Posts Tagged ‘kutai’

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 24 Juli sampai 29 Juli 2006, saya melakukan perjalanan darat menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan dari Banjarmasin (Kalsel) menuju Samarinda (Kaltim). Ini adalah perjalanan traveling dalam rangka urusan pekerjaan sambil jalan-jalan. Berikut ini adalah catatan perjalanan saya.

(1).   Pergi Ke Rantau
(2).   Sarapan Ketupat Haruan 
(3).   Pergi Ke Atas 
(4).   Mencari Batubara Di Pasir 
(5).   Menyantap Trekulu Bakar 
(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif
(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama
(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”
(9).   Menyeberang Ke Balikpapan
(10). Di Tepinya Sungai Mahakam
(11). Nggado Ikan Puyu Goreng Garing
(12). Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy
(13). Tenggarong Di Waktu Sore
(14). Rebutan Bukit Soeharto
(15). Tragedi Pembantaian Massal Di Kota Minyak
(16). Kenapa Disebut Balikpapan?

Iklan

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(10).   Di Tepinya Sungai Mahakam

Kira-kira sudah lewat jam tujuh malam, ketika akhirnya tiba di kecamatan Loa Janan. Tadinya saya pikir sudah masuk Samarinda, soalnya kota kecil Loa Janan malam itu demikian padat dan lalulintas berjalan merambat. Rupanya kota Samarinda masih delapan kilometeran lagi. Praktis, kota Loa Janan dan Samarinda sepertinya sudah menjadi satu. Tak ubahnya Jakarta dengan wilayah-wilayah penyangga di seputarannya. Hingga akhirnya memasuki kota Samarinda, serasa tak beda dengan memasuki kota-kota di Jawa. Ibukota propinsi Kalimantan Timur malam itu terlihat padat dan sibuk.

Jembatan sungai Mahakam seakan menjadi pintu gerbang untuk masuk kota Samarinda. Kota Samarinda memang tumbuh dan bewrkembang di sebelah-menyebelah sungai Mahakam, dengan pusat kotanya berada di sisi utara sungai. Dengan kata lain, sungai Mahakam mengalir membelah kota Samarinda.

Ihwal jembatan yang berwarna kuning dengan lebar delapan meter dan dibangun tahun 1983 itu saat ini kondisinya dinilai sudah menghawatirkan. Beban yang harus ditanggung oleh jembatan yang membentang sepanjang ratusan meter itu sungguh berat. Setiap harinya ada ribuan kendaraan yang melintas di atasnya, dari jenis angkutan kota hingga bis dan trailer. Inilah jalan utama di wilayah Kalimantan Timur yang menghubungkan kota Balikpapan dengan kota-kota lainnya di sebelah utara, termasuk Samarinda, Bontang, Sangatta dan Kutai Timur.

Ya bagaimana tidak menghawatirkan kalau rangka jembatan ini sudah robek di beberapa tempat akibat sering disenggal-senggol oleh kendaraan yang melintas di atasnya. Belum lagi di bawahnya setiap hari melintas hilir mudik ratusan kapal, perahu, kapal tunda dan ponton. Sebagian di antaranya suka main serempet besi dan kayu pelindung penyangga jembatan. Maka jangan lupa berdoa setiap kali hendak melintas di atas jembatan ini, semoga selamat sampai di seberang yang 480 meter jauhnya…..

Apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini. Air sungai menyusut dan terus menyusut, sehingga menyebabkan beberapa bagian sungainya dangkal. Tampak endapan lumpur menebal di tepian sungainya. Akibatnya jalur lintas sungai menyempit, juga terkadang kapal tunda dan ponton pun seperti suk-sukan (berdesak-desakan).

