Posts Tagged ‘manado’

Ketika Pasutri Bugis Dan Manado Membuka Rumah Makan

7 April 2008

Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-istri itu menyapa masyarakat Balikpapan dengan “Hai”. Maka, jadilah rumah makan “Bumahai”.

Sesederhana itu. Mulanya rumah makan ikan bakar yang terletak di jalan Marsma R. Iswahyudi itu mau diberi nama “Sepinggan”, karena lokasinya memang berada di jalan utama menuju bandara Sepinggan, Balikpapan. Kurang dari sepuluh menitan dari bandara. Tapi mengingat kata sepinggan bisa berarti sepiring, Pak dan Bu Tahir ini ciut juga nyalinya. Jangan-jangan nanti pelanggannya hanya memesan sepiring dua saja lalu pergi. Akhirnya ditemukanlah judul “Bumahai” itu.

Apalah artinya sebuah nama. Tapi pilihan nama memang perlu karena dia adalah brand image, dan selalu ada harapan atau filosofi di baliknya. Perkara maknanya pas atau plesetan, itu soal lain.

***

Restoran yang menyediakan menu masakan Bugis dan Manado dengan bahan dasar ikan ini memang layak untuk disambangi. Sejak berdiri 12 tahun yang lalu ketika masih berada di pinggir jalan, hingga kini pindah agak masuk di belakang pertokoan dan menempati area yang lebih longgar, rumah makan ini banyak dan sering dikunjungi para pengudap dan penikmat makan. Racikan bumbu dan olahan setiap menunya tergolong huenak dan pas di lidah siapa saja. Bukan saja penggemar menu Bugis atau Manado.

Sebut saja aneka ikan baronang, terkulu, bawal, kakap, patin, kerapu, udang, cumi dan kawan-kawannya dari laut yang diolah menjadi menu gorengan atau bakaran. Salah satu menunya adalah woku belanga, yaitu ikan dimasak kuah ditambah dengan asam dan sedikit kunyit. Coba dan rasakan sruputan pertama kuahnya. Wuih….cesss…., kuah agak bening kekuningan mengalir di tenggorokan dengan taste yang khas.

Juga ikan bakar atau goreng dengan bumbu kuning, rica atau goreng biasa, rasa gurihnya terasa tidak berlebihan dan proporsional. Oseng kangkungnya divariasi dengan bunga pepaya (biasanya dari jenis pohon pepaya laki-laki, dan entah kenapa pohon pepaya perempuan kok tidak keluar bunganya sebanyak pepaya laki-laki), dengan ramuan bumbu khas Manado yang pas benar pedasnya. Sehingga bagi lidah Jogja yang terbiasa dengan rasa manis pun tidak terasa terganggu.

Daun ubi dicampur dengan daun pepaya rebus, dipadu dengan sambal tomat dan irisan bawang merah, memaksa saya menambah pesanan sepiring lagi. Perkedel jagungnya juga beda dari yang biasa saya jumpai di Jawa. Perkedel dengan prithilan jagungnya dibiarkan utuh, tidak diparut atau di-ulek (dihaluskan), dicampur dengan adonan tepung sehingga menyelaputi tipis saja. Tapi tetap terasa renyah, empuk dan butir jagungnya tidak menggangu kerja gigi untuk mengunyahnya.

Rasanya pantas kalau rumah makan “Bumahai” ini pada tahun 2001 pernah dianugerahi ASEAN Social and Economic Cooperation Golden Award, khusus bidang Food and Service. Hingga kini rumah makan “Bumahai” tetap ramai dikunjungi pelanggan, terutama pada jam-jam makan siang. Buka seharian hingga malam, kecuali kalau hari Minggu, sore hari sudah tutup.

Demi menjaga kualitas sajiannya, Bu Jetty turun tangan sendiri untuk masalah quality control terhadap bumbu dan cita rasa. Agaknya unit usaha rumah makan ini tetap menjadi andalan bagi keluarga Pak Tahir, kendati tetap menekuni bidang-bidang bisnis lainnya.

Harga yang mesti dibayar untuk kepuasan urusan selera lidah dan perut ini termasuk wajar untuk ukuran biaya hidup di Balikpapan yang rata-rata lebih tinggi dibanding kota-kota besar di Indonesia lainnya. Pelayanannya pun cukup memuaskan. Kalau ada kesempatan dibayari, rasanya saya tidak akan menolak untuk diajak mampir ke “Bumahai” lagi. Namanya juga dibayarin…, enggak ada ruginya….

