Posts Tagged ‘madison’

Sampah Kita Sendiri

21 Maret 2008

Pengantar :

Cerita di bawah ini saya tulis karena terinspirasi oleh cerita sahabat saya (Mas Mimbar Saputro) tentang crew drumband yang merangkap tukang sampah di Singapura. Sebagian dari cerita di bawah ini pernah saya singgung dalam tulisan saya beberapa tahun yll. Namun tidak ada salahnya saya singgung lagi untuk menambah kelengkapan ilustrasi – yi

——-

Orang Jakarta pernah bingung ketika tidak bisa membuang sampahnya. Semakin kalang kabut ketika kawasan tetangga Jakarta yang biasanya tidak ada masalah untuk ditimbuni sampah, kemudian menolaknya. Itu karena jumlah sampahnya bergunung-gunung. Sementara ketika jumlah sampah di dalam rumah kita masih seukuran asbak atau sekantong tas kresek, seringkali kita kurang perduli. Nyaris tidak pernah terpikir akan diapakan atau dibuang kemana sampah itu nantinya, kecuali sebatas membuangnya ke tong sampah atau tempat pengumpulan sampah di kampung kita.

Jika kita berada di pedesaan di mana masih banyak kawasan terbuka dan tanah kosong yang belum padat penduduknya, urusan sampah nyaris jauh dari agenda keseharian kita, apalagi pemerintah.

Kalau Singapura sangat ketat dan keras untuk mengatur urusan sampah, tentu karena mereka menyadari bahwa sampah adalah urusan yang sangat serius mengingat terbatasnya luas daratan yang mereka miliki, yang harus dikapling-kapling untuk berjuta peruntukan dan kepentingan. Maka logis saja kalau kemudian kesadaran masyarakat akan keberadaan sampah harus dipaksakan. Mereka (tanpa pandang bulu, kulit, rambut atau ekor) yang sembrono, sangsinya denda yang tidak main-main. Bagi yang main-main, “Bayar S$ 5000…..!”. Tidak ada tawar-menawar.

***

Karnaval dan Peserta Terakhirnya

Di New Orleans, Louisiana, Amerika, setiap tahun digelar pesta rakyat yang disebut Mardi Gras. Biasanya diadakan pada sekitar bulan Pebruari-Maret. Mardi Gras adalah pesta masyarakat dan karnaval yang diselenggarakan di semua kawasan kota. Karnaval yang penuh nuansa hura-hura dan terkadang gila-gilaan ini diselenggarakan selama dua – tiga minggu penuh dan dua hari puncaknya dijadikan sebagai hari libur umum. Selain agar segenap masyarakatnya dapat menikmati pesta rakyat itu, juga bagi mereka yang terlibat dalam karnaval tidak perlu mbolos kerja atau sekolah.

Namanya juga karnaval, maka di sana ada barisan bendera, umbul-umbul, drumband, penari, kendaraan hias, dan segala macamnya. Namun karnaval Mardi Gras yang mempunyai ciri khas dominasi warna hijau-kuning-ungu, juga selalu disertai dengan membagi-bagikan kalung beraneka motif dan warna serta berbagai souvenir, dengan cara melempar dari atas kendaraan. Maka penonton akan ramai berebut memperolehnya, apalagi anak-anak.

Disebut gila-gilaan, karena di lokasi-lokasi tertentu, para perempuan peserta pesta hura-hura dan karnaval terkadang tidak malu-malu untuk mengangkat tinggi-tinggi bagian depan baju kaosnya sehingga terlihat bagian tubuh yang sebelumnya tertutupi oleh kaosnya itu. Saya tidak tahu apakah bagian terakhir ini yang kemudian menarik wisatawan asing maupun domestik dari penjuru Amerika untuk ingin berkunjung ke New Orleans ketika ada pesta Mardi Gras.

Ada yang menarik pada setiap kali ada karnaval Mardi Gras. Di bagian paling belakang dari peserta karnaval selalu ada peserta dari Dinas Kebersihan Kota. Sekelompok orang di barisan terakhir ini tugasnya mengumpulkan semua sampah yang ditinggalkan oleh barisan karnaval di depannya di sepanjang jalan yang dilalui. Lalu diikuti oleh mobil penyemprot air, mobil penghisap sampah dan mobil pengepel jalan (seperti mesin pel lantai yang bagian bawahnya berupa sapu putar yang menggosok dan mengepel). Maka ketika karnaval selesai, sepanjang jalan yang dilalui segera bersih seperti semula dan siap dibuka kembali untuk lalu lintas umum, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. 

