Posts Tagged ‘manhattan’

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(15).    New York, New York

Hari Kamis pagi, tanggal 6 Juli 2000, matahari sudah agak tinggi sebelum kami meninggalkan hotel untuk mulai mengarungi belantara kota New York. Melihat keluar dari jendela hotel di lantai 9, yang tampak malah dinding-dinding gedung tinggi. Cahaya matahari hanya menyelusup di celah-celahnya. Rupanya kami sedang berada di sebuah sudut kecil  dari belantara kota New York, tepatnya di wilayah Manhattan. Inilah belantara kota yang banyak ditumbuhi oleh gedung-gedung tinggi.

Sekitar jam 9:30 pagi kami keluar dari hotel, mulai dengan berjalan kaki menyusuri jalan 55th Street, lalu masuk ke jalan 7th Avenue menuju ke Times Square. Mengikuti saran dari banyak orang agar lebih leluasa menyusuri kota New York, maka kami memilih untuk tidak menggunakan kendaraan sendiri. Tadi malam setiba di hotel, mobil langsung saya titipkan ke tempat penitipan mobil yang sudah menjadi bagian dari layanan hotel, meskipun perlu membayar biaya parkir tambahan.

Tidak sebagaimana hotel-hotel di tempat lain, di Manhattan hotel hanya merupakan sebuah bangunan yang tumbuh ke atas tanpa menyisakan ruang yang cukup leluasa di sekitarnya, hingga terkesan berhimpit-himpitan dengan bangunan di sekitarnya. Karena itu hotel tidak menyediakan halaman parkir. Selain itu jika saya nekad menyusuri mengendarai kendaraan sendiri juga akan menyulitkan. Selain karena padat dan semrawutnya lalu lintas, juga menemukan tempat parkir adalah bukan hal yang mudah, khususnya di wilayah Manhattan. Belum lagi kekhawatiran akan dijahilin orang.

Mempertimbangkan hal tersebut, maka menitipkan kendaraan selama kami berada di kota New York dirasa akan lebih aman dan nyaman, serta lebih effisien dalam hal penghematan waktu. Mengemudikan kendaraan dengan menyusuri semrawutnya jalan-jalan kota New York tentu perlu energi tersendiri, dan pasti akan lebih menyita waktu serta tidak fleksibel untuk kesana-kemari.

Oleh karena itu berjalan kaki adalah pilihan yang saya anggap paling tepat untuk menikmati kota New York, lengkap dengan arsitektur bangunan kota maupun kehidupan masyarakatnya. Selanjutnya saya akan menggunakan jasa wisata kota (city tour), meskipun untuk itu perlu dianggarkan biaya yang cukup mahal. Kalaupun tidak ingin menggunakan jasa ini, menggunakan taksi juga bukan hal yang sulit. Selain itu, jasa angkutan kereta bawah tanah (subway) juga dapat menjadi pilihan.

***

New York City (selanjutnya saya sebut dengan kota New York saja) terletak di sebuah semenanjung kecil di ujung tenggara dari wilayah negara bagian yang juga bernama New York. Kota New York sendiri sebenarnya terdiri dari lima wilayah kecil atau semacam Kecamatan (yang disebut borough) yang nama-namanya sudah sering kita dengar, yaitu Manhattan, Brooklyn, Queens, the Bronx dan Staten Island.

Manhattan adalah salah satunya yang paling dikenal orang. Jika orang-orang New York (yang disebut New Yorker) menyebut the city, maka yang dimaksudkan adalah wilayah Manhattan, bukan keempat wilayah lainnya. Wilayah Manhattan ini sendiri sebenarnya terpisah dari daratan di sekitarnya oleh adanya tiga sungai, yaitu sungai Hudson yang paling lebar berada di sebelah barat, sungai East di sebelah timur dan sungai Harlem membelah di sisi utara.

Sistem jalan-jalan di New York sebenarnya tidak rumit. Membentang arah utara-selatan adalah jalan-jalan utama mulai First Avenue di sebelah timur hingga Tenth Avenue di sebelah barat, dengan Fifth Avenue membelah di tengah-tengahnya membagi wilayah timur dan barat. Membentang arah timur-barat tegak lurus memotong kesepuluh Avenue tersebut adalah puluhan bahkan ratusan jalan penghubung yang antara lain dinamai jalan 1st, 2nd, 3rd, 4th, 5th Street, dst. mulai dari sebelah selatan hingga entah Street ke berapa ratus di sebelah utara. Umumnya jalan-jalan tersebut merupakan jalur satu arah.

Di tengah-tengah Manhattan ini terdapat sebuah taman kota yang sangat luas yang bernama Central Park. Jika disebut downtown di wilayah Manhattan, maka tidak dengan sendirinya yang dimaksudkan adalah pusat kota, melainkan adalah wilayah bagian selatan Manhattan atau mudahnya dari Central Park ke arah selatan. Sedangkan uptown adalah wilayah dari Central Park ke utara. 

Uniknya, ada sebuah jalan yang sangat terkenal yang membelah diagonal dari sisi tenggara menuju ke barat laut, yaitu jalan Broadway. Menurut sejarahnya jalan Broadway ini merupakan bekas rute perlintasan suku Indian. Tempat di mana jalan Broadway ini memotong Avenue, maka terbentuklah daerah-daerah yang dikenal dengan nama square atau circle.

Sebagai contoh, tempat dimana Broadway memotong Fourth Avenue di sebelah selatan disebut dengan Union Square. Lalu yang memotong Fifth Avenue di sebelah utaranya disebut Madison Square, yang memotong Sixth Avenue disebut Herald Square, yang memotong Seventh Avenue disebut Times Square, dan yang memotong Eight Avenue disebut Columbus Circle. Madison Square dan Times Square adalah yang paling dikenal orang.

***

Berjalan kaki menyusuri kota New York dari Seventh Avenue hingga Times Square, kami langsung berada di tengah-tengah kepadatan lalu lintas kendaraan maupun pejalan kaki. Menyatu dengan para pejalan kaki bergelombol di ujung perempatan jalan, lalu berbondong-bondong menyeberang saat kendaraan berhenti. Demikian seterusnya berpindah dari satu perempatan menuju ke perempatan jalan berikutnya.

