Posts Tagged ‘mangrove’

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(5).  Menyeberangi Teluk Bintan Naik Pompong

Hari ini kami berencana hendak menyusuri sungai Anculai dari hilir ke hulu dengan masuk melalui muaranya, mengingat kemarin tidak berhasil mencapai sungai lewat jalan darat. Untuk itu kami harus mencari pelabuhan nelayan untuk menyewa perahu motor yang biasa disebut pompong. Langsung saja kami melaju menuju pelabuhan nelayan Senggarang yang berada di arah barat laut dan berjarak sekitar 28 km dari Tanjung Pinang. Jalan untuk mencapainya tidak terlalu lebar tapi beraspal bagus dan melompati bukit yang cukup tinggi. Dari tempat tinggi ini nampak pemandangan indah pantai dan laut luas dengan pulau-pulau kecilnya menghampar di arah selatan.

Rupanya di Senggarang ini tidak ada perahu motor sewaan, kendati di tempat ini ada perkampungan nelayan. Kepalang sudah tiba di sana, sekalian saja berhenti di kedai terdekat untuk mencari sarapan pagi. Tidak banyak menu pilihan di tempat ini. Cukup sarapan pagi dengan lontong sayur dan teh O (teh manis biasa), agar cepat selesai karena memburu waktu.

Di penghujung jalan menuju pantai Senggarang saya jumpai sebuah kompleks tempat peribadatan Cina yang cukup luas dengan tampilan bangunan yang sangat bagus. Letaknya tepat berada di garis pantai. Menilik sejarah panjang kepulauan Riau memang tidak lepas dari keberadaan masyarakat etnis Tionghoa, sehingga di mana-mana banyak ditemui warga Cina-Melayu hidup berdampingan dengan warga Melayu aslinya, ditambah pula warga pendatang. Maka tidak mengherankan kalau berbagai tempat peribadatan seperti gereja, masjid, kelenteng dan kuil, banyak betebaran di Bintan. Bahkan banyak pula kelenteng dan kuil yang berada di pedesaan yang jauh dari pusat kota.

Pulau Bintan memang memiliki potensi wisata yang cukup besar dan sangat menarik, terutama untuk wisata alam dan sejarah. Sayangnya akses untuk mencapai kawasan ini masih sering menjadi kendala, sehingga memang tidak mudah bagi wisatawan dalam negeri jika ingin berkunjung ke tempat ini. Selain memerlukan alokasi waktu yang lebih banyak, juga tentunya biaya yang tidak murah. Untuk mencapai pulau Bintan, selain dapat ditempuh dengan kapal penyeberangan, sebenarnya Bintan juga memiliki pelabuhan udara Kijang, yang terletak di kilometer 11 jalan raya Tanjung Pinang – Kijang. Tetapi frekwensi penerbangannya hanya dua kali seminggu dengan biaya yang tentunya masih tergolong bertarif mahal sehingga belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.  

Lain halnya dengan wisatawan mancanegara, ibaratnya tinggal loncat saja dari Singapura atau Malaysia, sudah mendarat ke kawasan pantai Bintan. Selama ini wisatawan yang paling banyak masuk ke Bintan memang berasal dari Singapura dan Malaysia. Sejak obyek wisata Bintan dibuka pertama kali pada tahun 1995, jumlah kunjungannya terus meningkat. Sehingga Bintan pernah mendapat penghargaan terbaik sebagai “The Best New Destination Award” untuk kategori Asia. Penghargaan bergengsi lainnya yang telah didapat adalah “Best Destination Marketing Award”. Hanya sayangnya, media setempat menengarai bisnis pariwisata ini nyerempet-nyerempet ke bisnis “esek-esek”, nyaris tidak beda jauh dengan apa yang terjadi di pulau Batam dan pulau Karimun yang terletak di sebelah baratnya lagi.

***

Dari Senggarang kami kemudian berbalik dan menuju agak ke arah barat lagi ke pelabuhan nelayan Tembeling. Melalui rute jalan yang berbukit, berkelok dan beraspal halus. Agak mengherankan, di pulau yang luasnya sekitar 1.800 km2, dikelilingi oleh garis pantai sepanjang 728 km dengan jumlah penduduk kurang dari 300.000 jiwa ini ternyata sarana jalannya sangat bagus. Sampai ke jalan-jalan kecil ke pelosok desa yang sepi pun sudah banyak jalan yang beraspal mulus kendati tidak terlalu lebar. Sampai-sampai saya baca di koran lokal ada warga yang mengungkapkan unek-uneknya yang kira-kira intinya mengeluh bahwa pembangunan sarana jalan saja yang dimana-mana dibuat mulus sedangkan pembangunan fasilitas listrik yang lebih dibutuhkan malah ditunda-tunda.

