Posts Tagged ‘kotagede’

Sate Sapi Pak Cipto Kotagede

13 Agustus 2010

(1)

Sore pulang dari toko, ‘boss’ saya ngajak makan (sebulan ke depan bakal libur nih…). Mampirlah ke warung sate sapi Pak Cipto, Kotagede, Jogja, yang terkenal empuk dan enak, seporsi Rp 17.000,- Satenya tidak dimakan dengan nasi, melainkan lontong sayur, seporsi Rp 3.000,- Yang disebut lontong sayur ini tidak ada sayurnya, tapi tempe dan secuil daging yang benar-benar satu cuil. Paduan sate sapi dan lontong sayur hangat, hmm…pas benar nikmatnya..

(2)

Warung sate sapi Pak Cipto buka mulai jam 4 sore. Tapi bagian minumannya baru siap setelah jam 5. Walhasil, ketika sore tadi mampir belum jam 5 saya tolah-toleh dan kutanya: “Kok saya tidak ditawari pesan minum?”.

“Minumnya belum buka pak”, jawabnya. Glek…, telanjur makan 1,5 piring lontong sayur dan 1 porsi sate sapi, tanpa minum. Walah,… lha judule mangan sate ora diombeni (makan sate tidak diminumin).

“Cepat pulang yuk“, kata ‘boss’ saya.

Yogyakarta, 10 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Kipo, Makanan Khas Kotagede Jogja

25 Maret 2010

Kipo, makanan khas Kotagede, Jogja. Terbuat dari ketan, dibentuk kecil-kecil, diisi adonan kelapa-gula, ditaruh di atas daun pisang, dipanggang, dibungkus, dijual @Rp 1000,- per bungkus isi 5 biji.

Di Kotagede tidak banyak yang masih setia sebagai pengrajin makanan khas ini. Di antara yang sedikit itu, sebutlah Bu Djito, Bu Muji dan Bu Amanah, di kawasan Jl. Mondorakan. Rasa dan taste-nya memang khas, walau di kota lain juga ada makanan sejenis.

Yogyakarta, 24 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Dikangeni Tukang Gorengan (2)

25 Maret 2010

Sekali mengayuh sepeda, dua-tiga warung soto terlampaui… Ya terlampaui saja, wong memang tak hendak mampir nyoto, melainkan langsung ke pasar Kotagede dengan kecepatan setara Michael Schumacher kurang banyak. Lalu masuk pitstop di depan masjid besar dan makam raja-raja Mataram. Disambut dan disalami sama pak Ratno tukang gorengan, katanya: “Wah, kangeeen je…” (Jogja bangeth!).

Yogyakarta, 24 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Bertilpun Di Tepi Jalan

7 Maret 2010

Lagi enak-enak bersepeda pagi di kawasan Kotagede yang jalannya sempit, tiba-tiba HP berdering. Langsung mencari lokasi aman untuk menjawab tilpun. Mau dijawab di tepi jalan sambil nangkring di atas sepeda pasti berisik dengan lalulintas yang mulai ramai.

Suara seorang wanita di seberang sana: “Assalamualaikum, kok lama dijawabnya?”.
Kujawab: “Ssst, aku lagi cari pohon untuk berlindung”.
Lalu teriakan di seberang sana: “Waah.., kayak pembantu yang tilpun sembunyi2 takut sama majikannya..”

(Seorang rekan di Facebook complaint dengan penggunaan kata ‘pembantu’ dalam cerita di atas. Maka saya koreksi, kata ‘pembantu’ diganti dengan ‘pegawai/karyawan’…)

Yogyakarta, 5 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Dikangeni Tukang Gorengan (1)

31 Januari 2010

Bersepedaaa… Ke makam raja-raja Kotagede, depannya, ketemu bakul (penjual) gorengan yang sudah sebulan tidak saya sambangi. Seprana-seprene tidak pernah dikangenin sama ‘boss’ saya. Lha kok malah tukang gorengan bilang: “kangeen..”.

Yogyakarta, 30 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Mampir Nyoto Di Warung Soto Sapi Winong Kotagede

20 November 2009

Jumat pagi-pagi ini saya mesti mengantar anak perempuan ke terminal bis Giwangan, Jogja. Sejak kemarin dia sudah wanti-wanti agar bapaknya tidak lupa. Katanya mau mengikuti kegiatan outbond kampusnya ke daerah Sarangan (Jatim) lalu besoknya pindah ke Magelang (Jateng). Pulang dari terminal sengaja saya menempuh rute memutar melalui kecamatan Kotagede, sekedar ingin menikmati suasana pagi mendung yang baru akhir-akhir ini melanda kawasan Jogja dan sekitarnya setelah berbulan-bulan panas terus-terusan.