Jarak antara tiap-tiap perempatan atau blok tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan itu pula bangunan-bangunan tinggi menjulang ke angkasa dengan dominasi pemandangan pertokoan yang didekorasi secara sangat atraktif, paling tidak dengan tampilan yang berbeda dibandingkan dengan umumnya pertokoan di kota lain.

Taksi-taksi yang berwarna khas kuning (karena itu disebut dengan yellow cab) bertebaran di sepanjang jalan-jalan kota New York. Dari ketinggian puncak gedung Empire State, tampak gerombolan taksi kuning ini layaknya sedang ada arak-arakan kampanye Golkar. Rasanya benar kalau orang mengatakan ada jutaan taksi berseliweran di New York setiap saat. Seperti yang sering tampak dalam film-film layar lebar dengan setting kota New York dan taksi kuningnya. Memudahkan bagi siapa saja yang ingin menggunakan jasanya.

Meskipun demikian, pemerintah kota New York mengingatkan agar para calon penumpang taksi memperhatikan tulisan tentang hak-hak penumpang terhadap taksi sebagaimana yang selalu terpasang di setiap taksi. Ini adalah kata lain untuk memperingatkan bahwa terkadang ada sopir taksi yang suka nakal terhadap penumpang yang belum biasa bertaksi di New York. Sesuai ketentuan pemerintah kota New York, bahwa setiap penumpang taksi berhak untuk minta diantarkan kemanapun tujuannya di kota New York, tidak tergantung jarak dan lokasi tujuan. Karena itu jangan biarkan sopir taksi yang mendikte penumpang tentang arah dan tujuannya.

Alternatif sarana angkutan lainnya adalah kereta bawah tanah. Di berbagai sudut kota banyak dijumpai tangga menurun yang menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Kereta bawah tanah di New York, yang disebut subway merupakan salah satu kereta bawah tanah tertua di dunia setelah yang ada di London, Inggris. Meskipun dahulu jalur kereta bawah tanah New York ini pernah terkenal karena tidak aman, tetapi kini pemerintah setempat meyakinkan bahwa angka kriminalitas di jalur subway ini sangat menurun. Meskipun tentu saja tetap diperlukan kewaspadaan.

Jalur-jalur subway yang panjang totalnya mencapai 237 mil (sekitar 380 km) menjangkau wilayah yang sangat luas dan memang terkesan rumit. Namun tanda-tanda petunjuk di setiap stasiun sebenarnya mudah untuk diikuti. Meskipun demikian, disarankan kepada calon penumpang yang belum terbiasa agar hendaknya terlebih dahulu mempersiapkan rencana perjalanan sebaik-baiknya sebelum membeli karcis. Ini dimaksudkan agar tidak bingung dan tersesat di rute-rute yang simpang siur di bawah tanah yang akhirnya malah memboroskan waktu dan biaya.

Kami sendiri memilih menggunakan jasa wisata kota yang kami anggap lebih mudah, lebih banyak kesempatan melihat pemandangan kota serta lebih aman mengingat kami pergi bersama anak-anak. Pagi ini kami akan segera memulai perjalanan menyusuri belantara hutan beton. Beberapa lokasi pilihan sudah kami rencanakan untuk dikunjungi. Pasti tidak cukup waktu kalau ingin mengunjungi semua tempat dalam waktu hanya dua hari.

***

Tak diragukan lagi, kalau dikatakan bahwa New York adalah salah satu kota paling menawan di dunia. Kota dimana perputaran roda kehidupan tidak pernah berhenti dan selalu tampil atraktif. Kota yang tidak pernah bebas dari kesibukan, dan karena itu mobilitas kota menjadi bagian persoalan tersendiri. Kota yang ternyata juga menjadi tujuan untuk mengadu peruntungan bagi kaum pendatang, termasuk pendatang (haram) dari Indonesia.

Inilah New York. Kota dengan sekitar 7,5 juta penduduknya dan berelevasi sekitar 16 m di atas permukaan air laut. Tempat dimana Frank Sinatra pernah menghayalkan ingin bangun pagi di sebuah kota yang tidak pernah tidur, dalam lagunya : “New York, New York“……………- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(17).    Senja Di Brooklyn

Langit masih cerah dan matahari pun masih tinggi. Serasa belum puas kalau seharian tadi hanya sempat mengunjungi patung Liberty. Kami lalu memutuskan untuk ikut wisata malam. Untuk itu kami harus kembali berjalan kaki menuju ke tempat pemberangkatan bis wisata kota. Dengan jenis bis double decker yang sama, kami kembali memilih untuk duduk di dek atas. Kali ini cuaca agak lebih enak, karena jatuhnya cahaya matahari sudah agak condong.

Masih di hari Kamis, 6 Juli 2000, saat menjelang senja kami berkeliling menyusuri kota New York melalui rute yang berbeda dari pagi harinya. Meskipun saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar jam 7:00 malam, tapi saya menyebutnya menjelang senja karena matahari baru akan tenggelam menjelang jam 9:00 malam. Daerah yang pertama kami kunjungi sore itu adalah Grand Central Terminal.

Grand Central Terminal ini adalah sebuah bangunan kuno yang terletak di jalan 42nd Street yang saat ini berfungsi sebagai pusat terminal atau stasiun kereta api. Di dalam bangunan tua tapi masih sangat terurus dengan baik ini terdapat sebuah ruangan yang luas dan berlangit-langit tinggi dengan arsitektur kuno yang tampak megah. Aula luas ini menjadi tempat ruang tunggu dan di bagian pinggirnya tempat penjualan tiket.

Dari aula luas ini terdapat lorong atau tangga naik maupun turun yang menghubungkan dengan lorong-lorong bawah tanah yang menuju ke berbagai jalur pelayanan subway maupun menuju ke sarana perkantoran atau pertokoan. Sarana perbelanjaan yang cukup besar dan lengkap memang juga tersedia di dalam stasiun ini.

