Posts Tagged ‘kumpeni’

Hatiku Tidak Berpihak Kemanapun

10 Juli 2010

Saya bukan penggila bola, apalagi pemain bola, boro-boro menjadi pendukung fanatik. Saya hanya kafilah penggembira alias ‘massa mengambang’. Tapi saya bisa menikmati permainan dan penguasaan bola yang cantik menawan yang dimainkan oleh skuad ‘kumpeni’ Belanda ketika menaklukkan Uruguay. Maka saya berharap akan menyaksikan sebuah permainan yang memanjakan adrenalin di Babak Final nanti: Belanda vs Spanyol. Hatiku tidak berpihak ke manapun.

Yogyakarta, 8 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(16).   Kenapa Disebut Balikpapan?

Sebentar lagi pesawat Mandala akan membawa kami kembali ke Jogja. Siang itu, Sabtu, 29 Juli 2006, bandara Sepinggan nampak padat dan ramai. Agaknya bandara internasional Sepinggan ini termasuk bandara yang cukup sibuk. Sejak tahun 1995 bandara ini juga mulai ditunjuk sebagai bandara embarkasi jamaah haji yang berasal dari sebagian Kalimantan dan sebagian Sulawesi.

Sayang sekali, kali ini saya hanya numpang lewat saja di Balikpapan, sehingga banyak hal menarik yang terpaksa terlewatkan untuk dikunjungi. Saya berharap mudah-mudahan masih akan memperoleh kesempatan untuk kembali mengunjungi Balikpapan. Meski begitu, dari selintas kunjungan saya kali ini, saya sempat menangkap dan menggali sedikit hal yang rasanya sayang untuk saya simpan sendiri.

*** 

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Balikpapan adalah pintu gerbang Kalimantan Timur. Kota yang topografinya berbukit-bukit dan dihuni oleh lebih 550.000 jiwa penduduknya itu sepintas tampak teratur, rapi dan bersih. Memang pantas menjadi contoh bagi pengelolaan tata kota yang relatif lebih terencana dibanding kota-kota industri lainnya di Indonesia. Tidak dipungkiri hal ini sangat dipengaruhi oleh warisan Belanda yang sejak dahulu kala membangun kota ini sebagai rangkaian penyediaan infrastruktur bagi aktifitas industri perminyakan.

Membicarakan kota Balikpapan nyaris akan selalu terkait dengan aktifitas bisnis industri perminyakan, pertambangan dan perkayuan, yang tentu kemudian terkait dengan industri perdagangan dan transportasi. Komponen itulah yang kemudian menjadi roda penggerak ekonomi kota Balikpapan. Hingga Balikpapan pun menjelma menjadi kota yang pertumbuhan ekonominya tergolong luar biasa cepat dibanding kota-kota lainnya di Indonesia.

Aktifitas industri yang berkembang pesat di hampir semua sektor di Balikpapan, praktis mengalahkan popularitas kota Samarinda yang ibukota propinsi. Maka, kota inipun siap untuk mengemban misi yang tidak baen-baen : “Menggelorakan semangat Balikpapan, Kubangun, Kujaga, dan Kubela”.

***

Akhirnya, ada pertanyaan rada menggelitik kenapa kota ini disebut Balikpapan? Kok bukan Balikdrum atau Baliktong, misalnya….. Kalau sudah bicara soal asal bin muasal di balik sebuah nama, maka akan berurusan dengan kata “konon”.

Konon yang pertama : Sewaktu sultan Kutai hendak membangun kembali istananya yang musnah terbakar gara-gara kalah tarung dengan Belanda, beliau memesan seribu keping papan. Namun hanya ada sepuluh keping papan yang balik ke Jenebora di teluk Balikpapan. Oleh orang Kutai papan yang balik itu disebut “Balikpapan Tu”, hingga kawasan sepanjang teluk itu lalu disebut dengan Balikpapan.

Konon yang kedua : Disebutkan bahwa suku asli Balikpapan, yaitu suku Pasir Balik, adalah keturunan dari kakek dan nenek moyangnya yang bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang teluk Balikpapan oleh keturunannya disebut Kuleng-Papan yang juga berarti Balikpapan (dalam bahasa Pasir, kuleng artinya balik).

Konon yang ketiga : Di jaman dahulu kala adalah seorang raja yang tidak ingin putrinya jatuh ketangan musuh. Sang putri yang masih balita lalu diikat di atas beberapa keping papan dalam keadaan terbaring dan dilepas ke laut. Karena terbawa arus dan diterpa gelombang, papan tersebut terbalik. Ketika papan tersebut terdampar ditepi pantai ditemukan oleh seorang nelayan dan begitu dibalik ternyata dijumpai seorang putri yang masih dalam keadaan terikat. Konon putri itu bernama Putri Petung yang berasal dari Kerajaan Pasir. Sehingga daerah ditemukannya putri tersebut dinamakan Balikpapan (jangan lagi ditanya bagaimana sang putri bisa tetap hidup di balik papan dan dibolak-balik gelombang…..).

Konon yang keempat : Di jaman pendaratan VOC sekian abad yang lalu, melihat kumpeni Belanda yang bersepatu prok-prok-prok dan mempunyai bedil panjang, masyarakat setempat pada ketakutan lalu ndelik (bersembunyi) sambil ngintip-ngintip di balik dinding rumahnya yang terbuat dari papan. Maka londo Belanda itu pada heran kok kampungnya sepi sekali, rupanya ketahuan bahwa inlander yang ketakutan pada bersembunyi di balik papan dinding rumahnya. Tersiarlah sebutan Balikpapan.

Kelihatannya konon yang keempat itu lebih masuk akal, kenapa kota ini disebut Balikpapan.

Tapi tunggu, hua…ha…ha…ha….. Nyuwun sewu, sori tenan……, konon yang keempat itu adalah cerita karangan saya sendiri….. (biar tidak nanggung).

Selamat bekerja dan matur nuwun — (Wis, ah!)

Yogyakarta, 24 Agustus 2006
Yusuf Iskandar