Posts Tagged ‘makan’

Gratis Makanannya, Bayar Minumannya

31 Juli 2008

Coba bayangkan : Anda sedang bertamu. Kemudian tuan rumah berbaik hati menyuguhi Anda dengan kue donat yang dari tampilannya saja sudah membuat rasa tidak sabar menunggu dipersilakan menikmatinya. Akhirnya sebuah donat pun langsung membuat mak sek…., di tenggorokan hingga tembolok.

Lalu Anda menunggu lima menit, lima belas menit, setengah jam, hingga sejam, ternyata setetes air pun tidak disuguhkan kepada Anda. Sementara air liur di tenggorokan dan tembolok sudah terserap habis oleh donat yang barusan lewat dan semakin membuat Anda sesak napas. Mau minta minum takut dikatakan tidak sopan.

Cara terbaik untuk keluar dari situasi serba tidak enak ini adalah segera mohon diri, lalu mampir ke warung terdekat membeli minuman. Apapun makanannya, minumnya ya air…

***

Itulah yang terjadi dalam perjalanan udara dengan burung Singa dari Jakarta menuju Makasar pada suatu tengah malam. Kalau sebelumnya tak setetes air pun mengalir di pesawat, kini tetap juga tidak mengalir tapi diberi bonus ransum kue donat cap Dunkin’ Donuts dalam kantong kertas yang tampilan luarnya cukup menggairahkan. Sepotong donat gemuk yang di atasnya ditaburi gula pasir halus sungguh merangsang untuk segera dilahap.

Untung saya agak ngantuk, jadi ransum donat saya sisipkan dulu di kantong kursi. Sementara penumpang di sebelah saya yang nampaknya seorang dari Ambon langsung menyikatnya hingga habis. Sesaat kemudian, si Abang dari Ambon itu nampak tolah-toleh. Saya menduga pasti kehausan cari minum. Agak lama, barulah muncul mbak pramugari cantik di tengah malam di atas pesawat mendorong gerobak dagangannya menawarkan minuman. Kali ini tentu bukan pembagian gratis, melainkan siapa mau minum harus membelinya. Dan, laku keras………

Sebuah trik bisnis. Ya, trik bisnis….. Dalih, alasan, atau malah mau ngeyel seperti apapun, pokoknya itu pasti trik bisnis (Cuma, gimana ya…. rasanya kok enggak seberapa cerdas, gitu…). Makanannya disediakan gratis, tapi minumannya harus mbayar. Si burung Singa boleh berkilah. Toh, maskapai sudah berbaik hati menyuguhkan makanan gratis kepada penumpangnya. Perkara penumpangnya lalu mau beli minuman apa tidak, ya terserah saja…. Maka, penumpang pun ter-fait-a-compli pada situasi tidak ada pilihan, di atas ketinggian lebih 10 km.

Memang tidak ada yang salah dengan trik bisnis semacam ini. Dalam banyak kasus, banyak bentuk, banyak cara, banyak situasi, trik bisnis seperti ini banyak digunakan oleh para penjual atau pedagang dalam rangka meningkatkan omset penjualan dan keuntungannya. Sah-sah saja.

Gratiskan ikannya, kail dan umpannya mbayar. Gratiskan software-nya, jasa pelatihan dan purna jual-nya mbayar. Jual rugi mobilnya, suku cadang dan perawatannya dijual mahal. All you can eat, karcis masuk untuk bisa eat-nya mahal. Gratis biaya perawatan setahun, gratis ikut seminar, gratis nambah nasi, tapi biaya awalnya dinaikkan. Sepertinya lumrah-lumrah saja.

Ada yang bisa dipelajari dan dihikmahi dari trik bisnis semacam ini, baik oleh penjual maupun pembeli. Agaknya, ajakan teliti sebelum menjual dan membeli, atau jeli sebelum bernegosiasi dan bertransaksi, masih layak dikiblati. Agar tidak merasa dikibuli di belakang hari, melainkan tahu dan paham dengan apa yang sedang terjadi. Dengan demikian, maka kaidah-kaidah jual-beli (oleh kedua belah pihak) tetap tidak menyalahi kaidah bisnis yang saling menguntungkan dan saling ikhlas dalam berserah-terima jasa maupun barang.