Tujuan berikutnya adalah Greenwich Village. Dahulu tempat ini terkenal sebagai pusat kota Bohemian dan sebutan the Village terkenal dengan adanya restoran, toko cendera mata, toko buku, pameran seni dan teater, kafe dan klab malam. Greenwich Village ini identik dengan seni kontemporer masa depan (avant-garde), gaya hidup nyeleneh dan seniman-seniman yang hidupnya menderita, termasuk tempat transaksi obat-obat terlarang. Suasana khas itu kini masih bisa dirasakan jika kita berjalan menyusuri jalan-jalan di wilayah ini. Bagi yang berwisata bersama keluarga sebaiknya memang tidak melakukannya di saat malam hari.

Di bagian depan atau timur laut wilayah ini terdapat taman yang disebut Washington Square Park dimana dapat dijumpai sebuah tugu Plengkung Washington  (Washington Arch). Plengkung Washington yang berlokasi tepat di ujung selatan jalan Fifth Avenue ini dibangun pada tahun 1895 oleh Stanford White dari bahan marmer.

Tugu ini dibangun menandai seabad peringatan pelantikan presiden pertama Amerika, George Washington. Untuk menjaga keutuhannya, kini Plengkung Washington dipagar keliling, sehingga di bagian bawah plengkungnya tidak dapat dilewati sebagaimana Plengkung Gading di Yogya, misalnya.

***

Senja telah menjelang, ketika kami sampai di ujung barat jembatan Brooklyn. Kami memang akan menuju ke wilayah Brooklyn melalui sebuah jembatan yang juga bernama sama yang menghubungkan antara kecamatan Manhattan dan Brooklyn melintasi sungai Timur (East river). Selain jembatan Brooklyn, di sungai Timur ini juga melintas jembatan Manhattan dan Williamsburg. Di sebelah utaranya lagi ada jembatan Queensboro yang menghubungkan Manhattan dengan Queens.

Di samping beberapa jembatan, di bawah sungai Timur ini juga ada melintas dua buah terowongan, yaitu terowongan Brooklyn di sebelah selatan dan Queens Midtown di sebelah utara.

Selain dihubungkan melalui beberapa jembatan dan terowongan di sisi timur, wilayah Manhattan juga dapat dicapai dari sisi barat melalui beberapa terowongan di bawah sungai Hudson yang lebar. Antara lain terowongan Lincoln yang kami lewati saat pertama kali tiba di New York yang menghubungkan antara wilayah kota Union City di New Jersey dengan Manhattan di New York. Ada lagi terowongan Holland di sebelah selatannya yang menghubungkan kota Jersey City dengan Lower Manhattan. Sedangkan di ujung paling utara terdapat jembatan George Washington untuk mencapai wilayah Manhattan utara dari kota Fort Lee di New Jersey.

Dari atas jembatan Brooklyn tampak pemandangan indah di kedua wilayah di seberang-menyeberang sungai. Jembatan Brooklyn yang arsitekturnya terkesan lebih bernuansa seni jika dibandingkan dengan umumnya jembatan gantung, memang mempunyai profil penampilan agak berbeda.

Tiba di wilayah Brooklyn, kami lalu memutar menuju ke tepian sungai Timur dan berhenti di sebuah anjungan di tepi sungai. Di sana ada semacam dermaga tempat dimana orang-orang dapat dengan aman berdiri tepat di pinggir sungai. Berdiri menghadap ke barat dari tempat ini, tampak wilayah Manhattan di seberangnya dan jembatan Brooklyn yang membentang panjang dan tinggi di sisi kanannya. Seolah-olah sedang berada di bawah jembatan Brooklyn, meskipun tidak tepat di kolongnya.

Senja semakin gelap menuju malam. Temaram cahaya matahari semakin menghilang. Di kejauhan di seberang sungai Timur di wilayah Manhattan, tampak titik-titik cahaya lampu yang memancar dari gedung-gedung pencakar langit. Memberikan pesona pemandangan malam hari, berlatar belakang kerlap-kerlipnya cahaya lampu dan berlatar depan gelapnya permukaan air sungai, yang sesekali ada perahu berlalu membelah di tengah kegelapan. Pemandangan semacam ini sebenarnya bukan hal yang aneh, namun yang membedakannya dengan tempat-tempat lain karena dari tempat ini sejauh mata memandang yang tampak adalah bayangan gedung pencakar langit.

Sekitar pukul 10:00 malam, kami meninggalkan dermaga di bawah jembatan Brooklyn dan melanjutkan perjalanan kembali ke Manhattan. Saat kembali melintas di tengah jembatan Brooklyn, pemandangan malam hari belantara hutan beton Manhattan dengan pancaran lampu-lampunya tampak lebih jelas dari atas jembatan. Cahaya merah-kuning-biru yang memancar dari puncak menara Empire State Building juga tampak menjulang ke angkasa.

Akhirnya kami tiba di jalan 7th Avenue, lalu berjalan kaki kembali menuju hotel. Suasana jalan-jalan dan umumnya wilayah Manhattan di lokasi yang kami lalui masih tampak ramai meskipun tentunya tidak seramai dan sepadat saat siang hari. Paling tidak, suasana yang demikian ini membuat kami merasa aman untuk berjalan kaki bersama anak-anak menyusuri jalan-jalan penghubung menuju ke hotel.

Ya maklum saja, bagaimanapun juga kami tetap perlu menjaga kewaspadaan kalau mengingat bahwa tingkat keamanan kota New York yang relatif agak kurang aman terutama di malam hari jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Amerika. Tipikal kehidupan kota metropolitan yang penduduknya sangat heterogen, multi-rasial serta terdiri dari berbagai strata sosial.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(18).   Di Puncak Gedung Pencakar Langit

Hari ini adalah hari Jum’at, 7 Juli 2000, merupakan hari ketiga kami di New York. Sekitar jam 10:00 pagi kami baru meninggalkan hotel, menghirup udara Manhattan di saat matahari sudah agak tinggi. Kami langsung berjalan kaki menuju ke tempat pemberhentian bis wisata yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari hotel. Rencana semula kami ingin mengunjungi dua buah gedung pencakar langit, yaitu Empire State Building dan World Trade Center (WTC) Building dengan menara kembarnya.