Cengkareng, 9 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Matoa (2)

23 Maret 2008

Di Papua sendiri, buah matoa ini tidak dijumpai di semua wilayah. Ada daerah-daerah tertentu dimana buah matoa banyak dijumpai, sementara di daerah yang lain rada susah menemukannya. Buah matoa dari Jayapura lebih dikenal orang daripada yang berasal dari kota-kota lain di Papua. Katanya, rasanya lebih enak dan daging buahnya lebih tebal. Sedangkan buah matoa dari daerah lain, buahnya kurang bagus.

Cerita ini tidak jauh berbeda dengan tanaman matoa yang tumbuh di daerah Jawa. Adakalanya tanaman ini bisa berbuah, namun banyak juga yang tumbuh saja terus dan enggak muncul-muncul buahnya. Orang bilang tanahnya beda. Ya memang beda, wong yang satu tanah Papua yang lainnya tanah Jawa.

Kulit buah matoa ini tergolong tipis dan mudah terkelupas. Oleh karena itu, penanganannya memang rada susah, apalagi kalau masih ditangani, misalnya cara pengepakan (packing), yang masih tradisional. Sekali kulitnya terluka, biasanya menjadi tidak tahan lama, kecuali langsung disimpan di lemari es.

Sebelumnya saya mengira tanaman matoa ini berbuah sepanjang tahun. Rupanya ada seorang teman yang memberitahu, bahwa meskipun matoa berbunga sepanjang tahun, namun matoa ini ternyata termasuk tanaman yang berbuah musiman dan biasanya pada akhir tahun. Sama halnya ada musim buah rambutan, duku, durian dsb. Itu kalau di Papua. Entah kalau tanaman matoa yang tumbuh di tempat lain.

Seperti halnya tanaman matoa yang sudah lama ditanam di lingkungan PT Caltex Pacific Indonesia atau di Minas, Rumbai, di daratan Sumatera. Barangkali karena Pak Johand Dimalouw sebagai pelopor penanamnya adalah seorang yang asli berasal dari Papua maka tanaman matoa ini dipilih untuk ditanam sebagai tanaman penghijauan di sana. Siapa tahu bisa tumbuh dan berbuah sepanjang tahun, sehingga kelak ada matoa Sumatera atau paling tidak matoa Rumbai.

***

Seorang rekan bercerita tentang buah matoa, begini penggalan ceritanya :

Matoa adalah jenis buah tropis yang berasal dari tanaman kehutanan yang umumnya tumbuh liar di hutan-hutan dataran rendah di daerah Papua dan Kalimantan. Kayu dari batang pohon matoa bernilai ekonomis tinggi, termasuk golongan kayu kelas 2, sehingga tidak jarang menjadi obyek illegal logging oleh orang-orang Jakarta.

Musim buah matoa terjadi sekali setahun, biasanya pada akhir tahun. Jadi kalau mau ambil cuti, pada bulan November saja ke Jayapura.

Buah matoa bentuknya lonjong, sedangkan bagian buah yang dimakan adalah daging buah berwarna putih seperti rambutan, letaknya menyelimuti biji berwarna coklat kehitaman, ditutup oleh lapisan kulit luar yang agak keras. Buah matoa rasanya manis dengan aroma seperti durian, kadangkala ada dijual di shopping center dengan harga yang lumayan mahal. Bagi yang belum pernah merasakan buah matoa maka cukup membayangkan saja, bahwa matoa adalah kelengkengnya orang Papua, sedangkan kelengkeng adalah matoanya orang Jawa……..

Rupanya bagi sebagian orang di Papua, buah matoa ini juga dapat membangkitkan kisah kenangan tersendiri. Seorang rekan bernostalgia dengan kisahnya, begini :

Jaman aku SD ketika Mendikbud-nya Daoed Joesoef, lagu matoa cukup terkenal pada tahun 1970-an di kalangan anak-anak di Papua (bahkan mungkin masih dinyanyikan di sekolah-sekolah hingga sekarang). Potongan syair lagu tsb. begini :

Buah matoa enak dimakan
Marilah kawan coba rasakan
Dimana terdapat buah matoa
Banyak terdapat di Irian Jaya

Pendeknya jika ada kesempatan, tidak ada ruginya sekali waktu mencoba mencicipi rasanya buah matoa Papua ini. Apalagi, kalau kebetulan sempat singgah di Jayapura.

(Namun sebaiknya hati-hati : Kalau melafalkan kata buah matoa hendaknya yang jelas, salah-salah nanti kedengaran seperti sedang mengucapkan kata buah maitua, yaitu dialek Manado yang sering dipergunakan dalam bahasa pergaulan di Indonesia timur, yang berarti istri…..)

Tembagapura, 10 Juni 2003
Yusuf Iskandar