Posts Tagged ‘lahar dingin’

Sawah Pun Hilang, Sawah Pun Kekurangan Air

3 Maret 2011

Pada tanggal 16 Pebruari 2011 saya sempat numpang lewat ke desa Gondosuli, kecamatan Muntilan, Magelang. Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Semoga menjadi inspirasi…

***

Sungai Pabelan di wilayah desa Gondosuli, kecamatan Muntilan, yang semula lebarnya hanya sekitar 10-15 meter, kini menjadi puluhan meter akibat aliran lahar dingin yang memakan areal persawahan di sepanjang bantaran sungai.

(1)

Sungai Putih telah menghancurkan desa Jumoyo dan Sirahan di wilayah kecamatan Salam dengan banjir lahar dingin yang membawa pasir dan batu.

Di sebelah utaranya, rupanya sungai Pabelan juga tidak mau kalah merusak dusun Sudimoro, desa Adikarto, kecamatan Muntilan, juga kawasan persawahan di sepanjang bantaran sungai… Di desa Gondosuli, kecamatan Muntilan, puluhan hektar sawah yang membentang di sepanjang tepi sungai Pabelan kini musnah.

(2)

Desa Gondosuli kini juga kesulitan air. Tong-tong plastik biru bantuan PMI tampak banyak tergeletak di depan rumah warga. Hampir setiap hari tong-tong plastik itu diisi air oleh mobil pensuplai air. Tentu saja hanya cukup untuk kebutuhan pokok harian. Sedang untuk sawah-ladang tetap harus bergantung kepada kemurahan alam yang membagikan hujan. Di satu sisi sawah-ladang kering, di sisi lain sawah di dekat sungai telah lenyap diterjang banjir lahar. ‎

(3)

Banyak kawasan korban bencana yang hingga kini masih mengalami masalah kesulitan air bersih. Memasuki musim kemarau, pertanian mereka makin terpuruk karena hujan berkurang.

Kebutuhan air bersih harian terus bergantung kepada mobil pemasok air (yang dikelola pemerintah maupun LSM), yang pasti kemampuannya tidak tak terbatas. Memperbaiki infrastruktur air bersih maupun irigasi? Nah, ini yang saya dan lebih-lebih masyarakat hanya bisa berdoa…

Yogyakarta, 19 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Tentang Banjir Lahar Dan Anak Sekolah Desa Sirahan

10 Februari 2011

Berikut ini catatan dari mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, pada tanggal 4 Pebruari 2011 dalam rangka mencari informasi lebih lengkap tentang kemungkinan untuk memberi bantuan bagi sekolah TK dan SD yang hancur terkena hempasan banjir lahar dingin Merapi. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi semoga menjadi inspirasi…

***

(1)

Hari masih siang sebenarnya ketika saya dan teman-teman tiba di desa Sirahan, kecamatan Salam, Jum’at kemarin. Tapi mendung tampak menggelayut merata hingga ke utara ke arah Merapi. Siluet gunung Merapi sesekali membayang.

Saat kami tiba di Sirahan, beberapa orang yang rencananya mau ketemuan ada yang sudah meninggalkan desa. Mendung tebal dan merata adalah tanda-tanda awal untuk siaga penuh bagi masyarakat di sepanjang aliran kali Putih.

(2)

Beruntung kami masih sempat menjumpai dua orang guru TK. Bu Watik (guru TK Pertiwi) yang bangunan sekolahnya lenyap tanpa bekas dan bu Ida (Kepala TK Ibnu Hajjar) yang setengah bangunan sekolahnya hilang dan kini porak poranda. Keduanya terkena terjangan banjir lahar dingin dua minggu yll. Kedua orang guru TK itu pun sudah siap-siap hendak meninggalkan lokasi.

(3)

Bu Watik kini sibuk mengalihkan kegiatan belajar ke-25 anak didiknya ke sebuah rumah warga, tidak jauh dari lokasi TK Pertiwi semula, tapi posisinya lebih aman. Belajarnya sambil duduk lesehan di atas tikar seperti makan gudeg lesehan Malioboro. Alat peraganya seadanya sebab tak satu lembar buku dan sebatang kapur tulis pun selamat dari hempasan lahar dingin.

(4)

Bu Ida harus kami jemput ke tenda posko di tepi sungai agar bisa ngobrol di tempat yang lebih aman yaitu di selasar masjid Sirahan. Kegiatan belajar ke-119 anak didiknya di TK Ibnu Hajjar kini tersebar di tiga lokasi berjauhan ditangani sembilan orang bu gurunya. Ada yang dekat barak pengungsian, ada yang di desa utaranya dan ada yang di selatan desa yang antar keduanya aksesnya terputus. Ketiga lokasi belajar itu tentu saja dalam kondisi darurat.

(5)

Praktis dari kedua sekolah TK itu tak satu pun perlengkapan belajar yang masih dapat digunakan. Walau satu ruang kelas TK Ibnu Hajjar masih nampak utuh, tapi rupanya isi di dalamnya sudah diambil alih digantikan oleh timbunan pasir. Meja-kursinya entah terpindahkan kemana.

Maka bantuan berupa apapun akan sangat berarti bagi anak-anak, begitu kira-kira kata kedua guru itu. Sarana bermain, diharapkannya. Agar anak-anak tidak hanya berlarian tiap hari.

(6)

Datangnya banjir lahar dingin memang begitu cepat. Lebih-lebih tidak disangka bakal sedahsyat itu sehingga tidak melakukan tindakan penyelamatan apapun.

Menurut bu Ida yang pada malam kejadian itu sedang ada di masjid di dekat TK-nya: “Datangnya kurang dari 30 menit sejak dikabarkan dari lereng Merapi akan datang banjir lahar”. Sedangkan TK Ibnu Hajjar sebenarnya tidak berada dekat aliran sungai Putih, bahkan masih terpisah dengan jalan aspal Gulon-Ngluwar…

(7)

Pada malam terjadinya banjir lahar (16/01/11) sebenarnya bu Ida hendak tidur di sekolah TK-nya karena alasan mengungsi dari rumahnya yang ada di dekat kali Putih. Namun “sayang”, kunci sekolahnya tertinggal di rumahnya. Akhirnya pindah ke masjid dekat sekolah bersama beberapa orang lainnya.

Saat banjir itu benar-benar datang, dalam keremangan malam disaksikannya sendiri bagaimana banjir itu menerjang bangunan sekolahnya hingga roboh dan lenyap.

(8)

Bagi bu Ida dan beberapa orang warga desa Sirahan lainnya yang sempat menyaksikan dahsyatnya hempasan banjir lahar, kejadian malam itu sungguh sebuah mimpi buruk yang tak kan pernah terlupakan dalam hidupnya.

Belum lagi kalau ingat betapa semua orang menjadi panik ketika kemudian banjir itu juga mengepung dan nyambangi mereka hingga masuk ke dalam masjid. Sangat dipahami kalau kemudian ada salah seorang anak murid TK yang trauma setelah melihat kejadian itu.

(9)

Bincang-bincang dengan kedua guru TK menjelang sore di selasar masjid itu hendak dilanjutkan sambil jalan-jalan berkeliling melihat lokasi bencana. Namun tiba-tiba tersebar berita bahwa banjir besar sedang bergerak turun dari lereng Merapi.

Serta-merta semua orang waspada dan sebagian bergegas menjauh dari lokasi atau kembali ke pengungsian. Tak terkecuali kedua ibu guru itu pun segera pamit meninggalkan kami. Ya, kami memang harus memahami situasinya…

(10)

Kami jadi kebingungan sendiri. Antara mau langsung meninggalkan lokasi tapi ingat masih ada rencana ke SD Sirahan I yang hendak dituju dan seorang gurunya sudah dihubungi, sementara aksesnya terputus dan harus jalan memutar agak jauh. Antara ingin menyaksikan datangnya banjir lahar tapi sadar kalau sedang berada di zona bahaya di desa Sirahan.

Akhirnya kami putuskan untuk pulang saja meninggalkan lokasi bencana desa Sirahan.

(11)

Sore setelah meninggalkan desa Sirahan, saya memperoleh berita dari pak Kadus Salakan bahwa banjir lahar memang benar-benar datang dan lumayan besar. Beruntungnya jalur aliran lahar yang sudah ada masih mampu menampung aliran banjir sore itu.

Hanya saja kata pak Kadus: “Areal sawah yang tertimbun pasir semakin luas”. Makin terpuruklah petani yang sawahnya mulai menguning…

(12)

Besarnya banjir lahar sore itu bisa diketahui dari makin terputusnya akses menuju desa Sirahan dari arah utara karena tebalnya endapan pasir. Untuk mencapai SDN Sirahan I menjadi lebih sulit.

Esoknya saya peroleh kabar dari Kepala Sekolahnya, bahwa pasir lahar kmbali sudah memasuki ke ruang-ruang kelas. Maka jelas kini ruang kelas tidak dapat lagi digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Mau dibersihkan seperti sebelumnya, jangan-jangan banjir besar datang lagi…

(13)

Besarnya banjir lahar sore itu kembali memutus jalan raya Jogja-Magelang untuk yang kesekian kalinya. Itu karena luberan aliran lahar dingin di kali Putih kembali meninggalkan timbunan material vulkanik dari gunung Merapi berupa pasir dan batu yang memenuhi jalan. Perlu waktu lama untuk membersihkannya. Kembali lalulintas jalan raya terganggu.

(14)

Pulang dari kawasan bencana lahar dingin desa Sirahan, mampir dulu ke kali Krasak yang juga sedang ramai ditonton orang karena banjir lahar. Kami turun ke bawah jembatan.

Sebenarnya bukan untuk melihat banjir lahar, melainkan makan sore nasi brongkos “Warung Ijo” Bu Padmo. Haha, ini bagian menariknya yang harus dicatat.., nasi brongkos mak nyusss…

Banjir kali Krasak sore ini, lebih dari aliran lahar dingin yang selama ini lewat kali Krasak.

(15)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan I yang ruang-ruang kelas sekolahnya dikudeta untuk ketiga kalinya oleh banjir lahar dingin Merapi (ruang kelasnya kini terisi pasir) memohon bantuan sepatu dan seragam pramuka untuk 82 orang muridnya. Semua muridnya kini menyebar di pengungsian, ada kelas darurat, juga numpang ke sekolah lain. Akses menuju sekolah ini harus memutar agak jauh karena jalan utama terputus…

(Puji Tuhan walhamdulillah. Seorang sahabat spontan menyatakan niatnya untuk membantu pakaian seragam pramuka. Sebanyak 82 stel seragam pramuka siap diambil. Sungguh membuat saya terharu. Semoga kebaikan itu, insya Allah akan tercatat di buku besar di langit ke tujuh dan memperoleh balasan yang jauh lebih baik. Matur nuwun kami haturkan)

Yogyakarta, 4-7 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Desa Sirahan Pun Porak-Poranda Oleh Lahar Dingin

7 Februari 2011

Catatan dari mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang (Jateng) pada Jum’at, 28 Januari 2011. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng…

***

(1)

Jum’at (28/01/2011) siang yll saya harus menuju desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang. Ini desa kedua setelah Jumoyo yang terkena bencana lahar dingin. Lokasinya di baratdaya Jumoyo. Dari arah Jogja saya harus melewati jembatan kali Putih.

Hal yang di luar perkiraan saya adalah jalur di Jumoyo ini muacet minta ampyuuun… Jalan yang tergerus aliran lahar telah menyebabkan badan jalan menyempit. Perlu waktu lebih 1 jam untuk menempuh penggal jalan sekitar 1 km. Huuuh..!

(2)

Bagi yang akan menempuh rute Jogja-Magelang melintas jembatan kali Putih di desa Jumoyo, Salam, sebaiknya mengalokasikan tambahan waktu 1-2 jam. Ada jalan alternatif tapi lebih jauh dan sempit.

Sementara ketika bersamaan dengan turunnya banjir lahar dingin (seringkali sore hari), rute ini ditutup. Lama-tidaknya tergantung besar-kecilnya banjir. Dan urusan buka-bukaan dan tutup-tutupan jalan ini sudah terjadi berulang kali. Maka, ya harus bar-sabbaaar

(3)

Setelah melewati kali Putih, saya bertemu seorang relawan yang akan menemani ke desa Sirahan. Waktunya sangat mepet untuk sholat Jum’at, maka segera ke masjid terdekat dengan lokasi bencana. Masjid yang ada di Sirahan sendiri “libur” karena semua warganya mengungsi.