Namun mempertimbangkan agar saya tidak kehilangan sholat Jum’at tengah hari nanti, maka hanya salah satu gedung saja yang akan sempat kami kunjungi. Pertanyaan selanjutnya adalah : Gedung pencakar langit mana yang sebaiknya dikunjungi? Keduanya menjulang tinggi, Empire State yang berlokasi di jalan 34th Street tingginya mencapai 381 m dan terdiri dari 102 lantai, sedangkan WTC yang berlokasi di jalan West Street tingginya mencapai 411 m dan terdiri dari 110 lantai. Empire State Building pernah menjadi gedung tertinggi di dunia hingga tahun 1977 ketika posisinya digantikan oleh WTC Building.

Mengingat bahwa gedung WTC banyak dijumpai di mana-mana dan menimbang bahwa gedung Empire State lebih terkenal namanya, maka kami memutuskan untuk mengunjungi gedung pencakar langit Empire State yang namanya juga dipakai sebagai nama julukan negara bagian New York.

Sekitar jam 11:15 siang kami tiba di lantai dasar gedung Empire State yang ternyata merupakan kompleks pertokoan. Di luar dugaan saya sebelumnya, untuk naik ke lift ternyata sudah banyak orang yang antri. Sekitar 30 menit kemudian barulah lift yang kami naiki meluncur ke puncak gedung, menuju ke lantai paling atas yang boleh dikunjungi yaitu lantai 86, tepat di bawah bangunan menaranya.

Dari lantai 86 ini ada beberapa pintu yang menuju ke teras luar yaitu sebuah tempat terbuka yang lebarnya kira-kira 1.5 m mengelilingi puncak gedung yang berbentuk bujur sangkar. Saya pikir, inilah tempat di udara terbuka New York yang paling dekat dengan matahari. Angin pun bertiup spoi-spoi kering dan agak kencang. Kami lalu berjalan memutari teras yang di sekelilingnya dipasang pagar pengaman berupa pagar jeruji setinggi 3 meter.

Memandang jauh ke depan dari tempat ini kami dapat melihat hamparan luas New York City dan sungai-sungainya. Memandang ke arah bawah tampak jalan-jalan kota yang silang-menyilang timur-barat dan utara-selatan di sela-sela bangunan-bangunan tinggi. Sekumpulan taksi-taksi New York yang berwarna kuning dan berseliweran di sepanjang jalanan nampak seperti sedang ada kampanye Golkar. Kerumunan pejalan kaki dan penyeberang jalan yang memadati sekitar perempatan jalan nampak bergerak beriringan seperti semut ketika lampu tanda menyeberang menyala.

Empire State Building yang dirancang dengan motif art deco selesai dibangun tahun 1931 pada saat Amerika sedang mengalami depresi ekonomi. Entah kenapa gedung ini dibangun pada saat yang tidak tepat. Akibatnya, pengelola gedung ini kemudian mengalami kesulitan untuk memasarkannya, kesulitan mencari penghuni yang mau menyewanya.

Meskipun pembangunannya sendiri hanya memakan waktu dua tahun, namun setelah itu hingga belasan tahun banyak ruangan yang kosong tak berpenghuni. Karena itu sempat para New Yorker (sebutan untuk orang-orang New York) menyebut gedung ini dengan memelesetkannya menjadi “Empty State Building”. Namun untungnya kepopuleran menara observasi yang berada di lantai 102 gedung ini akhirnya berhasil menyelamatkannya dari kebangkrutan. Bahkan kini setiap tahunnya dikunjungi oleh tidak kurang dari 3,5 juta wisatawan dari seluruh dunia.

Gedung tinggi ini pernah beberapa kali dihantam petir. Bahkan pada tahun 1945 sempat disenggol oleh pesawat tempur B-45 tepat di lantai 79, hingga mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan mengakibatkan kerusakan senilai lebih US$ 1 juta.

Inilah gedung pencakar langit yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat kota New York. Gedung yang kalau ditimbang memiliki berat 60.000 ton ini dilengkapi dengan elevator berkecepatan tinggi, sehingga untuk menuju ke puncak bangunan cukup diperlukan waktu sekitar satu menit lebih sedikit.

***

Setelah puas “berkelana” di angkasa New York, kami lalu menuju ke lift untuk turun setelah sebelumnya sempat mampir ke toko cendera mata yang ada di lantai yang sama. Kali ini tidak terlalu lama mengantri. Tiba di luar gedung segera menuju ke tempat pemberhentian bis. Kali ini juga tidak terlalu panjang mengantri, tapi justru lama menunggu bisnya tidak datang-datang. Dari sini kami langsung menuju ke gedung PBB yang berlokasi di jalan First Avenue dengan niat ingin sholat Jum’at di sana, dan rasanya belum terlambat.

Sebenarnya di New York ini ada masjid Indonesia yang dikelola oleh masyarakat Indonesia yang ada di sana. Saya memang belum tahu ada di mana, dan rasanya akan dapat saya temukan kalau mau mencarinya meskipun untuk itu perlu waktu. Akan tetapi saya memang mempunyai rencana berbeda, yaitu ingin menikmati sholat Jum’at di gedung PBB. Sebuah gedung tempat bertemunya para duta negara-negara di dunia. Dari informasi yang saya miliki, di gedung PBB ada masjid. “Masak sih, mau numpang sholat tidak boleh”, pikir saya.

Itulah sebabnya maka siang itu saya langsung melanjutkan perjalanan dari gedung Empire State menuju ke gedung markas besar PBB dan berhenti tepat di depan pintu gerbangnya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(19).    Ditolak Masuk Gedung Sekretariat PBB

Akhirnya kami tiba di jalan First Avenue, di depan sebuah gedung yang di halaman depannya terpasang berjejer puluhan bendera negara anggota PBB. Saking banyaknya bendera hingga mengganggu pandangan depan gedungnya. Kompleks gedung yang dikenal dengan nama United Nation Headquarter ini ternyata dari luar tampak biasa-biasa saja. Tidak segagah keputusan-keputusan sidangnya yang sering nakut-nakutin anggotanya, apalagi anggotanya yang “kelas gurem”. Rasa-rasanya masih tampak lebih megah gedung DPR/MPR kita yang di Senayan itu, yang pernah “boleh” dipanjat ramai-ramai.

