Posts Tagged ‘malu’

Antara Malu Dan Tidak Tahu Malu

29 Mei 2010

Ketika berdoa agar “dimudahkan dan jangan Engkau sulitkan”, lalu kemudian hasilnya benar-benar “dimudahkan”, terkadang malu aku betapa seringnya aku memohon sementara hak Sang Termohon banyak yang belum mampu kupenuhi dengan baik.

Tapi sambil leyeh-leyeh wal-ngupy di Terminal 3 Cengkareng, kutemukan sebuah wangsit : “Yen tak pikir-pikir…, sesungguhnya ‘malu’ itu lebih baik ketimbang ‘tidak tahu malu’ minta terus tapi kewajiban tidak dipenuhi…”.

Jakarta, 25 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Jujur Tapi Khilaf, Atau Malu?

2 Agustus 2008

Panggilan boarding untuk penumpang pesawat dengan nomor penerbangan Garuda Wiro Sableng (GA 212) jurusan Jakarta-Jogja dikumandangkan di Terminal F bandara Soekarno-Hatta. Penumpang segera bergegas menuju pintu keberangkatan. Kali ini penumpang tidak langsung diarahkan memasuki lorong belalai gajah menuju kabin pesawat, melainkan turun untuk naik bis pengantaran dulu. Wah, sopir pesawatnya tadi parkir kejauhan, pikir saya.

Satu per satu penumpang menaiki tangga pesawat melalui pintu depan. Nampaknya saya harus agak bersabar, sebab saya kebagian nomor tempat duduk 19 yang berarti jauh berada di belakang. Ketika sudah berada di dalam pesawat, saya lihat ada sekelompok penumpang berdiri bergerombol di ujung belakang. Agak riuh. Ada demo? Pasti bukan, karena terlihat pada cengengesan.

Setelah tiba di belakang barulah saya tahu, rupanya pesawat Garuda yang narik trayek ke Jogja sore itu baris tempat duduknya hanya sampai nomor 18. Sementara penumpang yang berdiri bergerombol adalah pemegang karcis bernomor tempat duduk 19 sampai 21, termasuk saya. Hanya karena penumpang percaya bahwa Garuda akan mampu mengatasinya, artinya tidak bakalan tidak dapat tempat duduk, maka penumpang tetap bersabar sambil ketawa-ketiwi.

Akhirnya seorang petugas datang sambil membawa daftar penumpang yang sudah diperbaiki rupanya. Lalu satu-persatu penumpang yang masih berdiri dibelakang itu dibacakan namanya dan diberitahu nomor tempat duduk yang benar. Legalah, semua penumpang. Setidak-tidaknya tidak harus berdiri bergelantungan atau duduk di bangku yang disisipkan di lorong pesawat.

Entah kenapa pesawat Boeing 737-300 yang jumlah baris tempat duduknya sampai nomor 21 yang biasa narik trayek Jakarta-Jogja, kali itu diganti dengan Boeing 737-500 yang lebih kecil. Tapi rupanya penggantian pesawat ini mendadak sehingga tidak nyambung ke petugas check-in, walhasil pengaturan tempat duduk sewatu check-in belum disesuaikan.

Penghargaan pantas diberikan untuk petugas Garuda yang cukup lincah dan dengan sigap mengatasi kesemrawutan di ujung belakang kabin pesawat, sehingga urat kesabaran penumpang belum sempat menegang, melainkan masih bersuasana goyonan plesetan ala Jogja (“sambil menunggu disediakan bangku yang akan dipasang di lorong seperti naik bisa antar kota saat mudik lebaran”).

Akhirnya pesawat pun siap tinggal landas dengan tanpa kehilangan banyak waktu penundaan. Saya pikir, masalah dan hambatan senantiasa ada dalam pengelolaan sistem angkutan udara. Cuma yang membedakan antara maskapai yang satu dan lainnya adalah keterampilan petugasnya untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, lincah dan ramah. Ora klelat-klelet…… (tidak ogah-ogahan atau asal-asalan). Sayangnya keterampilan seperti ini tidak ada sekolahnya, melainkan bisa dilatih sebagai bagian dari tanggungjawab profesional, apapun profesinya.

Awalnya saya melihat dan merasakan peristiwa ini sebagai kejadian yang biasa-biasa saja. Tidak menarik untuk saya ingat-ingat. Sampai kemudian ada halo-halo dari ujung depan sana yang menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan keberangkatan. Dan ini yang berbeda : “karena alasan kurangnya profesional petugas……….”. Pada bagian titik-titik dari halo-halo awak kabin ini tidak terlalu jelas saya dengar. Tapi kedengarannya mirip-mirip ucapan garuda.., gadura.., garadu.. atau gadaru….., gitu…

Tapi okelah. Dalam banyak hal kita sering menganggap bahwa “Siapa” tidaklah terlalu penting, karena biasanya cenderung untuk subyektif. Jauh lebih penting mengetahui “Kenapa” atau “Bagaimana”, sebab dari sana biasanya akan lebih obyektif dan ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan itu sudah terjawab, yaitu “kurangnya profesional petugas…..”, seperti pengakuan jujur awak pesawat.

Ini sesuatu yang baru bagi saya. Selama ini, ilmu permintaan maaf ini sudah saya hafal di luar kepala. Kalau bukan “karena alasan teknis”, ya “karena alasan operasional”. Tapi rupanya perbendaharaan alasan di kepala saya harus ditambah. Masih ada alasan yang lain, yaitu “karena alasan kurangnya profesional”. Sebuah pengakuan yang kedengaran begitu jujur dan menyentuh (bukan hati, melainkan rasa tangungjawab).