Akhirnya kami memperoleh perahu motor atau pompong sewaan setelah menunggu agak lama berembug dengan seorang pemilik pompong. Menjelang tengah hari, pompong kami baru bisa berangkat meninggalkan pelabuhan nelayan Tembeling. Perahu kecil tanpa atap itu muat diisi oleh enam orang plus dua orang awaknya. Kami pun segera siap dengan topi atau penutup kepala masing-masing mengingat siang itu cahaya matahari cukup menyengat langsung menerpa kepala. Pompong pun mulai bergerak tidak terlalu cepat masuk ke laut teluk Bintan

Setelah menempuh perjalanan laut menyeberangi teluk Bintan selama kira-kira satu jam, kami sampai di muara sungai yang menjadi pertemuan antara sungai Ikang dan Anculai dengan teluk Bintan. Perjalanan kami lanjutkan memasuki alur hulu sungai Anculai. Namun tiba-tiba langit cepat berubah menjadi berawan gelap, juga kilat menyala dan menyambar di latar depan. Tidak ada pilihan, kami pun sudah menyiapkan diri untuk kehujanan di atas pompong setiap saat.

Lebar sungai di dekat-dekat muara ini sekitar 150 meteran, kurangnya sedikit atau lebihnya banyak. Di sepanjang kanan dan kiri sungai dibatasi oleh hutan bakau atau mangrove dengan ketebalan bervariasi antara 20 hingga 200 m. Hutan bakau memang banyak mendominasi kawasan garis pantai pulau Bintan. Di latar utara dan timur nampak gunung Bintan, sehingga perjalanan laut dan sungai ini seakan-akan mengitari gunung Bintan. Tepatnya disebut gunung Bintan Besar (karena ada yang Kecil, di sebelah utaranya lagi) yang ketinggiannya tidak lebih dari 225 meter di atas permukaan laut dan menjadi titik tertinggi di pulau Bintan.

Ketika perjalanan menyusuri sungai ke arah hulu mencapai kira-kira 2,5 km, hujan mulai turun dan semakin deras. Beruntung, di sisi barat sungai kami jumpai satu-satunya rumah panggung kayu yang tepat berada di tepian sungai. Pompong kami pun merapat dan meminta ijin untuk numpang berteduh sambil beristirahat. Beruntung lagi, bukan hanya dipersilakan numpang melainkan kami pun disuguh dengan teh O kosongan, yang maksudnya hanya ada teh panas manis tanpa asesori camilan. Lumayan sebagai penghangat di saat kehujanan.

Ketika hujan mulai reda, perjalanan kami lanjutkan semakin ke arah hulu. Lebar sungai memang semakin agak menyempit tapi tetap saja masih sekitar 70-100 meteran dan berkelok-kelok. Lebar dan kedalaman sungai ini nampaknya cukup aman bagi kapal-kapal tongkang untuk melaluinya dalam keadaan kosong maupun membawa muatan batu granit atau bauksit. Dan hutan bakau pun masih melingkupi sisi kanan dan kiri sungai. Setelah mencapai jarak sekitar 5 km dari muara, dimana kami temui sebuah dermaga sungai milik salah satu perusahaan penambangan batu granit, kemudian kami memutuskan untuk kembali. Observasi lapangan di seputaran sungai kami anggap cukup dan posisi beberapa lokasi pun sudah kami petakan.

Segera pompong berputar haluan dan kembali ke arah muara sungai. Dalam perjalanan kembali ke muara ini sempat terlihat seekor buaya kecil sedang main-main di tepian sungai yang berbatasan dengan hutan bakau. Menurut cerita orang-orang, katanya di daerah dekat-dekat muara sungai memang masih suka ada kenampakan buaya (maksudnya, buaya beneran yang nampak). Hari tidak lagi hujan, bahkan langit semakin cerah dan matahari pun kembali memancarkan panasnya saat kami tiba di muara untuk kembali menyeberangi teluk Bintan, dan kembali ke Tembeling.

Waktu sekitar empat setengah jam telah kami lewatkan untuk menyeberangi teluk Bintan dan menyusuri hilir sungai Anculai dengan menaiki pompong. Saat tiba di Tembeling ternyata muka air laut sudah surut lebih satu meter. Sehingga kami tidak bisa mendarat di lokasi yang sama seperti saat berangkatnya. Terpaksa merapat agak jauh lalu disambung dengan jalan kaki kembali ke lokasi pemberangkatan dimana kendaraan kami diparkir di sana.

Lega rasanya rencana kegiatan hari ini dapat terselesaikan dengan baik, meski sempat terlambat karena mencari pompong sewaan. Juga sempat was-was kehujanan di tengah perjalanan berpompong karena dikhawatirkan alat GPS kami tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Tanjung Pinang, Kepri – 12 April 2006
Yusuf Iskandar

Iklan