Posts Tagged ‘malam’

Mati Lampu Untuk Earth Hour

28 Maret 2010

ML sejam cukuplah (20:30 s/d 21:30), karena di dalam rumah panas, pindah ke depan rumah… terasa indahnya, terasa nikmatnya… Beratap langit mendung, dan malam tak berbintang…

Earth Hour, “give ’em brake”, a golden hour may earth ever had…

(ML : Mati Lampu)

Yogyakarta, 27 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Suatu Malam Di Mangga Besar

17 Agustus 2008

Namanya Nurul. Berparas manis imut-imut. Rambut lurus lepas sebahu. Postur tubuh kecil padat semampai. Mengaku umurnya 16 tahun. Setelah agak didorong-dorong oleh seorang perempuan setengah baya, akhirnya Nurul duduk di antara beberapa lelaki yang sudah lebih dahulu duduk di pinggir ruangan cukup luas yang di bagian tengahnya juga tertata beberapa set meja-kursi.

Di bawah cahaya remang-remang, dilatari suara musik jedak-jeduk, membuat siapapun yang mau bercakap-cakap harus bersuara agak berteriak. Tidak sepatah katapun diucapkan Nurul, melainkan hanya senyum yang dimanis-maniskan ditebar sebisanya. Sementara di bagian lain ruangan itu terlihat beberapa teman Nurul duduk manis di sofa panjang yang disorot lampu, seperti sedang menunggu tetamu. Beberapa teman Nurul lainnya malah sedang asyik bercengkerama dengan tamu lelaki lainnya. Tentu saja, sebagian besar para lelaki itu adalah tamu tak diundang dan tak dikenal sebelumnya.

Rupanya Nurul memang bukan tipe perempuan muda yang grapyak, supel atau pintar bicara. Tidak menunjukkan sikap dimanja-manjakan atau dimesra-mesrakan, sebagaimana teman-temannya. Melihat Nurul yang sepertinya salah tingkah, lelaki yang duduk rapat di sebelah kanannya terpaksa membuka pembicaraan.

Dari ngobrol-ngobrol dengan Nurul, muncullah banyak pengakuan. Pengakuan yang tidak perlu lagi diperdebatkan kejujuran atau kebenarannya. Tidak ada bedanya, karena bukan itu plot cerita fragmen satu babak malam itu. Nurul mengaku, berasal dari keluarga petani di Indramayu, anak sulung dari tiga bersaudara dan hanya tamatan SD. Nurul juga mengaku, belum setahun tinggal di Jakarta. Orang tuanya di desa tidak tahu apa yang dikerjakannya di Jakarta, kecuali sering menerima uang kiriman dari anak sulungnya yang mengadu peruntungan di Jakarta yang dulu pamitnya mencari pekerjaan.

“Tidak kepingin mencari pekerjaan lain?”, tanya lelaki itu.

“Ya, kepingin sih. Tapi apa? Saya tidak punya ketrampilan lain”, jawab Nurul. Lelaki itu hanya mengangguk-angguk. Bukan setuju, bukan juga tidak setuju, melainkan sekedar memberi kesan bahwa jawaban Nurul didengarnya. Jawaban Nurul adalah seperti layaknya jawaban keterpaksaan, jawaban orang yang merasa tidak punya pilihan. Kalaupun pilihan itu ada, maka itu pun dipilihnya karena merasa tidak bisa untuk tidak memilihnya.      

Perempuan setengah baya yang tadi menggandeng Nurul untuk didudukkan di sebelah kiri lelaki itu, dari tadi terus mencuri-curi pandang ke arah Nurul. Sebentar pergi mengatur teman-teman Nurul lainnya untuk menemui tamu tak diundang dan tak dikenal yang baru datang, sebentar kemudian berada tidak jauh dari Nurul.

Sesekali dengan menggunakan bahasa isyarat muka dan mimiknya, seperti memberi dorongan kepada Nurul agar lebih agresif. Seolah-olah berkata : “Cepat ajak ke kamar”. Tapi sayang, Nurul memang bukan tipe perempuan muda yang agresif dan memiliki rasa percaya diri tinggi. Dia tetap bergeming dengan senyum yang hambar dan terkesan dipaksakan. Bahkan Nurul cenderung kelewat sopan untuk ukuran pekerjaannya malam itu. Sementara teman-temannya enteng saja minta rokok kepada tamunya, Nurul baru menerimanya setelah ditawari. Itupun rokoknya diisap sekedar sebagai pantas-pantas saja.

Tubuh padatnya yang kecil imut-imut dibungkus celana jeans ketat yang dipadu dengan baju kaus warna hijau gelap berlengan cingkrang yang sama ketatnya, dengan bahan kausnya agak kurang panjang sehingga pinggangnya terlihat selebar 2-3 cm. Jelas memperlihatkan postur tubuh dambaan kaum hawa, yang kalau saku belakang celananya disisipi HP suka tidak terasa. Tidak kalah dengan artis sinetron jadi-jadian di televisi.

