Posts Tagged ‘lawu’

“Manna Janjimu…?”

1 Oktober 2009

Hari masih pagi. Noval, 15 tahun, baru bangun tidur akibat kecapekan karena kemarinnya baru pulang dari mendaki gunung Lawu. Bersama empat orang teman sekolahnya Noval mencapai puncak gunung Lawu pada Sabtu akhir pekan lalu, sehari sebelum hutan Lawu terbakar. Dia tidak mau mengngaku kalau dituduh pendakian silaturrahim lebaran ke Lawu ini pasti odo-odonya (idenya). Ini pendakian ke Lawu yang kedua, pendakian pertamanya satu setengah tahun yll. ditemani bapaknya.

Sejak lebaran H-0 (1 Syawal, teng…!) dia sudah mulai kasak-kusuk sama ibunya. “Kapan ke dealer?”, katanya. Pasalnya, deal waktu awal Ramadhan dengan bapaknya rupanya diingat betul, bahwa kalau bisa khatam tadarus Qur’an dua kali selama Ramadhan disetujui akan dibelikan sepeda motor untuk sekolah (judul resminya begitu, tidak resminya ya untuk dolan….). Dan, dia berhasil memenuhi kesepakatan menyelesaikan dua kali membaca buku bertuliskan huruf Arab yang belum dipahami maknanya itu, kecuali ayat yang pertama.

Lebaran sudah lewat seminggu dan di televisi tersiar arus balik para pemudik sepeda motor yang terlihat ramai-lancar-padat-merayap kembali ke ibukota, tapi belum juga ada tanda-tanda pemenuhan janji bapaknya. Begitu mungkin pikirnya. Padahal sekolah sebentar lagi dimulai, sementara teman-temannya sering pada datang ke rumah membawa sepeda motor. SIM juga telanjur sudah dimiliki meski harus nombok umur karena kurang dua tahun.

Berkali-kali sindirannya terceplos melalui omongannya : “Kapan nih kita ke dealer…”. Berkali-kali pula bapaknya menjawab : “Sabar to, Le…. Toko sepeda motornya masih pada tutup…”, jawab bapaknya asal-asalan karena tidak mau diburu-buru.

Rupanya kesabaran Noval semakin njegrak ke ujung rambutnya. Jangan-jangan setan Lawu yang ikut ke rumah turut memprovokasinya. Meski mata masih dikucek-kucek habis balas dendam tidur panjang sepulang dari gunung Lawu (untungnya bangun tidur tidak tidur lagi, lalu bangun lagi….), Noval glenik-glenik…, omong-omong pelan dengan ibunya. Kalau urusan pendekatan personal begini, Noval tidak berani langsung menghadap bapaknya. Bukan takut dimarahi, melainkan agaknya bosan mendengar ceramahnya (padahal salah satu syarat untuk menjadi orang tua yang baik adalah harus pintar ceramah di depan anaknya…..). Baru kemudian ibunya yang lapor sama bapaknya. Ini sebenarnya jenis birokrasi keluarga yang enggak mutu…..

Seperti sedang bicara sendiri saat duduk di samping ibunya, Noval ngomong sambil cengengesan : “Bu, kapan kita ke dealer-nya?”. Ibunya menjawab pendek : “Yo sana tanya sama bapak”. Lalu tukas Noval lagi : “Ibu aja yang bilang, ah…!”.

Sesaat kemudian Noval berkata : “Tapi sebenarnya bapak itu punya uang enggak, sih….. Saya jadi enggak enak. Sebenarnya saya ya tidak ingin merepotkan orang tua, tapi gimana ya…..”, katanya kemudian dengan nada pasrah tapi masih dengan nyengenges. Maka luluhlah pertahanan bapaknya….

Sebagai seorang anak, rangkaian kata-katanya kedengaran bijaksana, tapi penuh berbau rayuan. Memelas tapi menohok. Halus dan sopan tapi memojokkan. Tentu saja sebagai orang yang telah mengantongi jam terbang cukup lama sebagai orang tua, omongan itu harus diterjemahkan cukup dengan dua kata saja : “Manna janjimu…?”.

Akhirnya dengan setengah terpaksa (terpaksa kok nanggung, cuma setengah…), segera saya berseru kepada Noval, anak keduaku yang rodo nggregetke (menggemaskan bercampur menjengkelkan) itu : “OK, ayo mandi…mandi…mandi…. Ke dealer kita pagi ini…..!”.

Yogyakarta, 1 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Catatan Di Hari-hari Silaturrahmi (Lebaran 1430H)

30 September 2009

Usai Panen Raya Ramadhan

Panen raya itu sudah bubar… Lontong, ketupat, opor menthok atau enthok (dagingnya lebih padat, tidak segurih daging ayam, berminyak, nek, tapi hoenak dan tampil beda…), mengiringi penutupan panen….. Kini, tinggal hati masing-masing menghitung pembukuan keuntungan yang dapat diraih setelah sebulan berbisnis dengan Ramadhan, atau jangan-jangan hanya sekedar….. “capek deh…”

(Panen raya yang saya maksudkan adalah panen pahala dan balasan kebaikan yang dijanjikan Allah swt dengan beribadah Ramadhan, dan pembukuan keuntungan yang saya maksudkan adalah catatan amal ibadah selama Ramadhan)

Yogyakarta, 20 September 2009 (1 Syawal 1430H)

——-

Ke Kendal

Bosan dengan opor ayam & menthok (enthok), mampir warung sate kerbau bumbon di Pegandon, Kendal. Bukan sekedar beda, tapi hoenaknya….

(Dalam perjalanan ke kampung halaman di Kendal, di sela-sela nyekar ke makam orang tua, bersilaturrahim, lalu nyate…..)

Kendal, 21 September 2009 (2 Syawal 1430H)

***

Bosan dengan kue lebaran…. Kebetulan sepulang dari rumah embahnya, anakku ngangkut singkong dari hasil kebun sendiri. Rupanya mbakar singkong yang kemudian dilakukan anakku…… (juga bapaknya….).

Yogyakarta, 22 September 2009 (3 Syawal 1430H)

——-

Kembali Ke Toko

Menata kembali isi toko yg morat-marit setelah “diobrak-abrik” pembeli yang belanja keperluan lebaran, sejak H-2. Capek tapi senang….. Bahkan H+4 pembeli masih ramai lebih dari hari biasanya. Rupanya kebutuhan harian tidak bisa ditunda…

Puasa bukan berarti mengurangi makan, melainkan me-reschedule. Lebaran juga bukan berarti banyak makan, melainkan kebanyakan enggak apa-apa. Inilah salah satu keunggulan bisnis ritel….

Yogyakarta, 23 September 2009 (4 Syawal 1430H)

——-

Ultah

Satu-satunya kejadian yang menandai bahwa hari ini saya berulangtahun adalah sindiran-guyonan anak perempuan saya tadi siang. Katanya : “Wah, hari ini bakal ada yg nraktir makan, nih….”. Selebihnya live must go on as usual‘….. Ndeso tenan….

Yogyakarta, 23 September 2009 (4 Syawal 1430H)

——-

Ke Semarang

Jalur Jogja-Semarang hari ini ramai-lancar-padat-merayap… Intinya, kudu sabar & enggak boleh terburu-buru sampai (tujuan)…

(Jalur merayap ini terutama antara Muntilan-Magelang-Secang dimana hanya terdiri dari satu lajur untuk masing-masing arah. Di seputaran Ungaran, Kab.,Semarang, juga kembali merayap)

Semarang, 24 September 2009 (5 Syawal 1430H)

***

Serabi Ngampin

Mampir mencicipi kue serabi di Ngampin, selatan Ambarawa. Lumayan, ketemu model jajanan berbeda. Semangkuk 4000 rupiah isi 5 (lembar) serabi + santan manis….

(Banyak warung-warung penjual serabi di sepanjang pinggiran jalan selewat kota Ambarawa kalau dari arah utara. Kawasan ini ramai dengan penjual serabi sejak beberapa tahun terakhir ini. Sebelumnya serabi Ngampin pinggir jalan hanya muncul kalau Ramadhan dan Lebaran, tapi sekarang sepanjang waktu ada, bergabung dengan penjual kelengkeng, durian, rambutan, dan aneka jajanan….)

Ambarawa, 24 September 2009 (5 Syawal 1430H)

——-

Ramai-Lancar-Padat-Merayap

Istilah baru (oleh wartawan TV) yang mulai akrab di telingaku : Lalulintas ‘ramai-lancar’….., agaknya lawan dari ‘padat-merayap’ yang lebih dulu populer. Meski begitu, waktu menjalani jalur Jogja-Semarang kemarin, ternyata ‘ramai-lancar-padat-merayap’….. (enggak usah dicari lawannya).

Yogyakarta, 25 September 2009 (6 Syawal 1430H)

——-

Bersama Para Miner Di Banaran Café Jogja

Tadi malam hadir di acara silaturrahim informal dengan para miner (buruh tambang alumni UPN) di Banaran Cafe, Jogja. Rupanya ini cafe masih ada hubungan saudara dengan dua Warung Kopi Banaran yang ada di Bawen dan Ambarawa, tapi lain ayah & lain ibu (alias beda manajemen). Kopinya yang di Banaran Jogja kalah theng dibanding yang di Bawen atau Ambarawa….

