Posts Tagged ‘maaf’

Selamat Idul Fitri 1429H

2 Oktober 2008

Menghaturkan :

“Selamat Idul Fitri 1429H — Mohon Maaf Lahir Batin”

Istirahat sejenak
introspeksi diri
sempurnaan ibadah
setelah itu melanjutkan perjalanan menjelajah pelosok bumi
mencari inspirasi
mengagungkan asma-Nya
mensyukuri nikmat-Nya

kemudian
jalan-jalan lagi
makan-makan lagi

semoga kita semua adalah hambanya yang pandai bersyukur
dan mampu belajar atas ayat-ayat-Nya.

Yogyakarta, 1 Oktober 2008 (1 Syawal 1429H)
Yusuf Iskandar

Iklan

Sepenggal Doa Di Hari Fitri

27 September 2008

Catatan Pengantar :

Dua buah tulisan di bawah ini adalah tulisan lama saya yang saya tulis dua tahun yll. Karena saya pikir isinya masih pas, dan (yang lebih penting) saya ingin merenungkannya kembali. Maka semoga ada setitik hikmah yang bisa dipetik. Disertai ucapan tulus :

“Selamat Idul Fitri 1429H – Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Wassalam.

Yogyakarta, 27 Setember 2008 (27 Ramadhan 1429H)
Yusuf Iskandar

——-

Sekian lama sekian tahun, saya sempat midar-mider numpang lewat, hingga akhirnya suatu kali berkesempatan singgah dan menjelajah negeri jiran yang bernama Singapura. Saya pernah nyinyir nggrundel sendiri, Singapura itu sebuah pulau yang jelas-jelas tidak punya apa-apa tapi sepertinya apa-apa punya. Pengurus pulau sak uplik itu telah berhasil mengamalkan sebuah titah agar mendayagunakan ilmu pengetahuan semaksimal-maksimalnya demi kesejahteraan umat manusia penghuninya. Dari sudut pandang (sempit) ini, saya merasa bahwa pengelola pulau itu ternyata kok ya lebih islami daripada saya (sebut saja “saya”) yang seprana-seprene cuma piya-piye saja…..

Kita ini (maksudnya, saya bersama segenap tetangga saya dan Sampeyan semua), baru kecopetan dompet plus kartu-kartu utang saja sudah lenger-lenger. Baru terkena cobaan hidup kecil saja sepertinya merasa dunia sudah tidak berpihak kepada kita. Apalagi ketimpa musibah besar, kontan nelangsa seperti dunia tiba-tiba kiamat, merasa paling kasihan sedunia, paling tidak berdaya, paling miskin dan tidak punya apa-apa lagi.

Padahal yang terakhir itu amat dekat dengan kekufuran (begitu agama saya mengajarkan). Sedangkan kalau sudah telanjur kufur (lawan dari syukur), maka itu adalah tanda-tanda awal dari cilakak duabelas dunia wal-akhirat.

Ketika sedang jatuh lalu tertimpa tangga, padahal sedang sakit gigi dan ingat cicilan rumah sudah ditogah-tagih saja sama bank, pas mau bangkit ndilalah tangannya mencekal telek lencung……. Uh! Dunia seperti gelap bin gulita….., tidak punya apa-apa lagi, tidak berdaya-upaya, boro-boro sisa tabungan buat modal. Mau bayar zakat pitrah saja berat rasanya, kepala berbintang-bintang. Padahal tahun lalu masih bisa menyisihkan sedikit zakat maal (bukan mall), meskipun hitungannya diminim-minimkan agar tidak kebanyakan.

Mak deg…! Mungkin benar, tampaknya tidak punya apa-apa lagi. Padahal mestinya kita masih punya hati dan ilmu. Sebuah kekayaan, sebuah “apa-apa” yang menurut Sang Maha Pemberi Apa-apa adalah bekal untuk bangkit, berpikir dan bekerja, terus dan terus tiada henti.

Mak deg…! Kenapa tidak mencoba untuk berperilaku islami seperti pengelola pulau Singapura dalam mendayagunakan ilmunya. Merubah dari yang tidak punya apa-apa menjadi apa-apa punya. Paling tidak, ruh dan semangat untuk apa-apa punya tetap tumbuh, sehingga yakin bahwa dunia tetap berpihak kepada kita. Hanya ilmunya yang perlu dipelajari dan dipikiri, dan itu adalah titah Sang Khalik. Tidak diperlukan sertifikat S1, S2 atau S3 untuk bisa mempelajari dan memikiri hal semacam itu.

***

Sebulan ini kita sudah menceburkan diri ke dalam kawah candradimuka (karena candra Ramadhan ada sebelum candra Syawal, kalau Ramadhan sesudah Syawal namanya candradibelakang). Ada yang sebulan penuh dan ada yang sebulan kurang sehari tapi tetap saja dibilang sebulan penuh, kita menempuh beraneka ria mata ujian ulangan setiap tahun, siang dan malam, pendeknya duapuluh empat jam non-stop, berlapar-lapar, berhaus-dahaga, berngantuk-ngantuk, ngempet semburan nafsu liar, mengkaji ayat-ayat kauliyah dan kauniyah, dan ber-mu’amalah dalam kesalehan. Dalam lapar dan “pura-pura” miskin, dalam kebodohan dan “pura-pura” tidak punya apa-apa dan tidak berdaya apa-apa. Itupun kita bisa (bagi yang berniat untuk bisa, sebab ada yang memang tidak berniat untuk bisa). Padahal sendiri saja, tidak bersama, karena ini memang urusan pribadi antara kita dan Sang Pencipta.

Maka faktanya adalah, ketika kita sedang “apa-apa punya”, ternyata kita sanggup untuk “tidak punya apa-apa”. Jadi betapa kita ini sebenarnya bisa menjadi lebih singapura ketimbang Singapura. Wong kita punya hati dan ilmu. Sementara hati dan ilmunya persis sama plek.

***

Duh, Gusti Allah….., tolong Panjenengan berkati para pemimpin dan pengurus tanah kami. Bantu kami menyingkap hijab (tabir) yang menghalangi pandangan kami, agar kami semua ngeh, bahwa tanah kami ini sesungguhnya apa-apa punya. Terangi hati dan pikiran kami, agar kami mampu membedakan mana minyak dan mana emas, mana lumpur panas dan mana telek lencung hangat, mana asap dan mana parsel, mana menolong dan mana menyolong, mana sapaan mesraMu dan mana teguran kerasMu….. 

Duh, Gusti Allah….., di hari yang fitri ini (maap Gusti, bukannya saya mau ikut-ikutan kalau hari fitri saya adalah Senin 23 Oktober 2006, tapi itu juga menurut ilmu yang Panjenengan ajarkan…..). Semoga Engkau mengelompokkan kami ke dalam gerombolannya orang-orang yang mudik rame-rame menuju ke ranah kesucian dan kemenangan.

Agar kami tidak menjadi buta, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah buta, yang dibutakan oleh silau-gemerlapnya dunia.

Agar kami tidak menjadi bodoh, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah bodoh, yang dibodohkan oleh kesombongan seakan-akan kami tidak butuh siapa-siapa.

Agar kami tidak lemah, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah lemah, yang dilemahkan oleh ketidak-mau-tahuan kami bahwa sesungguhnya negeri kami ini negeri yang apa-apa punya.

Duh, Gusti Allah….., kabulkanlah doa kami. Engkau kabulkan sedikiiiiit saja dulu, kami sudah bersyukur kok, sisanya tolong disusulkan…… Amin.

