Posts Tagged ‘magelang’

Candi Asu Sengi

3 Maret 2011

Candi ini benar-benar Candi Asu…, di desa Sengi, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang. Lokasinya berada sekitar 12 km arah timur dari kota Muntilan.

Yogyakarta, 17 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Dusun Gempol Tenggelam Oleh Lahar Dingin

30 Januari 2011

Catatan dari mengunjungi dusun Gempol,desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang Jateng) pada tanggal 24 Januari 2011. Sebagian besar rumah warga dusun Gempol tertimbun bahkan tenggelam oleh endapan pasir banjir lahar dingin Merapi yang meluber dari aliran kali Putih.

Aliran lahar dingin di Kali Putih yang terjadi tadi sore (24/01/11)…, tak sebesar minggu lalu yang menghancurkan desa Jumoyo, kecamatan Salam, Magelang (sosok gunung Merapi yang berjarak sekitar 20 km ada di latar belakang).

(1)

Sebagian warga dusun Gempol, desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, masih tinggal di pengungsian akibat erupsi Merapi November tahun lalu.

Saat minggu lalu mereka pulang untuk menengok rumahnya, malah rumahnya pada hilang. Bukan oleh letusan Merapi, tapi oleh sapuan lahar dingin yang menggelontor dari lereng barat Merapi, yang mbludak tak tertampung oleh kali Putih di seputar jembatan jalan raya Jogja-Magelang.

(2)

Kini lebih 500 jiwa warga dusun Gempol tinggal di pengungsian di lapangan depan Balai Desa Jumoyo. Nyaris semua rumah mereka hancur, tenggelam, bahkan hilang. Ada juga yang setengah tenggelam oleh endapan pasir lahar, dan masih tersisa sekitar 39 rumah yang hanya kotor saja. Tapi praktis dusun Gempol kini ditinggal warganya. Ancaman banjir lahar dingin belum selesai, dan entah sampai kapan ancaman itu berhenti..

(3)

Tempat pengungsian itu berupa tenda-tenda berbentuk dome warna putih. Tenda-tenda itu pindahan dari lokasi lain yang sebelumnya digunakan oleh pengungsi korban letusan Merapi.

Ada puluhan tenda berdiri di lapangan depan Balai Desa. Selain warga dusun Gempol, ada juga pengungsi dari dusun Kadirogo, Kemburan dan Dowakan, yang berjumlah lebih 800 jiwa semuanya dari desa Jumoyo.

(4)

Tenda dome warna putih… Dari kejauhan terlihat seperti perkemahan di padang Arafah. Hanya saja lokasi itu dikelilingi oleh hijau pepohonan. Entah sampai kapan mereka akan mampu bertahan di tempat itu. Sedang menyediakan shelter bagi warga kecamatan Cangkringan yang rumahnya hancur oleh awan panas saja sampai sekarang Pemkab Sleman masih kesulitan. Kini ditambah warga kecamatan Salam

(5)

Rombongan lebih 40 sepeda motor berkonvoi ke Balai Desa Jumoyo. Dari tampilannya, ini rombongan orang-orang desa. Dari sepeda motornya, ini pedagang keliling. Keranjang yang terpasang di sepeda motor itu penuh berisi sayur-mayur. Ada apa gerangan?

Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu. Mereka datang tiba-tiba untuk mengirim bantuan sayur-sayuran ke dapur umum pengungsian korban lahar dingin.

(6)

Mereka bukan tukang sayur yang sedang berjualan di pasar. Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang. Berkonvoi mereka datang, ingin meringankan beban derita sesama. Rasa empati dan peduli yang kemudian menggerakkan hati dan rasa cinta orang-orang kecil itu terhadap sesama.