Tiba di daerah Winong, ujuk-ujuk saya ingat di daerah itu ada warung soto sapi yang lumayan enak, cerita seorang teman. Tidak susah untuk mencari lokasinya, tepatnya di Jl. Ngeksigondo no. 4 yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah tinggal saya. Langsung saja berhenti tepat di depan warung yang pagi itu masih terlihat sepi. Kemudian pesan semangkuk soto sapi sambil sedikit ngobrol dengan pelayannya. Biasa, kalau sudah begini rasa ingin tahu selalu muncul. Sumber informasi yang paling mudah, ya ngobrol dengan pelayannya.

Semangkuk soto dengan kandungan irisan daging sapinya cukup banyak segera tersajikan. Belum puas dengan itu, lalu saya pesan iso (usus) goreng yang dipotong kecil-kecil sebagai ramuan tambahan. Sayang iso gorengnya dibumbu bacem. Saya kurang begitu suka karena sensasi rasa asli isonya jadi hilang.

Sruputan pertama kuahnya begitu menggoda, selebihnya terserah yang menyruput…, sebab rasa kaldu dagingnya langsung terasa. Setelah dicecap-cecap sebentar kemudian saya tambah dengan kecap manis. Dasar lidah Jogja, kalau belum ditambah kecap serasa makan soto tanpa kecap…… Kurang manis, maksudnya. Rasanya lumayan enak, terutama bagi sopir yang sedang kelaparan di pagi mendung. Bisa sebagai referensi kalau suatu kali nanti kepingin makan soto yang lokasinya tidak jauh dari rumah di kawasan Jogja tenggara.

Warung soto ini sudah cukup dikenal di wilayah Jogja, sebagai warung Soto Sapi Winong. Tampilan warungnya yang mengesankan sederhana dan melayani pecinta soto sejak pagi hingga sore hari itu kini sudah memiliki cabang di Jl. Wonosari dan Jl. Solo. Masih di wilayah Jogja juga. Ini menandakan bahwa bisnis persotoan yang mulai dirintis oleh Pak Wachid sebagai pemiliknya sejak sekitar tahun 1993 itu cukup berkembang. Setidak-tidaknya memberi pilihan bagi pecinta soto yang sedang berada di wilayah kota Yogyakarta. Harga semangkuk nasi soto yang hanya Rp 7.000,- kiranya masih wajar  jika menimbang citarasa yang ditawarkan dan asesori irisan daging dalam racikan sotonya. Setidaknya sebanding dengan kebutuhan sebagai pilihan sarapan pagi bagi warga masyarakat penyoto (penggemar soto) yang tinggal atau melewati wilayah seputaran Kotagede, Yogyakarta.

Setelah menyelesaikan transaksi pembayaran dan membawa sebungkus soto untuk ‘boss’ saya di rumah, saya pun pamit kepada pelayannya (ke pelayan saja kok pamit….). Beberapa saat sebelum meninggalkan halaman warung, lha kok tiba-tiba ada sepeda motor berhenti menghalangi. Pengendaranya sepasang muda-mudi. Keduanya lalu turun dan terlibat dalam pembicaraan serius. Tentu saja saya tidak mendengar percakapan mereka. Tapi memperhatikan ekspresi wajah keduanya sepertinya sedang bertengkar.

Dari belakang kemudi saya memperhatikan adegan yang langka itu. Dalam hati saya memberi apresiasi kepada kedua orang itu. Setidak-tidaknya mereka telah melakukan safe action berlalu lintas. Berboncengan sepeda motor, bertengkar, lalu menepi berhenti dulu. Daripada nanti dikira pemain sirkus jalanan, naik sepeda motor sambil berantam…..  Pelajarannya adalah, jangan naik sepeda motor sambil bertengkar. Kalau terpaksa juga mau bertengkar di jalan, menepilah dulu dan berhenti di tempat yang aman (Lha ya siapa yang mau bertindak bodoh semacam ini? Tapi faktanya toh terjadi juga…..).

Tidak lama kemudian, mereka pun bersepakat melanjutkan perjalanan berboncengan kembali. Mungkin sudah ada kesepakatan damai atau gencatan senjata sementara waktu. Entahlah, itu urusan mereka. Yang jelas, kemudian saya pun mengambil gambar spanduk penanda warung Soto Sapi Winong lalu berangsur pulang. Tadi itu bukan saya sengaja ingin menikmati adegan pertengkaran sepasang muda-mudi, melainkan saya terpaksa menunggu hingga pertengkaran selesai karena mereka berhenti tepat di depan tulisan yang mau saya foto.

***

Nyoto atau makan soto adalah salah satu pilihan sarapan pagi yang relatif murah-meriah-mudah. Tergolong makanan cepat saji yang bukan fast food. Kalau kebetulan uang saku lagi cekak, makan soto tanpa pesan minum pun masih layak ditempuh, sebab kuah soto tidak bersantan dan menyegarkan.

Menyimak kata orang Jawa : “Urip mung sak dermo nunut nyoto” (hidup itu cuma sekedar numpang makan soto), murah, cepat, dan kebutuhan perut terpenuhi. Esensinya adalah bahwa hidup ini cuma sebentar saja, sebelum menuju ke destinasi terakhir yang lebih kekal dan abadi. Karena itu, tunaikanlah hidup ini sebagaimana adanya dan wajarnya, sebagaimana makan soto di pagi hari. Sebab soto dan penyoto itu tidak mungkin neko-neko. Dari dulu hingga nanti lewat tanggal 21 Desember 2012, yang namanya soto dan nyoto ya begitu itu…..