***

Tidak kalah dengan kota-kota lain, kota Samarinda pun perlu memiliki semboyan atau motto kotanya. Menyadari letak geografisnya yang demikian, maka motto kota Samarinda lalu dipas-paskan, dan ketemulah Samarinda kota “Tepian”. “Tepian” adalah akronim dari Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman. Maka, pas sudah! Apakah memang kotanya seperti itu? Itu soal lain, yang pembahasannya pun bisa dipas-paskan pula. Tapi pasti, bahwa kota ini memang terletak di tepian sungai Mahakam.

Cikal bakal kota Samarinda ini dulu-dulunya adalah pendatang dari masyarakat Bugis Wajo dari kerajaan Gowa di Sulawesi yang pada tahun 1668 mengungsi menyeberang ke wilayah kerajaan Kutai karena musuhan dengan Belanda. Kini penduduk kota Samarinda yang jumlahnya lebih setengah juta jiwa itu semakin heterogen dengan datangnya berbagai kalangan masyarakat yang mengadu nasib ke kota ini.

Perkembngan kota ini nyaris tidak dapat dipisahkan dari aktifitas perdagangan. Mulanya memang perdagangan hasil pertanian dan perikanan. Kini sudah semakin sibuk dengan aktifitas perkayuan (baik yang resmi maupun ilegal) dan pertambangan batubara. Maka tidak mengherankan kalau gerak bisnis properti dengan pembukaan kawasan pemukiman baru juga semakin semarak.

Wajarlah kalau kemudian pemerintah setempat mencanangkan visinya untuk menjadikan kota Samarinda sebagai kota jasa, industri, perdagangan dan pemukiman yang berwawasan lingkungan.

***

Karena kami belum mengenal kota ini, maka ketika memasuki kota Samarinda kami saling berkomunikasi melalui tilpun dengan teman-teman di Samarinda yang sudah berbaik hati mem-booking-kan hotel untuk kami. Niat semula sebenarnya hendak ketemuan dulu di rumah seorang teman di pinggiran kota sebelum menyeberang jembatan Mahakam, untuk selanjutnya nanti akan diantar menuju hotel. Namun apa daya, rupanya kami kelewat bersemangat hendak segera mencapai Samarinda hingga telanjur masuk kota.

Terpaksalah kemudian diputuskan untuk mencari tempat yang mudah bagi kami untuk ketemuan. Terpilih sebuah tempat di salah satu sudut di tepinya sungai Mahakam. Di sana banyak orang jual jagung bakar. Maka sambil beristirahat meregang otot, menggeliat, melepas lelah, sambil pesan kopi. Sialnya tidak ada kopi hitam, yang ada kopi instan three-in-one sachet-an. Ya sudah. Sekalian pesan jagung bakar buat pantes-pantes. Entah rasa apa. Saya sebut buat pantes-pantes karena dari kenampakannya sebenarnya sudah ketahuan bahwa rasanya bakal “biasa-biasa saja”. Tidak tampak tanda-tanda yang bisa membangkitkan selera. Tapi toh dipesan juga jagungnya, sekedar untuk pengisi waktu menunggu teman yang hendak menjemput.

Suasana di seputaran kedai remang-remang jagung bakar itu sebenarnya cukup indah di malam hari. Terletak di sebuah taman kota yang berada di antara jalan besar dengan sungai. Di sepanjang tepi sungai Mahakam ini memang terdapat ruang publik yang cukup leluasa bagi tempat rekreasi di dalam kota. Taman kota ini tepat berada di tepinya sungai Mahakam.

Namun, melihat nuansanya, naga-naganya kalau malam tempat ini sebenarnya bukan tempat yang “sehat”. Apalagi kalau niatnya adalah berjalan-jalan bersama keluarga. Saya akan menghindari tempat ini. Lain halnya kalau tujuannya ingin menyendiri menikmati suasana malam di tepi Mahakam mencari ilham atau wangsit, atau kunang-kunang…..

