Posts Tagged ‘mario teguh’

Nasehat Mario Teguh

25 Oktober 2010

Ada nasehat Mario Teguh bagi para istri yang diungkapkan dengan kata-kata sederhana tapi manis bin mendalam (Metro TV tadi malam). Bunyinya : “Jangan melatih suami untuk tertarik kepada wanita lain”. (Lha yang mau latihan itu ya siapaaa…).

Yogyakarta, 18 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Janji Tuhan

25 April 2010

Kata Mario Teguh: “Bila Anda menghadapi banyak cobaan dan tantangan dalam hidup, artinya Tuhan sedang mempersiapkan Anda menjadi orang hebat” —

Sekedar mengingatkan bahwa Tuhan sebenarnya sudah menjanjikan hal itu jauh sebelum Mario Teguh. Hanya saja kita suka ragu dengan janji Tuhan…

Yogyakarta, 24 April 2010
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Para Pekerja Borongan

13 September 2009

Hari sudah bergeser lewat tengah malam, memasuki hari ke 21 bulan Ramadhan atau disebut juga malam selikuran. Baru saja kitab lusuh itu saya tutup setelah menyelesaikan membaca surat As-Sajadah. Enaknya langsung nggeblak saja di atas kasur empuk, ingin segera beristirahat untuk nanti bangun lagi saat makan sahur.

Tiba-tiba terdengar nada suara jangkerik, tanda ada SMS masuk. Sembari malas-malasan membuka mata, saya lihat rupanya SMS dari istriku di Jogja. “Kok tumben-tumbenan kirim SMS malam-malam”, kata saya dalam hati. Agaknya dia lupa kalau suaminya sedang berada di wilayah yang waktunya dua jam lebih cepat.

Ketika saya baca SMS-nya berbunyi (ditulis dalam bahasa Jawa) : “Mas, coba lihat Mario Teguh di TV One”.

Saya tersenyum sendiri. Sambil agak kurang bergairah saya balas SMS-nya : “Waduh, lha di kamarku ndak ada TV, je…”. Boro-boro…., TV rusak saja tidak ada, apalagi TV One.

Lalu HP saya letakkan di samping tempat tidur. Maksudnya agar saya bisa mendengar dengan keras, ketika alarm yang saya setel jam setengah empat nanti berbunyi. Itupun sekali waktu pernah kebablasan tidak bangun dan akhirnya tidak makan sahur (lebih tepatnya, ketika alarm berbunyi lalu terbangun sejenak, mematikan alarm, tidak langsung bangun, dan akhirnya tertidur lagi kebablasan hingga terdengar adzan Subuh).

Rupanya SMS berbunyi lagi, kata istriku : “Mengenai lebaran, banyak orang menonjolkan diri padahal banyak utang, berarti sebenarnya tidak bahagia…”, pasti menirukan tuturan Mario Teguh.

Sejenak kemudian menyusul lagi SMS : “Wah, apik tenan…”. Istriku memang penggemar Mario. Sebenarnya saya juga, hanya bedanya kalau istriku penggemar Mario Teguh, kalau saya Mario yang suka cat warna kuning temannya Maria.

Akhirnya saya jadi terjaga dan terpancing memberi komentar : “Kata lainnya : Orang-orang itu menjadikan lebaran sebagai tujuan. Padahal mestinya lebaran itu hasil, sedang tujuannya adalah sempurnanya puasa Ramadhan”.

Tidak lama kemudian datang SMS sambungan : “Kesimpulannya, lihatlah diri sendiri sebagaimana apa adanya, jangan……. Terusnya lupa…..he..he..”, tulis istriku.

“Terusnya : Jangan menjadikan orang lain sebagai ukuran. Lalu perhatikan apa yang terjadi…”, balasku kemudian.
“Ngarang!”, balas istriku dengan cepat.
Lha, coba saja diingat-ingat….., kalau enggak percaya”, balas saya lagi.
Yo wis, nanti tak ingat-ingatnya sambil tidur”, balasan cepat dari seberang sana.
“Ya, betul itu”, kataku. Berbalas SMS akhirnya selesai dengan SMS penutup dari saya : “Ini malam selikuran, tambahi tahajudnya”.

Dan, hilang sudah kantuk saya. Kini malah jadi tidak bisa tidur. Berganti dengan rasa lapar yang ditandai dengan munculnya suara kruyuk-kruyuk dari dalam perut. Tolah-toleh di kamar tidak ada yang bisa dimakan, kecuali ada sedikit sisa kacang kulit yang katanya baik untuk jantung. Maksudnya kalau dimakan secukupnya, sebab untuk jenis perut tertentu kalau makan kacang kebanyakan esoknya mencret.