Pesta dan hura-hura adalah kebutuhan rekreatif masyarakat, tapi lingkungan yang bersih adalah juga kebutuhan lain yang tidak boleh dikorbankan. Artinya, bukan tujuan pemenuhan kebutuhan saja yang diutamakan, melainkan janganlah lalu dikesampingkan dampaknya.

***

Sampah Rumah Tangga dan Beruang

Di Juneau, Alaska, Amerika, suatu ketika saya membaca pengumuman dari kantor Pemda setempat di sebuah media lokal tentang aturan membuang sampah rumah tangga. Bahkan aturan itu dibuat sedemikian rincinya. Kesadaran tentang tata cara menangani sampah rumah tangga bukan hanya ditujukan bagi diri individu masyarakat sendiri melainkan masyarakat juga diminta melaporkan kepada pemda atau polisi kalau mereka melihat ada orang lain yang tidak mau mengikuti aturan tersebut. Bagi yang mengabaikan aturan ini dapat dikenakan denda minimum US$100.  

Untuk apa harus diatur tentang prosedur membuang sampah? Rupanya di sana banyak berkeliaran beruang liar yang dilindungi. Dengan tidak membuang atau menyimpan sampah sembarangan, maka para beruang liar tidak akan tertarik untuk keluar dari hutan dan makan sembarangan di tempat-tempat sampah yang dapat berakibat sakit atau matinya hewan langka yang dilindungi itu. Jadi pengaturan penyimpanan dan pembuangan sampah itu memang tujuan utamanya bukan demi masyarakat melainkan demi beruang. Luar biasa. Jika kita bandingkan dengan keprihatinan kita atas saudara-saudara kita yang tidak beruntung yang menggelandang di kota-kota besar yang seringkali justru hidup dari mengais sisa-sisa makanan, tanpa banyak yang dapat kita perbuat.

Terlepas dari soal beruang Alaska. Menyimpan, menimbun atau membuang sampah rumah tangga secara asal-asalan memang bisa runyam. Kita memang sering berpikir praktis saja soal sampah domestik ini. Kita kira kalau sudah dibungkus dari rumah lalu dilempar ke tong sampah di luar rumah atau di pinggir jalan, sudah bayar uang bulanan ke tukang sampah (apalagi yang masih nunggak mbayar…..), maka tanggung jawab kita perihal sampah ini sudah tuntas.

Ya, memang hanya sampai di situ saja, apa lagi….? Entahlah, soal bagaimana cara kita membungkus dan menempatkan bungkusan sampah di dalam tong sampah di luar rumah seringkali kita anggap sebagai soal lain yang tidak ada hubungannya…………

***

Kisah Sepuntung Rokok di Madison

Di Madison, Wisconsin, Amerika, suatu siang saya istirahat sejenak dari sebuah perjalanan panjang, di halaman parkir sebuah supermarket menunggu istri dan anak-anak saya membeli perbekalan. Sambil menunggu di mobil, sambil menghisap sebatang Marlboro. Tanpa saya sadari, seorang ibu memperhatikan ulah saya ketika saya membuang puntung rokok di samping mobil yang saya parkir. Sang ibu menegur saya. Tidak cukup itu, diapun masih menegur saya dengan mimik serius, sampai saya benar-benar mengambil kembali puntung rokok yang tadi saya buang.

Sungguh saya dibuat malu sekali……, malu pada diri sendiri. Sampai saya terbengong-bengong. Padahal tidak ada seorang pun melihat kejadian di siang yang panas itu, di tengah halaman parkir yang sangat luas dan sedang sepi. Betapa masih ada warga masyarakat yang begitu perduli dengan setitik sampah yang mengotori kotanya. Ya…., hanya sepuntung Marlboro di tengah lapangan parkir yang luasnya lebih dari lapangan sepakbola.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Kata Tjuta

Di Taman Nasional Kata Tjuta, Northern Territory, Australia, suatu sore karena hari hujan saya berteduh di bawah shelter tempat istirahat. Sambil memainkan kamera, saya menyadari bahwa sebatang Marlboro yang sejak tadi menyelip di jari tangan kiri rupanya sudah pendek. Karena setelah saya tolah-toleh tidak terdapat tempat sampah, dengan tanpa salah sedikitpun puntung rokok lalu saya jatuhkan di pojok shelter.

Tanpa saya duga, tiba-tiba ada seseorang yang kalau saya tilik wajahnya adalah turis Jepang, berjongkok lalu mengambil puntung yang barusan saya jatuhkan. Lalu dimasukkan ke dalam wadah kertas yang dibawanya, karena dia juga sedang merokok. Dasar orang Jepang, dia pintar membuat kerajinan tangan Origami, kertas yang dilipat-lipat sehingga membentuk wadah menyerupai kotak kecil.