Jadi? Sebaiknya Anda waspada kalau sedang dalam perjalanan dengan pesawat tiba-tiba disuguhi makanan gratis. Sabar dulu untuk menikmatinya. Atau malah tanyakan dulu ada pembagian minumannya atau tidak, kecuali Anda siap untuk membeli atau setidak-tidaknya Anda telah siap lahir-batin untuk kehausan atau keseredan (apa bahasa Indonesianya, ya…).

Juga kalau kebetulan Anda sedang bertamu, lalu tidak biasanya suguhan kue keluar lebih dahulu. Segera aktifkan piranti deteksi dini dan lakukan quick assessment. Jika kesimpulannya menunjukkan bahwa tuan rumahnya adalah penganut fanatik aliran burung Singa, segera tanyakan warung terdekat, lalu Anda pamit sebentar untuk beli minuman………..

Yogyakarta, 30 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Tip

15 Juli 2008

Sudah belasan kali saya numpang tidur dan buang hajat (numpang, tapi mbayar….) di sebuah hotel di bilangan Mampang, setiap kali saya singgah di Jakarta. Sudah belasan kali pula saya melebihkan pembayaran setiap kali pesan makanan untuk dikirim ke kamar, meski harga yang saya bayar sebenarnya sudah termasuk ongkos jasa pelayanan dan pajek (pakai huruf keempat ‘e’).

Ujuk-ujuk muncul ide iseng, apa yang bakal terjadi kalau saya tidak melebihkan uang pembayaran alias tidak memberi tip?

Maka ketika kemudian makanan dikirim lengkap dengan bon tagihan sejumlah Rp 52.000,- saya pun membayarnya dengan uang pas persis, selembar lima puluh ribuan dan dua lembar seribuan sambil berucap terima kasih. Reaksi spontan si pengantar makanan adalah tercenung diam sesaat sambil terlihat agak ragu mau melangkah keluar kamar.

Tiba-tiba si pelayan laki-laki itu berubah pikiran. Dia berbalik lalu bertanya : “Bapak ada deposit?”. Dan saya jawab : “Iya”.

Kemudian si pelayan mengajukan usul : “Kalau bapak mau, bisa tinggal ditandatangani saja bonnya”. Saya pun menjawab : “Kalau begitu lebih baik”.

Lalu bon tagihan saya tandatangani dan uang Rp 52.000,- pun saya tarik kembali dan masuk ke saku, tanpa sisa serebu-serebu acan….

Kelakuan saya ini rupanya diluar dugaan si pelayan. Dia pun bertanya : “Sudah, pak?”. Saya jawab : “Ya. Sudah. Terima kasih”.

Spontan reaksi si pelayan setelah menerima bon tagihan yang saya tandatangani adalah terlihat nesu (marah), membuang muka lalu ngeloyor pergi keluar kamar. Tanpa ucapan terima kasih, tanpa muka bersahabat, bahkan pintu kamar pun dibiarkannya terbuka dan ditinggal pergi. Inilah untuk kali yang pertama saya menerima pelayanan tidak bersahabat sejak belasan kali saya menginap di hotel itu.

Sambil tersenyum sendiri, lalu saya tutup pintu kamar dan berkata dalam hati : “Kena, deh….!”.

***

Saya yakin bahwa sebenarnya memang bukan karena ada tip atau tidak ada tip sehingga si pelayan berperilaku seperti itu. Nampaknya lebih disebabkan oleh karakter atau sikap pribadi si pelayan yang sudah telanjur “dididik oleh kebiasaan” sehingga beranggapan bahwa transaksi memberi dan menerima tip adalah ritual di hotel yang hukumnya wajib.

