Posts Tagged ‘lembang’

(1) Catatan Perjalanan: Antara Lembang – Katumiri

18 April 2010


Tepat jam 05:25 KA Lodaya tiba di Stasiun Hall, Bandung setelah menempuh perjalanan hampir delapan jam dari Jogja. Sekitar jam 06:00 lebih sedikit segera meluncur ke Lembang membelah kota Bandung yang mulai sibuk. Inginnya mencari sarapan pagi yang berbeda karena sejak siang kemarin di Jogja perut satu-satunya ini belum terisi nasi, meski sudah kemasukan segala macam makanan (dasar perut Jawa…!). Eh, dapatnya malah roti bakar. Yo wis…, dipadu dengan kopi pun jadilah sarapan pagi yang cukup mengenyangkan, sambil menyasikan kesibukan pagi cerah berhawa sejuk kota Lembang.

Datang seorang ibu menawarkan bungkusan nasi kuning. Sebenarnya kami tidak berminat membelinya. Tapi rasa kasihan timbul saat melihat bungkusan nasi kuning yang dibawa oleh si ibu terlihat masih banyak, menandakan pagi itu belum banyak laku terjual. Akhirnya dua bungkus nasi kuning pun kami beli, bahkan si ibu itu masih berbaik hati menambahnya menjadi tiga bungkus tanpa tambahan biaya. Kami lanjutkan perjalanan dengan membawa serta bungkusan nasi kuning yang belum tahu selanjutnya mau diapakan.

Turun dari Lembang membelok ke jalan tembus Lembang – Cisarua – Cimahi. Jalan menurun tajam, berpemandangan lereng menuju lembah kota Bandung. Melewati kawasan sekolah Advent yang berlanskap tampak tertata rapi, bersih dan indah. Akhirnya sampai di sebuah masjid di pinggir jalan di kompleks PT Biofarma, di desa Kertawangi, kecamatan Cisarua, termasuk wilayah kabupaten Bandung Barat. Masjid Al-Aafiyah namanya. Sebuah nama yang sebenarnya jarang dipakai untuk menamai sebuah masjid.

Bangunan masjid ini sederhana namun terlihat masih baru dan bersih membuat betah siapapun yang menyinggahinya. Tempat yang cukup nyaman untuk menunaikan sholat Dhuha, lalu beristirahat sejenak sambil menikmati suguhan pemandangan indah berlatar gunung Burangrang. Bercengkerama dengan teman seperjalanan dan ngobrol dengan penjaga masjid, di bawah buaian hawa pegunungan yang menyegarkan, terasa waktu seperti cepat berlalu.

Perjalanan kemudian dilanjutkan berbalik kembali naik ke arah sekolah Advent, lalu membelok menuju kawasan wisata Katumiri yang berada di punggungan perbukitan. Kawasan wisata Katumiri ini biasanya ramai dikunjungi para wisatawan, terutama wisatawan domestik pada hari Minggu atau hari libur Di luar hari-hari itu kawasan ini nampak lengang dan sepi, bahkan sebenarnya tertutup bagi wisatawan.

Di sebuah gardu pemandangan, seluas mata memandang tampak bentang alam kawasan lembah yang adalah kota Bandung, Cimahi dan sekitarnya terlihat indah nun jauh di sisi selatan, tersaput pantulan cahaya matahari yang sedang terik. Tidak jauh di bawah gardu pemandangan berada, terhampar area kebun sayur tidak terlalu luas di bidang tanah yang miring, di lereng yang cukup landai. Seorang petani terlihat di lokasi agak ke bawah sedang menggarap ladangnya, mencangkul dan membersihkan lahan kebunnya. Tiba-tiba teringat akan bekal bungkusan nasi kuning yang sebelumnya dibeli di Lembang. Segera kami turun menghampiri paman petani yang sedang bekerja di ladangnya, menyusuri pematang kecil yang membatasi petak-petak ladang yang rata-rata berukuran sempit.

Petak-petak ladang itu dibentuk berteras-teras menyesuaikan kemiringan lerengnya. Maka untuk dapat berjalan menyusuri pematang pembatas ladang terkadang harus mencari-cari jalan yang agak landai dan sesekali harus meloncat dari satu teras ke teras di bawahnya. Agak merepotkan karena sesekali bisa terjatuh atau terpeleset, tapi inilah sepenggal pengalaman yang barangkali tidak pernah terbayang akan sempat dilakukan di tengah rutinitas kehidupan di kota.

Sekedar menyapa dan berbasa-basi dengan paman petani sebagai tanda persahabatan, untuk kemudian bungkusan nasi kuning pun kami berikan. Ekspresi terima kasihnya terlihat di wajah ceria dan senang dari paman petani yang dari raut mukanya terlihat lebih tua dari usianya. Sebuah pemberian yang nilai nominalnya tidak seberapa sebenarnya, tapi berbagi kebahagiaan hingga bersusah menuju tempat kerja paman petani itulah yang menjadi intinya.

Sejenak kemudian beristirahat di sebuah saung (gubuk) entah milik siapa, menikmati semilir angin pegunungan yang terasa menyejukkan di tengah cuaca yang sedang panas. Pemandangan lembah kota Bandung masih jelas terlihat memesona membentang jauh di bawah. Hingga akhirnya sayup-sayup di kejauhan terdengar adzan tanda waktu sholat dhuhur tiba.

Di sebuah musholla di kawasan wisata Katumiri, kami berjamaah menjalankan sholat dhuhur. Kesempatan sholat berjamaah, di sebuah kawasan pegunungan yang indah, sepi dan berhawa sejuk, yang akhir-akhir ini suka kami angankan bahkan impikan, akhirnya datang juga. Dan, keinginan untuk sholat berjamaah pun kesampaian. Puji Tuhan wal-hamdulillah….

Usai sholat dhuhur semula ingin segera mencari makan siang, tapi tertunda karena ingin lebih lama menikmati suasana alam pegunungan. Sebelum meninggalkan Katumiri, beristirahat sejenak sambil mengobrol di dalam kendaraan di bawah keteduhan rerimbunan pepohonan di tempat parkir, dibuai hembusan lembut angin pegunungan adalah pilihan yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Sebab kesempatan seperti ini memang tidak mudah diperoleh saat di tengah keseharian yang sudah cukup menyita waktu dan kepentingan.

Kalau kemudian terselip suasana indah, dalam nuansa hati yang menggetarkan dan memberikan kenangan yang mengesankan, maka itu adalah karunia Tuhan yang tiada terkira. Yang oleh karenanya pantas dinikmati, disyukuri sekalius dihikmahi. Sebab disadari atau tidak, di sana ada kebaikan, ada perenungan dan mungkin juga ada kesalahan, yang sudah semestinya dipetik ibrah atau pembelajarannya. Semua terangkai dalam sebuah percikan rahmat dan anugerah dari Yang Maha Pencipta Alam Seisinya, yang cinta kasihNya tak terbatas sekaligus tak terbalas seberapa besarpun penghambaan pernah diberikan oleh mahlukNya.

Bandung, 13 April 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

(2) Catatan Perjalanan : Antara Lembang – Maribaya

18 April 2010

Lembang memang kota kecil di punggungan utara Bandung yang enak disinggahi dan disusuri jalanannya, ketimbang hiruk-pikuknya kota besar di seputarannya. Meski suasana kotanya cukup padat dan sibuk, masih saja terselip nuansa damai dengan belaian hawa pegununan yang menyegarkan. Di tengah cuaca siang yang cukup terik, kami kembali membelok ke jalan tembus Lembang – Cisarua – Cimahi. Namun kali ini untuk tujuan mencari tempat makan yang bernuansa desa dan berbeda dari kebanyakan rumah makan yang betebaran di sepanjang kawasan Lembang dan sekitarnya.

Sampailah ke rumah makan Saung Wargi yang berlokasi persis di sisi kanan bawah jalan yang menurun dan berkelok tajam, tidak jauh dari Lembang. Rumah makan bergaya tradisional yang di tengahnya terdapat sebuah kolam pemancingan besar dan beberapa kolam kecil serta di sekelilingnya terdapat saung-saung atau gubuk-gubuk berkonstruksi bambu. Para pengunjung dapat memilih antara duduk lesehan di atas tikar atau duduk di kursi.

Di salah satu saung itulah kami duduk lesehan sambil memandang kolam kecil yang di tengahnya sedang mekar bunga teratai. Menu sederhana ayam bakar, tahu, tempe dan lalapan cukup menjadi sajian makan siang yang terasa sungguh nikmatnya. Melahap makan siang sambil bercengkerama tentang apa saja. Tentang muhasabah (perenungan) perjalanan hidup dan kehidupan seseorang, dulu, kini dan yang akan datang. Tentang romantisme perjalanan ibadah yang sudah terlewati lebih dari setengah umur manusia. Tentang cobaan dan hikmah yang seharusnya dapat diambil pembelajarannya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sebelum meninggalkan Saung Wargi untuk melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan sholat berjamaah di musholla yang ada di sana. Sebagai musafir, maka sholat Dhuhur dan Ashar sekaligus kami tunaikan secara jamak ta’dim (menggabung di waktu awal). Suasana musholla yang sempit itu sepertinya menjadi begitu indah ketika sholat berjamaah didirikan sejak takbir pertama hingga salam terakhir. Di sana ada Tuhan yang sedang memberi kesempatan yang luar biasa. Kesempatan yang tak pernah terpikirkan dan terencanakan, yang bisa berarti anugerah dan bisa juga musibah, tinggal bagaimana setiap dari hambaNya menerima dan menjalaninya.

Kalau ada percikan kemesraan Tuhan kepada mahlukNya dan kalau ada pelukan kasih sayang Tuhan kepada hambaNya, maka semua terbingkai dalam kesucian dan keagungan Sang Maha Pencipta ketika menebarkan rahmatNya kepada segenap jagat raya dan seisinya tanpa pernah pandang perbedaan. Di mataNya, semua mahluk ciptaanNya adalah sama.

***

Hari semakin bergeser menjelang sore. Perjalanan kami lanjutkan menuju ke kawasan wisata Maribaya yang berjarak sekitar 15 km dari arah Lembang menuju lebih ke utara. Semula tidak ada niat untuk berjalan-jalan menikmati obyek wisata Maribaya, namun tiba-tiba saja keinginan itu melintas di pikiran, sekedar ingin mengenang perjalanan lintas alam yang pernah kami lakukan sekitar 22 tahun yang lalu.

Di sana ada air terjun yang dahulu pernah kami kunjungi. Kini tentu sudah banyak yang berubah. Tapi air terjun itu masih ada di sana, tak jua berubah keindahannya di bawah belaian kesejukan hawa pegunungan. Hijau semak belukar dan rimbunnya pepohonan yang ada di seputaran kawasan Maribaya adalah bagian dari wilayah luas Taman Hutan Raya Ir. Juanda yang sesungguhnya dapat dijangkau dari kawasan Dago atas di Bandung.

Tiada satupun ciptaan Tuhan yang tersia-sia. Tak juga hutan dan flora-fauna seisinya, tak juga gemericik aliran air dan air terjunnya. Semua menjadi saksi atas kuasaNya, semua menjadi bukti atas cinta Sang Khalik kepada setiap ciptaanNya, seperti semua menjadi saksi atas keindahan dan kemesraan yang terbangun di antara setiap mahluk yang menghamba dan bersujud kepadaNya.

Segenap kenangan indah seolah tak kan pernah terulang. Namun seperti rentang waktu 22 tahun yang sepertinya tak pernah terencana untuk terulang kembali, tetapi Tuhan nampaknya memiliki skenario berbeda sehingga berkenan memberi kesempatan kedua kali. Hanya segenap puja-puji rasa syukur yang dapat dipersembahkan dalam hati sanubari. Pada saat yang sama desir darah mengalir menyadari betapa rentannya mahluk ciptaanNya yang dhoif dan tak berdaya.

Tak terasa hari semakin sore. Perjalanan pun harus segera diakhiri. Ke stasiun Hall Bandung kami segera menuju, mengejar kereta malam yang akan membawa kembali ke Jogja. Taksi yang kami tumpangi melaju kencang membelah kala petang kota Bandung, di bawah rintik hujan dan terpaan angin dingin yang berhembus kencang serta degupan denyut jantung, seolah tiada lagi kereta malam yang akan lewat. Segenap rasa syukur, keharuan dan keindahan tertumpah menjadi satu dalam sebuah kesadaran bahwa semua perjalanan itu bisa jadi hanya sebuah mimpi. Dan jika secara kebetulan perjalanan di alam mimpi itu sejenak menjelma menjadi nyata…., maka Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan bumi dan seisinya tanpa pernah ada setitik materi pun yang sia-sia… (rabbana ma kholaqta hadza bathila).

komitmen harus diberikan,
kesadaran harus dibangkitkan,
bahwa ada yang lebih Maha Merencanakan di atas semua rencana-rencana yang ada.
bahwa biarlah Sang Maha Pemilik Alam Seisinya memilihkan jalan lurus yang seharusnya ditempuh,
hanya keikhlasan menyertai sepanjang waktu yang diberikan
waktu dimana ada mimpi-mimpi yang tak nyata
waktu dimana ada salah dan dosa
waktu dimana ada kebaikan yang dapat direngkuh
waktu dimana antara indah dan haru menyatu
entah sampai kemana akan menuju…

Bandung, 14 April 2010
Yusuf Iskandar

Santap Malam Di Punclut, Bandung Utara

10 Februari 2010

Di perbukitan Punclut, Bandung utara, menyantap nasi merah, pepes peda dan jamur, lalapan, petai bakar, sambal dadak… Sekedar bernostalgia kala lebih 20 tahun yll. hiking-camping ke Punclut lalu ke Lembang melalui jalan desa yang kini beraspal mulus… Walau tadi malam disambut hujan deras, petir, geluduk bersahut-sahutan, atap warung bocor, listrik padam…, tapi yang penting puas dengan makannya (keukeuh we…)

(Punclut, ada juga yang menyebut Puncrut, dapat dicapai dari ujung utara Jl. Ciumbuleuit, Bandung, melalui jalan tembus menuju Lembang)

Bandung, 4 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar