Posts Tagged ‘lagan bungin’

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(2).  Ladang Emas Hitam Di Taba Penanjung

Di tengah teriknya siang, kami (saya dan beberapa teman) pergi meninggalkan kota Bengkulu menuju ke arah timur. Mengikuti jalan raya yang menuju kota Curup dan Lubuklinggau. Kira-kira tiba di kilometer 20, di desa Taba Lagan lalu nyempal membelok menuju arah tenggara. Masih melalui jalan aspal beberapa kilometer sampai ke desa Lagan Bungin, lalu disambung dengan jalan desa. Lebih tepat disebut jalan tambang yang berupa tanah dan batu yang dipadatkan di tengah perkampungan. Disebut jalan tambang, karena jalan yang cukup lebar untuk dua buah truk bersimpangan ini sebenarnya dibuat sebagai sarana pengangkutan hasil tambang batubara dari lokasi penambangan menuju pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu.

Perjalanan masih dilanjutkan menyusuri jalan tambang hingga sejauh kira-kira 18 km menuju ke arah perbukitan. Lha wong namanya jalan perbukitan, ya tentu saja naik-turun dan belak-belok membelah kawasan pinggiran hutan yang tampak sudah terbuka dirambah orang dan di sana-sini masih dijumpai kawasan rumah-rumah penduduk. Rumah penduduk yang tampak sangat sederhana, sekedar berbentuk rumah panggung dari bahan kayu. Akhirnya sampai ke lokasi dimana banyak diusahakan penambangan batubara, terkadang suka disebut dengan si emas hitam. Di siang yang terik dan berdebu itu akhirnya saya tiba di ladang emas hitam di pinggiran sebelah barat Bukit Barisan, tepatnya di daerah Taba Penanjung, Bengkulu.

Batubara atau si emas hitam ini memang banyak diketemukan di Sumatera. Di sepanjang lereng barat dan timur Bukit Barisan yang membentang selatan-utara membelah pulau Sumatera, banyak memiliki potensi cadangan endapan batubara. Kecamatan Taba Penanjung hanyalah satu dari sekian banyak daerah di Sumatera yang kaya akan batubara. Di sana ada banyak perusahaan tambang yang kini terus menggali batubara untuk diangkut keluar pulau, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mupun luar negeri, tergantung kecocokan spesifikasinya antara persediaan dan permintaan.

Untuk sekedar menyebut contoh, kalau kita ingat pelajaran Ilmu Bumi sewaktu sekolah dulu. Pak guru akan bertanya : “Batubara banyak dihasilkan di…..?”. Pak guru pun menjawab sendiri : “Ombilin”, karena murid-muridnya susah mengingat nama tempat yang berada di propinsi Sumatera Barat itu. Sejarah panjang tentang industri tambang batubara di Indonesia memang tidak bisa lepas dari nama itu.

Potensi batubara di Sumatera memang sangat besar, tidak kalah dari yang ada di Kalimantan yang akhir-akhir ini lebih populer namanya sebagai penghasil batubara. Namun karena ketersediaan sarana pengangkutan di Sumatera umumnya sangat terbatas, sehingga para investor masih pikir-pikir kalau mau mengusahakan penambangan batubara di Sumatera. Hitung-hitungan njelimet mesti dilakukan dengan teliti menyangkut pengangkutan batubara dari lokasinya yang jauh di pedalaman menuju pelabuhan terdekat yang mempunyai fasilitas pengisian ke tongkang atau kapal.

Di Sumatera Selatan sarana pengangkutannya menggunakan sepur Babaranjang (batubara rangkaian panjang). Sedang di lokasi lain umumnya masih memanfaatkan sarana jalan darat sebagai jalan angkut. Tentu saja kapasitas produksinya tidak bisa maksimal karena terkait dengan pertimbangan kepadatan lalulintas umum akibat truk pengangkut batubara yang midar-mider melalui jalan umum. Sementara di Kalimantan meskipun sarana jalan umum masih terbatas, tetapi lebih diuntungkan dengan banyaknya sungai-sungai yang layak dimanfaatkan sebagai sarana pengangkutan.

***

Rasanya belum lama saya mendengar tentang agenda besar pemerintah untuk menjadikan batubara sebagai sumber energi alternatif. Maksudnya alternatif selain minyak. Sejak jamannya bapak presiden HMS hingga pak SBY, semangat untuk memasyarakatkan batubara (atau boleh juga kalau mau dipelesetkan menjadi membatukan dan membarakan masyarakat) sepertinya gebu-menggebu. Harap maklum, potensi cadangan batubara di bumi Indonesia ini memang tergolong buesar. Selama ini belum didayagunakan secara optimal.

Istilah briket batubara digaung-gaungkan sampai ke pelosok desa, bahkan sampai ke masyarakat yang tidak tahu apa itu batubara. Pelaku bisnis pun serta-merta berlomba menangkap peluang. Tapi kini, entah kenapa semangat itu sepertinya memudar. Briket batubara dan anglonya telanjur diproduksi. Tapi semua orang keburu lupa hal-ihwal batubara, dan akhirnya kembali mencari kayu bakar dan mengantri minyak tanah meski harganya selangit.

Kalau soal polusi, tentu bukan monopoli batubara. Minyak dan gas pun menimbulkan polusi yang membahayakan kesehatan manusia. Malah bisa menyebabkan kematian ketika terhirup hidung…….., kalau menghirupnya seperti kucing ngembus-embus ikan asin. Asal penanganan dan pengelolaannya benar menurut kaidah ilmu dan teknologi, tentunya dampak apapun akan dapat direduksi atau dikendalikan.

Sejauh ini baru sektor industri besar yang banyak memanfaatkan sumber alam ini, belum memasyarakat ke sektor rumah tangga. Perlu “aba-aba” pemerintah lagi……. Kalau ternyata “aba-aba” itu tidak pernah muncul lagi, ladang emas hitam akan tetap dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luar negeri.

***

Salah satu dapurnya perusahaan tambang yang sempat saya kunjungi ternyata memanfaatkan batubara untuk memasak. Tentu bukan karena “aba-aba” yang pernah digembar dan digemborkan pemerintah, melainkan karena disana batubara pating tlecek (berserakan) tidak dimanfaatkan. Lha wong namanya juga lokasi tambang batubara…..

Apa keunggulan benda ini? Antara lain, lebih panas sehingga waktu untuk memasaknya lebih cepat, dan akibatnya ya tentu lebih hemat. Kalaupun untuk memperoleh batubaranya harus membeli, maka harganya masih relatif lebih murah dibandingkan dengan harga minyak dan gas untuk digunakan dengan tujuan yang sama. Lha kalau demikian, kenapa pemerintah setengah hati mengkampanyekan penggunaan batubara sebagai sumber energi alternatif? Wah, yo embuh……..

Bengkulu, 28 Juni 2006
Yusuf Iskandar