Setelah melewati pemeriksaan seperti halnya kalau mau masuk bandara, akhirnya kami tiba di dalam gedung di bagian lobi umum, melalui pintu sisi utara. Masuk gedungnya sendiri tidak perlu membayar, namun disediakan sarana untuk berwisata menjelajahi gedung ini dengan membayar US$7.50 per orang dewasa. Karena tujuan utama saya adalah mau numpang sholat Jum’at, maka saya langsung mencoba mencari tahu di mana letak musholla atau masjidnya.

Dari informasi yang saya punyai dan setelah melihat sendiri situasinya, ternyata musholla atau masjid PBB berada di lantai 17 gedung utama atau Secretariat Building. Padahal untuk masuk ke gedung utama diperlukan ijin khusus. Sebelum saya menemui petugas yang ada di situ, saya sempat memperhatikan orang-orang yang mendaftar untuk memperoleh ijin masuk ke gedung utama. Semuanya berpenampilan rapi dan resmi, pakai jas dan dasi, dengan membawa tas atau segepok dokumen di tangannya. Tidak ada satupun yang berpenampilan sebagai wisatawan.

Akhirnya saya beranikan diri juga untuk bertanya bagaimana caranya kalau saya mau sholat Jum’at di masjid PBB. Eh, lha malah saya ganti ditanya : “Siapa sponsor Sampeyan?”. Wah, ya jelas tidak ada sponsornya. Wong saya lagi melancong, je….. Maka kemudian saya diberitahu oleh petugas itu bahwa untuk memasuki gedung utama diperlukan sponsor atau ada pihak yang mengundang, atau dengan kata lain ada yang menjadi tuan rumah atas kehadiran saya. Lha ya siapa yang mau menuan-rumahi saya, kalau saya datang ke situ dalam rangka melancong dan mampir mau nunut Jum’atan.

Yah, terpaksa saya kehilangan sholat Jum’at siang itu. Saya baru menyadari bahwa ada yang tidak lengkap dari informasi yang saya miliki untuk dapat masuk ke masjidnya PBB di bagian gedung yang disebut International Islamic Community. Ternyata memang tidak dapat begitu saja untuk mampir dan lalu numpang Jum’atan.

Tadinya pikiran saya berlogika bahwa gedung itu kan miliknya negara-negara sedunia, termasuk Indonesia. Karena itu tentunya saya juga berhak menjadi pemiliknya. Apalagi kalau tujuannya untuk ibadah, kan mestinya tidak ada halangan bagi siapapun untuk tidak diperbolehkan beribadah. Ternyata logika saya kelewat ndeso. Bagaimanapun juga setiap perkara itu ada aturan dan tata caranya demi kemaslahatan (kebaikan) semua pihak. Di antaranya ya demi keamanan bersama maka salah satunya aturan sponsor-menyeponsori itu diterapkan bagi siapa saja yang akan masuk ke gedung utama sekretariat PBB.

Yo wis (ya sudah)….., akhirnya kami jalan-jalan berkeliling di dalam lobi sayap timur gedung PBB saja. Di salah satu toko cendera mata yang ada di lantai dasar, ada dijual barang-barang kerajinan dari seluruh negara anggota PBB. Saya cari-cari yang dari Indonesia. Rupanya ada wayang golek dari Jabar, kerajinan kayu dari Bali, kerajinan perak dari Yogya, dan entah apa lagi wong penempatannya terpisah-pisah.

Selesai berkeliling di dalam ruangan, kemudian kami menuju keluar gedung. Di halaman terbuka sebelah timur yang siang itu matahari terasa panas menyengat ada beberapa patung menghiasi pelataran. Kami lalu menuju ke arah belakang atau menjauh dari pintu utama. Rupanya sungai Timur (East river) tepat berada di belakang gedung PBB.

Di kompleks PBB yang luas seluruhnya mencapai 7,3 ha ini selain terdapat Secretariat Building, ada bangunan berkubah yang disebut General Assembly Building tempat biasanya sidang umum diselenggarakan. Gedung General Assembly ini mampu menampung 1.400 delegasi, 160 wartawan dan 400 tamu. Pada setiap kursi delegasi dilengkapi dengan earphone untuk mendengarkan terjemahan dari setiap pidato ke dalam enam bahasa resmi yaitu : Inggris, Rusia, Cina, Perancis, Spanyol dan Arab.

Selain kedua bangunan tersebut masih ada bangunan lain yang disebut Conference Building dan Hammarskjold Library. Di bagian utara kompleks PBB ini terdapat sebidang halaman luas berumput. Setelah melewati sebidang halaman yang agak teduh dan rindang dengan pepohonan kecil, kami tiba di bantaran sungai yang sengaja dirancang menjadi sebuah taman di pinggir sungai tepat di belakang gedung PBB.

Jauh di seberang sungai tampak wilayah kecamatan Brooklyn. Di sungainya sendiri berlalu-lalang perahu-perahu dan kapal kecil. Gedung-gedung tinggi juga tampak menjulang di sisi yang sama di tepian sungai. Kalau saja kami ada di sana di saat sore atau senja hari, pasti suasananya lebih mengasyikkan.

Kelihatannya tempat itu memang sengaja dirancang untuk menjadi tempat refreshing bagi para delegasi PBB yang sedang jenuh bersidang dan melototin dokumen-dokumen, sehingga perlu melepas pandangan jauh-jauh. Sekaligus tempat ini menjadi obyek wisata tambahan bagi wisatawan yang berkunjung ke gedung markas besar PBB.   