PS :
Selamat Idul Fitri 1427H
Mohon Maaf Lahir & Batin

Yogyakarta – 23 Oktober 2006 (1 Syawal 1427H)
Yusuf Iskandar

Keramahtamahan Amerika

28 Februari 2008

Sekali waktu saya mencoba menghitung berapa banyak kata “terima kasih” dan “maaf” yang saya ucapkan per hari, mulai saat bangun tidur pagi hari hingga menjelang tidur malam hari. Hasilnya? Rata-rata tidak lebih dari 10 kali. Malah seringkali hitungan angkanya di bawah 10 untuk ucapan “terima kasih” dan di bawah 5 untuk ucapan “maaf”.

Ketika pertanyaan yang sama saya bandingkan dengan ketika saya tinggal di Indonesia, ternyata hasil hitungan angkanya lebih kecil lagi. Artinya, lingkungan di Amerika memang menuntut saya (atau siapapun juga) untuk lebih membiasakan diri mengucapkan kedua kata itu.

Saya justru kaget sendiri, ketika lingkupnya saya persempit di lingkungan keluarga saya sendiri. Ternyata kedua kata itu menjadi barang langka, nyaris jarang terdengar diucapkan. Kalau demikian, lalu timbul pertanyaan di hati saya : Apakah keluarga saya ini termasuk keluarga yang tidak pernah berbuat salah sehingga antar anggotanya tidak perlu saling mengucapkan kata maaf?. Ataukah keluarga saya termasuk keluarga yang tidak bisa berterima kasih antar sesama anggota keluarganya?

***

Dalam keseharian saya di Amerika, sering saya jumpai seseorang mengucapkan kata “terima kasih” ketika dia hampir ketinggalan hendak naik lift dan orang-orang yang lebih dahulu ada di dalam dengan suka rela kembali membuka pintu lift mempersilahkannya masuk.

Seorang lainnya berterimakasih ketika diberi jalan menyusuri lorong-lorong rak atau almari di dalam pertokoan. Seorang ibu berterimakasih kepada anaknya yang mengambilkan sebuah barang belanjaannya yang jatuh dari kereta belanja. Hampir setiap orang merasa perlu berterimakasih ketika ditanyakan tentang kabarnya.

Atau, seseorang mengucapkan kata “maaf” ketika usai membuka pintu masuk ke sebuah ruangan, dia lupa ketika melepaskan daun pintu begitu saja dan tidak memudahkan jalan bagi orang lain di belakangnya yang juga hendak masuk ke ruangan yang sama.

Seseorang meminta maaf ketika tanpa disadarinya dia berdiri menghalangi jalan orang lain. Seorang ibu meminta maaf kepada anaknya ketika barang belanjaannya secara tidak sengaja menyenggol kepala anaknya, padahal bukan salah sang ibu.

Itu semua sedikit contoh yang saya jumpai dalam keseharian saya di Amerika, untuk sekedar membandingkannya dengan yang biasa saya jumpai di Indonesia, dimana kejadian-kejadian semacam itu nampaknya dianggap sebagai hal yang lumrah-lumrah saja yang memang sewajarnya terjadi. Tanpa perlu basa-basi dengan kata-kata “terima kasih” atau “maaf”.

Sekedar contoh sebaliknya (yang kedengaran ekstrim, tapi nyata), ketika ada seorang anak tanpa sengaja menabrak emak-nya yang sedang asyik tawar-menawar dengan bakul kain di pasar. Apa kata emak-nya?. “Ooo…..matane ora
ndelok-ndelokke..
.” (matanya tidak lihat-lihat). Padahal emak-nya yang keasyikan sehingga berdiri menghalangi jalan orang lain.

Atau, orang tua yang menyuruh anaknya menutup pintu. Setelah pintu ditutup, ya sudah. Tanpa perlu kata-kata terima kasih. Layaknya menjadi satu segmen kehidupan yang memang semestinya orang tua menyuruh anaknya dan sudah sepatutnya sang anak patuh.