Seminggu kemudian saya numpang tidur dan buang hajat lagi di hotel yang sama. Kali ini pelayan yang berbeda ternyata menunjukkan penampilan lebih ramah. Setelah menyodorkan tagihan makan lalu mundur menunggu di luar pintu dengan tersenyum, padahal belum tentu saya akan memberi kelebihan pembayaran atau tidak.

Memberi tip memang perbuatan amal soleh yang baik (amal soleh ya pasti baik….), apalagi kalau diniatkan untuk berbagi rejeki atau sedekah, atau sekedar sebagai ucapan terima kasih.

Untung pengalaman di-mbesunguti (dicemberuti) pelayan ini adalah sesuatu yang saya sengaja. Kalau saja terjadinya adalah kebetulan dan tidak direncana, barangkali selanjutnya saya akan mencari tumpangan tidur dan buang hajat yang lain.

Jakarta, 15 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Makan Malam, Akhirnya Datang Juga…

7 April 2008

Mencari makan malam di Tanjung Redeb sebenarnya mudah. Kalau mau yang lebih merakyat dan murah meriah, datanglah ke kawasan Tepian sungai Segah. Di sana banyak pilihan menu di warung-warung tenda yang berjajar di sepanjang jalan yang menuju ke Tepian dari arah selatan. Atau kalau mau yang agak eksklusif, ada beberapa resto yang dapat dipilih. Meskipun untuk jenis yang terakhir ini plihan belum sebanyak di kota-kota lain.

Salah satu yang menjadi tujuan makan malam kami waktu itu adalah New Family Cafe. Ini adalah nama tempat makan yang menyebut dirinya dengan embel-embel Resto dan Tempat Pemancingan Umum. Lokasinya berada di Jalan Pulau Sambit, Gg. Aren, kira-kira di pertengahan dari arah Tanjung Redeb menuju Teluk Bayur, lalu masuk gang kecil ke kiri kira-kira 25 meter. Lokasinya memang tidak terlalu jelas terlihat dari jalan raya, tapi ada papan nama di pinggir jalan.

Memperhatikan lokasinya, resto ini menempati lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas untuk model resto kebun atau terbuka, tapi cukup rimbun dengan pepohonan. Deretan meja-kursi berada di bangunan utama dan di sekeliling kolam ikan. Resto yang dibangun dengan konstruksi kayu ini juga menawarkan kegiatan rekreatif berupa pemancingan dengan disediakannya kolam ikan di bagian tengah, meski tidak terlalu besar ukurannya. Tentunya kegiatan pemancingan hanya kalau siang hari saja. Juga tersedia musik hidup (live), bukan sekedar organ tunggal. Suasananya cukup santai.

Menu ikan-ikanan (maksudnya berbahan dasar ikan) adalah menu unggulannya. Banyak pilihan ikan, terutama ikan laut. Juga banyak pilihan cara memasaknya, dibakar atau digoreng dengan aneka bumbunya. Cah kangkung, jamur, sambal tomat adalah asesori yang menjadi pasangan beraneka menu ikan.

***

Begitu mengambil tempat yang agak mojok, kami segera didatangi oleh seorang pelayan yang siap mencatat order makanan. Karena belum paham karakteristik dari setiap menu dan penyajiannya, maka sudah menjadi kebiasaan saya untuk tanya-tanya dulu kepada mbak pelayan. Antara lain, tentang menu unggulan yang ditawarkan, seperti apa memasaknya, seberapa besar ukurannya, cukup untuk berapa orang, dsb.

Maksudnya agar jangan sampai kurang, tapi jangan juga tersisa berlebihan. Ini karena kami memilih pesan makanan secara rombongan, bukan sendiri-sendiri. Kalau saja sedang di kota sendiri bersama keluarga, sisa makanan (maksudnya makanan yang tidak habis dimakan di resto) bisa dibungkus untuk dibawa pulang. Lha, kalau sedang di kota lain, mau diapakan?