Sekitar jam 4:30 sore, kami baru meninggalkan pelataran gedung PBB dan lalu menuju ke pintu gerbang utama. Sambil duduk-duduk di pinggir trotoar jalan, kami menunggu bis wisata yang akan membawa kami ke downtown. Terlihat ada dua orang petugas sedang menurunkan bendera-bendera negara anggota PBB yang seharian berkibar di sepanjang pagar halaman depan.

Rupanya bendera-bendera itu setiap pagi dikibarkan dan setiap sore diturunkan. Cara menurunkannya pun biasa-biasa saja serta tidak terlihat ada upacara tertentu. Dari pinggir jalan ini saya dapat melihat bangunan gedung utama sekretariat PBB yang menjulang setinggi 166 m dimana saya tadi tidak diperbolehkan masuk.

Cukup lama kami menunggu bis wisata yang tidak muncul-muncul, hingga sekitar 45 menit barulah kami meninggalkan gedung markas besar PBB yang terletak di pinggir tenggara Manhattan. Dari sini kemudian kami menuju ke jalan 59th Street di wilayah tengah Manhattan. Kami lalu turun di sisi tenggara Central Park atau di penggal jalan Central Park South. Central Park adalah sebuah taman sangat luas di pusat kota New York. Sengaja kami ingin menikmati suasana sore hari di Central Park.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(20).    Makan Hotdog Di Central Park

Masih hari Jum’at sore, 7 Juli 2000, turun dari bis kami berjalan kaki menyeberang menuju ke pintu selatan Central Park. Di sepanjang trotoar sekitar Central Park ini banyak pedagang kaki lima yang menggelar kiosnya. Nampaknya memang para pedagang itu sengaja dibiarkan oleh pemerintah New York sebagai bagian dari industri pariwisata.

Ada para pelukis, penjual foto, pengasong cendera mata, pedagang T-shirt, dan tentu juga yang terkenal khas di New York yaitu penjual hotdog menyebar di trotoar jalan. Sepanjang keberadaan mereka tidak menggangu lalu lintas kendaraan maupun pejalan kaki, rasanya kok tidak menjadi masalah. Di sekitar Central Park ini banyak juga ditawarkan wisata andong atau delman, yaitu sejenis kereta beroda empat yang ditarik seekor kuda. Andong atau delman ini malah terkadang suka berhenti semaunya.

Yang membedakan wisata andong di New York ini misalnya dengan di Yogya, adalah kalau di New York pak kusirnya menghela kuda sambil nerocos berceritera tentang apa saja yang dilihatnya, bahkan yang tidak dilihatnya pun dia akan sanggup menceriterakan kisahnya.

Sedangkan kalau di Yogya pak kusirnya benar-benar mengendarai kuda supaya baik jalannya, sehingga turis yang naik hanya tolah-toleh dengan pikiran masing-masing. Masih untung kalau kebetulan turisnya membawa buku panduan wisata. Kalau tidak, sebenarnya sang turis berhak untuk merasa dirugikan, karena dia telah kehilangan hak informatif atau edukatif dari perjalanan wisatanya. Tapi memang persoalannya tidak sesederhana itu. Di New York pak kusirnya sudah ngomong Inggris sejak lahir, sedang di Yogya ngomong Indonesia saja terkadang masih pathing pecothot (belepotan).

Tiba di pintu selatan Central Park, kami berhenti dulu sambil duduk-duduk istirahat di bangku di trotoar jalan masuk menuju Central Park. Sesekali melihat-lihat kios pedagang kaki lima yang menjual T-shirt. Desain T-shirt yang paling populer bagi para pendatang adalah yang ada tulisannya : “I love (love-nya diwakili dengan gambar hati) NY“.

Tiba-tiba saya ingat, ada pesan promosi yang menyarankan agar jangan lupa kalau ke New York mampir membeli hotdog di pinggiran jalan. Itulah salah satu kekhasan dari suasana kesibukan kota New York.

Ya, membeli hotdog di pinggir jalan lalu memakannya juga di pinggir jalan, jika perlu sambil jalan. Seperti yang sering terlihat di film-film layar lebar. Seakan-akan kurang sah kalau misalnya membelinya di toko, atau membelinya di pinggir jalan tapi makannya di hotel.

Itulah yang sore itu kami coba lakukan. Membeli hotdog untuk kami berempat, setelah terlebih dahulu saya pastikan bahwa hotdog-nya berisi beef (tidak ada salahnya saya tanyakan, eh siapa tahu hotdog-nya benar-benar berisi dog yang kepanasan). Kami lalu memakannya sambil duduk-duduk santai bersandar di bangku panjang, dekat pintu masuk Central Park, sambil menghisap rokok dalam-dalam.

Anak laki-laki saya yang kelas satu SD malah makannya sambil duduk bersila di lantai trotoar diselingi menenggak air mineral. Saya biarkan saja kalau memang itu caranya menikmati sorenya New York. Pendeknya, sore itu kami benar-benar berlaku seperti turis mancanegara bagi kota New York.

Ada beberapa orang lain juga sedang duduk-duduk santai di bangku-bangku yang berdekatan dengan tempat kami duduk. Kelihatannya juga wisatawan yang kecapekan, atau mungkin New Yorker yang ingin santai menghirup udara sore. Diantaranya ada orang-orang tua yang lebih tepat saya sebut kakek-kakek serta ada pula pasangan-pasangan muda.

Enak juga sore-sore makan hotdog hangat di saat perut sedang lapar berat. Ya maklum wong makan siangnya tadi tidak benar-benar makan. Malah anak saya nambah minta dibelikan lagi, hotdog plus sebotol air mineral. 

Memasuki taman Central Park sepintas taman kota ini terkesan sebagai taman yang terbentuk secara alamiah. Di dalam taman dijumpai seperti singkapan batuan yang di sekitarnya ditumbuhi rerumputan dan pepohonan rindang. Juga jalan-jalan yang naik serta turun seperti memang kontur alamnya demikian. Padahal sebenarnya taman ini adalah taman buatan. 