Sebuah kepedulian dari orang-orang kecil untuk saudara-saudara yang sama kecilnya. Dari mana datangnya cinta, dari lembah Merbabu turun ke desa Jumoyo…

(7)

Sekian kali saya mengunjungi tempat pengungsian, sekian kali pula saya menyaksikan tumpukan pakaian (bekas, layak pakai, bagus) tertimbun, terhampar, berserakan begitu saja seperti tak terurus. Nampaknya pakaian memang bukan kebutuhan mendesak bagi pengungsi korban bencana, termasuk gunung meletus, banjir lahar, juga gempa.

Pada saat-saat tak berdaya, mereka lebih butuh logistik atau bentuk lain yang lebih nyata bagi keseharian di tempat pengungsian…

(8)

Posko utama pengungsian desa Jumoyo tampak tertangani dengan baik. Bantuan pun berdatangan. Namun fenomena lambatnya penyaluran bantuan oleh “alasan prosedural” sering menghantui. Akibatnya bnyak donatur yang kadang-kadang “skeptis” dengan Posko utama.

Donatur merasa lebih puas kalau dapat langsung menyalurkan bantuan ke lokasi yang biasanya dikelola relawan mandiri. Itu juga alasan saya kemarin sore bersama Kadus Gempol turun langsung ke lokasi.

(9)

Pak Sudiyanto, Kadus (Kepala Dusun) Gempol, desa Jumoyo, galau menyaksikan sebuah rumah warganya tinggal menyisakan daun pintu yang masih berdiri. Selebihnya tertimbun pasir setinggi atap sedang atapnya tersapu aliran lahar dingin. Sebagian rumah lainnya bahkan hilang tak berbekas. Termasuk rumah pak Kadus yang tertimbun pasir setengah tingginya.

(10)

Sore itu langit agak mendung dan gerimis mulai turun. Pak Kadus Sudiyanto begitu semangatnya memboncengkan saya dengan sepeda motornya berkeliling dusun menunjukkan rumah-rumah warganya yang kini hilang.

Ada yang tenggelam oleh endapan lahar dingin menyisakan atapnya, ada juga yang benar-benar tersapu dahsyatnya aliran lahar yang membawa pasir dan batu-batu besar. Dusun yang dulu agak jauh dari kali Putih, kini berubah menjadi jalan baru bagi aliran sungai.

(11)

Rute aliran kali Putih itu membelok sebelum menyeberang jalan raya Jogja-Magelang. Namun rupanya aliran kuat lahar dingin Merapi tidak sabar untuk membelok mengikuti aliran sungai yang sudah ada, melainkan lurus saja menyeberangi sekaligus menggerus badan jalan aspal, menghantam pasar Jumoyo dan dusun Gempol seisinya. Begitu berulang setiap kali banjir lahar dingin datang. Maka jalan raya Jogja-Magelang pun berulang terganggu.

(12)

Sekitar jam empat sore itu tiba-tiba orang-orang yang sedang “berwisata” di sekitar jalan raya desa Jumoyo pada berlarian. Petugas keamanan mengumumkan agar orang-orang menjauh karena lahar dingin segera tiba.

Pak Kadus memberitahu saya bahwa sebentar lagi akan melihat datangnya lahar dingin. Kutanya: “Apa aman?”. Dengan yakin dijawab: “Tidak apa-apa, banjirnya kecil”.

Dengan pesawat HT-nya, pak Kadus dapat memonitor gerakan aliran lahar dari Merapi, seberapa besar dan sudah sampai mana.

(13)

Kami memilih lokasi di tanggul timur, dekat pertigaan antara aliran lama dan baru. Semakin lama para “wisatawan” yang datang semakin banyak. Petugas keamanan tidak melarang karena sudah tahu bahwa banjir sore itu tidak besar.

Ketika banjir lahar akhirnya datang, memang tidak sampai meluber keluar dari aliran sungai yang ada sehingga masih aman bagi masyarakat yang ingin menyaksikan. Walau lalulintas Jogja-Magelang sempat ditutup sebentar sebagai tindakan preventif.

(14)

Menunggu datangnya banjir lahar dingin seperti menunggu datangnya pujaan hati. Kata pak Kadus yang merangkap relawan mandiri: “Kalau sudah dapat info ada banjir lahar di atas (Merapi), terus dimonitor laju kepala banjir sambil deg-degan. Kalau nggak datang-datang seperti ada rasa ‘gelo’ (menyesal), padahal tahu bahwa itu bisa jadi petaka…”.

(15)

Dengan melihat sendiri kondisi dusun Jumoyo yang berantakan dan sebagian lenyap, serta warganya yang ingin pulang tapi tidak ada yang dipulangi.

Maka kesanalah saya berencana menyalurkan bantuan (prioritas sementara logistik/sembako). Setidaknya, langsung ke sasaran, sebagaimana diharapkan pak Kadus Gempol. Seorang warga dusun tetangga (Seloiring) juga berharap bantuan langsung ke lokasi. Uugh, nampak ada nada skeptis jika bantuan dikirim ke Posko utama.

(16)

Dusun Seloiring bertetangga dengan dusun Gempol, masih di desa Jumoyo, hanya terpisah oleh jalan raya Jogja-Magelang. Ketika terjadi banjir besar lahar dingin minggu yll. yang telah melenyapkan sebagian dusun Gempol, warga Seloiring selamat tapi nyaris karena ada di batas limpahan kali Putih.

Namun… (lha ini anehnya masyarakat kita), belum mau disuruh mengungsi karena memang belum terbukti terkena bahaya. Sedang potensi ancaman itu nyata di depan mata. Huuh..!

(17)

Masyarakat Gempol pada umumnya adalah buruh tani dan penambang pasir. Entoch, endapan pasir lahar tidak begitu saja dapat ditambang, walau pasir itu kini menghampar nyaris seperti tak kan habis.

“Wah, jadi rejeki bagi warga”, kataku kepada pak Kadus.

“Paling-paling nanti orang luar yang menikmati, warga ya tetap saja begitu…”, jawab pak Kadus sambil memboncengkan saya menuju mobil.

Terasa ada nada getir di baliknya. Saya pun segera pulang membawa serta kegetiran itu…

Yogyakarta, 25-27 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Bebek Goreng “Sendang Raos”

24 Juli 2010

Ujuk-ujuk diajak teman untuk ketemuan lalu disambung makan malam ke “Sendang Raos”, Ring Road Utara, Jogja. Menunya bebek goreng, sambal bangjo (cabe oplosan merah dan hijau, puedass…) dan ca kangkung. Rumah makan bernuansa Sunda ini ternyata milik orang Magelang. Belum genap dua bulan beroperasi. Raos-nya… standar lah. Karena kategori yang saya kenal hanya dua, yaitu: enak dan enak banget, maka ini bolehlah masuk kategori standar yang pertama…

Yogyakarta, 15 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Para Pendaki Kecil Itu Sudah Kembali

11 Juni 2009

IMG_2512_r

Ketika mengantar anak-anak ke terminal bis Jombor, Jogja, saya dan anak-anak ada kesepakatan untuk memberi kabar via SMS setiap kali dapat sinyal ketika mendaki Merbabu. Kebetulan dua dari keempat anak-anak pendaki kecil itu membekali diri dengan ponsel. Tujuan saya sebenarnya hanya ingin terus memastikan perjalanan mereka dalam rangka menjalankan “kewajiban” sebagai orang tua.

Menjelang siang, sebuah SMS pendek saya terima. Bunyinya : “Magelang”, yang saya terjemahkan bahwa anak-anak itu sudah sampai di terminal bis Magelang. Tengah hari datang lagi SMS pendek berbunyi : “Wekas”, yang saya terjemahkan bahwa anak-anak itu sudah sampai di desa Wekas setelah berjalan kaki dari jalan raya menuju desa terakhir sebagai titik awal pendakian. Oleh anak-anak tempat itu biasa disebut dengan base camp.