Bukan kerajinan kertasnya yang membuat saya terperangah, melainkan caranya memandang saya sehabis mengambil puntung rokok yang tadi saya buang. Sambil menganggukkan kepala dia tersenyum menyambut ucapan “I’m sorry” dan “thank you” saya. Di sekitar saya banyak turis yang juga sedang berteduh. Memang tidak ada yang memperhatikan saya, tapi sungguh si Jepang benar-benar membuat saya salah tingkah. Pokoknya, malu abizzzz…… Mau cepat-cepat pergi rasanya, tapi tidak bisa, wong hujan sedang turun dengan lebatnya ditambah kilatan petir yang menyambar.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Bandara Taipei

Suatu malam ketika transit di bandara Taipei, Taiwan, saya sedang sangat ingin sekali merokok karena sejak berangkat dari Jakarta dalam perjalanan menuju Los Angeles, tidak bisa merokok sebatangpun. Cilakanya, saya tidak menemukan “Smoking Room”, tapi juga tidak menemukan tulisan “No Smoking”. Sambil tengok kanan-kiri, saya temukan di sudut lorong ada pot bunga besar yang rupanya di sekitar tanamannya banyak tumbuh puntung rokok. “Ini dia…..”, pikir saya.

Maka, serta-merta saya curi kesempatan untuk mojok. Lalu cepat-cepat menghisap sebatang rokok, sambil agak melengos malu-malu kucing setiap kali ada orang lewat. Cepat saja, lalu puntung rokoknya saya tanam di sekitar tanaman yang ada di pot. Saya tahu bahwa ini tindakan curang, memanfaatkan situasi entah siapa yang pertama kali memulai menanam puntung rokok di pot bunga tersebut. Terbersit rasa malu dan penyesalan yang dalam, mudah-mudahan kelak saya tidak kembali berada dalam situasi yang tidak menyenangkan itu. Tidak menyenangkan bagi saya dan tidak menyenangkan bagi pemerintah Taiwan.

***

“Bungkusnya Dikantongin Dulu…..”

Suatu saat di Tembagapura, Papua, diadakan acara “Tembagapura Bersih”. Segenap lapisan masyarakat yang umumnya karyawan beserta keluarganya, dan anak-anak sekolah mengambil bagian untuk membersihkan kota Tembagapura. Di akhir acara, seorang anak ditanya oleh panitia, tentang apa yang paling banyak dijumpai di halte bis kota. Jawab keras sang anak : “Puntung rokok dan bungkus permen”.

Lalu sang anak ditanya lagi : “Bagaimana kalau pas di dalam bis kamu ingin makan permen dan tidak ada tempat sampah?”. Jawab sang anak : “Bungkusnya dikantongin dulu, nanti dibuang di tempat sampah ketika turun dari bis”. Sebuah jawaban lugu, jujur dan……. rasanya masuk akal. Lebih penting lagi, kita bisa belajar dari sang anak itu. Kalau mau …….

***

Soal sampah, memang bukan soal ada tempat sampah atau tidak. Bukan soal ada tulisan “Dilarang Buang Sampah Sembarangan”, atau tidak. Bukan soal jumlah sedikit atau banyak. Bukan soal sudah ada yang mengurusi atau belum. Masalah sampah, adalah masalah perilaku. Masalah kepedulian bahwa kita butuh lingkungan yang bersih. Masalah tanggung jawab sosial.

Enak sekali kedengarannya. Semua orang juga tahu. Tapi mari kita lihat asbak dan tempat sampah di rumah kita masing-masing, sebelum kita melihat tempat sampah orang lain. Ya, sampah kita sendiri. Bersih-bersih yuk……!

Tembagapura, 7 Agustus 2004.
Yusuf Iskandar

Iklan

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(33).    Di Madison, Saya Belajar Tentang Arti Kebersihan

Hari Rabu, 12 Juli 2000, sekitar jam 10:30 pagi, kami baru meninggalkan hotel yang lokasinya tidak jauh dari bandara O’Hare International Airport di sisi barat kota Chicago. Rencana semula saya akan langsung masuk ke jalan I-90, kemudian memutar menuju ke arah barat ke kota Rockford lalu ke utara ke kota Madison di negara bagian Wisconsin. Kami memang tidak mempunyai rencana untuk menjelajahi lebih jauh kota Chicago hari itu.

Menjelang masuk ke jalan bebas hambatan I-90, saya sudah dihadapkan dengan kemacetan luar biasa. Menyadari saya akan kesulitan untuk mencari putaran jalan, akhirnya saya ikuti saja arus kendaraan yang merayap perlahan ke arah timur. Selanjutnya saya akan masuk ke jalan I-94 yang menuju ke arah utara. Saat itu saya berada di lajur paling kanan dari lima lajur jalan yang ada di I-90. Padahal dari kejauhan saya sudah melihat bahwa exit yang menuju ke I-94 berada di lajur paling kiri.