***

Taman Central Park yang terletak di jantung kota New York atau tepatnya di wilayah Manhattan mempunyai luas sekitar 340 hektar. Taman ini benar-benar menjadi paru-paru kota New York. Menjadi tempat yang sangat ideal untuk santai, rekreasi maupun berolah raga di tengah kesibukan dan hiruk-pikuknya kehidupan kota yang tidak pernah tidur ini.

Di areal taman yang sangat luas untuk ukuran taman di tengah kota, Central Park selain memiliki bagian-bagian yang berupa taman yang tertata indah serta ditumbuhi banyak pepohonan rindang, juga terdapat danau, arena bermain, kebun binatang, cagar alam untuk jenis-jenis burung, arena teater terbuka maupun arena konser musik.

Termasuk berbagai sarana olah raga seperti kolam renang, bersepatu roda, berperahu, berkuda, bersepeda, jogging, tenis, baseball, dsb.  Juga ada sarana untuk memancing sebagai hiburan, yang disebut dengan istilah catch-and-release fishing, yaitu memancing tapi bukan untuk menangkap ikannya lalu dimasak, melainkan untuk dilepaskan lagi. Saat musim dingin, danau-danau kecil di taman ini airnya membeku, sehingga cocok buat berolahraga ice-skating.

Taman yang berbentuk empat persegi panjang dan membentang relatif arah utara-selatan ini tepatnya dibatasi oleh jalan 59th Street di sebelah selatan dan jalan 110th Street di sebelah utaranya. Di sisi timur dibatasi oleh Fifth Avenue dan di sisi baratnya Eighth Avenue. Di dalamnya terdapat sarana jalan yang dapat dilalui dengan mobil. Dengan berjalan kaki menyusuri taman ini, jelas hanya akan sanggup mencapai sebagian kecil area saja, selain tentunya memerlukan waktu yang tidak pendek. Seperti halnya yang kami lakukan sore itu, cukup dengan mutar-mutar di bagian paling selatan dari taman ini saja.

Mulanya di tahun 1862 ketika sebuah taman kota dipatok-patok di wilayah bagian utara Manhattan yang waktu itu masih belum berkembang dan masih sepi. Lalu dirancang menjadi sebuah taman kota yang sangat luas oleh dua orang arsitek, Frederick Law Olmstead dan Calvert Vaux. Taman ini memang dirancang untuk menjadi semacam “tempat pelarian” bagi para pengunjung atau warga kota yang jenuh dengan kesibukan dan kesemrawutan kota New York yang tidak jauh berada di sekelilingnya.

Dalam perkembangannya kini, banyak para selebritis yang memilih bertempat tinggal di areal di sekitar Central Park. Tentu dengan pertimbangan karena memandang taman ini akan memberikan kenampakan dan kesegaran berbeda dibandingkan dengan memandang wajah kota New York yang penuh dengan gedung-gedung tinggi. Tersedianya sarana berolah raga juga menyebabkan taman ini banyak didatangi oleh para turis maupun warga kota New York sendiri. Termasuk penyanyi seperti Madonna yang suka jogging di sini.

Memandang Central Park dari puncak gedung pencakar langit, seperti dari gedung Empire State misalnya, memberikan kenampakan kota yang sangat kontras adanya sebuah dataran hijau yang luas di tengah belantara hutan beton yang tumbuh di sekelilingnya yang membentang di seluas daratan Manhattan.

Warga kota New York tentu bangga memiliki Central Park. Seperti halnya “mestinya” warga Jakarta juga akan bangga kalau misalnya taman Medan Merdeka dapat terolah dengan baik menjadi taman kota di tengah kesibukan metropolitan Jakarta. Mekipun luas area Medan Merdeka tidak seberapa dibanding luas Jakarta, tetap saja akan bernilai lebih daripada tidak ada.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(21).    Suatu Malam Di Broadway

Salah satu nama jalan yang sangat terkenal di kota New York atau tepatnya Manhattan adalah jalan Broadway Avenue. Ini adalah jalan berarus lalulintas searah yang memanjang diagonal dari arah barat laut menuju tenggara wilayah Manhattan. Jalan ini menjadi terkenal karena adanya panggung-panggung teater serta menjadi pusat aktifitas seni khususnya seni teater di New York.

Ada sekurang-kurangnya 33 panggung teater bertebaran di sekitar jalan Broadway. Meskipun sebenarnya hanya dua panggung teater saja yang benar-benar berlokasi di jalan Broadway, selebihnya berada di jalan-jalan sekitarnya yang memang berada di seputaran Broadway. Tepatnya gedung-gedung teater ini berada di sekitar Times Square, dan menyebar antara jalan 41st dan 55th Street di sebelah selatan dan utaranya, serta antara Sixth dan Eighth Avenue di sebelah timur dan baratnya.

Demikian populernya tentang pementasan teater di Broadway ini, sehingga untuk lakon-lakon tertentu bisa dilakukan pementasan setiap malam untuk periode yang sangat lama, hingga berbulan-bulan. Untuk menyaksikan pertunjukan teater di Broadway memang perlu jeli untuk mendapatkan harga tiket yang murah karena setiap saat setiap gedung memberikan harga sale dengan potongan harga. Bahkan pemesanan tiket pun dapat dilakukan sejak 3 bulan hingga setahun sebelumnya.

***

Di hari Jum’at malam. 7 Juli 2000 itu, yang adalah malam terakhir kami di New York sebelum esoknya akan melanjutkan perjalanan, kami sempatkan untuk jalan-jalan menyusuri sepenggal jalan Broadway. Broadway yang kami lihat malam itu adalah Broadway yang gemerlap dan sibuk seperti tak kenal waktu.

Pementasan teater hanyalah bagian kecil saja dari kesibukan Broadway, selebihnya adalah pertokoan, arena entertainment, termasuk pedagang kaki lima, di tengah ribuan pengunjung pejalan kaki yang entah memang berniat belanja atau sekedar berekreasi. Dan kami adalah empat orang dari ribuan pejalan kaki yang berseliweran di Broadway malam itu. 