Akhirnya kami bertemu dengan teman yang hendak mengantarkan kami ke hotel. Acara malam itu dilanjutkan dengan reuni kecil-kecilan dengan beberapa teman lainnya, di sebuah tempat yang berbiaya mahal untuk sekedar makan dan minum. Malam pertama di Samarinda kemudian kami lalui dengan ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, hingga malam pun semakin larut.   

Yogyakarta, 17 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(12).   Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy

Berhubung hari Jum’at sore itu tidak ada kegiatan, sementara rencana besoknya adalah pulang ke Jogja, maka jangan lewatkan sedetik pun untuk tidak melihat hal-hal baru. Pilihan jatuh pada kota Tenggarong, ibukota kabupaten Kutai Kartanegara (disingkat Kukar, terkadang orang menyebutnya dengan Kutai saja, padahal mestinya ada kabupaten Kutai Barat dan Kutai Timur).

Kota Tenggarong berjarak sekiar 40 km dari Samarinda, ditempuh melalui Loa Janan. Mencapai Tenggarong melalui Loa Janan memang bukan satu-satunya rute yang dapat ditempuh. Ada beberapa rute lain yang dapat dilalui. Jalur melalui Loa Janan ini melintasi sisi barat dan utara sungai Mahakam. Jalannya memang tidak terlalu lebar, tapi cukup leluasa untuk melaju agak cepat.

Tiba di Tenggarong masih belum terlalu sore, sehingga panorama sungai Mahakam, pulau Kumala dan suasana kota yang terkesan apik dan resik masih jelas dapat dinikmati. Tenggarong memang bukan kota yang padat penduduknya. Masyarakatnya pun kini sangat heterogen, bercampur antara warga suku asli Dayak dengan kaum pendatang. Salah duanya adalah teman sekolah di jurusan Tambang yang menyunting penduduk asli Tenggarong dan kini memilih tinggal di sana. Seorang teman lainnya juga beristrikan warga Dayak dan kini membuka usaha restoran di tepi sungai Mahakam di seberang ujung timur pulau Kumala. Nama rumah makannya “Tepian Pandan”.

Ke resto “Tepian Pandan” itulah tempat pertama yang kami jujug, ketika tiba di Tenggarong sore itu. Tempatnya memang strategis dan berpemandangan indah. Di tepi sungai, dekat dengan obyek wisata kompleks keraton Kutai Kartanegara dan museum Mulawarman. Sayangnya, saya tidak sempat bertemu teman lama yang empunya resto, karena rupanya teman saya sore itu masih berada di tempat kerjanya di sebuah tambang batubara. Saya pikir ini kerjasama mempersiapkan hari tua yang layak dihargai. Sang bapak menjadi karyawan tambang, semenara sang ibu mempekerjakan karyawan membuka usaha rumah makan.

Nama Tepian Pandan, dahulu kala adalah nama sebuah kawasan kecil yang merupakan cikal bakal terbentuknya kota Tenggarong. Konon kawasan di tepian sungai Mahakam itu dulunya banyak ditumbuhi tanaman pandan. Menurut sohibul-hikayat, nama Tenggarong diperkirakan berasal dari sebutan “tangga arung” yang artinya rumah raja.

***

Sejarah panjang kerajaan Kutai Kartanegara, tidak lepas dari sejarah panjang kerajaan Mulawarman sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Meski juga berada di Kutai, pusat kerajaan Mulawarman yang berdiri pada abad ke-4 Masehi itu sebenarnya bukan di Tenggarong sekarang ini, melainkan di pedalaman Sungai Mahakam, tepatnya di Muara Kaman, atau sekitar 200 kilometer dari Tenggarong ke arah hulu Mahakam.

Kerajaan Mulawarman atau Kutai Martapura yang sempat dipimpin oleh 25 orang raja (tentu saja tidak berbarengan…..) selama 13 abad itu akhirnya musnah tahun 1635, akibat pertempuran hebat dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang waktu itu dipimpin oleh Raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa (Kutai, dilawan…..!).