***

Maka ketika saya ingat lagi pertanyaan yang muncul dalam hati saya tadi, apakah keluarga saya ini termasuk keluarga yang tidak pernah salah atau keluarga yang tidak pernah berterima kasih, saya merasa “agak” lega dan terhibur. Sebab ketika pertanyaan yang sama saya coba proyeksikan kepada keluarga lain tetangga-tetangga saya di Indonesia, ternyata sebenarnya saya berada pada “level” yang sama dengan kebanyakan keluarga di Indonesia.

Hah? Ternyata saya tidak sendirian. Apakah memang demikian senyatanya? Kedengarannya subyektif. Atau, jangan-jangan saya hanya mencari pembenaran atas kesalahan kolektif bersama lebih 200 juta keluarga tetangga saya?

Kejadian-kejadian di atas hanyalah sepotong cermin yang saya temukan di tengah kultur Amerika. Cermin yang nyaris tidak pernah memantulkan bayangan sisi baik budaya Amerika ke desa saya di katulistiwa sana.

Herannya, justru budaya-budaya yang tidak cocok malahan dibawa masuk (bukan cuma dipantulkan) untuk ditiru dan diterapkan. Lebih celaka lagi, ternyata kita lebih permisif terhadap budaya-budaya yang (sebenarnya) tidak cocok itu.

***

Budaya berbasa-basi (katakanlah itu demikian, atau taruhlah dilakukan dengan tanpa ketulusan) untuk mengucapkan kata “terima kasih” atau “maaf”, bagaimanapun juga adalah satu sisi positif dari keramahtamahan Amerika yang pantas untuk dijadikan bahan introspeksi kolektif di antara kita. Padahal Amerika tidak pernah meng-claim dirinya sebagai bangsa yang ramah, (maaf) tidak sebagaimana kita. Apalagi sampai mem-penataran-kannya atau malah menjadikannya sebagai mata pelajaran di sekolah.

Bukannya keramahtamahan itu tidak penting, melainkan anak-anak bangsa kita kurang melihat contoh perilaku keramahtamahan yang ditunjukkan oleh para orang tua mereka. Keramahtamahan dalam perspektif yang tidak sempit, tidak picik, tidak lemah, tidak buta, tidak tiran dan tidak sak geleme dhewe (semaunya sendiri), yang oleh orang Islam disebut sebagai akhlaqul karimah (budi pekerti luhur atau tingkah laku terpuji). Dan, termasuk dalam akhlaqul karimah adalah dengan ketulusan mengucapkan kata-kata “terima kasih” dan “maaf”.

Bahkan disebutkan bahwa orang yang meminta maaf terlebih dahulu (entah dia salah atau benar) mempunyai derajat yang lebih mulia ketimbang orang yang dimintai maaf. Indah sekali suratan itu, kalau saja dapat diwujudkan dalam keseharian kita. Mudah-mudahan.-

New Orleans, 19 Mei 2001
Yusuf Iskandar

Dimanakah Keramahtamahan Itu?

26 Desember 2007

Suatu sore di sebuah restoran di Terminal A bandara Cengkareng. Seorang bule membeli sekaleng minuman ringan. Setelah dibayar lalu duduk dan siap menarik tuas pembukanya. Namun tiba-tiba diurungkan. Sang bule berdiri dan kembali ke kasir tempat dimana dia membayar dan menerima sekaleng minuman tadi, lalu bercakap dengan pelayan yang berdiri di sebelah kasir.

Sang bule menunjuk-nunjuk tuas dan bagian tutup kaleng minuman yang dibawanya. Entah apa yang dikatakannya, tapi dari mimiknya terlihat dia komplain atas sekaleng minuman itu. Sang pelayan yang menerima komplain terlihat mencermati dengan seksama bagian kaleng yang ditunjuk-tunjuk sang bule.

Sekian detik kemudian, sang pelayan hanya berkomentar pendek : “Oh…!”, nyaris tanpa ekspresi, tanpa menatap wajah sang bule, lalu ngeloyor berbalik tanpa permisi sambil membawa kaleng yang dipermasalahkan sang bule.

Tidak lama kemudian sang pelayan kembali menemui sang bule dengan membawa sekaleng minuman. Disodorkannya sekaleng minuman sebagai pengganti yang tadi. Juga nyaris tanpa ekspresi, tanpa menatap wajah sang bule dan tanpa sepatah katapun diucapkannya. Agaknya, sang bule puas dengan penggantian kaleng minuman yang dibelinya, dan kemudian berjalan menuju tempat duduknya semula.

***

Saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun mencermati adegan pantomim satu babak itu saya bisa menangkap bahwa ada yang tidak beres dengan sekaleng minuman yang dibeli sang bule, lalu komplain dan minta ganti.

Tinggal membekas di pikiran saya, bagaimana mungkin kejadian tadi berlangsung begitu cepat, tanpa basa-basi sepatah dua patah kata, tanpa ekspresi penyesalan atau keramahtamahan. Lebih mengherankan lagi, tanpa senyum secuilpun, apalagi sepotong. Semakin parah lagi, tanpa kata-kata maaf atau terima kasih. Semakin saya tidak habis pikir, kasir yang berdiri di samping sang pelayan pun cuek-bebek seperti tidak pernah terjadi apa-apa di sampingnya, padahal dia tidak sedang melayani siapapun.

Dimanakah keramahtamahan itu?

Taruhlah sang pelayan tidak paham omongan coro londo yang sedang diucapkan oleh sang bule, tapi setidaknya pasti pahamlah kalau sang bule sedang komplain. Kalau ada komplain pasti karena ada sesuatu yang dianggap tidak seharusnya. Tidak terpikirkah untuk sedikit berbasa-basi minta maaf, lalu mengucapkan terima kasih sesudahnya. Toh sang pelayan ini seorang gadis. Sejelek-jeleknya paras gadis Indonesia ini rasanya masihlah terlihat manis kalau tersenyum, apalagi kalau mau agak dimanis-maniskan sedikit. Lain halnya kalau pelayannya merangkap satpam berkumis tebal, itu pun masih manis juga kalau tersenyum.

Kelihatannya kejadian seperti ini bukan kali ini saja terjadi. Di banyak tempat, di banyak waktu yang berbeda, konon kabarnya kejadian semacam ini banyak dijumpai. Pelit kata “maaf”, pelit kata “terima kasih”, pelit senyum. Padahal kejadian semacam itu bukanlah sebuah kesalahan yang teramat fatal, bukan juga peristiwa memalukan. Tapi karena solusinya tidak manis (dan tidak ramah), maka kesan yang dibawa pulang oleh sang bule bisa jadi adalah kenangan tidak manis yang akhirnya meninggalkan kesan tidak menyenangkan pula.

Memang kita tidak boleh menggeneralisir bahwa seperti itulah keramahtamahan yang kita miliki. Tapi kejadian itu setidaknya bisa menjadi cermin. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, malu rasanya jika ingat keramahtamahan yang saya temukan pada keseharian bangsa lain, di negara lain, tapi pasti bukan di Republik Mimpi.

Karena nila setitik, jangan-jangan rusak susu se-genthong. Pupuslah harapan untuk layak dipertahankannya predikat bangsa yang ramah. Apalagi kalau bagi sang bule hari itu adalah hari terakhirnya di Indonesia. Maka kesan terakhir itulah yang akan terus dikenang oleh sang bule, entah wisatawan, entah pelaku bisnis, entah pekerja ilegal.

Sekilas kejadian yang barangkali tidak berarti apa-apa. Tapi entah kenapa kok begitu melekat di ingatan saya. Barangkali saya terlalu khawatir, kalau ada yang tanya : “Dimanakah keramahtamahan itu?”. Maka terpaksa saya harus menjawab : “Tertinggal di buku bacaan wajib Sekolah Dasar…..”, yang wajib dibeli dengan harga wajib mahal pula. Sementara itu tidak wajib dibaca, tidak wajib diamalkan, apalagi wajib diberi teladan…..

Yogyakarta, 28 Mei 2007
Yusuf Iskandar