Saya sempat berhenti sebentar di depan gedung teater yang malam itu mementaskan lakon “Miss Saigon”. Pementasan tentang lakon ini bahkan sudah saya ketahui sejak setahun yang lalu. Saya memang sangat berkeinginan untuk menyaksikan pementasan ini. Ketertarikan saya selain karena saya tertarik dengan setting dan alur cerita lakon ini, juga karena menyaksikan teater di Broadway pernah menjadi impian saya sewaktu masih sekolah dulu.

Di jaman sekolah dulu, baik sewaktu tinggal di Yogya maupun di Bandung, sewaktu sedang asyik-asyiknya menggandrungi seni teater, saya pernah berkhayal alangkah bangganya kalau pada suatu saat nanti saya sempat menikmati pementasan seni teater di Broadway, di kota New York. Sedikitpun tidak pernah terlintas di pikiran bahwa kesempatan itu akan datang sekian belas tahun kemudian. Bukan hanya saya, teman-teman saya yang juga pecinta seni teater juga punya khayalan yang sama.

“Kesempatan itu ada di depan mata saya, malam ini”, kata saya dalam hati. Sesaat saya pandangi poster-poster pertunjukan yang terpasang di teras depan gedung Broadway Theater. Anak saya sempat sewot : “ngapain sih ngeliatin gambar-gambar begitu”. Agaknya ada tukang karcis, atau barangkali calo penjual karcis, yang memperhatikan saya. Lalu dia menawari tiket dengan harga sale untuk saya malam itu. Dan terpaksa saya jawab dengan sopan : “No, thank you“.

Ternyata memang tidak setiap keinginan atau bahkan obsesi sekalipun, harus diwujudkan ketika kesempatannya telah tiba. Ya, seperti malam itu. Keinginan sudah menggebu-gebu, kesempatan sudah di ambang pintu, rasanya uang di saku juga masih lebih dari cukup. Tapi toh akhirnya semua bangunan ego saya harus saya rubuhkan.

Lha, bagaimana dengan anak-anak dan istri saya? Karena sudah pasti mereka tidak akan dapat menikmati apa yang akan mereka lihat di panggung teater sebagaimana saya menikmati pementasannya. Selalu saja muncul pertimbangan lain ketika kita akan berniat mewujudkan sebuah keinginan. Sangat berbeda kejadiannya dengan ketika pertama kali keinginan itu muncul, sekian tahun yang lalu. 

***

Jalan-jalan menyusuri Broadway malam itu segera saya lanjutkan bersama anak-anak dengan keluar-masuk toko, menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi yang lain. Membeli sekedar cendera mata agar suatu saat nanti mereka dapat berceritera kepada para tetangga di kampung bahwa kami pernah ke New York.

Di satu sudut jalan kami berhenti lagi. Ada seorang berkulit hitam dengan seperangkat alat musik drum sedang bermain solo. Demikian enerjiknya orang itu sehingga mengundang perhatian para pejalan kaki, setidak-tidaknya untuk berhenti menyaksikan ketrampilan solo-drummer dengan hentakan-hentakan musiknya dan pukulan-pukulan ritmisnya yang membuat beberapa orang bergoyang-goyang sendiri. Lalu diakhiri dengan tepuk tangan penonton memberi apresiasi.

Ujung-ujungnya, seorang teman dari pemain drum tersebut menawarkan CD yang berisi rekaman-rekaman musiknya. Ah, ada-ada saja kreatifitas orang untuk menjajakan dagangannya. Tapi setidak-tidaknya mereka sedang bekerja keras untuk mengais rejeki yang halal. 

Kemudian kami masuk ke sebuah toko elektronok, satu dari sekian banyak toko elektronik yang tersebar di wilayah seputar Broadway. Bagi sementara orang, wilayah Broadway ini menjadi semacam sorga bagi peminat barang-barang elektronik. Selain karena banyaknya macam dan model yang ditawarkan, juga adanya peluang untuk memperoleh harga yang agak miring bagi mereka yang paham harga-harga barang elektronik dan tentunya lincah dalam urusan tawar-menawar. Termasuk di antaranya berbagai jenis perangkat tata suara, komputer, kamera, games, dsb.

Sekali kita menanyakan tentang suatu barang, maka akan dengan lihai para penjual itu merayu dan mempromosikannya, tentu dengan maksud agar kita terpengaruh membeli barangnya. Untungnya, semua itu mereka lakukan dengan tetap menghargai posisi kita sebagai konsumen, tidak dengan cara yang kasar. Setidak-tidaknya, demikian yang sempat saya alami.

Menyusuri jalan Broadway di New York di saat malam hari, kami merasakan suasana yang cukup aman. Ini dikarenakan hampir di setiap sudut-sudut kota dan pertokoan banyak kami jumpai para petugas keamanan. Terlihat kesan seperti di film-film layar lebar dimana para anggota NYPD (New York Police Department) yang banyak dijumpai di mana-mana, sepertinya siap setiap saat memburu penjahat. Agaknya ini memang menjadi bagian dari layanan pemerintah daerah New York untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi ribuan wisatawan yang setiap menit bertebaran di seputar kota New York.

Lama-lama rupanya anak-anak kecapekan berjalan kaki keluar-masuk toko. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk kembali saja ke hotel. Sebelum sampai di hotel, kebetulan melewati restoran Cina. Maka seperti biasa, menu yang “mengandung” nasi putih pun tidak kami lewatkan. Hanya saja malam itu kami tidak makan di restoran, melainkan pesan for to go atau minta dibungkus untuk dibawa ke hotel saja.

Anak-anak sudah benar-benar ingin beristirahat. Berbeda dengan bapaknya, setiba di hotel lalu minta ijin untuk kembali turun ke Broadway sendirian. Mengulangi lagi menyusuri Broadway dan jalan-jalan di sekitarnya, karena tiba-tiba ingat persediaan rokok Marlboro-nya habis. 

Suatu malam di Broadway, akan menjadi catatan kenangan tersendiri. Di sana sebuah impian pernah dikorbankan untuk tidak jadi menyaksikan pementasan teater Broadway. Sekalipun sudah di depan mata untuk dapat mewujudkannya, namun toh terpaksa harus dilupakan demi kepentingan lain yang lebih masuk akal dan tidak egois.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar