Posts Tagged ‘lion air’

Dagelan Di Atas Ketinggian

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan kemarin, sambil masih terkantuk-kantuk, sayup-sayup terdengar pemberitahuan: “Awak kabin segera akan membersihkan sisa makanan dan minuman di kursi Anda..”. Terang saja saya jadi terjaga, karena setahu saya tadi tidak ada pembagian konsumsi di pesawat, atau jangan-jangan karena saya tertidur lalu tidak diberi suguhan.

Setelah tolah-toleh, ya memang tidak ada pembagian konsumsi. Ah, dasar.., dagelan di atas ketinggian lebih 30000 kaki, ala Lion Air.

Samarinda, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Bandara Sepi…

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan, mbak pramugari Lion Air JT 670 jurusan Jogja – Balikpapan, memberitahu: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara sepi…..”. (Lho, ada apa kok bandaranya sepi, pikirku penuh tanda tanya). Sejenak kemudian diulangi: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan”…. Wooo, mbak pramugarinya tersedak to… Tersedak saja kok milih yang sepi…

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Menembus Angkasa Berharap Keberkahan

9 Oktober 2010

Pagi berawan…. Tuhan, perkenankan hambamu menembus angkasa Jogja menuju Balikpapan (tapi numpang pesawat Lion Air). Berharap meraih keberkahan. Sebab Engkaulah sebaik-baik Yang Maha Mendaratkan… (anta khoiru munzilin).

Yogyakarta, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pesawat Tanpa Nomor Kursi 13 Dan 14

29 September 2010

Penerbangan siang Surabaya-Jogja dengan Lion Air dilayani dengan pesawat baling-baling ATR 72-500 kapasitas 72 penumpang. Uniknya, moda angkutan AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) yang mengambil trayek Surabaya-Jogja-Bandung pp. yang masih terlihat baru ini tidak memiliki no kursi 13 dan 14, setelah no 12 langsng 15. Seolah mengisyaratkan tidak ingin sial (perlambang dari 13) dan tidak mau mati (perlambang dari 14). Aneh tapi nyata.., lha ini di Indonesia.

Yogyakarta, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Pak Satpam Bandara

18 Februari 2010

Boarding belakangn, rada sepi. Seorang Satpam tiba-tiba mendekat dan berkata pelan: “Rokoknya pak”.
Karena saya rasa kata-kata ini aneh, sy balik tanya memastikan: “Apa pak?”.
Pak Satpam menjawab: “HP-nya tidak ketinggalan pak?”.
Spontan saya jawab: “Oo tidak pak”.

Sambil berjalan menuju pesawat saya berpikir: “Kok sepertinya aneh!”. Sesaat kemudian baru saya ‘ngeh’. …”Eee… alah, pak Satpam, pak Satpam…, caramu kurang manis utk mengharap kebaikan org lain…”.

(Peristiwa ini terjadi di bandara Adisutjipto, Yogyakarta, Gate 1, sewaktu boarding Lion Air menuju Jakarta)

Jakarta, 17 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Kembali Ke Jogja

14 November 2009

Rupanya Batavia Air punya pesawat baru berbadan lebar alias gemuk, Airbus A330, untuk jurusan Medan – Jakarta, seperti yang saya tump angi tadi siang. Good, good, kemajuan untuk Batavia Air…

Tapi rupanya tiket sambungannya ke Jogja sudah disiapkan untuk jam terakhir. Untung sudah ‘berpengalaman’ klontang-klantung di bandara…

(Cuaca pagi agak mendung ketika pesawat Batavia Air meninggalkan bandara Polonia, Medan. Setiba di Jakarta siang hari, saya sempatkan meluncur dulu ke kota Jakarta berjumpa dengan seorang teman di Pacific Place sambil makan siang. Kemudian kembali ke bandara Cengkareng, menunggu jadwal Lion Air jam 19:00 yang akan menuju Jogja sambil terkantuk-kantuk di mushola, menghabiskan waktu siang, sesekali ngecek email…… Sialnya, pesawat Lion Air pun terlambat menuju Jogja…..

Alhamdulillah, akhirnya perjalanan panjang tapi singkat, empat hari Jogja-Medan, telah selesai saya jalani…..)

Jakarta – Yogyakarta, 11 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Kisah Kecil Tentang Pesawat Salah Parkir

4 Juli 2009

IMG_2919_rMinggu lalu (27/06/09), pesawat Lion Air mengalami insiden di bandara Selaparang, Mataram, NTB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Berita di berbagai media menyebutkan pesawat tergelincir, ada juga yang menulis keliru belok dan ada yang melaporkan salah parkir. Apapun kejadian yang sebenarnya, yang pasti telah terjadi sesuatu yang tidak seharusnya yang berpotensi menyebabkan kecelakaan yang lebih fatal.

Media menceritakan bahwa pesawat jenis MD 90 yang seharusnya berputar di ujung landasan ternyata sudah memutar duluan sebelum mencapai ujung landasan. Sepertinya sang pilot tidak sabar menunggu mencapai ujung landasan yang berarti harus menambah jarak tempuh 500 meter lagi. Atau pilotnya “lupa” bahwa badan pesawat MD 90 tergolong langsing tapi bongsor memanjang, sehingga ketika memutar tidak bisa dipaksa untuk sekali “jadi”. Kalau mobil bisa atret maju-mundur, lha kalau pesawat perlu dibantu kendaraan pendorong.

Tulisan ini bukan bermaksud membahas apa yang terjadi, melainkan : “Kok bisa sih kesalahan yang tidak seharusnya itu terjadi?”. Jangan-jangan karena sikap keteledoran atau kesembronoan menganggap remeh masalah kecil dalam bisnis penerbangan. Untung masih di darat, lha kalau terjadinya di awang-awang, njuk piye (lalu bagaimana)?

***

Insiden di bandara Selaparang itu mengingatkan saya pada peristiwa kecil yang pernah saya alami di bandara Supadio, Pontianak, sekitar setahun yang lalu. Peristiwa yang terjadi sangat sederhana dan nyaris tidak ada yang memperdulikan. Tapi bagi saya dan seorang teman, kejadian ini menjadi bahan guyonan meski rada getir.

Menjelang tengah hari, pesawat Batavia Air yang saya tumpangi dari Yogyakarta mendarat di bandara Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan baik-baik saja, meski keberangkatannya sempat terlambat dua jam. Ketika pesawat bergerak menuju apron area parkirnya, dari dalam pesawat saya lihat ada petugas darat yang kedua tangannya mengayun-ayunkan piranti pemberi tanda agar pesawat terus bergerak.

Petugas parkir itu (saya sebut saja begitu) berada di ujung slot parkir No. 7 (tulisan angka 7 berwarna putih sangat jelas tertulis buesar-buesar di aspal bandara). Ketika pesawat mendekat, tinggal satu tangan petugas parkir yang berayun yang berarti pesawat harus belok mengikuti garis slot parkir yang dimaksud. Eh,  lha kok ternyata pesawatnya bablas saja melewati slot No. 7 menuju ke slot No. 6. Melihat hal itu saya berpikir barangkali memang bukan di situ lokasi parkir pesawat yang saya tumpangi. Seandainya saya duduk di dekat sopir pesawatnya, mungkin pundak sopirnya saya seblak (tepuk) dan saya ingatkan : “Parkirnya kebablasan, mas…”.

Ternyata benar. Beberapa detik kemudian pesawat berputar 180 derajat, kembali menuju ke slot parkir No. 7. Untung area parkiran di slot No. 6 sedang kosong sehingga pesawat bisa bermanuver bebas untuk berbalik arah. Seandainya di situ ada pesawat lain yang parkir, pasti akan butuh kendaraan pendorong untuk mundur lagi. Dalam hati saya bertanya-tanya, kok bisa-bisanya salah parkir. Sebab sebelum pesawat menuju apron kawasan parkir tentunya sudah diberitahu oleh petugas darat dimana dia harus parkir dan petugas parkir pun sudah memberi tanda dengan eblek-eblek (piranti berwarna oranye yang diayun-ayunkan) di kedua tangannya.

Ketika akhirnya turun dari pesawat, teman seperjalanan saya bertanya menyindir kepada pramugarinya sambil guyon : “Pilotnya baru ya, mbak?”. Si mbak pramugari rupanya juga tidak menyadari apa yang terjadi dan menjawab serius : “Oh, tidak pak”.

***

Maka kalau kini saya mencatat ada dua kejadian pilot salah parkir atau salah belok atau kekeliruan apapun yang nampaknya kecil dan sederhana, itu terjadi di darat. Bagaimana kalau kekeliruan kecil semacam ini terjadinya di awang-awang langit? Jangan-jangan insiden atau malah tragedi kecelakaan pesawat yang akhir-akhir ini sering terjadi juga bermula dari kekeliruan kecil yang dilakukan entah oleh siapapun?

Hal-hal besar, baik atau buruk, sukses atau gagal, jatuh atau bangun, seringkali bermula dari hal-hal kecil yang nampaknya sederhana dan tidak apa-apa. Kisah tragis, kisah sukses, dan kisah-kisah tak terduga lainnya, seringkali berawal dari hal-hal kecil yang nampaknya tidak ada apa-apanya. Karena itu sebaiknya siapapun (baik mereka yang sedang sukses maupun yang sedang terpuruk) agar bisa belajar untuk memaknai setiap hal sebagai sebuah awal dari sesuatu yang (bisa menjadi) besar.

Para pendahulu kita (pendahulu dalam negeri maupun pendahulu luar negeri) telah membuktikannya tanpa mereka menyadari hasilnya. Maka kita para pewaris, pengikut dan penggembira mestinya bersyukur bisa belajar dari pendahulu kita itu.  Ungkapan “Small is Beautiful” hanya bermakna bagi mereka yang paham artinya besar itu apa, baik dalam hal yang positif maupun negatif, bencana maupun anugerah.

Yogyakarta, 4 Juli 2009 (‘Met Ultah Amerika….!)
Yusuf Iskandar