Maka setahap demi setahap dalam kepadatan arus lalu lintas yang bergerak sangat lambat, saya berusaha berpindah lajur semakin ke kiri, hingga akhirnya berhasil masuk ke I-94. Di jalan ini saya baru merasa agak lega untuk melaju ke utara menuju kota Milwaukee. Sengaja saya tidak melaju pada kecepatan maksimum agar dapat lebih menikmati suasana pagi kota Chicago.

Tidak sampai satu jam kemudian, kami masuk ke wilayah negara bagian Wisconsin yang mempunyai nama julukan sebagai “Badger State” dengan ibukotanya di kota Madison. Di daerah perbatasan negara bagian ini saya berhenti untuk mengisi BBM. Ketika dilihatnya ada toko cenderamata, anak-anak dan ibunya langsung berhamburan keluar. Cenderamata yang paling dicari oleh anak-anak adalah pensil yang desainnya bertuliskan nama-nama negara bagian, kartu pos yang bergambar obyek-obyek wisata setempat dan hiasan bermagnit yang suka ditempelkan di kulkas.

Setelah memasuki wilayah negara bagian Wisconsin, mulailah saya melaju dengan kecepatan sekitar 75 mil/jam (120 km/jam) di jalan bebas hambatan I-94. Tidak lama kemudian saya tiba di kota Milwaukee yang adalah kota terbesar di Wisconsin. Wisconsin adalah negara bagian ke-26 yang kami kunjungi di hari keduabelas ini. Dari Milwaukee saya masih mengikuti I-94 yang menuju ke arah barat hingga akhirnya tiba di kota Madison sekitar jam 2:00 siang.

Sebagai ibukota Wisconsin, Madison adalah kota kedua terbesar yang berpopulasi sekitar 191,000 jiwa dan terletak pada elevasi 258 m di atas permukaan laut. Kota ini unik karena dikelilingi oleh empat buah danau yang disebut dengan Four Lakes of Madison, yaitu danau Mendota, Monona, Wingra dan Waubesa. Madison juga terkenal karena memiliki sebuah universitas tua, yaitu University of Wisconsin yang berdiri tahun 1848.

Di Madison saya berhenti di sebuah supermarket karena anak laki-laki saya mulai ribut, persediaan susunya habis. Sementara anak-anak dan ibunya masuk supermarket, saya memanfaatkan waktu untuk tetap tinggal di tempat parkir sambil santai menikmati sebatang rokok. Sesekali berdiri di luar mobil, berjalan, menggeliat, lalu kembali duduk di mobil sambil membolak-balik peta perjalanan dan menghitung-hitung lagi jarak tempuh.

Hari itu sebenarnya saya merencanakan untuk mencapai kota Columbia di negara bagian Missouri. Di sana saya sudah ditunggu rekan saya, Mas Janggam Adityawarma dan keluarga, yang adalah adiknya Mas Mimbar Seputro. Namun kelihatannya waktunya tidak terkejar. Dari hitung-hitungan sekilas, saya perkirakan hari itu hanya akan bisa menempuh jarak sekitar 550 mil (880 km) karena tadi meninggalkan kota Chicago agak terlambat, ditambah dengan adanya kemacetan.

Karena itu saya mulai melihat-lihat peta, di kota mana kira-kira kami akan menginap kalau kemalaman di jalan nanti dan hotel apa saja yang ada, dimana alamatnya serta berapa perkiraan tarifnya. Buku panduan wisata keluaran Biro Bantuan Perjalanan AAA memang sangat membantu dalam menyediakan informasi yang saya perlukan.

Rencana alternatif ini perlu saya persiapkan, mengingat setengah dari perjalanan hari ini akan melintasi kota-kota kecil melalui jalan-jalan State Road dua lajur dua arah yang umumnya memberikan batas kecepatan maksimum tidak lebih dari 55-65 mil/jam. Di kota-kota kecil yang dihubungkan oleh rute-rute jalan State Road ini biasanya memang bukan jalur utama sehingga pilihan sarana akomodasi yang ada juga tidak sebanyak kalau melalui jalan Interstate.

***

Saya melihat-lihat peta sambil duduk leyeh-leyeh (santai) di belakang kemudi dengan pintu sebelah kiri agak dibuka karena mobilnya memang stir kiri, sandaran tempat duduk agak direbahkan, jari-jari tangan kiri menjepit sebatang Marlboro light bungkus putih dan sesekali menghisapnya dalam-dalam. Sementara di luar cuaca siang cukup panas.

