Posts Tagged ‘lombok’

Menggapai Matahari Baru 2010 Di Puncak Rinjani

7 Januari 2010

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan Sekalian Alam, bahwa akhirnya saya dan sahabat kecilku (Noval, 15 th) berhasil mencapai puncak gunung Rinjani (3726 mdpl) di Lombok, NTB, menggapai matahari baru pada pagi hari tanggal 1 Januari 2010.

Rencana awal kami memang akan melakukan duet pendakian ke puncak Rinjani, namun akhirnya pada hari terakhir sebelum berangkat menuju titik awal pendakian di Sembalun, Lombok Timur, bertambah dengan bergabungnya tiga pendaki dari Jakarta, yaitu : Insan (28 th), Angga Triangga (26 th) dan Ari Permana (19 th), yang masing-masing tiba di Mataram dalam waktu terpisah. Maka jadilah kami sebuah tim 5 pendaki yang masing-masing baru saling ketemu dan kenal.

Pendakian menuju puncak Rinjani sungguh merupakan perjalanan panjang yang sangat melelahkan dan menguras energi, bahkan sahabat kecilku sempat merasa putus asa ketika harus melalui penggal terakhir menuju puncak. Menempuh lintasan panjang dari Plawangan Sembalun mulai jam 3 pagi, menuju puncak adalah tahap paling berat. Melalui gigir gunung yang berlereng curam, di atas tanah kerikil dan batu vulkanik yang selalu merosot ketika diinjak membuat langkah semakin terasa berat. Angin gunung yang menerpa sangat kuat berlawanan arah juga menghambat gerak maju langkah kami. Udara yang sangat dingin dan oksigen yang menipis semakin menghambat pergerakan kami, sehingga untuk berbicara pun terasa berat. Bekal air yang kami bawa pun nyaris habis sebelum mencapai puncak.

Akhirnya, sekitar jam 6 pagi Noval lebih dahulu mencapai puncak lalu tidak lama kemudian disusul Angga. Saya baru berhasil mencapai puncak sekitar jam 7 pagi, lalu disusul Insan dan Ari. Cuaca pagi itu benar-benar sedang kurang bersahabat. Mestinya kami sudah menyadari hal itu, bahwa pendakian di bulan-bulan sekitar Desember dan Januari memang beresiko terhadap datangnya cuaca buruk yang tak terduga. Matahari baru 2010 tidak secara jelas dapat kami saksikan, sebab kabut dan awan datang dan pergi menyelimuti kawasan puncak Rinjani. Kami tidak mampu bertahan terlalu lama berada di puncak akibat hawa dingin yang begitu menusuk tulang dan terpaan angin yang sangat kuat. Bahkan Noval harus bersembunyi di balik batu demi menunggu saya yang tertinggal dan menyusulnya ke puncak.

Target awal untuk mengumandangkan adzan Subuh di puncak tidak berhasil kami penuhi, melainkan sholat subuh harus kami tunaikan sebelum mencapai puncak mengingat semakin habisnya waktu menjelang matahari terbit. Ini adalah pengulangan seperti yang pernah kami alami 18 tahun yll. ketika itu saya berduet dengan sahabat saya Riyadi Bakri juga terlambat mencapai puncak Rinjani pada tahun 1991.

“Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) adalah kata pertama yang saya ucapkan ketika akhirnya saya berhasil mencapai puncak bersama Noval yang kembali saya bawa naik setelah bersembunyi menunggu saya. Saya bersyukur telah berhasil mengantarkan Noval, anakku dan sahabat pendaki kecilku, ke puncak Rinjani sesuai dengan janji saya sebelumnya kepadanya.

Subhanallah (maha suci Allah), hanya semangat dan kemauan keras saja yang dapat membawaku ke sana. Semangat dan kemauan keras yang sama yang ingin saya tanamkan kepada Noval bahwa seberapa tinggi pun cita-cita yang dia miliki, tidak ada alasan untuk gagal sepanjang terus tertanam semangat dan kemauan keras untuk mencapainya. Berhenti, menyusun strategi, mengevaluasi, menghimpun kekuatan, adalah bagian dari tahapan untuk mencapai tujuan. Tapi tidak menyerah di tengah jalan. Noval bercerita bahwa sebelum mencapai puncak dia sempat merasa putus asa, “kok enggak sampai-sampai dan rasanya semakin berat, padahal puncak sudah kelihatan…”, Namun kemudian dia bisa melawan rasa putus asanya dengan semangat pantang menyerahnya.