Tapi sayang, agaknya si mbak pelayan kurang terampil dan kurang responsif dalam memahami model pelanggan seperti saya. Ketika ditanya seekor ikan patin goreng dan ikan putih bakar masing-masing cukup untuk berapa orang? Dijawabnya cukup untuk 2-3 orang. Maka yang terlintas di benak saya adalah seekor ikan yang sama ukuran dan penyajiannya dengan kalau kita pesan ikan di resto ikan-ikanan di tempat lain.

Setelah menunggu agak lama (ini yang agak membuat kesal, apalagi sedang lapar-laparnya, sementara resto malam itu sedang tidak terlalu ramai pengunjung), akhirnya datang juga….. Seperti acara televisi dimana seorang pemainnya belum tahu terhadap plot yang akan dimainkan. Dan pemain itu adalah saya dan rombongan.

Nasi sudah dibagikan secara adil dan merata di dalam piring masing-masing pemain, bukan di dalam cething atau tempat nasi. Lha ikannya? Dua ekor ikan berukuran sedang masing-masing sudah berada di piringnya dan sudah dipotong-potong. Kalau dihitung potongannya, memang setiap orang akan kebagian satu atau dua potong ikan. Tapi tentu bukan seperti itu maksud dari pertanyaan saya semula. Melihat gelagatnya bahwa sajian ikan tentu tidak memenuhi yang dibutuhkan, maka pelayan dipanggil dan segera pesan lagi dua porsi tambahan, ikan yang sama.     

Sambil menunggu rombongan ikan kloter kedua mendarat, acara makan malam segera dimulai. Para pemain segera meraih ikan sepotong demi sepotong dari piringnya. Karena pesanan enggak datang-datang, lama-lama nasi di piring masing-masing pemain habis sendiri (maksudnya terpaksa dihabiskan meski hanya dengan cah kangkung, tempe goreng dan dengan jumlah ikan yang terbatas, daripada bengong menunggu pesanan tidak datang-datang…..).

Akhirnya datang juga……, dua piring ikan kloter tambahan segera mendarat di atas meja makan. Tapi nasinya sudah telanjur habis. Terpaksa pesan beberapa piring nasi putih tambahan, dengan maksud untuk teman menghabiskan dua piring ikan susulan tadi. Ee…., judulnya kini ganti, nasi nan tak kunjung tiba……

Sambil menunggu ransum tambahan nasi putih, dua piring ikan pun di-thithili (dimakan sedikit-sedikit) rame-rame seperti potong padi di sawah. Lama-lama ya habis juga itu ikan, tepatnya tinggal sedikit, itu pun bagian ekor dan endhas (kepala). Dan, judulnya masih tetap nasi nan tak kunjung tiba…..

Setelah disusuli oleh seorang rekan ke dapur (jadi tahu seperti apa dapurnya), akhirnya datang juga….. , dan nasi putih kemudian tersaji di atas meja. Terpaksa lagi, nasi putih pun di-thithili dengan sisa potongan ikan yang masih ada, daripada mubazir wong sudah dipesan. Jadi, perlu pesan ikan lagi? Lalu nasi putih lagi?

Maka, acara “akhirnya datang juga” terpaksa distop, sebelum “guyonan” pelayan resto semakin menjadi-jadi…….

***

Perihal menu ikan dan ramuan bumbunya, sejujurnya harus diacungi jempol. Rasanya cocok, hoenak dan pas di indra pencecap. Cah kangkungnya juga lezat, meski agak kematangan memasaknya, tapi tetap memberikan taste yang delicious, kata orang sono. Apalagi sambal tomatnya, wuih…. beberapa kali saya cecap-cecap untuk menyelidiki bagaimana membuatnya. Ya, enggak bisa juga wong bukan ahlinya. Pendeknya, dari sisi cita rasa resto ini layak diunggulkan untuk dicoba dan dinikmati rasanya.