Meskipun keraton Kutai Kartanegara kini berada di kota Tenggarong, namun asal bin muasalnya kerajaan Kutai Kartanegara dulunya berpusat di muara delta Mahakam tepatnya di Kecamatan Anggana yang sekarang disebut Kutai Lama. Dinasti Kutai Kartanegara diperkirakan berdiri sejak abad ke-7 Masehi dan berhasil menurunkan 19 orang raja.

Selama 13 abad masa kejayaannya, kesultanan Kutai Kartanegara mengalami beberapa kali kepindahan pusat kerajaan mulai dari Kutai Lama, Pemarangan, Samarinda, dan akhirnya di Tenggarong. Kota terakhir ini diketahui menjadi pusat Kerajaan Kutai Kartanegara pada tahun 1782 saat Aji Imbut dengan gelar Sultan Muhammad Muslihuddin berkuasa. Sebelum akhirnya istana raja yang dibuat dari kayu ulin oleh Sultan Muhammad Muslihuddin itu pada tahun 1844 hangus terbakar saat terjadi peperangan melawan Belanda, dan kalah (giliran Londo, dilawan…..!).

Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian harus tunduk pada kekuasaan pemerintah Hindia Belanda dengan ditandatanganinya traktat Tepian Pandan pada 29 April 1844. Pada tahun 1850, Sultan AM Sulaiman berinisiatif kembali mendirikan keraton Kutai dari kayu ulin dengan gaya arsitektur Melayu. Bangunan Keraton ini kemudian dibangun secara permanen dari beton pada masa Sultan AM Parikesit. Pembangunan secara permanen istana kerajaan Kutai pada tahun 1936 itu dikerjakan dengan gaya arsitektur Eropa klasik.

Sementara itu, nama Kutai atau Koetai sendiri diperkirakan mulai dikenal pada abad ke-5 Masehi, ketika para pedagang Cina masuk ke daerah ini. Mereka menyebutkan Kutai dengan Kho Thai yang artinya bagian besar dari pulau atau pulau yang besar. Sedangkan pedagang dari Kalingga, India Selatan, menyebutnya dengan Quetairy yang maksudnya hutan yang lebat.

Kini Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy, sudah menjadi salah satu warisan budaya nusantara. Bersama tradisi budaya masyarakat Dayak di sekelilingnya, mestinya menjadi kekayaan Kalimantan yang tak ternilai harganya. 

Yogyakarta, 20 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(16).   Kenapa Disebut Balikpapan?

Sebentar lagi pesawat Mandala akan membawa kami kembali ke Jogja. Siang itu, Sabtu, 29 Juli 2006, bandara Sepinggan nampak padat dan ramai. Agaknya bandara internasional Sepinggan ini termasuk bandara yang cukup sibuk. Sejak tahun 1995 bandara ini juga mulai ditunjuk sebagai bandara embarkasi jamaah haji yang berasal dari sebagian Kalimantan dan sebagian Sulawesi.

Sayang sekali, kali ini saya hanya numpang lewat saja di Balikpapan, sehingga banyak hal menarik yang terpaksa terlewatkan untuk dikunjungi. Saya berharap mudah-mudahan masih akan memperoleh kesempatan untuk kembali mengunjungi Balikpapan. Meski begitu, dari selintas kunjungan saya kali ini, saya sempat menangkap dan menggali sedikit hal yang rasanya sayang untuk saya simpan sendiri.

*** 

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Balikpapan adalah pintu gerbang Kalimantan Timur. Kota yang topografinya berbukit-bukit dan dihuni oleh lebih 550.000 jiwa penduduknya itu sepintas tampak teratur, rapi dan bersih. Memang pantas menjadi contoh bagi pengelolaan tata kota yang relatif lebih terencana dibanding kota-kota industri lainnya di Indonesia. Tidak dipungkiri hal ini sangat dipengaruhi oleh warisan Belanda yang sejak dahulu kala membangun kota ini sebagai rangkaian penyediaan infrastruktur bagi aktifitas industri perminyakan.