Akhirnya, kepada segenap teman dan sahabat yang senantiasa mendukung, memberi semangat, bahkan memonitor situasi Rinjani, serta turut mendoakan perjalanan pedakian kami ke puncak Rinjani, yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu, baik disampaikan melalui media Facebook, SMS, email, blog, dsb, dengan segala kerendahan hati kami menghaturkan beribu terima kasih atas segenap ketulusan dan kebaikannya yang tak ternilai bagi pendorong semangat kami.

Sepanjang perjalanan kami terus berusaha meng-update status kami di Facebook, namun ternyata tidak semua lokasi dapat dijangkau sinyal tilpun seluler. Demikian halnya kami mohon maaf tidak dapat secara langsung menampilkan foto mengingat kami harus menghemat penggunaan battery Blackberry yang kami gunakan  (bahkan kami sudah menyiapkan sebuah battery cadangan) untuk meng-update status di Facebook. Insya Allah, dokumentasi foto-foto akan kami upload di Facebook secara bertahap, demikian pula akan kami usahakan menuliskan catatan perjalanan pendakian ini.

Terima kasih secara khusus saya sampakan kepada mas Insan, mas Angga dan mas Ari, yang telah membuktikan berhasil menjadi teman seperjalanan yang luar biasa dalam pendakian ke puncak Rinjani menyongsong matahari baru tahun 2010, meski sebenarnya kami baru saling bertemu dan mengenal sesaat sebelum memulai pendakian.

Semoga Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati kita semua, dan bahwa keagungan dan kebesaran-Nya tak kan pernah dapat kita ingkari.

Yogyakarta, 4 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Catatan Harian Pendakian Ke Puncak Rinjani (30 Des 2009 – 3 Jan 2010)

6 Januari 2010

Pengantar :

Catatan-catatan pendek ini secara real time (sepanjang ada sinyal) saya infokan melalui status saya di Facebook, meski tidak bisa selengkapnya dengan foto-foto mengingat saya harus menghemat penggunaan battery ponsel.

Hari-1 (30 Desember 2009) :

Mengawali pagi di Sembalun, saat mentari masih enggan bersinar

Damai di langit, damai di bumi Sembalun, subhanallah…

(1)   Bismillah… Kepala Adat Sembalun (Haji Purnipa) memimpin doa memulai pendakian. Maju sehari dari rencana awal.

(2)   Di ujung Desember ku datang padamu
kubimbing kau ke lereng Rinjani
burung-burung kan bernyanyi, alam kan berseri
oh indahnya Rinjani

(Adaptasi dari bait pertama lagunya para pendaki : “Mahameru”)

(3)   Membayangkan sejoli kejar-kejaran di padang ilalang seperti di film-film. Kalau sekarang saya lari-lari di padang ilalang itu karena ada asu (anjing) liar…

(4)   Jam 12:30 WITA tiba di Pos 1, di atas bukit padang ilalang, berkabut, trek pendakian menuju Pos 2 tampak jauh samar-samar di arah baratdaya.

(5)   Menuju Pos 2 (Tengengean) hanya perlu 30 menit, tapi gerimis, kabut tebal. Menuju Pos 3 masih kabut, gerimis, padang rumput & ilalang. Cenderung membosankan.

(6)   Tiba di Pos3 kemarin sudah jam 15:30 dan kehujanan. Rupanya sinyal HP tidak mau ikut naik gunung. Terpaksa kabar tertunda..

7) Pos2 – Pos3 sekitar 1,5 jam, masih padang ilalang, hujan deras, raincoat rupanya tak terbawa. Uh, judulnya : ‘Basah, basah, basah..’

(8) Tiba Pos3 langsung ganti baju dengan yang kering. Untung bawa handuk kecil tukang becak, maka kepala mesti kering dulu, pundak, lutut, kaki, menyusul..

(9) Sudah jam 15:30, basah, dingin, belum makan siang, eh..bekal dibawa teman yang masih tertinggal di belakang, judulnya jadi : ‘Sabar menanti..’

(10) Pos3 dekat aliran air. Sambil menunggu ransum tiba, sholat dhuhur wal-ashar diringkas-gabungkan, berjamaah dengan sahabat kecilku.

(11) Malam pertama di Pos3, cuaca lebih bersahabat, meski tetap dingin, bulan purnama di atas punggungan. Wow, elok nian…

(12) Secangkir STMJ, lalu kata sahabat kecilku: ‘Tiba saatnya PW (posisi woenaak)’, untuk tidur dengan sleeping bag dalam tenda maksudnya…

Hari-2 (31 Desember 2009):

(13) Bangun pagi subuhan enggak bisa wudlu karena sungai mengering, maka kuajak sahabat kecilku utk ber-tayyamum seperti kerupuk.

(14) Syair lagu yang kemarin sepertinya perlu diganti, sebab ternyata tidak ada nyanyian burung di pagi hari. Nampaknya burung-burung pun mlungker kedinginan.

(15) Dari Pos3 ke Plawangan adalah trek terberat hari ini. Baru jalan kurang 1 km perlu 45 menit, nanjak wal-ngos-ngosan..

(16) Tiba Plawangan jam 12:45, menempuh 3 jam lebih sedikit, trek terberat yang bikin frustrasi seperti enggak sampai-sampai, nanjak, gerimis, kabut, air tinggal sedikit..

(17) Di Plawangan (2600 m) nge-camp, simpan tenaga, untuk ‘summit attack’ puncak Rinjani (3726 m) insya Allah dini hari 01-Jan-10

(18) Lintasan terberat itu dikenal sebagai Tanjakan ‘Penyesalan’, mau balik Jogja kok jauh, mau ke puncak tidak jauh lagi tapi buuerat lintasannya

(19) Di Plawangan tidak boleh menyimpan makanan sembarangan, ada gerombolan monyet yang siap mencuri dan merebut jika perlu…

(20) Kami memang akhirnya mendaki tanpa porter. Ajakannya adalah: Keep on the right track. ‘Ora usah neko2, ora kakehan petingsing’, lalu perhatikan (apa) yang akan terjadi.

(21) Berwudlu dengan air dalam botol akua 600 ml, harus cukup dan bisa… Untung sudah punya pengalaman di Mekkah.

(22) Senja di kaki puncak Rinjani. Wow..! Fantastis..! (Maaf belum bisa upload foto demi menghemat battery)

(23) Purnama di Plawangan. Alhamdulillah, langit malam cerah, angin berhmbus lembut, udara begitu dingin. Hoping friendly weather for night walk will be..

Hari-3 (1 Januari 2010) :

(24) Dari kaki puncak Rinjani, kami ucapkan ‘Selamat Tahun Baru 2010’… Angin sangat kencang, suaranya menakutkan, ‘summit attack’ agak ditunda…

(25) Terlambat tahu gerhana bulan juga tampak di Rinjani. Alhamdulillah, sempat menyaksikan sedikit. Padahal langit cerah, tapi angin sangat kencang dan dingin.

(26) Puji Tuhan Walhamdulillah, akhirnya kami berhasil menggapai matahari baru 2010 di puncak gunung Rinjani (3726 m) sekitar jam 7:00 WITA

(27) Rencana jam 1 dinihari menuju puncak dari pos terakhir terpaksa mundur karena angin bertiup kencang dengan hawa dingin yang menusuk tulang, padahal langit cerah

(28) Jam 3 baru mulai night walk. Benar-benar perjalanan yang menguras tenaga, melalui pasir dan batu yang sering merosot kalau diinjak, melawan angin lembah yang sangat kuat.

(29) Sahabat kecilku langsung melejit di depan hingga jam 6 sudah nyampai puncak, sedang bapaknya keteter jam 7 baru nyampai. Faktor ‘u’ (umur) memang tidak bisa dibohongi.

(30) Tidak sempat berlama-lama di puncak. Angin lembah begitu kuat dan dinginnya tak tertahankan. Setelah berfoto (ben ora dikiro ngapusi), langsung turun ke camp.

(31) Menuju puncak Rinjani, perjalanannya membuat frustrasi, 4 jam jalan ngos-ngosan nggak sampai-sampai padahal puncaknya kelihatan. Ketika tiba di puncak: ‘Allahu akbar’…

(32) Dari camp terakhir Plawangan turun ke danau Segara Anak. Perlu waktu 3 jam melalui lereng curam (sayang sinyalnya takut turun…)

(33) Segara Anak bentuknya seperti bulan sabit, gunung Barujari (anak gunung Rinjani) di selatannya. Lanskap ini nampak di awal siaran adzan maghrib Trans7

(34) Senja tiba, cuaca berkabut, angin kuat dan dingin, enaknya berendam di sumber air panas, di balik danau (adegan ulang 19 tahun yll, full sensor…)

Hari-4 (2 Januari 2010) :

(35) Pagi di tepian danau Segara Anak berlatar perbukitan Rinjani, nyruput kopi + (maaf) malioboro... Masya Allah, indah dan nikmatnya…!

(36) Danau, bukit, pohon cemara, tenda, orang mancing dan semburat cahaya matahari… Eksotisme alam yang jangan sampai Anda tidak pernah menyaksikannya…

(37) Gunung Barujari aktif sekali, periodik meletupkan asap meninggi, lava pijar tak berhenti, tubuhnya semakin bongsor dan tinggi (dibanding 19 tahun yll)…

(38) Banyak ikan di Segara Anak. Memancing lalu ikannya dibakar atau digoreng, adalah improvisasi sarapannya pecinta alam (dan saya tinggal makan aja…)

(39) Jam 11 meninggalkan Segara Anak menuju Senaru, kaki utara Rinjani. Insya Allah hari ini adalah etape terakhir pendakian gunung Rinjani.

(40) Mendaki bukit Plawangan Senaru, terjal melewati lereng berbatu, 3 jam mencapai puncaknya. Setelah itu turun terus ke Senaru.

(41) Istirahat bikin teh manis dulu, habis ini langsung turun kebut gunung menuju desa terakhir Senaru. Mudah-mudahan 3-4 jam nyampai agar tidak terlalu kemalaman.

(42) Jam 19:30 ketemu warung di pinggir desa. Rehat makan, lanjut jalan, sampai Senaru jam 21:30. Alhamdulillah, tunai sudah perjalanan panjang 4 hari ini..

(43) Cari penginapan murah agar dapat mandi yang manusiawi (4 hari ini mandi hewani alias adus kucing…). Semalam (ini) di Senaru…

(44) Salah satu yang membanggakan adalah dapat menunaikan sholat berjamaah dengan sahabat kecilku, meski dengan cara dan kondisi darurat, sehingga dia tahu dan langsung praktek…

Hari-5 (3 Januari 2010) :

(45) Pagi di Senaru, menyaksikan siluet Rinjani yang 2 hari yll baru kami capai puncaknya melalui perjalanan yang umumnya orang akan ‘jera’ mengulanginya..

(46) Belum lagi meninggalkan Senaru, sahabat kecilku sudah pesan 2 gunung (dikira pesan onde-onde kale…), Semeru dan Kerinci. Wee.., lha modar maning kiye bapa-ke..

‘Blue lagoon’ of Malimbu, Lombok

(47) Siang ini akhirnya meninggalkan Senaru kembali menuju Mataram, makan durian Lelos, lewat jalur pantai Malimbu dan Senggigi nan elok…

(48) Sahabat kecilku gelisah: masak sudah ke Rinjani mau beli souvenir gantungan kunci saja nggak dapat… Lha memang kebetulan lagi pada out of stock. Waduh…

(49) Menyusuri lintasan pantai Malimbu dan Senggigi, Lombok. Sungguh sebuah Maha Karya yang harus di-masya-Allah-i

(50) Alhamdulillah, akhirnya jam 17 tiba di Mataram. Insya Allah besok pagi terbang kembali ke Jogja. Banyak pelajaran baik/buruk diperoleh sahabat kecilku…

(51) MOHON MAAF banget kalau foto-foto pendakian ke Rinjani sengaja tidak langsung saya upload berhubung harus hemat battery, karena PLN takut naik gunung…

(52) Makan malam balas dendam di Resto ‘Taliwang Irama’, menu ayam taliwang dan karper bakar, plecing kangkung, sayur lubui, beberuk. Wuih, kemaruk tenan

Gunung Rinjani – Lombok, 30 Desember 2009 – 3 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Antara Jogja – Mataram

6 Januari 2010

Transit di Juanda, Surabaya. Nyruput secangkir kopi manis dan sarapan dulu karena tadi pagi berangkat dari Jogja terburu-buru. Belum pernah ada sejarahnya makan di bandara kok enak…

Di bandara Juanda, saya bilang ke sahabat kecilku: “Saya pingin sholat dhuha-e…” (akhiran ‘e’ iki mesti wong Jogja). Jawabnya: “Ya sana sholat..!”. Weee… lha bapaknya malah di-‘sana-sana’-kan..