Lama-lama sebatang rokok pun habis, dan ….. lesss…., puntung rokok saya lepaskan dari sela-sela jari dan jatuh di pelataran parkir di samping kiri mobil. Lalu batang rokok yang kedua siap dinyalakan.

Di luar perhatian saya, rupanya di sebelah kiri saya ada seorang ibu bersama kedua putrinya sedang memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam mobilnya. Dan “sialnya”, ibu itu ternyata memperhatikan saat puntung rokok saya tadi lepas dari jari-jari tangan. Sepintas saya lihat ibu tadi mengatakan sesuatu. Karena suaranya kalah oleh bunyi musik dari radio di mobil yang sedang saya stel, saya pun tersenyum kepadanya sambil ber-“Hi!” sebagai bahasa basa basi.

Rupanya memang bukan basa-basi. Untuk kedua kalinya saya lihat si ibu mengatakan sesuatu. Buru-buru saya matikan radio agar lebih jelas mendengar apa yang dikatakannya. Barulah saya ngeh (sadar apa yang terjadi), rupanya ibu itu menegur saya agar tidak membuang sampah sembarangan. Malu sekali rasanya.

Saya pun menyampaikan penyesalan dan mengucapkan terima kasih. Si ibu saya lihat sudah siap menutup pintu mobil setelah menyuruh masuk kedua putrinya. Sampai di sini saya anggap adegan “drama satu babak” sudah selesai. Saya pun kembali menghidupkan musik dari radio.

Eh, ternyata anggapan saya keliru. Si ibu itu masih berdiri di samping mobilnya dan kembali mengatakan sesuatu sambil tangannya menunjuk ke bawah. Cepat-cepat saya matikan lagi radio di mobil lalu badan agak saya tegakkan. Barulah saya menjadi lebih ngeh lagi, ketika saya dengar ucapan si ibu itu yang menyarankan agar sebaiknya saya membuang sampah di tempat yang telah disediakan, sambil tangannya menunjuk ke arah puntung rokok yang saya buang tadi.

Wooo…., tobil anak kadal!”. Dengan agak blingsatan (salah tingkah karena perbuatan salahnya diketahui orang) terpaksa saya membungkukkan badan, tangan kiri menjulur ke bawah, memungut kembali puntung rokok yang tadi saya jatuhkan dan memeganginya ke atas. Sebentar kemudian si ibu lalu menjalankan mobilnya dan pergi. Kali ini benar-benar komplit rasa malu saya yang semalu-malunya. Padahal tidak ada orang lain melihat adegan itu, tidak juga kedua putri si ibu.

Saya sampai kami-tenggengen (diam terbengong atas apa yang baru terjadi) selama beberapa saat, hingga si ibu pergi meninggalkan tempat parkir. Seperti tidak percaya saya, kok bisa-bisanya ada seorang ibu yang “memaksa” saya mengambil kembali puntung rokok yang sudah saya buang di halaman parkir yang luasnya melebihi lapangan sepak bola.

Saking malu dan kesalnya saya sampai spontan mengumpat : “Ba-jin-dul…..!” (seorang teman di Tembagapura memilih kata ini sebagai kromo hinggil untuk kata “bajingan”, sebab kalau “bajigur” terlalu manis). Entah saya mengumpat kepada siapa, wong di situ ya hanya ada saya seorang diri. Sementara anak-anak dan ibunya masih ada di dalam supermarket.

Setelah terlanjur mengumpat saya baru eling, lha seharusnya kan saya mengucap “Subhanallah” (Maha Suci Allah). Justru oleh seorang ibu yang tidak saya kenal dan tidak saya ketahui apa agamanya, saya diajari dan diberi contoh bagaimana caranya mengamalkan ajaran agama yang saya anut tentang “kebersihan adalah bagian dari iman”.

Ketika si ibu sudah pergi, sebenarnya bisa saja kalau puntung rokok itu saya lepaskan dan jatuh kembali ke pelataran parkir. Namun ada semacam perasaan tidak tega di hati saya untuk merusak “pekerjaan besar” yang baru saja saya lakukan atas petunjuk seorang ibu yang tidak saya kenal di Madison, bahkan mungkin saya tidak akan pernah menemuinya lagi. Puntung rokok itu akhirnya saya masukkan ke dalam asbak yang ada di mobil.

Niat untuk menyalakan batang rokok yang kedua serta-merta saya batalkan. Sambil tersenyum kecut dalam hati saya mencoba merenungkan kembali “pekerjaan besar” yang baru saja saya lakukan. Apakah kejadian itu tadi adalah cermin dari masyarakat Madison yang sangat perduli dengan kebersihan lingkungan kotanya? Kalau “iya“, alangkah indahnya kota ini. Atau, kebetulan saja saya sedang sial ketemu dengan seorang ibu yang “sok bersih lingkungan”?

***

Suatu siang di kota Madison, seorang ibu telah mengajari saya untuk memahami artinya kebersihan. Bahwa kebersihan itu ternyata bukan hanya menyangkut diri kita sendiri atau lingkungan sekitar kita, melainkan juga kebersihan lingkungan orang lain dan termasuk di dalamnya mengingatkan orang lain tentang kebersihan.

Apa sih artinya sebatang puntung rokok kecil di tengah pelataran parkir supermarket yang luasnya lebih dari lapangan sepak bola?. Mbok biar pegawai supermarket saja yang membersihkannya, kalau tidak keburu puntungnya terbawa angin atau air hujan.

Tapi ternyata ibu itu memilih untuk menegur saya dengan cara yang sopan tanpa terkesan melecehkan, agar saya tidak menjadi bagian dari sumber datangnya kotoran-kotoran kecil yang kalau jumlahnya ratusan dapat menimbulkan kotoran yang besar. Sebuah pelajaran berharga yang kiranya dapat diambil hikmahnya oleh siapa saja, dan malah seharusnya patut diteladani.

Ah, tapi apa bisa? Apa mungkin, teladan dari seorang ibu di Madison itu saya terapkan di Pasar Beringharjo, Yogya, misalnya? Apa tidak malah saya yang dienjepi (diberi senyum manis) oleh bakul salak pondoh yang tidak pernah lepas dari tembakau susurnya. Lha, kejadiannya mungkin malah jadi terbalik. Saya yang menegur malah bisa jadi saya yang malu karena dienjepi bakul salak, bakul pecel, kusir andong, tukang becak, kuli pasar, tukang parkir, tukang loak, pedagang kain, copet dan banyak lagi orang-orang lainnya di pasar.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(34).    Menyusuri Ladang Jagung Iowa

Keluar dari kota Madison pada Rabu siang itu, 12 Juli 2000, saya kembali berada di jalan bebas hambatan I-90 menuju ke barat. Sekitar dua jam kemudian, saya tiba di kota La Crosse. La Crosse hanyalah sebuah kota kecil di sisi barat wilayah negara bagian Wisconsin yang berpenduduk sekitar 51.000 jiwa dan terletak pada ketinggian sekitar 195 m di atas permukaan laut. Kota ini terletak persis di pinggir timur sungai Mississippi yang merupakan batas antara wilayah negara bagian Wisconsin dan Minnesota.

Anak saya heran, kok sungai Mississippi juga ada di situ, yang berarti di ujung utara Amerika bagian tengah. Selama ini yang diketahuinya bahwa sungai Mississippi itu adanya di New Orleans, yang berarti di ujung selatan Amerika bagian tengah. Lebih heran lagi ketika saya beritahu bahwa sungai Mississippi yang ada di situ dan di New Orleans itu sama.

Saya sendiri sebenarnya juga baru menyadari bahwa sungai yang ketika di SMP dulu saya hafal namanya sebagai sungai terbesar dan terpanjang di Amerika ternyata memang membelah daratan negara Amerika. Sungai Mississippi bermata air di danau Itasca di kawasan Hutan Taman Nasional Chippewa di sisi utara negara bagian Minnesota dan bermuara di Teluk Mexico di pantai selatan negara bagian Louisiana, atau tepatnya di sebelah selatan kota New Orleans.

Malahan sungai ini sebenarnya tidak melintasi negara bagian Mississippi, kecuali menjadi batas antara negara bagian Mississippi di sebelah timur sungai dan Louisiana serta Arkansas di sebelah barat sungai. Membentang dari selatan ke utara, di sisi timur sungai Mississippi terletak negara bagian Mississippi, Tennessee, Kentucky, Illinois dan Wisconsin. Sedangkan di sebelah baratnya, Louisiana, Arkansas, Missouri, Iowa dan Minnesota.

***

Di kota kecil La Crosse ini saya masuk ke kotanya untuk mencari restoran Cina yang biasanya menyediakan menu nasi. Ya, maklum. Dalam perjalanan panjang semacam ini acara makan tiga kali sehari sering-sering kacau jadwalnya. Agar kekacauan jadwal makan ini tidak berakibat runyam terhadap perut, maka “ganjal” perut mesti mantap. Salah satunya ya diganjal dengan makanan yang mengandung nasi itu tadi. Akhirnya saya temukan juga restoran Cina.

Sambil beristirahat di depan restoran, saya cermati lagi rute perjalanan hari itu yang ternyata masih akan panjang. Saya lalu menghubungi rekan di Columbia, Missouri, via tilpun dan memberitahukan bahwa saya tidak dapat memenuhi rencana semula untuk mencapai Columbia malam nanti, melainkan baru besok siangnya. Saat itu sudah sekitar jam 4:30 sore.