***

Malam selikuran adalah tradisi yang ada di kalangan sebagian masyarakat Jawa yang maksudnya malam tanggal duapuluh satu Ramadhan yang biasanya diwarnai dengan peningkatan aktifitas beribadah di malam hari. Ya tadarus baca Qur’an, dzikir, sholat malam, i’tikaf, sedekah, kajian di masjid, mushola atau surau, dsb. Disebut tradisi karena tidak ada dasarnya. Namun maksudnya adalah…., eh siapa tahu lailatul-qodar (malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan) turun di malam itu, maka banyak orang sudah siap menyongsong kedatangannya dengan ibadah yang lebih giat dari malam-malam lainnya.

Masalahnya, adalah kalau giat beribadah hanya pada malam selikuran saja dengan harapan berjumpa dengan lailatul-qodar, maka itu sama artinya dengan pasang nomor lotere. Berharap ibadah borongannya pada malam itu dapat bernilai lebih dari seribu bulan, sementara pada malam-malam lainnya acuh tak acuh. Berharap mendapatkan kemuliaan pada malam itu, sementara pada malam-malam lainnya tidak mulia tidak apa-apa. Masih lebih baik kalau disertai harap-harap cemas, artinya ada niat kesungguhan di balik ikhtiarnya. Lha kalau berharap thok, berarti dapat ya syukur, tidak dapat yo wis….

Ibadah borongan ini tentu bukan yang dikehendaki Tuhan bagi hambanya yang sedang berbisnis dengan Ramadhan. Salah satu rahasia kenapa Allah swt. tidak memberitahu kapan lailatul-qodar tiba adalah agar hambanya menjaga kontinyuitas ibadah malamnya. Dan bukan diborong dalam satu malam saja seperti Bandung Bondowoso mborong seribu candi dalam semalam dan terakhir mbangun candi Mendut yang nilainya lebih baik dari seribu candi.

Jika demikian, taruhlah lailatul-qodar benar-benar turun pada malam itu. Rasanya cukup fair kalau kemudian para pekerja borongan itu hanya memperoleh lail-nya (malamnya) saja. Sementara qodar-nya (kemuliaannya) numpang lewat untuk melanjutkan perjalanan mencari dan menemui orang lain yang setiap malamnya bersujud penuh rasa harap-harap cemas menunggu datangnya kemuliaan dan ampunan dari Sang Pemilik Malam.

Pada malam itu lalulintas di angkasa sangat padat dan penuh sesak oleh para malaikat yang sibuk naik-turun menggendong kemuliaan kemana-mana untuk dibagi-bagikan gratis kepada setiap hamba yang bersungguh-sungguh dengan ibadah Ramadhannya. Saking padatnya angkasa raya oleh milyaran malaikat dengan kesibukannya, sehingga…

malam yang cerah menjadi temaram dan syahdu…
udara tidak terlalu dingin tidak terlalu hangat
tapi badan merinding tanpa sebab…
suasana terasa hening seolah semua isi bumi sedang bersujud
sambil menitikkan air mata penuh penghambaan….
dan  angin pun berhembus halus memberdirikan helai-helai bulu kuduk
ketika menyapunya dengan belaian lembut….
Subhanallah!

***

Cara beribadah para pekerja borongan itu tidak beda dengan mereka yang menjadikan lebaran sebagai tujuan. Apapun akan dilakukan untuk memanfaatkan momen lebaran sebagai momen memperoleh pengakuan atas sukses yang telah diraih, yang diwujudkan dalam perlambang-perlambang yang tampak di mata. Meski untuk itu mereka berkorban apa saja yang terkadang menjadi tidak rasional. Karena lebaran yang menjadi tujuannya, maka lebaran itulah yang kemudian akan diperolehnya. Bukan kemenangan, bukan kebahagiaan…

Mestinya lebaran adalah sebuah hasil, tujuannya adalah sempurnanya ibadah Ramadhan, prosesnya adalah penghambaan yang ikhlas selama Ramadhan siang dan malam semata-mata karena mengharap keridhoan-Nya. Dalam konteks beribadah, tujuan dan proses (cara mencapainya) adalah sama pentingnya. Adalah tidak benar kalau untuk tujuan beramal lalu diupayakan dengan merampok atau korupsi. Juga tidak betul kalau melakukan sholat, puasa atau sedekah tetapi tujuannya agar disanjung orang lain. Meski antara tujuan dan proses itu hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu.

Jika tujuan dan prosesnya ditunaikan dengan landasan la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa), maka Insya Allah hasil yang diraih akan datang dengan sendirinya, yaitu kemenangan dan kebahagiaan yang tak terukur nilainya di hari fitri nanti. Tak juga dapat disebandingkan dengan mobil atau sepeda motor baru meski kreditan berplat nomor B, pakaian dan perhiasan gemerlap hasil gesekan kartu kredit, lembar uang baru yang dibagi-bagikan kepada anak-anak tetangga, dan aneka perlambang yang semacam itu.

Dan, sang Hasil ini sekarang sedang gelisah merindukan ingin segera berjumpa dengan orang-orang yang tujuan dan proses ibadah Ramadhanya karena imaanan wahtisaban (karena iman dan berharap ridho-Nya). Semoga dalam Ramadhan kali ini (enggak tahu kalau Ramadhan tahun lalu atau tahun depan), kita semua termasuk ke dalam gerombolannya orang-orang yang sedang dirindukan oleh sang Hasil itu. Amin..

Tembagapura, 11 September 2009 (21 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Sepenggal Nyanyian Hujan

17 Februari 2009

Hari semakin malam, hujan tak berhenti juga sejak sore. Terkadang mereda sebentar, tidak lama kemudian deras lagi, dan sesekali menyisakan gerimis meski tak sudah jua.

Mencoba online dengan fasilitas IM2 seperti yang biasa saya lakukan hampir setahun ini, nampaknya tak mau dipacu juga kecepatannya. Perlahan-lahan bisa konek, lalu sesekali ngebut. Kalau hari hujan gini malah seringkali tiba-tiba mbegegek, diam seribu basa, tak mau jalan. Tapi lumayan masih bisa membalas email dan membuka Facebook.

Saya coba ganti ke pesawat Smart yang baru saya beli belum seminggu, masih bau plastik dan masih mengkilat tampilannya. Rupanya tetap saja berkecepatan setara genjotan sepeda onthel. Memang lebih stabil, ya… stabil alon-alon waton kelakon. Dasar Punokawan…. Smart, Gareng, Petruk, Bagong (mbayar murah kok minta bagus….).

Yo wis, matikan laptop lalu pindah ke ruang tengah di depan pesawat televisi yang sedang ditonton ibunya anak-anak. Sementara anak-anak sedang berada di kamarnya masing-masing.

***

Agak jengkel juga saya. Ibunya anak-anak ini dari tadi nyetel sinetron sambil tiduran (di ruang tengah rumah saya memang belum dibelikan meja-kursi, dan sejak lebih empat tahun yang lalu masih juga belum).  Maka sambil ikut-ikutan lumah-lumah (berbaring) di samping istri, di atas kambal warna merah yang dibeli di Madinah, segera remote control saya kudeta, lalu saya matikan televisinya. Serta-merta suasana malam berubah menjadi hening, tak lagi ada berisik suara televisi melainkan suara hujan dan sayup-sayup guruh terdengar di kejauhan. Sudah barang tentu istri saya protes keras. Lalu, berlagak bak seorang resi, saya berkata lembut sambil mendesah…..

“Ssssst…., coba dengarkan bunyi hujan tok-tok-tok di teras depan….. (Lho, kok bukan tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting? Ya, karena airnya menetes di atas polikarbonat…). Dan suara gemericik air di halaman belakang….. Kapan terakhir kita sempat menikmati suara hujan dalam keheningan malam seperti ini…..”.Tanya saya meski sebenarnya saya tidak memerlukan jawaban.

Istri saya malah komplain memberitahu : “Tuh…., dengarkan atapnya bocor…..”. Terdengar suara tek-tek-tek, air hujan yang lolos dari genting lalu jatuh ke atas plafon gypsum.

Kembali bak seorang resi seolah tak hirau atas komplain istri saya tadi. saya berkata lembut sambil mendesah…..

“Ssssst…..,  terdengar seperti suara musik alam ya……”.

Lalu kata istri saya : “Musik opo….., wong genah bocor ngono…..(musik apaan, wong jelas-jelas bocor gitu…..)”.

“Apa sempat terpikir….., kenapa rumah bagus seperti ini kok atapnya bocor. Pasti Tuhan punya maksud dengan mbocori atap rumah kita…..”, balas saya datar. Dan malam pun terasa semakin hening, kecuali hanya bunyi hujan yang tak juga kunjung reda.

“Coba kita renungkan pesan yang disampaikan oleh alam kepada kita…..
Sekali waktu,
dengarkan , nikmati, hayati hingga lubuk hati yang paling dalam,
suara nyanyian alam di saat malam turun bersama titik-titik air hujan
yang menjatuhi atap polikarbonat, halaman belakang dan detak air yang menetes di atas plafon….
Lalu perhatikan apa yang terjadi”.

Begitu kata saya kepada ibunya anak-anak yang masih terbaring di samping saya yang adalah penggemar Mario Teguh.

Dan, istri saya yang dua hari lalu berulang tahun tapi saya lupa, pun menjawab santai : “Yang terjadi ya rumah kita atapnya bocor…..!”

Yogyakarta, 17 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar