup mulus, berkelak-kelok tidak terlalu tajam, dan dapat dilalui dengan kecepatan maksimum 35 mil/jam (sekitar 55 km/jam). Di sepanjang jalur skyline drive ini, di beberapa tempat terdapat lokasi-lokasi untuk menikmati pemandangan (overlook). Bentang alam berupa lembah, ngarai serta pegunungan berada di seberangnya, tampak di sebelah menyebelah jalan.

Saat itu cuaca cukup cerah dan matahari sore masih enak dinikmati. Beberapa kali kami berhenti untuk sekedar turut menikmati suasana alam berbeda di daerah ini. Namun tidak berarti selamanya akan demikian, karena di sebelah timur laut sudah tampak awan gelap yang sewaktu-waktu siap bergerak turun membawa hujan.

Benar juga, setelah sekitar satu jam bergerak santai menyusuri jalur lintas angkasa di pegunungan Blue Ridge ini, hujan mulai turun rintik-rintik dan angin dingin berhembus agak kencang. Akhirnya hujan deras mengguyur disertai angin kencang ketika kami sedang beristirahat di ruang pusat pengunjung (visitor center) sambil melihat-lihat toko cendera mata di daerah yang disebut Big Meadows. Tempat ini berada kira-kira di pertengahan jalur skyline drive yang berada pada elevasi  sekitar 1.060 m di atas permukaan laut.

Setelah beberapa saat ditunggu ternyata hujan tidak juga mereda, sementara hari mulai menjelang gelap, akhirnya saya nekad berlari menuju tempat parkir menerobos hujan untuk mengambil payung hitam yang kebetulan kami bawa. Satu per satu pun anak-anak dan ibunya saya bawa menerobos hujan deras menuju ke dalam kendaraan, agar bisa secepatnya melanjutkan perjalanan. Tak terhindarkan lagi, baju di badan pun basah oleh air hujan.

Segera perjalanan kami lanjutkan untuk keluar dari Taman Nasional Shenandoah melalui pintu utara yang disebut dengan Front Royal (North) Entrance Station. Terpaksa tidak bisa membawa kendaraan melaju lebih cepat, khawatir akan kondisi jalan yang licin dan pandangan ke depan yang agak terhalang oleh kabut dan hujan deras.   

***

Sekitar jam 19:00 kami baru keluar dari Taman Nasional ini. Sebenarnya hari belum gelap kalau saja tidak turun hujan. Perjalanan terus kami lanjutkan menuju timur ke arah kota Washington DC sejauh sekitar 125 km melalui Highway 211 dan 29 yang kemudian masuk ke Interstate 66. Melihat hujan masih saja belum mereda meskipun tidak lagi terlalu deras, saya tidak berani melaju dengan kecepatan maksimum. Saya mulai memperhitungkan bahwa pasti akan terlambat tiba di kota Wheaton. Ya, apa boleh buat, lebih baik agak berhati-hati.

Menjelang pukul 22:00 malam, saya baru tiba di jalan lingkar barat kota Washington DC. Di Intersate 495 ini saya langsung saja menyusur ke utara, lalu melingkar ke timur di sisi utara Washington DC, dan akhirnya exit menuju ke arah kota Wheaton yang berada di wilayah negara bagian Maryland. Maryland yang mempunyai nama julukan sebagai “Old Line State” dengan ibukotanya di kota Annapolis adalah negara bagian kesebelas yang saya lintasi hingga hari ketiga ini, setelah sebelumnya melintasi negara bagian West Virginia.

Kota Wheaton yang berpopulasi sekitar 50.000 jiwa ini berjarak hanya sekitar 15 km dari pusat kota Washington DC. Daerah Wheaton menjadi semacam daerah penyangga bagi ibukota Washington DC, yang barangkali bisa saya andaikan seperti halnya Depok, Bekasi atau Tangerang terhadap Jakarta.

Lebih pukul sepuluh malam, kami baru tiba di rumah Mas Prapto Supeno. Gerimis masih membasahi kota Wheaton yang malam itu sudah tidak terlalu ramai. Rupanya Mas Supeno dan kedua putra-putrinya sudah menunggu-nunggu sejak tadi. Ya maklum, akibat hujan deras sejak di Taman Nasional Shenandoah sore harinya kami jadi tidak berani bergerak lebih cepat.

Malam ini kami menginap di rumah Mas Supeno yang adalah teman lama di Yogya karena pernah sama-sama sebangku kuliah di jurusan Tambang. Hanya saja Mas Supeno memilih meninggalkan bangku kuliah sebelum selesai untuk mengadu nasib di sebuah negeri besar yang bernama Amerika ini. Dan kelihatannya aduannya berhasil, tentu menurut ukuran orang yang harus merangkak dari awal berjuang hidup di negeri orang, di sektor non-formal yang tidak ada kaitannya dengan dunia pertambangan.

Segera saja kedua anak saya berbaur dengan kedua anak Mas Supeno yang ternyata sebaya. Belakangan saya baru melihat sendiri bahwa ternyata kawan lama saya ini tidak saja berjuang mencari hidup di negeri orang tetapi juga menjadi single parent (orang tua tunggal) untuk kedua orang putri dan putranya, sejak istrinya tercinta mendahului menghadap kepada Yang Maha Kuasa tahun lalu akibat penyakit kanker yang dideritanya. Sungguh saya sangat menghargai perjuangan kerasnya. Sebuah sisi lain dari kehidupan manusia yang selama ini tidak pernah saya bayangkan.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(11).    “Selamat Ulang Tahun, Amerika”

Sebenarnya agak ogah-ogahan juga untuk jalan-jalan keluar saat hari menjelang malam. Akan tetapi mengingat hari ini Selasa tanggal 4 Juli 2000 adalah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika yang ke-224, maka kami pun segera siap-siap untuk turut menikmati suasana perayaan kemerdekaan Amerika. Malam itu dijadwalkan akan ada pesta kembang api yang digelar di berbagai tempat.

Pesta kembang api, seperti sudah menjadi tradisi di Amerika selalu menjadi bagian dari setiap acara-acara perayaan. Maka di Hari Kemerdekaan Amerika ke-224 inipun setiap kota menggelar pesta kembang api. Dalam perjalanan hari sebelumnya saya banyak menjumpai pedagang kembang api yang membuka kios-kios tiban di pinggir-pinggir jalan. Seperti yang saya jumpai saat melewati beberapa kota di negara bagian North Carolina dan Kentucky. Ini mengingatkan saya pada penjual mercon (petasan) yang biasanya menjamur di pinggiran jalan saat menjelang Lebaran di kota-kota di Indonesia.

Nampaknya setiap pemerintahan negara bagian mempunyai aturan sendiri-sendiri. Ada negara bagian yang memperbolehkan penjualan kembang api secara umum ada juga yang melarangnya. Kelak kalau otonomi daerah di Indonesia sudah melangkah lebih maju, bisa jadi hal yang kurang lebih sama juga akan terjadi. Setiap propinsi akan membuat aturan yang berbeda untuk setiap urusan yang ada di wilayahnya. Sepanjang untuk maksud kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di masing-masing propinsi, rasanya akan menjadi hal yang baik.

***

Rencana semula, malam ini kami akan menyaksikan pesta kembang api di Monumen Washington, karena di sana akan digelar pesta kembang api besar-besaran dalam rangka malam perayaan Hari Kemerdekaan di awal millenium baru dan sekaligus menandai akan segera selesainya renovasi Monumen Washington. Anak-anak pun sudah sangat antusias untuk pergi kesana naik kereta bawah tanah. Sudah pasti, kegembiraan anak-anak sebenarnya bukan lantaran melihat kembang apinya, melainkan karena tahu akan naik kereta bawah tanah.

Dapat dimaklumi bagaimana rasa ingin tahu mereka mendengar kata kereta bawah tanah. Wong kereta kok jalannya di bawah tanah. Kalau hanya pesta kembang api mereka sudah sering melihatnya di New Orleans, bahkan seringkali dapat disaksikan cukup dengan melongok dari jendela apartemen saja. Kebetulan tidak jauh dari apartemen kami ada lapangan baseball dimana di sana sering digelar pesta kembang api.

Rupanya saya dan Mas Supeno kemudian berubah pikiran. Ke Washington DC bawa kendaraan sendiri pada saat malam pesta Hari Kemerdekaan menurut pengalaman Mas Supeno akan beresiko kesulitan mencari tempat parkir yang dekat dan menghadapi kemacetan yang luar biasa pada saat pulangnya. Masyarakat kota Washington DC malam ini tentu akan tumplek blek (tumpah ruah) di lapangan Monumen Washington bergabung dengan masyarakat Virginia dan Maryland yang tinggal di kawasan daerah penyangga.

Naik kereta bawah tanah juga sama, akan bertemu dengan padatnya arus penumpang dari luar kota, apalagi membawa anak-anak. Kalau mau mesti berangkat lebih awal dan pulang sebelum selesai. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami sepakat untuk menyaksikan pesta kembang api perayaan Hari Kemerdekaan Amerika di kota Wheaton saja. Jaraknya tidak terlalu jauh, cukup dengan berjalan kaki dari rumah Mas Supeno.

Sekitar jam 9 malam lebih sedikit, tanpa halo-halo, tanpa sambutan, tanpa formalitas macam-macam, langsung “byaaaaarrrrrr….“, kembang api pertama mengangkasa dari atap sebuah gedung parkir di kompleks pertokoan pusat kota Wheaton. Rupanya memang tempat itu dipilih karena strategis dan berlokasi agak tinggi. Sehingga masyarakat yang berada di lokasi agak jauh pun dapat turut menyaksikan pesta kembang api.

Kami sengaja mencari tempat paling dekat sambil duduk-duduk di jalur hijau yang benar-benar hijau karena ditumbuhi rumput. Di samping kiri-kanan maupun di belakang kami sudah penuh masyarakat Wheaton yang sama-sama sejak tadi menunggu saat pesta kembang api dimulai.

Sorakan gembira mengiringi kembang api pertama yang memancarkan cahaya berwarna-warni di angkasa. Hampir 30 menit, pesta kembang api berlangsung. Bunyi “dar-der-dor” dan gebyar cahaya warna-warni di langit kota Wheaton yang malam itu cukup cerah berakhir diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai masyarakat kota Wheaton, yang seakan menyeru : “Selamat Ulang Tahun, Amerika”.

Kami pun segera beranjak pulang, berbaur di tengah masyarakat Wheaton. Anak-anak juga gembira dan saling menceriterakan pengalaman yang baru saja disaksikannya. Namun rupanya masih ada yang mengganjal di hati mereka. “Naik kereta bawah tanahnya kapan?”. Wah, lha karena rencananya berubah ya tidak jadi naik kereta bawah tanah. Dasar anak-anak, ya tidak mau tahu. Ya karena memang sebenarnya bukan kembang apinya yang lebih menarik khususnya bagi kedua anak saya, melainkan naik kereta bawah tanah.

Saya lalu berunding dengan Mas Supeno, bagaimana agar sebelum pulang dapat membawa anak-anak naik kereta bawah tanah dulu. Naik dari mana, mau kemana, turun di mana tidak jadi soal. Pokoknya beli karcis dan lalu naik kereta bawah tanah. Kami lalu berjalan kaki membelok menuju ke stasiun kereta bawah tanah kota Wheaton.

Kereta bawah tanah yang melayani berbagai rute di wilayah kota Washington DC dan sekitarnya ini disebut dengan metrorail, seringkali hanya disebut metro saja. Selain jasa layanan kereta juga ada layanan transportasi umum dengan bis yang disebut dengan metrobus. (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(12).    Naik Kereta Bawah Tanah Menjelang Tengah Malam

Dalam perjalanan pulang dari menyaksikan pesta kembang api, kami lalu menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh, masih mudah dicapai dengan berjalan kaki. Tiba di stasiun, hari sudah menunjukkan lebih jam 10 malam. Stasiun sedang tidak terlalu ramai, sehingga kami dapat langsung menuju ke mesin penjual karcis. Dengan menyelipkan uang ke dalam slot mesin, pencet tombol untuk memilih jenis karcis, lalu karcis pun keluar. Uang kembalian juga akan diberikan oleh mesin itu, jika memang ada sisa.

Sangat praktis dan mudah. Hanya tentunya bagi yang baru pertama kali menggunakan jasa metro ini, perlu terlebih dahulu membaca tata caranya sebelum berurusan dengan mesin penjual karcis. Untung kami pergi bersama Mas Supeno yang tentunya sudah paham betul. Jadi sementara menunggu Mas Supeno membeli karcis, saya membaca-baca tata caranya, sekedar ingin tahu.

Ada beberapa macam jenis karcis dan yang paling umum digunakan adalah yang disebut dengan Metrorail farecard, yaitu semacam kartu yang dilengkapi garis magnetik seperti kartu kredit. Selain itu ada Metrocheck card, SmarTrip card dan Metrorail pass. Selain membelinya melalui mesin di stasiun-stasiun, kartu ini juga dijual di tempat-tempat umum seperti halnya kartu tilpun, dan juga dapat dipesan secara on-line melalui media internet.

Harga karcisnya ada beberapa macam mulai yang $1.10 hingga yang maksimum $3.25 tergantung dari jarak tempuhnya. Ada karcis dengan tarip biasa (regular fare) yang berlaku di saat-saat jam sibuk pagi dan sore, dan ada tarip hemat (reduced fare) yang berlaku di luar jam-jam sibuk. Harganya sama, tetapi tarip hemat dapat digunakan untuk menjalani jarak tempuh yang lebih panjang.

Selain menggunakan uang tunai, pembelian juga dapat dilakukan menggunakan kartu kredit. Bahkan bagi pemegang SmarTrip card yang nilai karcisnya sudah habis, mesin ini juga melayani pengisian atau penambahan nilai karcis agar dapat digunakan lebih lama.   