Sahabat kecilku mendarat di Selaparang, Mataram. Saya yang motret..

Sore gerimis di pelabuhan lama pantai nelayan Ampenan, Lombok

Plecing kangkung khas Lombok… Oedan, dab…

Antara Jogja- Mataram, 29 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Menuju Pendakian Terindah Ke Puncak Rinjani

23 Desember 2009

Pada sekitar pertengahan Desember yll. saya bertanya kepada sahabat kecilku : “Tahun baru nanti mau kemana?”. Pertanyaan ini dipahami oleh sahabat kecilku (Noval, 15 tahun) yang mulai ‘gila’ mendaki gunung yang maksudnya adalah mendaki gunung apa? Tahun baru setahun yll. saya temani sahabat kecilku mendaki puncak Merapi dan tahun baru sebelumnya ke puncak Lawu. Rupanya kali ini Noval belum ada rencana. Ketika saya tanya apakah tahun baru nanti mau muncak? Noval mengiyakan.

Majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi, yang bertajuk “55 Pendakian Terindah” yang barusan saya beli serta-merta saya sodorkan kepada Noval untuk dibacanya. Setelah itu saya beri penawaran : “Pilih satu gunung dan Insya Allah bapak temani untuk mencapai puncaknya pada Tahun Baru nanti, mumpung bapak masih sehat ‘gilanya’. Kecuali puncak Carstensz karena untuk yang satu itu memerlukan persiapan yang sangat khusus dan kita belum siap”. Akhirnya terpilih nominasi antara gunung Semeru atau Rinjani. Setelah kemudian mempertimbangkan tingkat kesulitan, tingkat bahaya dan kondisi cuaca, maka dipilihlah gunung Rinjani di pulau Lombok, NTB. Di balik itu sebenarnya saya bermaksud memenuhi janji saya untuk menemani Noval yang menyimpan obsesi ingin mendaki semua gunung di Indonesia dan mengalahkan bapaknya.

Puncak gunung Rinjani (3.726 mdpl) dapat disebut sebagai puncak tertinggi ketiga di Indonesia setelah Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) sebagai bagian dari pegunungan Jayawijaya di Papua dan gunung Kerinci (3.800 mdpl) di Jambi. Tahun 1995 saya pernah mendaki Carstensz hingga mencapai batas esnya saja. Memang sengaja pendakian itu tidak dimaksudkan untuk mencapai puncaknya mengingat persiapan teknis maupun perlengkapan yang sangat terbatas jika harus mendaki gunung es.

Puncak Kerinci sudah pernah saya capai pada tahun 1995 dalam sebuah pendakian menuju puncak di bawah hujan lebat di tengah belantara Sumatera yang masih menyembunyikan harimau, berdua dengan ditemani seorang gadis sahabat saya Winda. Sedangkan puncak Rinjani pernah saya capai pada tahun 1991 juga berdua dengan seorang sahabat saya Riady Bakri yang kini menekuni hobi fotografi, dan sempat menikmati momen yang begitu menggetarkan hati ketika kami sholat subuh berjamaah menjelang mencapai puncak.

Melalui tulisan ini saya ingin mengenang dan menyampaikan terima kasih disertai penghargaan setinggi-tingginya kepada kedua sahabat saya itu (kalau mereka sempat membaca tulisan ini, terutama Winda yang sekarang entah dimana). Mereka telah membuktikan menjadi teman seperjalanan pendakian yang luar biasa di tengah upaya yang tidak mudah menaklukkan kedua puncak gunung itu menjadikannya sebagai pendakian terindah.

Pendakian ke Rinjani pada tahun 1991 kami tempuh selama tiga hari dengan mengambil rute mendaki melalui daerah Senaru di sisi utara dan turun melalui daerah Sembalun di sisi timur daratan pulau Lombok. Kali ini kami akan mengambil rute sebaliknya yaitu mengawali pendakian dari Sembalun dengan pertimbangan medan pendakiannya relatif landai dan akan turun melalui Senaru yang medannya lebih terjal selama empat hari karena akan menyempatkan untuk mengeksplorasi kawasan danau Segara Anak yang memiliki bentang alam yang sangat eksotis (seperti sering terlihat di awal acara kumandang adzan maghrib stasiun TV7).

Cuaca pada akhir tahun memang selalu kurang menguntungkan bagi pendaki gunung karena bersamaan dengan datangnya musim penghujan. Oleh karena itu kemungkinan terburuk harus sudah kami antisipasi termasuk jika harus gagal mencapai puncak ketika cuaca tiba-tiba berubah sangat ekstrim. Kerugian lain adalah kemungkinan tidak dapat menikmati pemandangan indah di puncak gunung akibat tebalnya awan, kabut atau malah hujan lebat. Situasi terburuk itu sangat kami sadari peluang terjadinya, termasuk biaya yang tidak sedikit Jogja – Lombok pp.

Oleh karena itu sambil bercanda tapi serius, saya bilang kepada Noval : “Kita memang akan mendaki Rinjani hanya berdua, tapi kita memohon kepada Sang Maha Pemilik Rinjani agar bersedia menjadi pemimpin pendakian. Maka mulai sekarang juga kita jangan berhenti berdoa agar rencana pendakian kita berjalan lancar dan cuaca pun cerah”.

Di balik semua rencana pendakian ini sebenarnya saya menyimpan misi khusus. Sebagai seorang ayah, saya akan menjadikan perjalanan pendakian ini sebagai media untuk mengajari Noval tentang kehidupan dan perjuangan hidup. Kedengarannya seperti ambisius. Tapi memang benar, lebih baik ambisius tetapi didahului dengan pematangan gagasan dan pemikiran, rencana aksi, strategi pencapaian dan pemahaman dalam pelaksanaannya, dari pada ambisius tapi tanpa bekal apa-apa seperti orang-orang yang sering kita lihat bergaya di televisi atau di koran-koran akhir-akhir ini.

Bagi mereka yang tidak suka dengan kegiatan ngoyoworo (membuang-buang waktu) seperti mendaki gunung ini mungkin akan berkata bahwa lebih baik biaya besar yang digunakan untuk mendaki gunung disalurkan kepada mereka yang lebih membutuhkan (mohon maaf, tak endhas-endhasi wae….). Jangan khawatir, untuk yang terakhir itu kami sudah mengalokasikan anggarannya tersendiri, dan sisanya baru dipakai untuk mendaki gunung (sisa tapi jumlahnya lebih banyak…..).

Kini saya ingin mengajak sekaligus mengantarkan sahabat kecilku yang adalah anak lelaki saya menuju ke puncak Rinjani mengawali hari baru tahun 2010. Semoga akan menjadi pendakian terindah bagi Noval, sahabat kecilku, dan mengulang salah satu pendakian terindah yang pernah saya lakukan 18 tahun yll.

Tertarik Bergabung?

Jika ada pembaca tulisan ini yang berminat bergabung melakukan pendakian ke puncak Rinjani bersama-sama dengan saya dan sahabat kecilku, silakan menghubungi saya di alamat email dan no. HP di bagian bawah. Siapkan perlengkapan pendakian Anda, sedangkan untuk transportasi lokal dan konsumsi selama pendakian silakan bergabung dengan kami tanpa biaya. Kami tunggu di Mataram, NTB, hingga tanggal 30 Desember 2009 pagi karena siangnya kami akan meluncur menuju desa terakhir di Sembalun, Lombok Timur.

Jika tidak ada aral melintang, rencana pendakian kami kira-kira sbb.:

31-Des-09 pagi : Memulai perjalanan menuju Plawangan Sembalun.

01-Jan-10 dini hari : Menuju puncak (summit attack) dan langsung turun ke danau Segara Anak.

02-Jan-10 pagi : Meninggalkan danau Segara Anak melalui Plawangan Senaru.

Saya akan berusaha mem-posting status perjalanan saya di Facebook, sepanjang ada sinyal dan battery tidak drop. Hidup pendaki gunung…..! (Email : yiskandar_2000@yahoo.com; HP. 08122787618).

Yogyakarta, 23 Desember 2009
Yusuf Iskandar