Pengakuan jujur yang rasanya pantas diapresiasi. Hanya sedikit saja sayangnya, yaitu kedengaran agak malu-malu burung…… Pasalnya seingat saya, baru kali itulah saya mendengar pengumuman yang diperdengarkan di dalam pesawat dengan tanpa disertai terjemahan bahasa Inggrisnya……

Moga-moga prasangka saya salah. Bukan karena malu menerjemahkan di hadapan penumpang asing, melainkan hanya karena khilaf saja. Tapi khilaf bisa jadi adalah bagian dari profesionalisme kalau keseringan, alias bolak-balik khilaf….

Yogyakarta, 2 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Dimanakah Keramahtamahan Itu?

26 Desember 2007

Suatu sore di sebuah restoran di Terminal A bandara Cengkareng. Seorang bule membeli sekaleng minuman ringan. Setelah dibayar lalu duduk dan siap menarik tuas pembukanya. Namun tiba-tiba diurungkan. Sang bule berdiri dan kembali ke kasir tempat dimana dia membayar dan menerima sekaleng minuman tadi, lalu bercakap dengan pelayan yang berdiri di sebelah kasir.

Sang bule menunjuk-nunjuk tuas dan bagian tutup kaleng minuman yang dibawanya. Entah apa yang dikatakannya, tapi dari mimiknya terlihat dia komplain atas sekaleng minuman itu. Sang pelayan yang menerima komplain terlihat mencermati dengan seksama bagian kaleng yang ditunjuk-tunjuk sang bule.

Sekian detik kemudian, sang pelayan hanya berkomentar pendek : “Oh…!”, nyaris tanpa ekspresi, tanpa menatap wajah sang bule, lalu ngeloyor berbalik tanpa permisi sambil membawa kaleng yang dipermasalahkan sang bule.

Tidak lama kemudian sang pelayan kembali menemui sang bule dengan membawa sekaleng minuman. Disodorkannya sekaleng minuman sebagai pengganti yang tadi. Juga nyaris tanpa ekspresi, tanpa menatap wajah sang bule dan tanpa sepatah katapun diucapkannya. Agaknya, sang bule puas dengan penggantian kaleng minuman yang dibelinya, dan kemudian berjalan menuju tempat duduknya semula.

***

Saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun mencermati adegan pantomim satu babak itu saya bisa menangkap bahwa ada yang tidak beres dengan sekaleng minuman yang dibeli sang bule, lalu komplain dan minta ganti.

Tinggal membekas di pikiran saya, bagaimana mungkin kejadian tadi berlangsung begitu cepat, tanpa basa-basi sepatah dua patah kata, tanpa ekspresi penyesalan atau keramahtamahan. Lebih mengherankan lagi, tanpa senyum secuilpun, apalagi sepotong. Semakin parah lagi, tanpa kata-kata maaf atau terima kasih. Semakin saya tidak habis pikir, kasir yang berdiri di samping sang pelayan pun cuek-bebek seperti tidak pernah terjadi apa-apa di sampingnya, padahal dia tidak sedang melayani siapapun.

Dimanakah keramahtamahan itu?

Taruhlah sang pelayan tidak paham omongan coro londo yang sedang diucapkan oleh sang bule, tapi setidaknya pasti pahamlah kalau sang bule sedang komplain. Kalau ada komplain pasti karena ada sesuatu yang dianggap tidak seharusnya. Tidak terpikirkah untuk sedikit berbasa-basi minta maaf, lalu mengucapkan terima kasih sesudahnya. Toh sang pelayan ini seorang gadis. Sejelek-jeleknya paras gadis Indonesia ini rasanya masihlah terlihat manis kalau tersenyum, apalagi kalau mau agak dimanis-maniskan sedikit. Lain halnya kalau pelayannya merangkap satpam berkumis tebal, itu pun masih manis juga kalau tersenyum.

Kelihatannya kejadian seperti ini bukan kali ini saja terjadi. Di banyak tempat, di banyak waktu yang berbeda, konon kabarnya kejadian semacam ini banyak dijumpai. Pelit kata “maaf”, pelit kata “terima kasih”, pelit senyum. Padahal kejadian semacam itu bukanlah sebuah kesalahan yang teramat fatal, bukan juga peristiwa memalukan. Tapi karena solusinya tidak manis (dan tidak ramah), maka kesan yang dibawa pulang oleh sang bule bisa jadi adalah kenangan tidak manis yang akhirnya meninggalkan kesan tidak menyenangkan pula.

Memang kita tidak boleh menggeneralisir bahwa seperti itulah keramahtamahan yang kita miliki. Tapi kejadian itu setidaknya bisa menjadi cermin. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, malu rasanya jika ingat keramahtamahan yang saya temukan pada keseharian bangsa lain, di negara lain, tapi pasti bukan di Republik Mimpi.

Karena nila setitik, jangan-jangan rusak susu se-genthong. Pupuslah harapan untuk layak dipertahankannya predikat bangsa yang ramah. Apalagi kalau bagi sang bule hari itu adalah hari terakhirnya di Indonesia. Maka kesan terakhir itulah yang akan terus dikenang oleh sang bule, entah wisatawan, entah pelaku bisnis, entah pekerja ilegal.

Sekilas kejadian yang barangkali tidak berarti apa-apa. Tapi entah kenapa kok begitu melekat di ingatan saya. Barangkali saya terlalu khawatir, kalau ada yang tanya : “Dimanakah keramahtamahan itu?”. Maka terpaksa saya harus menjawab : “Tertinggal di buku bacaan wajib Sekolah Dasar…..”, yang wajib dibeli dengan harga wajib mahal pula. Sementara itu tidak wajib dibaca, tidak wajib diamalkan, apalagi wajib diberi teladan…..

Yogyakarta, 28 Mei 2007
Yusuf Iskandar