Meninggalkan kota La Crosse, menyeberang sungai Mississippi, saya sudah berada di negara bagian Minnesota yang mempunyai nama julukan sebagai “North Star State” dengan ibukotanya di kota St. Paul. Minneapolis yang terletak berdampingan dengan St. Paul adalah kota terbesar di Minnesota. Tepat di sisi barat sungai Mississippi, saya lalu mengambil exit dan menuju ke jalan State Road (SR) 16 ke arah selatan.

Rute jalan dua lajur dua arah ini akan melintasi wilayah perbukitan menuju ke Taman Negara Forestville/Mistery Cave dengan melewati beberapa kota kecil hingga nantinya tiba di kota Spring Valley. Rute jalan ini memang tidak melintasi pegunungan tinggi dan rute jalannya pun tidak terlalu berkelok tajam, namun di sepanjang rute ini kami temui pemandangan alam sore hari yang cukup enak dinikmati sambil melaju dengan kecepatan sedang.

Di kota Spring Valley yang berpopulasi sekitar 2,500 orang dan terletak pada ketinggian 400 m di atas permukaan air laut, saya berhenti lagi karena anak saya sudah kebelet pipis. Dari kota ini selanjutnya saya menuju ke arah selatan mengikuti jalur jalan lurus Highway 63 (Hwy 63) yang nanti akan membelah wilayah negara bagian Iowa.

Tidak berapa lama kemudian saya tinggalkan negara bagian Minnesota dan masuk ke wilayah Iowa. Negara bagian Iowa mempunyai nama julukan sebagai “Hawkeye State”, dengan ibukotanya di kota Des Moines. Iowa adalah negara bagian ke-28 yang saya kunjungi hingga perjalanan di hari keduabelas ini, setelah sebelumnya melintasi negara bagian Minnesota.

Menyebut nama Iowa, maka umumnya orang Amerika akan mengaitkan nama itu dengan produksi biji-bijian, terutama jagung dan kacang tanah. Iowa memang terkenal kaya akan hasil pertanian dan peternakannya. Tidak mengherankan, jika melihat bahwa 93% dari wilayah Iowa ini merupakan areal pertanian dan peternakan.

Masyarakatnya yang tinggal di perkotaan hanya sekitar 45% saja, selebihnya tinggal di wilayah pedesaan. Bandingkan dengan rata-rata penduduk Amerika adalah 80% yang tinggal di perkotaan. Maka sudah umum dan bahkan menjadi kebanggan di sebagian kalangan masyarakat Iowa (yang disebut Iowan) untuk hidup dan bermata pencaharian sebagai petani.

Secara nasional, Iowa adalah produsen utama jagung, padi dan daging babi bagi Amerika. Bahkan produksinya juga mensuplai kebutuhan dunia. Dari hasil peternakannya, Iowa merupakan penghasil telur kedua tertinggi di Amerika. Tahun 1999 yang lalu Iowa menghasilkan 512 juta telur. Jika jumlah penduduk Iowa pada tahun yang sama sekitar 2.869.000 orang, maka rata-rata setiap tahun orang Iowa “bertelur” lebih dari 178 butir. Bukan main banyaknya telurnya orang Iowa ini!

Karena itu ada anekdot, melihat produksi telurnya ditambah produksi sosis dan daging babi yang mensuplai kebutuhan Amerika, maka mestinya negara bagian Iowa ini lebih pas dijuluki sebagai “Breakfast State”.

Di Amerika, yang disebut petani adalah petani pemilik dan sekaligus penggarap (tanah atau ternak). Agak berbeda dengan sebutan petani di Indonesia, yang seringkali masih disebut lagi menjadi petani kecil atau peternak besar yang berkonotasi sebagai golongan ekonomi lemah atau ekonomi kuat. Belum lagi, di Indonesia ada sebutan petani pemilik (tanah) dan petani penggarap (tanah).

Hal ini mengingat bahwa di Indonesia ini sangat banyak orang yang memiliki tanah pertanian di mana-mana tanpa pernah sedikitpun pernah menyentuhnya, bahkan terkadang melihat lahannya pun belum pernah. Di sisi lain ada petani yang pekerjaannya hanya menggarap tanah pertanian milik orang lain tanpa pernah memiliki lahan sendiri. Kalaupun punya tanah, luasnya tidak seberapa.

Kalau di Iowa, rata-rata seorang petani memiliki lahan pertanian seluas sekitar 139 ha, maka di Indonesia kebanyakan petani hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 ha. Saya kurang tahu angka persisnya untuk petani tanaman pangan, namun sebagai gambaran sekitar 50% petani tanaman hortikultura adalah pemilik lahan kurang dari 0,5 ha.