Setelah kami masing-masing memegang karcis, kami lalu menuju ke pintu gerbang untuk masuk peron stasiun. Karcis tinggal diselipkan ke slot-nya, lalu diambil lagi dan palang pintu membuka. Kemudian kami turun melalui tangga berjalan yang panjangnya sekitar 70 meter menuju peron stasiun yang (tentu saja) menuju ke lokasi di bawah tanah. Stasiun Wheaton ini mempunyai tangga berjalan yang paling panjang dibandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya. Kini tinggal menunggu kereta datang dan lalu naik ke jurusan yang hendak dituju.

Aturan penggunaan karcis yang sama ada pada saat hendak keluar dari stasiun. Selipkan kartu dan lalu akan tercetak angka yang menunjukkan nilai sisa karcis tersebut, tergantung pada penggunaan jarak tempuhnya. Jika ternyata nilai karcisnya kurang, maka palang pintu tidak akan membuka, dan penumpang tersebut dipersilakan menuju ke mesin penjual karcis untuk keluar (exitfare machine) guna menambahkan kekurangannya.

Saya tidak tahu, apa yang harus dilakukan kalau seandainya sang penumpang benar-benar tidak punya uang lagi. Saya tidak mau menanyakannya, karena takut kalau jawabannya adalah : “Ya jangan naik kereta bawah tanah”. Pertanyaan menggelitik yang sama : bagaimana jika ada penumpang yang uangnya kurang lalu nekad menerobos palang pintu dan lari? Ya, paling-paling dikejar petugas. Lha tapi nyatanya tidak terlihat banyak petugas stasiun di sana. Artinya kemungkinan pelanggaran semacam itu relatif tidak banyak terjadi.

Jadi, agaknya memang kemoderenan hanya cocok diterapkan bagi masyarakat yang sudah memiliki kesadaran tinggi bahwa semua kemudahan akibat kemajuan teknologi itu disediakan sebagai bagian dari milik masyarakat sendiri. Bukan semata-mata milik pemerintah, dan yang lebih penting adalah masyarakatnya percaya bahwa itu juga bukan semata-mata untuk kepentingan PT ini atau PT itu.   

Malam itu, karena tujuannya hanya sekedar ingin merasakan naik metro, maka begitu datang kereta pertama yang menuju utara dari stasiun Wheaton, kami langsung naik saja. Hanya beberapa menit metrorail yang berjalan dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam segera tiba di stasiun Glenmont. Kami lalu turun dan pindah ke jalur yang kembali ke selatan. Naik kereta lagi menuju Wheaton tapi tidak langsung turun, melainkan dilebihkan hingga tiba di stasiun berikutnya yang agak ke selatan, yaitu Forest Glen.

Forest Glen adalah stasiun yang lokasinya paling dalam, yaitu 60 meter di bawah permukaan tanah. Dari Forest Glen kami pindah kereta lagi menuju utara untuk kembali ke stasiun Wheaton. Cukup kira-kira setengah jam untuk menjawab rasa ingin tahu anak-anak naik kereta bawah tanah. Barulah anak-anak merasa lega, dan kami pun lalu pulang berjalan kaki.

***

Jasa layanan angkutan umum kereta bawah tanah (yang juga mencakup sistem transportasi bis) ini dikelola oleh The Washington Metropolitan Area Transit Authority (WMATA). Pekerjaan konstruksi pertamanya dilakukan pada tahun 1969, dan secara resmi kereta bawah tanah mulai beroperasi tahun 1976.

Sistem trasportasi rel bawah tanah ini menghubungkan 78 stasiun, melayani rute sepanjang 154 km menjangkau wilayah Washington DC dan beberapa wilayah penyangga di sekitarnya yang berada di negara bagian Maryland dan Virginia. Diperkirakan jasa layanan metrorail maupun metrobus ini melayani sekitar 3,4 juta masyarakat pengguna jasa transportasi umum, baik karyawan, siswa sekolah maupun masyarakat umum lainnya.

Seperti halnya untuk kereta bawah tanah, karcis farecard juga disediakan untuk transportasi bis maupun gabungan atau sambungan antara kereta dan bis. Karena itu, berwisata di kota Washington DC menggunakan jasa kereta bawah tanah dapat menjadi daya tarik tersendiri. Selain bebas dari kemacetan, relatif murah, juga mudah jika harus menggunakan bis untuk berpindah (transfer) dari satu lokasi ke lokasi lainnya. 

Sejak pertama kali masuk stasiun hingga naik-turun kereta dan keluar dari stasiun lagi, tidak terlihat banyak petugas stasiun di sana. Hanya tampak beberapa orang saja, itupun hanya sekedar mengawasi dan membantu kalau-kalau ada penumpang yang perlu bantuan. Sepanjang dapat dan sempat membaca tulisan rambu-rambu petunjuk, rasanya tidak akan kesulitan. Serba mudah, praktis dan tertib. Lalu….., kapan ya kira-kira kita akan memilikinya. (Bersambung)

Yusuf Iskandar