Ada rasa batin berbeda saat Jum’atan di masjid An-Nur, dusun Tular, desa Seloboro. Itu karena khotbah Jum’at disampaikan dalam bahasa Jawa seutuhnya. Hmmm, sudah lama tidak saya alami…

(4)

Dari desa Seloboro berboncengan sepeda motor dengan seorang relawan segera menuju desa Sirahan yang lokasinya hanya sekitar 2-3 km dari jalan raya Jogja-Magelang.

Setiba di Sirahan, barulah saya tahu bahwa kondisinya lebih buruk dibanding Jumoyo. Jalan desa beraspal Gulon-Ngluar itu telah berubah menjadi sungai. Sepenggal jalan sepanjang lebih 200 m, sebagian tertimbun pasir cukup tebal, sebagian tergerus hingga kedalaman 5 m dari tinggi jalan aslinya.

(5)

Ketika terjadi banjir lahar, sungai Putih yang sebenarnya kecil tidak mampu menanggung beban aliran lahar dingin yang bercampur pasir dan batu-batu besar dalam volume luar biasa.

Maka aliran banjir pun mencari jalannya sendiri dan jalan aspal Gulon-Ngluar dipilihnya. Jalan itu pun tidak cukup, maka meluberlah ke perkampungan desa Sirahan menyapu apa saja dan menghempaskan rumah-rumah penduduk di lima dusun di sepanjang jalan itu… (kelak akan menjadi jalan kenangan)

‎(6)

Hampir 200 rumah di lima dusun (Salakan, Glagah, Jetis, Sirahan dan Gemampang) terkena dampak langsung dari banjir lahar dingin. Sebagian rumah tertimbun dan tenggelam oleh pasir, sebagian roboh, sebagian lainnya hilang terbawa banjir. Praktis semua rumah yang ada di pinggir jalan Gulon-Ngluar yang kini jadi sungai, kondisinya memprihatinkan bahkan lenyap tanpa bekas. Korban jiwa dapat ditekan, karena datangnya banjir lahar sudah diketahui sebelumnya.

(7)

Informasi datangnya banjir lahar dingin dalam skala sangat besar sudah dimonitor para relawan, satu diantaranya pak Sunaryo, Kepala Dusun Salakan. Segera para warga diminta mengungsi (sayang, ada seorang yang “ngeyel” dan akhirnya tewas terseret banjir).

Pergerakan banjir dimonitor dengan pesawat HT sejak di titik tertinggi lereng barat Merapi. Para relawan di sepanjang lintasan kali Putih saling memberi info situasi di lokasi masing-masing.

‎(8)

Sebagai Kepala Dusun, pak Naryo tergopoh-gopoh mengungsikan warganya dibantu para pemuda. Hal yang tidak terduga adalah kecepatan alirannya.

Pak Naryo mencatat, hanya dalam waktu 22 menit tsunami lahar dingin lengkap dengan pasir dan batunya menyapu desa Sirahan dengan dahsyatnya, sejak prtama kali dilaporkan di titik pantauan tertinggi di hulu kali Putih yang berjarak sekitar 22 km. Itu berarti kecepatannya sekitar 1 km/menit atau 17 m/detik. Waoow..!

(9)

Pak Naryo yang menjadi panglima tertinggi dalam situasi kritis di dusunnya, hanya bisa dheleg-dheleg (bengong dan tegang) menyaksikan datangnya banjir lahar yang begitu cepat, begitu dahsyat…

Sambil berdiri di posisi aman, malam itu pak Naryo menyaksikan detik-detik mendebarkan saat rumahnya diterjang banjir.., roboh.., lenyap.., begitu cepat.., dan baru esoknya melihat bekas rumah dan sekitarnya sudah berubah menjadi padang pasir…Top of Form

(10)

Murid-murid SDN Sirahan I baru beberapa hari selesai membersihkan sekolahnya dari endapan pasir banjir lahar dingin yang cukup besar Minggu sebelumnya. Tahu-tahu banjir kedua yang lebih besar datang seminggu berselang.

Maka tunai sudah urusan persekolahan. Ruang kelas kini berisi pasir, perlengkapan berantakan, belajar-mengajar terhenti, murid-murid mengungsi, pekerjaan lebih berat menanti. Beruntung bangunan sekolah tidak rusak berarti.

‎‎‎‎‎SDN Sirahan I, desa Sirahan, kec. Salam, Magelang, nyaris tenggelam oleh endapan pasir banjir lahar dingin. Sementara ini sekolah masih diliburkan karena ditinggal mengungsi semua muridnya.

(11)

Murid-murid SDN Sirahan I yang adalah warga desa Sirahan kini mengungsi ke barak pengungsian yang jauhnya lebih 3 km dari sekolah. Sebanyak 83 murid kesulitan menuju sekolahnya. Anak-anak itu merasa tidak nyaman untuk numpang belajar di sekolah lain. Anak-anak itu lebih cinta sekolah dan gurunya sendiri.

“Anak-anak kini tidak mau sekolah”, kata bu guru Purwaningsih ‘nglangut’. Anak-anak itu ingin ada kendaraan antar-jemput dari barak ke sekolah pp.

‎(12)

Transportasi menjadi kendala, terutama bagi anak-anak yang ortunya tidak memiliki motor. Jumlah mereka setengah dari jumlah murid. Seperti usul bu guru Purwaningsih: “Anak-anak perlu bantuan transportasi pak”.

Dapat dipahami. Memang tidak mudah membantu dalam bentuk jasa seperti ini. Lebih mudah membantu bentuk barang, sekali dibagi langsung selesai. Sedang bantuan jasa, lebih-lebih berkelanjutan entah sampai kapan, jelas lebih repot mengelolanya terutama bagi donatur personal.

(13)

Ketika terjadi banjir lahar yang pertama, sebenarnya sudah banyak bantuan mengalir untuk sekolah SDN Sirahan I dan murid-muridnya. Namun ketika terjadi banjir lahar kedua yang lebih parah, bantuan berupa buku, tas sekolah dan perlengkapan itu tertunda karena sekolah diliburkan. Murid-murid itu kini lebih butuh perlengkapan sekolah, terutama sepatu dan baju seragam yang banyak tak lagi dimiliki oleh murid yang rumahnya terkena dampak langsung banjir lahar…

(14)

Bangunan sekolah TK Ibnu Hajjar dusun Glagah, desa Sirahan, itu kini isinya porak-poranda dan taman bermainnya hilang, tinggal menyisakan setengah bangunannya. Anak-anak taman nak-kannak itu kini tak lagi punya wahana bermain. Apa boleh buat, alam menghendaki demikian…

Sama seperti hamparan sawah yang sedang mulai menguning itu sebagian kini berubah menjadi dataran pasir. Apa boleh buat, alam pun menghendaki demikian…

(15)

Saya pikir, melihat kondisi TK Ibnu Hajjar di dusun Glagah yang setengah bangunannya dihajar lahar itu sudah membuatku mengelus dada. Lha, begitu tiba di dusun Gemampang saya harus nambahi mengelus jidat.

TK Pertiwi yang ada di sudut pertigaan jalan itu malah bangunannya buablas tak berbekas kecuali secuil dindingnya, tak tahu kemana perginya… Posisinya digantikan oleh segelundung batu besar, yang juga tak tahu darimana datangnya…

(16)

Ya namanya juga anak-anak… Melihat sekolah TK-nya hilang, ya sudah, nggak mau sekolah. Untung ada yang berinisiatif membujuk pindah menempati rumah warga yang masih dapat digunakan sementara pemiliknya mengungsi.

Pak Danang (Kadus Gemampang) mengusulkan bantuan untuk anak-anak (baik yang di TK maupun yang tidak mau sekolah dan tetap di barak), seperti mainan dan buku cerita anak. Saya hanya mengangguk sambil pegang pelipis, mikir maksudnya…

(17)

Segenap warga lima dusun dari desa Sirahan, kecamatan Salam, kini tinggal di pengungsian yang letaknya cukup jauh. Sebagian besar mereka bekerja sebagai buruh (tani/bangunan/tambang pasir).

Siang itu saya lihat sebagian dari mereka yang memang benar-benar dibuat tak berkutik oleh bencana, tanpa pekerjaan, duduk-duduk, ngobrol, melamun, di barak pengungsian. Sampai kapan? Menilik potensi ancaman banjir lahar, jelas mereka akan ada di sana untuk waktu lama…

(18)

Anak-anak itu.., anak-anak yang tidak sekolah, bersuka-ria, bercanda, bermain, tertawa riang, di halaman barak pengungsian. Sekarang baru bicara hitungan hari hingga minggu. Sedang naga-naganya mereka akan di sana dengan hitungan bulan… Bagaimana dengan pekerjaan dan penghidupan tiap-tiap keluarga selanjutnya? Bagaimana dengan anak-anak itu dan sekolahnya?

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan itu, saya hanya ingin bagaimana bisa menjadi bagian kecil saja dari kehidupan mereka…

Anak-anak bermain bola di halaman barak pengungsian, sementara para orang tua duduk-duduk menyaksikan dari jauh. Menunggu waktu…, mengisi waktu…, pekerjaan yang tak kan pernah selesai mereka jalani…

(19)

Para korban bencana itu perlu bantuan. Itu pasti. Tapi bantuan apa yang paling dibutuhkan? Riil dan jujur, yang paling dibutuhkan adalah uang..! Kita suka merasa jengah kalau mendengar kata uang.

Uang memang lebih fleksibel, mudah dilipat, juga ditilap. Tapi itulah kenyataan, mereka perlu pengganti penghasilan setelah tidak dapat bekerja. Walau logistik, pakaian dan kebutuhan lain tercukupi, mereka tetap perlu biaya transport, bensin, pulsa, dsb…

‎(20)

Walau uang yang paling mereka butuhkan, tidak serta-merta berarti tidak menerima bantuan non-uang. Apapun rupa bantuannya dan berapapun banyaknya, bantuan akan selalu disambut dengan suka cita. Bahkan sesama dusun dapat saling jujur dan adil dalam mendistribusi bantuan sesuai pesan pemberinya.

Tapi saya (juga banyak donatur, biasanya) lebih memilih untuk mengirimkannya langsung ke posko-posko mandiri yang ada di dusun-dusun ketimbang melalui posko utama.

(21)

Mengakhiri kunjungan saya ke desa Sirahan, sore itu saya berdiri di atas tanggul kali Putih. Nampak jelas permukaan sungai kini berada lebih tinggi dibanding desa Sirahan. Tanggul itu terus ditinggikan dengan mengeruk dasar sungainya dengan alat berat.

Namun setiap kali terjadi banjir lahar dingin, sungai akan penuh kembali. Sedang di atas lereng Merapi sana masih menunggu jutaan m3 material vulkanik siap digelontorkan… Masya Allah..!

(22)

“Kampungku Bencanaku 090111″… Ekspresi warga dusun Gemampang, desa Sirahan, terhadap bencana banjir lahar dingin berskala besar yang pertama, yang telah menghancurkan desanya dan mengantar sebongkah batu besar ke sudut pertigaan jalan desa. (Di batu besar itulah tulisan ekspresi kesedihan itu diabadikan).

Yogyakarta, 29 Januari – 1 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Dusun Gempol Tenggelam Oleh Lahar Dingin

30 Januari 2011

Catatan dari mengunjungi dusun Gempol,desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang Jateng) pada tanggal 24 Januari 2011. Sebagian besar rumah warga dusun Gempol tertimbun bahkan tenggelam oleh endapan pasir banjir lahar dingin Merapi yang meluber dari aliran kali Putih.

Aliran lahar dingin di Kali Putih yang terjadi tadi sore (24/01/11)…, tak sebesar minggu lalu yang menghancurkan desa Jumoyo, kecamatan Salam, Magelang (sosok gunung Merapi yang berjarak sekitar 20 km ada di latar belakang).

(1)

Sebagian warga dusun Gempol, desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, masih tinggal di pengungsian akibat erupsi Merapi November tahun lalu.

Saat minggu lalu mereka pulang untuk menengok rumahnya, malah rumahnya pada hilang. Bukan oleh letusan Merapi, tapi oleh sapuan lahar dingin yang menggelontor dari lereng barat Merapi, yang mbludak tak tertampung oleh kali Putih di seputar jembatan jalan raya Jogja-Magelang.

(2)

Kini lebih 500 jiwa warga dusun Gempol tinggal di pengungsian di lapangan depan Balai Desa Jumoyo. Nyaris semua rumah mereka hancur, tenggelam, bahkan hilang. Ada juga yang setengah tenggelam oleh endapan pasir lahar, dan masih tersisa sekitar 39 rumah yang hanya kotor saja. Tapi praktis dusun Gempol kini ditinggal warganya. Ancaman banjir lahar dingin belum selesai, dan entah sampai kapan ancaman itu berhenti..

(3)

Tempat pengungsian itu berupa tenda-tenda berbentuk dome warna putih. Tenda-tenda itu pindahan dari lokasi lain yang sebelumnya digunakan oleh pengungsi korban letusan Merapi.

Ada puluhan tenda berdiri di lapangan depan Balai Desa. Selain warga dusun Gempol, ada juga pengungsi dari dusun Kadirogo, Kemburan dan Dowakan, yang berjumlah lebih 800 jiwa semuanya dari desa Jumoyo.

(4)

Tenda dome warna putih… Dari kejauhan terlihat seperti perkemahan di padang Arafah. Hanya saja lokasi itu dikelilingi oleh hijau pepohonan. Entah sampai kapan mereka akan mampu bertahan di tempat itu. Sedang menyediakan shelter bagi warga kecamatan Cangkringan yang rumahnya hancur oleh awan panas saja sampai sekarang Pemkab Sleman masih kesulitan. Kini ditambah warga kecamatan Salam

(5)

Rombongan lebih 40 sepeda motor berkonvoi ke Balai Desa Jumoyo. Dari tampilannya, ini rombongan orang-orang desa. Dari sepeda motornya, ini pedagang keliling. Keranjang yang terpasang di sepeda motor itu penuh berisi sayur-mayur. Ada apa gerangan?

Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu. Mereka datang tiba-tiba untuk mengirim bantuan sayur-sayuran ke dapur umum pengungsian korban lahar dingin.

(6)

Mereka bukan tukang sayur yang sedang berjualan di pasar. Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang. Berkonvoi mereka datang, ingin meringankan beban derita sesama. Rasa empati dan peduli yang kemudian menggerakkan hati dan rasa cinta orang-orang kecil itu terhadap sesama.

Sebuah kepedulian dari orang-orang kecil untuk saudara-saudara yang sama kecilnya. Dari mana datangnya cinta, dari lembah Merbabu turun ke desa Jumoyo…

(7)

Sekian kali saya mengunjungi tempat pengungsian, sekian kali pula saya menyaksikan tumpukan pakaian (bekas, layak pakai, bagus) tertimbun, terhampar, berserakan begitu saja seperti tak terurus. Nampaknya pakaian memang bukan kebutuhan mendesak bagi pengungsi korban bencana, termasuk gunung meletus, banjir lahar, juga gempa.

Pada saat-saat tak berdaya, mereka lebih butuh logistik atau bentuk lain yang lebih nyata bagi keseharian di tempat pengungsian…

(8)

Posko utama pengungsian desa Jumoyo tampak tertangani dengan baik. Bantuan pun berdatangan. Namun fenomena lambatnya penyaluran bantuan oleh “alasan prosedural” sering menghantui. Akibatnya bnyak donatur yang kadang-kadang “skeptis” dengan Posko utama.

Donatur merasa lebih puas kalau dapat langsung menyalurkan bantuan ke lokasi yang biasanya dikelola relawan mandiri. Itu juga alasan saya kemarin sore bersama Kadus Gempol turun langsung ke lokasi.

(9)

Pak Sudiyanto, Kadus (Kepala Dusun) Gempol, desa Jumoyo, galau menyaksikan sebuah rumah warganya tinggal menyisakan daun pintu yang masih berdiri. Selebihnya tertimbun pasir setinggi atap sedang atapnya tersapu aliran lahar dingin. Sebagian rumah lainnya bahkan hilang tak berbekas. Termasuk rumah pak Kadus yang tertimbun pasir setengah tingginya.

(10)

Sore itu langit agak mendung dan gerimis mulai turun. Pak Kadus Sudiyanto begitu semangatnya memboncengkan saya dengan sepeda motornya berkeliling dusun menunjukkan rumah-rumah warganya yang kini hilang.

Ada yang tenggelam oleh endapan lahar dingin menyisakan atapnya, ada juga yang benar-benar tersapu dahsyatnya aliran lahar yang membawa pasir dan batu-batu besar. Dusun yang dulu agak jauh dari kali Putih, kini berubah menjadi jalan baru bagi aliran sungai.

(11)

Rute aliran kali Putih itu membelok sebelum menyeberang jalan raya Jogja-Magelang. Namun rupanya aliran kuat lahar dingin Merapi tidak sabar untuk membelok mengikuti aliran sungai yang sudah ada, melainkan lurus saja menyeberangi sekaligus menggerus badan jalan aspal, menghantam pasar Jumoyo dan dusun Gempol seisinya. Begitu berulang setiap kali banjir lahar dingin datang. Maka jalan raya Jogja-Magelang pun berulang terganggu.

(12)

Sekitar jam empat sore itu tiba-tiba orang-orang yang sedang “berwisata” di sekitar jalan raya desa Jumoyo pada berlarian. Petugas keamanan mengumumkan agar orang-orang menjauh karena lahar dingin segera tiba.

Pak Kadus memberitahu saya bahwa sebentar lagi akan melihat datangnya lahar dingin. Kutanya: “Apa aman?”. Dengan yakin dijawab: “Tidak apa-apa, banjirnya kecil”.

Dengan pesawat HT-nya, pak Kadus dapat memonitor gerakan aliran lahar dari Merapi, seberapa besar dan sudah sampai mana.

(13)

Kami memilih lokasi di tanggul timur, dekat pertigaan antara aliran lama dan baru. Semakin lama para “wisatawan” yang datang semakin banyak. Petugas keamanan tidak melarang karena sudah tahu bahwa banjir sore itu tidak besar.

Ketika banjir lahar akhirnya datang, memang tidak sampai meluber keluar dari aliran sungai yang ada sehingga masih aman bagi masyarakat yang ingin menyaksikan. Walau lalulintas Jogja-Magelang sempat ditutup sebentar sebagai tindakan preventif.