Hanya saja, mesti “hati-hati” sebelum menjatuhkan pilihan pesanan makanan. Jangan sampai diajak “guyonan” sama pelayannya. Sebab betapapun enaknya rasa masakannya, menjadi tidak bisa dinikmati kalau mesti menunggu kelewat lama. Perut yang semula lapar keburu kenyang dengan sendirinya, lalu lapar lagi, lalu kenyang lagi.

Cita rasanya memang pantas untuk dibayar mahal, tapi “guyonan” ala acara televisi “akhirnya datang juga”….., ngngngng….. caaapek, deh! (nunggunya). Mudah-mudahan pengalaman malam itu adalah satu-satunya kejadian di New Family Cafe, agar saya tetap bisa merekomendasikan untuk mencoba berpetualang dengan menu lezatnya New Family Cafe.

Madurejo, 19 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(8).  Semalam Di Batam

Ini sebutan semalam versi saya yang orang Jawa, maksudnya saya menginap satu malam di Batam. Sebab kalau versinya orang Melayu Riau, semalam maksudnya adalah hari kemarin. Ya, kami memang sengaja menyempatkan untuk menginap satu malam di mBatam sebelum kembali ke Jogja. Hitung-hitung sekedar refreshing setelah muter-muter di Bintan.

Siang kemarin telah kami tinggalkan pulau Bintan dengan bauksitnya dan Tanjung Pinang dengan kopi O-nya yang mbludak….. Di pelabuhan feri kami tidak repor-repot lagi membeli tiket penyeberangan, karena  tiket pergi-pulang feri “Baruna” yang kami beli di Punggur saat berangkatya masih berlaku untuk perjalanan kembali dari Tanjung Pinang, ke Telaga Punggur lagi.

Setiba di Batam sebenarnya kami belum tahu hendak kemana. Yang kami tahu hanya ada tempat yang terkenal dengan nama Nagoya. Ya itu saja pedomannya. Maka naik taksi dari Telaga Punggur pun cukup dengan meminta tolong pak sopirnya agar dicarikan hotel murah di sekitar Nagoya. Kata “murah” yang menjadi kata kuncinya. Itulah bedanya dengan dulu sewaktu masih jadi orang gajian di sebuah kumpeni kelas antarbangsa.

Dulu kalau plesir semuanya sudah di-set lengkap sejak sebelum berangkat, termasuk hotel yang berbintang-bintang. Sehingga ketika meletakkan pantat di taksi pun bisa sambil dehem-dehem….., sambil rada nggleleng menyebut nama hotelnya. Sedangkan kini harus memposisikan diri bak seorang petualang kehabisan bekal. Meskipun ada yang mbayarin, namun toh mesti tanggap ing sasmito bahwa itu bukan privilege melainkan sekedar sarana. Toh fungsi hotel sebenarnya hanya untuk nggeblak (merbahkan tubuh) dan buang hajat saja…..  Akhirnya kami temukan sebuah hotel yang agak murah, kelas backpacker naik sedikit, di bilangan wilayah pinggiran Nagoya.

Acara pertama di Batam adalah jalan-jalan sore, menemukan kedai kopi di salah satu sudut perempatan jalan. Lalu ngopi sepuasnya sambil ngobrol ngalor-ngidul. Menikmati pemandangan lalu lintas kota Batam yang semrawut, lebih-lebih di perempatan jalan yang tanpa lampu lalu lintas. Menikmati berseliwerannya aneka merek dan jenis mobil yang tidak pernah ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tentu saja saya tahu, bahwa pemandangan kesemrawutan yang saya potret sore itu adalah bukan mewakili  keseluruhan lalu lintas di pulau Batam. Sebab di belahan lain pulau ini, terutama di luar kota, saya justru menikmati rapi dan bagusnya pengaturan lalu lintas, penataan rambu jalan dan tata ruang jalan, yang menyerupai di negara maju. Menempuh perjalanan dari Telaga Punggur ke bandara atau ke kawasan kota, rasanya seperti sedang melaju di sebuah highway di Amerika. Sayang, kerapian dan kebagusan ini tidak konsisten saat memasuki kawasan bisnis dan pemukiman.