Karena itu ada perbedaan kebanggaan antara sebutan petani di Amerika dan Indonesia. Kalau di Amerika disebut petani, maka ia benar-benar seorang petani professional yang identik dengan orang desa yang ahli bertani (termasuk berternak) dan (biasanya) kaya. Kalau di Indonesia disebut petani maka ada beberapa kemungkinan, antara lain : Pertama, petani kecil yang mempunyai lahan terbatas dan hasilnya pas-pasan (malah seringkali tekor) buat menyambung hidup. Kedua, petani penggarap yang tidak memiliki lahan tetapi memperoleh upah atau pembagian tertentu dari hasil tanah yang digarapnya.

Ketiga, petani pemilik tanah yang sama sekali tidak tahu soal-menyoal pertanian tapi kalau dilapori hasil panennya tidak memuaskan suka sekali menyalahkan pemerintah, cuaca, hama, penggarap atau tetangganya yang suka menutup saluran air atau malah membanjiri sawahnya dengan air.

Agaknya pemerintah menjadi pihak yang paling “enak” untuk disalahkan. Terlebih di era reformasi yang “tidak reform-reform” ini, saat mana para oknum pemerintah jadi kelewat asyik dengan soal-soal besar sehingga soal-soal kecil menjadi terabaikan. Bisa saja para oknum pemerintah itu tidak sependapat dengan penilaian ini, tapi siapa yang mendengarkan teriakan petani-petani kecil yang tak berdaya menerima kenyataan harga padinya jatuh karena ternyata harga beras impor lebih murah.

Atau, petani kecil yang kebingungan memilih pestisida yang asli karena saking banyaknya pestisida aspal (asli tapi palsu) yang beredar. Kalau sudah demikian, apa ya masih tega untuk “berhalo-halo” di depan petani kecil lalu bicara soal intensifikasi dan swa-sembada pangan. Alih-alih mikir tentang ekstensifikasi, mendingan tanahnya dijual buat naik haji.

***

Itulah negara bagian Iowa yang sore itu saya lintasi dari ujung utara menuju ke ujung selatan melalui jalan Hwy 63. Rute sepanjang 74 mil (118 km) dari kota Spring Valley menuju Waterloo merupakan jalur jalan raya yang lurus utara-selatan. Rute ini melintasi banyak persimpangan jalan-jalan kecil, melewati beberapa kota kecil yang sepi yang berpopulasi beberapa ribuan saja, selebihnya adalah areal pertanian dan beberapa areal peternakan.

Di sana-sini terdapat bangunan-bangunan silo (tempat penyimpanan hasil pertanian) yang bentuknya seperti silinder cerobong asap. Sekitar jam 18:30 melintasi rute ini, saya masih melihat petani yang membajak lahan tanahnya. Tidak menggunakan jasa kerbau tentunya.

Seluas mata memandang di bawah cuaca sore yang sangat cerah, hanyalah ladang-ladang jagung di sebelah menyebelah jalan membentang di wilayah dataran rendah yang nyaris tak tampak adanya perbukitan. Sebenarnya pemandangan yang membosankan. Namun menjadi terasa khas karena pemandangan semacam ini belum pernah saya jumpai di wilayah-wilayah lain di Amerika.

Inilah ladang-ladang jagung Iowa yang pada tahun 1997 ada seluas 4,9 juta ha ladang berhasil dipanen. Kalau ditambah dengan 4,2 juta ha ladang kacangnya, maka total semuanya menjadi sekitar 9,1 juta ha ladang jagung dan kacang yang berhasil dipanen (sekitar 63 %) dari 14,6 juta ha luas seluruh wilayah Iowa.

Untuk sekedar tambahan ilustrasi (bukan pembanding) : Indonesia yang luas wilayahnya lebih 191,9 juta ha, tahun lalu panen jagung, kacang dan padi mencapai lahan hampir seluas 15,9 juta ha (sekitar 8% dari luas wilayahnya).

Senja telah menjelang saat saya tiba di kota Waterloo pada sekitar jam 20:00. Sejenak saya berhenti di kota ini untuk sekedar membeli makanan kecil sambil beristirahat. Setelah itu perjalanan panjang hari itu saya lanjutkan dengan masih mengikuti jalan Hwy 63 ke arah selatan, melewati sedikit kota-kota kecil lainnya.

Ladang-ladang jagung masih membentang di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan, meskipun kini sudah tidak terlalu nampak jelas di tengah keremangan senja. Saya merencanakan untuk bermalam di kota mana saja yang sekiranya enak untuk disinggahi. Anak-anakpun setuju, karena memang selama melintasi Iowa tidak akan menemui daerah perkotaan yang ramai. (Bersambung).

Yusuf Iskandar