Tidak lama kemudian datang lagi SMS berbunyi : “Masjid”. Dalam bayangan saya anak-anak itu sedang beristirahat di desa terakhir sambil sekalian menunaikan sholat dhuhur di masjid kecil yang ada di sana.  Kurang dua jam kemudian, sekitar jam 15:00 saya menerima lagi SMS pendek : “Pos 1”. Berarti mereka sudah mulai mendaki dan mencapai lokasi yang disebut Pos 1.

Hingga sorenya, lalu malam menjelang ternyata tidak ada lagi SMS masuk. Itu pasti karena sinyal ponsel sudah tidak sanggup lagi mendaki seiring semakin tingginya rute pendakian. Saya menduga anak-anak malam itu nge-camp di pemberhentian kedua atau Pos 2, sebab menurut informasi di sekitar Pos 2 lokasinya cocok untuk berkemah. Selain topografinya relatif datar, juga ada sumber air. Jika benar demikian, maka anak-anak itu sudah berjalan sesuai dengan rencana pendakian mereka. Esok fajarnya mereka akan melakukan summit attack atau mendaki menuju puncak. Setelah itu lalu langsung turun kembali.

IMG_2583_r1Esok siangnya saya tungu-tunggu kok tidak ada SMS masuk. Padahal kalau mereka langsung turun gunung mestinya saat tengah hari sudah sampai Pos 1 atau desa Wekas dimana sinyal sudah menunggu di sana. Hingga sore tidak juga ada kabar. Saya coba tilpan-tilpun juga tidak nyambung. Sempat sekali berhasil nyambung, tapi belum sempat bicara banyak kemudian terputus, dan setelah itu susah dihubungi lagi.

Mulailah pikiran saya mencoba menduga-duga. Kemungkinan yang terjadi adalah baterei HP mereka drop atau tidak bekerja baik, entah karena kebasahan, rusak karena jatuh, atau sebab lain. Kalau kehabisan pulsa rasanya tidak, sebab saat saya hubungi mestinya bisa nyambung. Tapi jelas mereka sudah turun dari puncak dan berada di sekitar Pos 1 karena tadi komunikasi bisa nyambung sebentar meski kemudian terputus lagi. Satu hal yang mengganggu pikiran saya adalah mereka tidak mau memenuhi saran saya untuk menyewa ranger atau penduduk setempat yang diajak menemani mendaki sebagai petunjuk jalan. Kelakuan ini sebenarnya sudah saya cium sebelumnya. Rasa percaya diri mereka tinggi sekali.

Hingga senja hari belum juga ada kabar dari anak-anak. Padahal menurut rencana mestinya mereka sudah turun dan setidak-tidaknya dalam perjalanan kembali ke Jogja. Kemungkinan terburuk adalah mereka bermalam di jalan sebelum mencapai desa terakhir, entah karena cuaca tiba-tiba berubah buruk atau sebab lain. Kalau hal terakhir itu yang terjadi mereka sudah siap dengan bekal lebih yang mereka bawa, minimal untuk satu hari kemudian.

Salah seorang orang tua dari teman anak saya sudah dua kali menilpun menanyakan kabar anaknya, yang katanya sudah mencoba menghubungi HP-nya tidak bisa. Sebuah kekhawatiran yang sangat wajar kalau mengingat para pendaki kecil itu sebenarnya masih di bawah umur untuk mendaki gunung dengan tanpa didampingi orang dewasa. Kalau saja mereka jadi disertai oleh guru pembinanya seperti rencana awal pendakian mereka, tentunya orang tua tidak perlu terlalu khawatir.

IMG_2527_rHingga hari gelap belum juga ada kabar. Ya, sudah. Saya harus percaya pada kemampuan anak-anak itu untuk mengatasi masalah kalau-kalau ada hambatan di jalan sebagaimana mereka sudah menunjukkan tekad dan semangatnya untuk kekeuh ingin mencapai puncak Merbabu.

Eh… sekitar jam 19:30, tiba-tiba ada SMS masuk. Bunyinya : “Lg dlm p’jlanan plg”. Spontan saya tilpun mereka yang rupanya sedang naik bis Trans Jogja menuju rumah. Cuma yang membikin saya kami tenggengen… alias rada bengong, adalah kata-kata anak saya kemudian : “Sudahlah…., bapak tenang aja….”. Dalam hati saya rada jengkel juga, antara mau bilang “kurang ajar” dan “alhamdulillah” berbaur menjadi satu…..

Tapi sudahlah…., namanya juga anak-anak. Mungkin seharusnya saya merasa bangga karena mereka telah membuktikan tekad dan semangatnya dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Rupanya para orang tua seperti saya ini terkadang suka under estimate terhadap kemampuan anak-anak. Padahal dalam banyak pengalaman mereka seringkali memperlihatkan kemampuannya lebih dari yang saya sangka.

Orang tua memang tidak seharusnya terlalu protektif, melainkan bijaksana dalam mengarahkan keinginan anak-anaknya. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk membekali anak-anaknya dengan ilmu dan pengalaman yang benar. Masalahnya adalah bahwa ternyata tidak mudah menentukan batas antara yang boleh dan tidak boleh, sebab setiap anak memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda-beda. Maka kemudian menjadi wajar kalau adakalanya orang tua lalu besikap protektif berlebihan karena menerapkan faktor pengaman yang terlalu tinggi. Kalau di-umbar begitu saja seperti kambing nanti jangan-jangan dianggap sebagai orang tua tidak bertanggungjawab. Peran untuk menjadi nyinyir, reseh dan cerewet adakalanya perlu dilakonkan oleh orang tua.

***

IMG_2581_rSesampainya Noval dan ketiga temannya di rumah, segera saya “interogasi”. Tujuan saya sebenarnya ingin mengapresiasi mereka dan menjajaki seberapa banyak mereka telah belajar dari perjalanan pendakiannya. Tahulah saya kemudian bahwa Noval dan seorang temannya berhasil melakukan summit attack mencapai salah satu puncak Merbabu dan menunaikan sholat Dhuha di puncak Merbabu. Sedang dua temannya yang lain menyerah dan hanya menunggu di Pos 2.

Namun rupanya anak-anak bisa juga menjadi kurang suka kalau dicereweti orang tuanya. Sementara ibunya Noval hanya berkomentar sambil lalu, membela anaknya : “Bapak ini kayak Satpam saja banyak tanya, ya….” (padahal setahu saya tidak semua Satpam suka banyak tanya).  Lalu disambung : “Sudah…., itu pakaian kotornya dikumpulkan di belakang……”.

Saya hanya tersenyum kecut, sambil agak bangga berkata dalam hati : “Para pendaki kecil itu sudah kembali, sambil cengengesan… Kalian memang ruarrr biasa….”

Yogyakarta, 11 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Puncak gunung Merapi dilihat dari puncak gunung Merbabu

Puncak gunung Merapi dilihat dari puncak gunung Merbabu

IMG_2543_r

Akhirnya Berangkat Juga Ke Merbabu

9 Juni 2009

Akhirnya….. Pagi tadi saya mengantar Noval dan tiga orang temannya ke terminal bis Jombor, setelah sebelumnya saya briefing mereka yang rata-rata berumur 14-15 tahun itu. Beberapa jam kemudian melalui HP temannya kirim SMS, bunyinya : “Magelang” (maksudnya sudah sampai di terminal bis Magelang). Tidak lama kemudian datang lagi SMS : “Wekas” (maksudnya sudah sampai di base camp Wekas, di kaki utara Merbabu). “Selamat mendaki wahai para pendaki kecil…”

……. Tengah hari datang lagi SMS, bunyinya : “Masjid” (maksudnya sudah sampai di masjid terakhir di base camp, sholat dhuhur sebelum mulai mendaki). Kurang dua jam kemudian datang lagi SMS : “Pos 1” (berarti sudah mendaki sampai di Pos 1)…. Take care kids…..

Yogyakarta, 9 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Dibohongi Anak Saya (Mendaki Gunung Merbabu)

16 Juli 2008

Ke_Merbabu1

Pada penghujung tahun lalu (31 Desember 2007), anak laki-laki saya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP swasta di Jogja ngotot minta ijin ikut mas-mas mahasiswa mendaki gunung Lawu (+3265 meter dpl). Padahal cuaca lagi jelek-jeleknya. Karena bapak dan ibunya tidak bisa menolak tapi juga tidak tega melepasnya, akhirnya bapaknya turun kaki ikut menemani mendaki gunung juga.

Pada bulan Juli ini, dalam rangka mengisi kegiatan liburan kenaikan kelas sekolah SMP-nya, anak saya terlibat merencanakan kegiatan petualangan juga. Menjelang sore di awal minggu lalu (tepatnya 7 Juli 2008), mendadak anak saya minta diantar ke terminal Jombor, Jogja. Padahal rencana semula berangkatnya bersama-sama dari sekolahnya.

Anak saya minta ijin, katanya mau melakukan survey lokasi untuk kegiatan outbond teman-teman sekolahnya. Boleh juga, pikir saya. Anak saya dipercaya untuk melakukan survey pendahuluan. Tentu saja ada sepercik rasa bangga sebagai orang tua. Maka saya pun berangkat mengantarnya ke terminal Jombor. Selanjutnya bersama seorang teman dan gurunya akan naik bis, katanya menuju ke lokasi survey di daerah perbukitan Menoreh, Magelang.

Keesokan sorenya anak saya kirim SMS, entah dari HP siapa, isi pesannya minta dijemput di terminal bis yang sama seperti kemarin. Oke, memahami kondisi fisiknya yang pasti kecapekan, sementara dia juga membawa perlengkapan berkemah, maka saya legakan juga untuk menjemputnya.

Di perjalanan pulang dari terminal, saya tanyakan bagaimana hasil survey-nya? Jawabnya sambil nyengenges : “Saya tidak jadi survey kok, tapi kemarin langsung mendaki gunung Merbabu…”.

Wow…, tobil anak kadal……! Jebul aku diapusi anakku (ternyata saya dibohongi anak saya).

Ini pasti hasil karya akal-akalan. Mau mendaki gunung Merbabu (+3142 mdpl), tapi pamitnya survey lokasi outbond. Ya tidak salah juga. Mendaki gunung juga aktifitas outbond, untuk survey berarti juga melakukannya. Kalau anak saya kemarin berterus-terang pamit mau mendaki gunung, memang ya belum tentu akan diijinkan ibunya.

Dulu waktu turun dari gunung Lawu anak saya memang pernah usul bahwa kalau nanti liburan kepingin naik gunung lagi. Berhubung bapaknya sibuk keluyuran midar-mider kemana-mana, akhirnya ketika liburan tiba belum sempat membicarakan rencana atau angan-angan anak saya enam bulan yang lalu. Barangkali karena itu, agar bapak-ibunya tidak reseh lalu dia mencari cara agar bisa naik gunung. Ya, dengan alasan survey lokasi outbond itu tadi.

(Mestinya anak saya tidak perlu berbohong dan tidak perlu takut mengatakan yang sebenarnya. Sebab bapaknya pasti kepingin ikut juga kalau tahu mau naik gunung…….)

Kini anak saya sudah booking lagi, kalau nanti liburan minta diajak ke gunung Semeru (+3676 mdpl) atau Rinjani (+3726 mdpl)…. Ugh….! Alamat mesti pasang status waspada bakal dibohongi lagi nih….

Yogyakarta, 16 Juli 2008
Yusuf Iskandar