***

Batam diidentikkan sebagai halaman belakang Singapura. Di sini ada lebih dari 500 perusahaan asing telah menanamkan investasinya, yang berarti terbukanya banyak lapangan kerja. Pulau seluas 400 km2 itupun dikembangkan dan ditata sedemikian rupa agar siap mengimbangi kemajuan bisnis dan investasi yang datang dari tanah seberang. Namun sepintas nampaknya kesiapan penataan ruang dan wilayahnya baru sempat menyentuh sektor-sektor yang terkait langsung dengan kemajuan industri saja.

Bisa jadi penglihatan saya yang hanya semalam ini salah. Namun ketika saya berkesempatan mengunjungi rumah seseorang di sebuah kompleks perumahan, agaknya dugaan saya agak-agak benar. Pertumbuhan penduduknya jauh lebih cepat dari tata ruang yang direncanakan. Akibatnya ibarat kebanyakan menuang kopi O dalam cangkir kecil, ya mbludak kemana-mana tanpa sempat direncana.

Keberadaan industri di Batam telah menarik minat pendatang dan pencari kerja, berduyun-duyun memasuki pulau Batam untuk mengadu untung tanpa bekal keahlian yang memadai. Karena mbludak, maka tingkat pengangguran menjadi cukup tinggi dibanding tempat-tempat lain di Indonesia. Sementara pada saat yang sama Batam dibanggakan sebagai kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.

Memang pertumbuhan penduduknya luar biasa. Tahun 1995 penduduk Batam masih sekitar 196 ribu jiwa, tapi tahun 2002 sudah mencapai lebih 560 ribu jiwa. Sekarang? Suk-sukan ora karu-karuan (berdesakan tidak karuan) di pusat keramaian…… Terhimpun dalam cluster-cluster di tengah hamparan luas tanah gersang yang mengandung banyak macam mineral tambang, karena memang tidak sembarangan boleh membuka lahan untuk pemukiman.

Keadaan ini membuat ingatan saya terbang ke ujung timur, ke kota Timika di Papua. Kejadiannya sungguh mirip dengan Batam. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa pertumbuhan kota Timika akan sedemikian pesatnya sebagai dampak dari beroperasinya perusahaan tambang raksasa Freeport di lokasi dalam radius kurang dari 100 km. Akibatnya pihak pemerintah setempat jadi “telmi”, mangsudnya, benar-benar terlambat untuk memikirkan. Belum sempat selesai memikirkan bagaimana sebaiknya menata ruang dan wilayah kota Timika secara integratif. Eeee….., enggak tahunya pertumbuhan penduduknya lebih cepat luar biasa. Jadinya, ya mbludak ….., penduduk yang bertambah-tambah itu menempel di mana-mana jadi sulit dikendalikan.

Ibarat tanaman, tumbuh sak thukule, asal tumbuh di mana saja. Padahal dulu sempat terpikir untuk membuat penataan kota agar menjadi lebih baik, sehat dan indah. Tapi ya terlambat, keburu para petualang pencari kerja berdatangan dari mana-mana. Ibarat mengambil KPR tipe 36 di atas lahan 100 m2. Belum seperempat cicilan dipenuhi, tahu-tahu sudah mbegogok (nongkrong) rumah tingkat di atas lahan 100 m2 penuh-nuh, tanpa sisa sedikitpun bahkan untuk sekedar menaruh pot bunga. Akhirnya, pak Camat pun bengong-terbengong melongo…..

***

Sambil jalan-jalan menyusuri pertokoan, saya sempatkan membeli koran Jakarta. Maklum beberapa hari ini rada ketinggalan informasi nasional. Kata seorang pelayan toko yang agaknya pendatang dari Jawa, mengatakan bahwa kalau soal makan maka Batam adalah tempatnya. Jadi tidak perlu khawatir soal makan apa atau dimana. Pernyataan ini tidak salah, namun agaknya ada yang kurang.

Tidak dipungkiri, Batam sudah menjadi pilihan tempat hiburan bagi masyarakat Singapura, juga Malaysia. Soal makan sebenarnya hanya aktifitas sampingan saja. Wong namanya orang hidup ya pasti butuh makan. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa yang sebenarnya menjadi tujuan utama turis akhir-pekanan dari Singapura dan Malaysia (ngngng….. rasanya dari Indonesia juga…..) adalah main golf, berjudi dan “esek-esek”. Yang terakhir inilah yang kemudian mendominasi bisnis hiburan di Batam. Dampaknya meluber ke pulau tetangga dekatnya, yaitu pulau Bintan dan Karimun. Maka sangat beralasan kalau masyarakat penduduk asli ketiga pulau itu yang umumnya adalah masyarakat yang taat dalam beragama, semakin hari semakin risau melihat “kemajuan” jaman yang tidak terelakkan.

Tidak di Batam, tidak di Bintan, tidak terkecuali di pulau Karimun. Seorang teman yang tinggal di Karimun mengeluh bahwa keluarganya terpaksa menjual rumahnya yang ada di kota yang sudah turun-temurun ditinggali, lalu terpaksa pindah. Pasalnya rumah keluarga besarnya yang ada di kota Tanjung Balai, Karimun, itu kini sudah dikepung dengan fasilitas entertainment (ini adalah kata lain untuk bisnis bernuansa “esek-esek”). Akhirnya keluarga teman tersebut merasa risih dan mengalah pindah ke luar kota.

***

Berbekal semangat ingin melihat suasana beda di tempat yang baru pertama kali saya datangi. Maka satu malam di Batam pun tidak ingin saya lewatkan begitu saja dengan nglekerrr….. (tidur nyenyak). Satu-satunya hiburan yang cocok adalah makan. Di Batam banyak pilihan tempat makan, seperti kata penjual koran tadi. Akhirnya kami memilih untuk makan malam di “Nagoya Food Court”. Kelihatannya ini tempat yang representatif untuk menggapai suasana berbeda, di kesempatan yang hanya semalam.

“Nagoya Food Court” adalah arena terbuka sangat luas yang dikelilingi oleh kedai-kedai yang menawarkan aneka menu masakan. Mirip-mirip pujasera yang ada di Tanjung Pinang, bedanya “Nagoya Food Court” ini bangunannya lebih permanen, tertata rapi, bersih dan enak dikunjungi. Ideal juga bagi yang membawa keluarga karena tersedia juga arena bermain untuk anak-anak. Selain itu, di bagian tengah arena makan-memakan ini terpasang layar tancap. Menu utamanya memang ikan-ikanan (sea food), tapi lebih banyak variasi jenis masakannya, termasuk kalau menginginkan masakan ala Jawa.

Memasuki tempat ini, lalu tolah-toleh mencari tempat kosong di antara pengunjung yang cukup ramai. Begitu duduk langsung dikerubuti oleh para SPG yang mengenakan pakaian seragam masing-masing sambil menawarkan produk bir segala macam merek. Karena kami memesan teh obeng, akhirnya mereka bubar jalan. Tinggal pelayan biasa yang menawarkan menu masakan biasa.

Sampai selesai makan, kami masih merasa betah ngobrol sampai malam. Suasananya memang tidak membosankan, hingga kami pun dapat benar-benar menikmati malam di Batam dalam suasana santai. Agaknya inilah suasana berbeda yang dapat saya peroleh dalam masa yang hanya semalam. Saya memang tidak punya banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang Batam. Mudah-mudahan masih ada kesempatan berikutnya. Insya Allah.

“Sampun nggih, pareng ……”

Batam, Kepri – 14 April 2006
Yusuf Iskandar