(Banaran café Jogja berada di lantai bawah gedung LPP, Jl. Solo. Rupanya semua café milik PTP di Indonesia bernama Banaran… Di Jogja termasuk café kecil dan tidak sekomplit yang di Bawen atau Ambarawa)

Yogyakarta, 27 September 2009 (8 Syawal 1430H)

***

Menjamu Sahabat Lama Di Resto Numani Jogja

Makan malam dengan sahabat lama (ex teman kerja & teman mendaki Rinjani) di Resto ‘Numani’ Jl. Parangtritis Jogja spesialis gurameh segar yang bisa bikin tuman (bhs Jawa : ketagihan)…. Gurameh bakar, cumi dan udang goreng …tapi tidak panas, cah kangkung, petai goreng, sambal mentah, dan trancam (sejenis karedok, bukan terancam)…. Yang terakhir ini pas di pencecap…..

(Lokasi Resto Numani berada di sekitar km 7 Jl. Parangtitis, kalau dari arah utara selewat perempatan Ringroad dan setelah Taman Seni Gabusan Bantul)

Yogyakarta, 27 September 2009 (8 Syawal 1430H)

——-

Antara Mendaki Gunung Dan Omset Toko

Mendaki gunung adalah mencapai puncak tertentu setelah itu turun lagi ke elevasi pengalaman & keterampilan lebih tinggi. Anakku sudah membuktikannya — Sama seperti mengejar omset warung saat lebaran : muncak lalu turun lagi pada elevasi omset lebih tinggi dari sebelumnya. Giliran saya membuktikannya.

Inilah yang paling saya sukai ketika ngurus warung mracangan… Puji Tuhan walhamdulillah

(Anakku mendaki gunung Lawu, 25-27 Sepember 2009, sebagai pendakian yang kesekian kalinya. Di sisi lain, omset “Madurejo Swalayan” mulai menurun sejak mencapai puncaknya pada H-1 Lebaran kemarin, tapi Alhamdulillah masih lebih tinggi dibanding hari-hari sebelum Ramadhan)

Yogyakarta, 28 September 2009 (9 Syawal 1430H)
Yusuf Iskandar

Anakku Ke Gunung Lawu

29 September 2009

Tanggal 25-27 September 2009, sehari sebelum hutan Lawu kebakaran, anakku (Noval, 15 th) bersama empat orang teman sekolahnya mendaki gunung Lawu di perbatasan Jateng-Jatim. Bagi Noval, ini pendakian kedua kali, setelah yang pertama pada Tahun Baru 2008 saya temani karena waktu itu adalah pertama kali Noval mendaki gunung. Sejak itu dia mejadi ketagihan naik gunung. Dan kali ini adalah pengalaman petualangannya yang ke-15 dalam 1,5 tahun terakhir. Gunung atau bukit lainnya yang sudah didaki antara lain : Merapi, Merbabu, Sindoro, Menoreh, Nglanggeran, dll, diantaranya sampai 2-3 kali. Penggalan catatan berikut ini saya posting di Facebook.

——-

Rencana mau silaturrahim ke luar kota batal, karena rupanya anak lanang sudah ngajak teman-temannya mau silaturrahim ke puncak Lawu. “Yo wis, ati2 le…”

(1) Tadi pagi ngantar anak lanang (Noval, 15th) yang memimpin 4 orang temannya ke terminal bis Giwangan, setelah (sebelumnhya) saya briefing dulu di rumah. Mereka naik bis menuju Cemorosewu, sebelum mendaki gunung Lawu. Ini pendakian kedua ke Lawu buat Noval. “Selamat jalan, le…. Jaga kekompakan tim…”.

(2) Sekitar jam 14:30 dia kirim SMS, katanya hampir sampai ke Pos 2. Berarti mereka langsung mendaki (wah… ini di luar rencana semula mau aklimatisasi dulu…). Lalu belum ada kabar lagi…. Mungkin nge-camp di jalan atau langsung ke Pos terakhir, Hargodalem.

Yogyakarta, 25 September 2009

***

(3) Kemarin sore anakku kirim SMS katanya sudah di basecamp, berarti sudah turun dari puncak. Lalu, tadi pagi berangkat pulang dari Cemorosewu. Dan, siang ini alhamdulillah tim pendaki sudah sampai rumah dalam situasi ramai-lancar….

Alhamdulillah juga, nasi se-magic jar… + rendang sewajan yang dibikin ibunya tadi pagi langsung boablasss… diserbu lima pendaki kelaparan. Untung enggak sewajan-wajannya……

Yogyakarta, 27 September 2009
Yusuf Iskandar