(14)

Menunggu datangnya banjir lahar dingin seperti menunggu datangnya pujaan hati. Kata pak Kadus yang merangkap relawan mandiri: “Kalau sudah dapat info ada banjir lahar di atas (Merapi), terus dimonitor laju kepala banjir sambil deg-degan. Kalau nggak datang-datang seperti ada rasa ‘gelo’ (menyesal), padahal tahu bahwa itu bisa jadi petaka…”.

(15)

Dengan melihat sendiri kondisi dusun Jumoyo yang berantakan dan sebagian lenyap, serta warganya yang ingin pulang tapi tidak ada yang dipulangi.

Maka kesanalah saya berencana menyalurkan bantuan (prioritas sementara logistik/sembako). Setidaknya, langsung ke sasaran, sebagaimana diharapkan pak Kadus Gempol. Seorang warga dusun tetangga (Seloiring) juga berharap bantuan langsung ke lokasi. Uugh, nampak ada nada skeptis jika bantuan dikirim ke Posko utama.

(16)

Dusun Seloiring bertetangga dengan dusun Gempol, masih di desa Jumoyo, hanya terpisah oleh jalan raya Jogja-Magelang. Ketika terjadi banjir besar lahar dingin minggu yll. yang telah melenyapkan sebagian dusun Gempol, warga Seloiring selamat tapi nyaris karena ada di batas limpahan kali Putih.

Namun… (lha ini anehnya masyarakat kita), belum mau disuruh mengungsi karena memang belum terbukti terkena bahaya. Sedang potensi ancaman itu nyata di depan mata. Huuh..!

(17)

Masyarakat Gempol pada umumnya adalah buruh tani dan penambang pasir. Entoch, endapan pasir lahar tidak begitu saja dapat ditambang, walau pasir itu kini menghampar nyaris seperti tak kan habis.

“Wah, jadi rejeki bagi warga”, kataku kepada pak Kadus.

“Paling-paling nanti orang luar yang menikmati, warga ya tetap saja begitu…”, jawab pak Kadus sambil memboncengkan saya menuju mobil.

Terasa ada nada getir di baliknya. Saya pun segera pulang membawa serta kegetiran itu…

Yogyakarta, 25-27 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Catatan Harian Untuk Merapi (3)

28 Desember 2010

(15). Waspada Banjir Lahar Dingin

Jogja hujan derasss… Semoga membantu ngerih-rih (meredakan) “kemarahan” Mbah Merapi… Setidak-tidaknya, udara Jogja yang kotor oleh taburan abu vulkanik menjadi agak menyegarkan. Tapi tetap waspada banjir lahar dingin…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(16). Berdoa Di Waktu Kritis

Jogja hujan deras, petir menyambar-nyambar, di tengah rasa takut terhadap bencana Merapi… Wahai warga Jogja, inilah salah satu saat terdekat dengan Sang Maha Penguasa Jagat Seisinya, termasuk isinya Merapi. Maka tundukkan hati dan  pikiran sejenak, lalu berdoa. Sisipkan doa apa saja, termasuk kalau ingin kaya, dapat jodoh, naik pangkat, naik gaji, naik haji… (ini serius). Manfaatkan waktu kritis ini. Syukur kita memperoleh peluang luar biasa ini…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(17). Menulis Makalah

Puji Tuhan walhamdulillah, sambil menemani Mbah Merapi terbatuk-batuk, dalam cuaca hujan deras dan petir menyambar-nyambar siang tadi, sebuah makalah berhasil diselesaikan untuk bahan seminar besok pagi. Topiknya tentang berbahasa tulisan di dunia maya. Lhadalah…, gak ono hubungane karo tambang babar blasss…(tidak ada hubungannya dengan ilmu tambang sama sekali). Yo wis.., tiba saatnya mendongeng berbagi pengalaman…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(18). Musim Gunung Tidak Normal

Lagi musim gunung tidak NORMAL. Ada 20 saudaranya Merapi menggeliat. Berita yang sebenarnya “normal” itu menjadi terkesan “menakutkan” kalau penjelasan di media tidak jelas. Tapi media memang suka begitu.

Contohnya, running text di sebuah TV. Katanya: ‘anak’ gunung Krakatau meningkat aktivitasnya. Lho, kapan ibu Krakatau melahirkan? Padahal maksudnya adalah gunung ‘Anak’ Krakatau. Khawatir saja kalaou nanti ditulis gunung Krakatau ‘anak’..

(Yogyakarta, 4 Nopember 2010)

——-

(19). Gerimis Pasir Dini Hari

Tengah malam di Jogja.., malam Jum’at Pahing, air gerimis telah mereda, geluduk bersahutan. Nun jauh di utara terdengar lembut gemuruh erupsi Merapi dan hujan air telah berganti dengan gerimis pasir Merapi… Lewat tengah malam…, gerimis pasir terdengar semakin lebat. Bukan lagi…tik-tik-tik bunyi hujan, melainkan…krutuk-krutuk-krutuk

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(20). Penggalangan Nasi Bungkus

Rencana mengisi seminar pagi ini, tentang berbahasa tulisan di dunia maya, dibatalkan. Kawasan tempat seminar (kampus UPN “Veteran” Yogyakarta) sedang disibukkan sebagai tempat pengungsian sejak memburuknya dampak letusan Merapi tadi malam. Simpan dulu file Powerpoint, diganti dengan penggalangan nasi bungkus…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(21). Ketika Dapur Umum Belum Siap

Wajah-wajah lelah, letih, bingung, ngantuk, terpancar dari lebih 700 pengungsi yang hari ini ditampung di Auditorium UPN “Veteran” Yogyakarta. Mereka sejak dini hari tadi dievakuasi dari berbagai barak pengungsian di utara Jogja yang harus menghidar dari radius 20 km.

Dapur umum belum bisa segera disiapkan, sehingga nasi bungkus adalah solusi termudah sementara ini. Itu yang terjadi di banyak tempat pengungsian dadakan di wilayah kota sejak dini hari tadi.

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(22). Ketika Pengungsian Harus Berpindah-pindah

Hingga Jumat siang ini jumlah pengungsi yang datang ke Auditorium UPNVY terus bertambah. Sebagian adalah anak-anak yang dipindahkan dari Stadion Maguwoharjo yang kondisinya terbuka dan kurang terlindung. Tikar, makanan bayi, pakaian dalam, adalah sebagian kebutuhan yang mendesak, setelah makan tentu saja…

Situasi pengungsian yang berpindah-pindah seiring status Merapi, bisa dipahami akan “membingungkan” Posko Utama dalam mendistribusikan bantuan…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(23). Jumlah Pengungsi Terus Bertambah

Jumlah pengungsi yang datang ke Auditorium UPNVY semakin banyak. Siang ini jumlahnya sudah lebih 1200 orang dan diperkirakan masih akan terus bertambah sebab mereka yang masih ada di bagian utara Jogja segera harus menjauh dari Merapi. Kini pengungsian banyak terpusat di kampus-kampus yang ada di kota Jogja. Bantuan pun terus berdatangan, dari swasta dan personal. Perpindahan mendadak ke berbagai tempat ini pasti akan menyulitkan manajemen distribusi bantuan…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(24). Terbangunnya Kekompakan

Melihat orang-orang muda itu begitu kompak bahu-membahu bekerjasama mengelola bantuan bagi pengungsi, indah sekali tampaknya. Tapi…, masak sih kekompakan itu hanya dapat terbangun ketika ada bencana? Sedang ketika suasana aman dan tenteram mereka kembali timpuk-timpukan? Jika demikian, jangan kemudian menyalahkan Tuhan, kalau….

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(25). Waspada Banjir Lahar Di Kali Code

Siang ini Kali Code yang membelah kota Jogja sempat nyaris penuh membawa lumpur lahar dingin. Masyarakat di lembah Code sudah bersiap-siap mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Kentongan tanda bahaya dipukul bersahut-sahutan, sebagian harta benda diamankan. Tapi alhamdulillah…air kemudian surut, masyarakat pun lega. Namun semua paham bahwa ancaman belum sepenuhnya berlalu…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (4)

28 Desember 2010

(26). Bantuan Dari Papua

Rencana mau distribusi bantuan hari ini tertunda, karena barang-barang yang mau dibagi terlambat tiba. Gara-gara pesawat tidak bisa mendarat di Jogja, sehingga harus via bandara Semarang lalu diangkut lewat darat. Ini bantuan dari teman-teman di Papua yang berasal dari Jogja dan sekitarnya yang digabung dalam program Freeport Peduli. Insya Allah, baru besok bisa didistribusikan.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(27). Perlu Dukungan Logistik

Akibat letusan besar malam Jumat kemarin, pengungsian menjadi kurang terkontrol. Dapat dimaklumi, karena gelombang pengungsian terus berpindah-pindah seiring dengan perubahan radius Kawasan Rawan Bencana. Sekarang lokasi pengungsian sudah masuk wilayah kota Jogja. Tempat-tempat pengungsian dadakan ini perlu dukungan logistik yang tak terencana. Tak terkecuali desa Madurejo dan desa-desa sekitarnya di Prambanan, Sleman, juga kedatangan pengungsi.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(28). Air Mineral Untuk Tetamu Tak Diundang

Sekedar beberapa karton air mineral yang saya drop ke pak RT tadi siang, kiranya bisa membantu sebagai pelengkap nasi bungkus yang dibagikan oleh masyarakat desa Madurejo sebagai tuan rumah dadakan. Ini dalam rangka menyambut tetamu tak diundang, tapi jelas perlu bantuan dan disambut sepenuh rasa simpati. Lebih 500 pengungsi telah memenuhi Balai Desa Madurejo, Prambanan, Sleman, dan diperkirakan jumlahnya akan bertambah.

(Madurejo – Sleman, 6 Nopember 2010)

——-

(29). Awas Banjir Lahar Dingin

Awas Banjir Lahar Dingin…! Setelah kemarin siang, sore ini Kali Code kembali naik permukaannya. Arus yang sangat kuat mengalir deras membawa material Merapi. Nyaris melampaui tanggul di sepanjang bantaran sungai yang membentang 10 km membelah kota Jogja, melintasi 9 kecamatan kota. Masyarakat di sepanjang bantaran sungai sudah siap-siap mengungsi mengantisipasi kemungkinan terburuk banjir lahar dingin.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(30). Mbah Merapi Tidur Nyenyak

Seharian ini Jogja redup, mendung dan masih tersaput abu vulkanik tipis bergentayangan. Sore harinya hujan deras mengguyur seakan membersihkan lapisan abu yang menempel dimana-mana. Sementara Mbah Merapi nampak tidur nyenyak sejak semalam. Mudah-mudahan sama seperti Mbah Surip…, bangun tidur, tidur lagi, banguuuun… tidur lagi…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(31). Ketika Perangkat Desa Mendadak Sibuk

Ketika tempat-tempat pengungsian utama penuh, seperti Stadion, GOR dan kampus-kampus, maka Balai Desa menjadi alternatif. Seperti para pengungsi yang mendadak berdatangan ke desa Bokoharjo, Sumberharjo dan Madurejo, Prambanan, Sleman. Akibatnya, perangkat desa dan masyarakat setempat pun jadi mendadak sibuk kedatangan rombongan tamu ini. Tapi justru tempat-tempat pengungsian “kurang populer” seperti inilah yang jauh dari tujuan pemberian bantuan dari para dermawan.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(32). Sampai Kapan Bertahan

Sepulang dari toko tadi sore, mampir sebentar ke Posko pengungsian desa Madurejo. Sekalian survey, berbincang-bincang sebentar dengan petugas untuk mengetahui kebutuhan mendesak para pengungsi. Ternyata jumlah pengungsi ada 1200-an orang dari berbagai desa di wilayah lereng Merapi. Berjubel di tempat yang sangat terbatas. Uuugh…! Kalau ingat entah sampai kapan mereka harus bertahan…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(33). Kearifan Lokal Yang Luar Biasa

Tempat pengungsian dadakan seperti itu umumnya tidak (atau belum?) menyediakan fasilitas dapur umum. Selain masalah prasarana, juga tempat. Maka sibuklah ibu-ibu PKK warga desa, bergotong-royong memasak untuk para pengungsi. Sungguh kearifan lokal yang luar biasa, tapi lagi-lagi… akan bertahan sampai kapan? Sementara supply logistik bahan mentah begitu mendesak. Selain kebutuhan toiletris, makanan balita, selimut dan obat2an ringat juga mendesak…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(34). Tempat Pengungsian “Tidak Populer”

Siang tadi saya menerima transfer sejumlah dana dari teman di Jakarta dan insya Allah akan ada yang menyusul. Rencananya akan saya salurkan ke tempat-tempat pengungsian yang “tidak populer” seperti di desa-desa itu. Tempat seperti itu biasanya jauh dari jangkauan penyumbang yang pada umumnya sudah tertuju ke tempat-empat yang mudah didatangi.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (17)

28 Desember 2010

(141). Ada Yang Menanyakan Sisa Logistik

Siang tadi saya dihubungi seorang relawan mandiri yang tanya apa saya masih memiliki sisa logistik karena ada sebuah dusun di desa Wonolelo, Sawangan, Magelang, sangat membutuhkan bantuan logistik.