Duduknya yang merapat ke arah lelaki di sebelah kanannya membuat sentuhan lengannya begitu halus, dingin dan lembut. Setidak-tidaknya lengan Nurul tergolong lengan yang sering dipoles dengan aneka lotion yang sering ditawarkan iklan televisi. Juga bau parfumnya yang tidak sumegrak melainkan terkesan lembut biasa-biasa saja. Namun itu saja tentu tidak cukup menjadi senjata marketing bagi Nurul untuk menjual dagangannya (lha yang dijual itu ya apa……..). Lelaki mana tidak tergoda. Kalau saja Nurul mau sedikit belajar tentang ilmu kepribadian. Setidak-tidaknya ilmu ndableg untuk agak nakal, agak genit atau agak norak.

Lama-lama perempuan setengah baya yang berdiri sekitar 3 meter di depan Nurul menjadi tidak sabar. Sambil agak mendekat, perempuan itu lalu berkata kepada sang lelaki. Meski suasana musik agak bising, tapi dari gerak bibirnya jelas terbaca : “Langsung saja ke kamar, mas”, sambil menunjuk ke arah bilik-bilik kamar yang dimaksud.

***

Sang lelaki kemudian kembali memancing pembicaraan, langsung ke pokok persoalan bisnisnya. “Kalau saya ajak kamu ke kamar, berapa saya mesti bayar?”.

“Sekitar Rp 350.000,-. Nanti bayarnya ke kasir.”, jawab Nurul polos dengan nada datar, sedikitpun tanpa ekspresi semangat perjuangan empat-lima agar dagangannya dibeli.

Eit…. (seperti kata Luna Maya dalam iklan operator ponsel di televisi), kok jadi seperti belanja di toko swalayan. Masuk toko, ambil barang sendiri lalu dimasukkan ke keranjang belanja, dibawa ke kasir dan bayar di sana. Keranjangnya ditinggal dan barangnya dibawa pulang. Bedanya hanya Nurulnya tidak bisa dibawa pulang, kecuali memang sedang merencanakan perang dunia ketiga.

“Tapi tidak semuanya saya terima. Paling-paling sekitar setengahnya. Terkadang ada tamu yang kasih tip lebih….”, kata Nurul kemudian. Dan lelaki itu hanya bisa berkata : “Oooo……”. Sudah pasti, yang setengah lagi adalah margin keuntungan toko dan pengelolanya. Namanya juga bisnis.

“Sudah dapat berapa tamu malam ini?”, tanya lelaki itu lagi.
“Belum ada”, jawab Nurul datar.

Ya, belum ada tamu atau sudah dapat lima tamu, sebenarnya tidak ada bedanya dalam konteks bisnis yang sedang berjalan malam itu. Meski begitu toh Nurul tetap perlu menerapkan sebuah trik bisnis dalam mempromosikan dirinya. 

Lama kelamaan lelaki itu tidak tega juga menyita waktu Nurul terlalu lama, sedang sebenarnya dia tidak berniat melakukan transaksi bisnis dengan Nurul. Hingga akhirnya lelaki itu berkata lembut penuh penyesalan : “Nurul, kalau saya mau ditinggalkan, enggak apa-apa. Saya hanya ingin duduk-duduk saja kok…… Terima kasih, ya”.

Lalu Nurul pun segera berdiri dan pamit : “Iya, saya kesana dulu ya”. Entah kesana mana, tidak lagi penting. Lelaki itu menyaksikan kepergian Nurul dengan penuh penyesalan. Dia merasa telah menyita waktu Nurul yang seharusnya bagi Nurul mungkin cukup berharga untuk menerima tamu lainnya yang lebih prospek. Tapi jelas Nurul tidak berani meninggalkan begitu saja tamu lelakinya itu, sebab kalau tamu lelaki itu sampai komplain, bakal menjadi mimpi buruk bagi Nurul.     

Good luck, Rul. Semoga harimu lebih baik”, kata lelaki itu dalam hati sambil agak melamun (melamun kok agak…), ngelangut, gusar, kasihan, dan setumpuk perasaan yang sukar dilukiskan. Sementara waktu di Mangga Besar menunjukkan sebentar lagi tengah malam, lelaki itu ingat anak perempuannya yang sebaya Nurul yang pada malam itu tentu sudah tidur di kamarnya di Jogja, karena besok pagi harus pergi ke sekolah……

***

“Tuhaaaaaaannnnnnn………! Kami memang sudah merdeka. Tapi belum bagi Nurul dan teman-temannya……………”, teriak lelaki itu dalam hati.

Dan, lelaki itu adalah seorang bekas buruh tambang yang sudah terlatih melakukan pekerjaan “controlled drilling and blasting”. Karena itu, seperti tulisan yang sering muncul di televisi : “Jangan meniru adegan ini. Adegan ini dilakukan oleh orang yang sudah terlatih”.

NB :
Merdeka adalah kalau seseorang itu merasa bebas dan ikhlas untuk memilih dan tidak memilih. Apa saja…….

Yogyakarta, 17 Agustus 2008
Yusuf Iskandar