Membicarakan kota Balikpapan nyaris akan selalu terkait dengan aktifitas bisnis industri perminyakan, pertambangan dan perkayuan, yang tentu kemudian terkait dengan industri perdagangan dan transportasi. Komponen itulah yang kemudian menjadi roda penggerak ekonomi kota Balikpapan. Hingga Balikpapan pun menjelma menjadi kota yang pertumbuhan ekonominya tergolong luar biasa cepat dibanding kota-kota lainnya di Indonesia.

Aktifitas industri yang berkembang pesat di hampir semua sektor di Balikpapan, praktis mengalahkan popularitas kota Samarinda yang ibukota propinsi. Maka, kota inipun siap untuk mengemban misi yang tidak baen-baen : “Menggelorakan semangat Balikpapan, Kubangun, Kujaga, dan Kubela”.

***

Akhirnya, ada pertanyaan rada menggelitik kenapa kota ini disebut Balikpapan? Kok bukan Balikdrum atau Baliktong, misalnya….. Kalau sudah bicara soal asal bin muasal di balik sebuah nama, maka akan berurusan dengan kata “konon”.

Konon yang pertama : Sewaktu sultan Kutai hendak membangun kembali istananya yang musnah terbakar gara-gara kalah tarung dengan Belanda, beliau memesan seribu keping papan. Namun hanya ada sepuluh keping papan yang balik ke Jenebora di teluk Balikpapan. Oleh orang Kutai papan yang balik itu disebut “Balikpapan Tu”, hingga kawasan sepanjang teluk itu lalu disebut dengan Balikpapan.

Konon yang kedua : Disebutkan bahwa suku asli Balikpapan, yaitu suku Pasir Balik, adalah keturunan dari kakek dan nenek moyangnya yang bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang teluk Balikpapan oleh keturunannya disebut Kuleng-Papan yang juga berarti Balikpapan (dalam bahasa Pasir, kuleng artinya balik).

Konon yang ketiga : Di jaman dahulu kala adalah seorang raja yang tidak ingin putrinya jatuh ketangan musuh. Sang putri yang masih balita lalu diikat di atas beberapa keping papan dalam keadaan terbaring dan dilepas ke laut. Karena terbawa arus dan diterpa gelombang, papan tersebut terbalik. Ketika papan tersebut terdampar ditepi pantai ditemukan oleh seorang nelayan dan begitu dibalik ternyata dijumpai seorang putri yang masih dalam keadaan terikat. Konon putri itu bernama Putri Petung yang berasal dari Kerajaan Pasir. Sehingga daerah ditemukannya putri tersebut dinamakan Balikpapan (jangan lagi ditanya bagaimana sang putri bisa tetap hidup di balik papan dan dibolak-balik gelombang…..).

Konon yang keempat : Di jaman pendaratan VOC sekian abad yang lalu, melihat kumpeni Belanda yang bersepatu prok-prok-prok dan mempunyai bedil panjang, masyarakat setempat pada ketakutan lalu ndelik (bersembunyi) sambil ngintip-ngintip di balik dinding rumahnya yang terbuat dari papan. Maka londo Belanda itu pada heran kok kampungnya sepi sekali, rupanya ketahuan bahwa inlander yang ketakutan pada bersembunyi di balik papan dinding rumahnya. Tersiarlah sebutan Balikpapan.

Kelihatannya konon yang keempat itu lebih masuk akal, kenapa kota ini disebut Balikpapan.

Tapi tunggu, hua…ha…ha…ha….. Nyuwun sewu, sori tenan……, konon yang keempat itu adalah cerita karangan saya sendiri….. (biar tidak nanggung).

Selamat bekerja dan matur nuwun — (Wis, ah!)

Yogyakarta, 24 Agustus 2006
Yusuf Iskandar