Menurut infonya, belum ada bantuan masuk ke sana karena lokasinya memang ada di radius 4-5 km dari Merapi, yang bagi masyarakat umum (pemberi bantuan) ini lokasi yang dianggap “menakutkan”.

Apa boleh buat, saya hanya bisa menjawab: “Insya Allah saya usahakan…”.

(Yogyakarta, 28 Nopember 2010)

——-

(142). Entah Apa Yang Ditunggu

Siang tadi menyalurkan beras bantuan untuk korban Merapi yang sudah kembali dari pengungsian, di dusun Windusabrang, desa Wonolelo, kecamatan Sawangan, Magelang (23 km dari Blabak, Muntilan dan berada di radius 5 km dari Merapi).

Ketika semua lahan dan tanaman sayur rusak, tak lagi bisa diambil manfaatnya, sedang biaya tak ada, Merapi masih berstatus Awas, maka mereka (210 KK, 800-an jiwa) hanya bisa menunggu. Entah apa yang ditunggu…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(143). Khawatir Kalau Bantuan Dicegat

Hujan turun cukup lebat saat saya dalam perjalanan menuju dusun Windusabrang, Sawangan, Magelang, tengah hari tadi melalui obyek wisata Ketep terus mengikuti jalan yang menuju Boyolali. Seseorang dari dusun itu tadinya keukeuh mau menjemput di Ketep, tapi saya yakinkan setelah di Wonolelo saja.

Rupanya dia khawatir, kalau tidak dikawal seringkali bantuan dicegat di tengah jalan dan diminta oleh masyarakat setempat yang juga butuh logistik. Sebegitunya…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(144). Mereka Perlu Bibit Sayuran

Bantuan yang saya bawa tadi siang sebenarnya darurat, daripada tidak. Walau lokasinya di pinggir jalan, tapi tidak mudah bagi warga Windusabrang dan tetangga-tetangganya untuk mendatangkan bantuan. Ketika tidak lagi berstatus pengungsi, mereka harus survive. Meminta (apalagi cuma berharap) ke pemerintah pun tidak ada hasil.

Untuk segera mulai bertani bukan perkara mudah dan murah. Mereka perlu bibit sayuran yang bisa cepat untuk diusahakan, seperti sawi, kobis, bunga kol, loncang…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(145). Umbi-umbian Pun Rusak

Ketika kutanya sejak pulang dari pengungsian makannya bagaimana?

Jawabnya: “Ya seadanya, sering-sering singkong”.
“Darimana?”, tanyaku.
“Ada orang yang membantu ngirim singkong”, jawabnya lagi.
“Apa kebun singkongnya tidak menghasilkan?”.
“Banyak yang rusak…”.

Rupanya saking tebalnya abu vulkanik panas, kandungan sulfurnya meresap dan merusak umbi-umbian di bawahnya. Insya Allah, masih ada sembako yang akan datang… (Terima kasih kepada HMM Papua untuk berasnya)

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(146). Di Dusun Klakah Dimana Merapi Nampak Indah

Dari Windusabrang saya berkunjung ke dusun Klakah sekitar 3 km masuk ke tenggara ke kaki Merapi, masuk wilayah Selo, kabupaten Boyolali. Dusun ini berada di radius sekitar 3,5 km dari Merapi (Uugh..!), tepat di atas sungai Apu. Kondisi masyarakatnya yang baru kembali dari pengungsian, tidak jauh beda. Tapi konon masyarakat merasa bahwa penanganan bantuan oleh Pemkab Boyolali, lebih baik daripada Pemkab Magelang.

Dari sini, bentang gunung Merapi nampak kekar dan indah…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(147). Tontonan Langka Banjir Lahar Dingin

Sejak dari Muntilan sore tadi, saya lihat banyak orang berkerumun di hampir setiap jembatan yang melintas di jalan Jogja – Muntilan. Rupanya sungai-sungai itu sedang banjir yang tentu saja membawa material lahar dingin Merapi. Arusnya sangat deras dan gemuruh suaranya, rupanya menjadi tontonan langka. Bahkan banyak pengendara mobil yang juga berhenti turut menyaksikan.

Saat tiba di Bintaran dimana kali Code ada di lembahnya, saya lihat inilah banjir terbesar…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(148). Banjir Terbesar Di Kali Code

Kali Code banjir besar sejak sore hingga malam ini. Terbesar selama ini. Arusnya sangat deras. Gemuruh suaranya menakutkan. Tinggi air sudah di atas rata-rata wilayah sepanjang lembah Code.

Di kawasan Bintaran dimana saya berdiri saat ini, air tertahan oleh tanggul bantaran sungai dan karung-karung pasir yang sudah ditumpuk di atasnya. Di lokasi lain ada yang tanggulnya jebol. Masyarakat waspada siap-siap kabur jika kondisi memburuk. Sebagian sudah mengungsi.

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(149). Ada Penonton Terjatuh

Seorang penonton di kawasan Gondolayu terjatuh ke kali Code dan terbawa arus deras yang tak terduga. Sesekali arus agak turun, tiba-tiba membesar lagi, begitu berulang-ulang. Uuugh…, jangan lagi deh… Ayo menjauh, menjauh dari bantaran sungai…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(150). Foto Banjir Lahar Dingin

Foto banjir Kali Code td sore, dpt dilihat di link ini… @JogjaUpdate: #Jogja @marawie: Kali code sekarang http://twitpic.com/3bay3e

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-