Posts Tagged ‘kutai timur’

Terjebak Lumpur Di Berau, Kaltim

28 Maret 2008

terjebak lumpur

Hujan semalam telah menyebabkan transportasi di jalan poros antara Samarinda – Tanjung Redeb, Kaltim, terhambat cebakan lumpur. Jalan poros ini adalah satu-satunya sarana transportasi darat bagi masyarakat dari kedua kabupaten, Berau dan Kutai Timur, baik untuk transportasi penumpang, logistik maupun keperluan ekonomi lainnya.

Cebakan terparah terjadi pada lokasi sekitar 535 km utara Balikpapan, atau jam ke-15 perjalanan darat dari Balikpapan, di tengah hutan di dekat perbatasan antara Kabupaten Kutai Timur dengan Berau.

(Foto – Ketika kijang Innova yang saya tumpangi sedang berusaha ditarik keluar dari cebakan lumpur setelah menunggu cukup lama, tanggal 5 Januari 2008, jam 14:00 WITA – Yusuf Iskandar)

Iklan

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Muara WahauHari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Yogyakarta, 11 Januari 2007.
Yusuf Iskandar