Yogyakarta, 20 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Bakmi Mbah Slamet

28 Oktober 2009

Berburu bakmi jawa Mbah Slamet, Kotagede, Jogja. Hmmmm…. bakminya full, enggak setengah-setengah…..

Seharian ini istriku grundelan : “Penyiar TV ini kayak kekurangan berita, soal poligami disiarkan terus…”. Untuk meredamnya, saya ajak istriku berburu bakmi…

(Selengkapnya tentang bakmi jawanya Mbah Slamet Kotagede ini saya ceritakan dalam tulisan di bawah atau dapat dilihat di Berburu Bakmi Mbah Slamet Di Kotagede, Yogyakarta)

Yogyakarta, 22 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Berburu Bakmi Mbah Slamet Di Kotagede

27 Oktober 2009

IMG_4405_r1

Penggemar bakmi jawa di Jogja ini memang dimanjakan. Hampir di setiap sudut jalan mudah dijumpai adanya gerobak bakmi dengan aneka cita rasanya. Sebagian diantaranya sudah cukup kondang, bahkan dikenal oleh warga pendatang dari luar kota. Soal rasa, itu tergantung selera dan sensitifitas lidah masing-masing.

Berburu bakmi bisa jadi agenda wisata malam yang sekali-sekali perlu dicoba. Hanya kalau sudah bisa menikmati sensasi bakmi jawa yang khas dengan taste bawang putih dan kemirinya itu, maka yang tadinya sekali-sekali bisa jadi berkali-kali. Sebab banyak pilihan warung bakmi perlu dicoba. Dan satu-satunya cara untuk bisa mengatakan enak atau tidak adalah setelah mencoba mencicipinya sendiri.

Maka pergilah berburu bakmi di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Atas saran beberapa rekan, saya dan keluarga mencari lokasi bakmi Mbah Slamet. Sebuah nama yang belum banyak dikenal orang di dunia perbakmian Jogja. Tidak sulit untuk menemukan lokasi warung ini meski tidak ada tulisan apapun di depan warung bakmi Mbah Slamet ini. Tepatnya berada di Jl. Pramuka 80, Kotagede, Jogja (sebelah timur toko Pamela Swalayan). Di rumah itu pula Mbah Slamet dan istrinya kini tinggal berdua menuntaskan hari tuanya sambil berjualan bakmi.

Ketika kami datang, Mbah Slamet sedang duduk leyeh-leyeh di atas lincak (kursi panjang terbuat dari bambu). “Lho kok sepi, Mbah?”, tanya saya. “Wong niki nembe mawon buka” (ini baru saja buka), jawabnya. Maka jadilah kami bertiga, saya bersama istri dan anak perempuan saya, menjadi pembeli pertamanya. Penglaris, kata orang (tapi ya tetap saja mbayar….). Sementara istri Mbah Slamet masih terlihat sibuk membantu memberes-bereskan perlengkapan warungnya. “Kolo wau kerinan (tadi terlambat bangun)”, kata Mbah Slamet. Rupanya sore itu mereka kecapekan sehingga ketiduran dan terlambat bangun. Maklum, namanya juga mbah-mbah.

Mbah Slamet biasa buka sesudah maghrib. Jam berapapun maghribnya, pokoknya bubar maghrib (usai sholat maghrib) baru buka dan sekitar jam sebelas malam biasanya bakminya sudah habis. Setiap hari Mbah Slamet dan istrinya bekerja sama menjual bakmi jawa menempati teras depan rumahnya. Mbah Slamet urusan perbakmian, sedangkan istrinya urusan cuci-mencuci piring dan perminuman spesialis minuman tanpa es. Jadi jangan pesan es teh atau es jeruk, sebab Mbah Slamet tidak menyediakan es.

Begitulah kegiatan rutin setiap hari sepasang kakek-nenek bak mimi lan mintuno, Mbah Slamet berdua saja dengan istrinya. Ketika saya tanya berapa putranya, dijawabnya : “Kosong, mas….”. Sejenak saya mengernyutkan dahi berusaha memahami maksud jawaban Mbah Slamet, baru kemudian saya ngeh dan merasa bersalah telanjur menanyakannya, sebab ternyata Mbah Slamet dan istrinya tidak dikaruniai anak. Lebih-lebih ketika Mbah Slamet berkata lirih sambil tetap sibuk meracik bakmi : “Wong meniko namung kangge nyambung gesang kok mas (yang dilakukannya ini cuma untuk sekedar menyambung hidup saja)”. Tutur kata bernada datar dari Mbah Slamet itu terasa getir dan nglangut (mengawang-awang) terdengar di telinga saya. Ya, betapa tidak. Dua orang kakek-nenek bahu-membahu berjualan bakmi setiap hari hingga usia tuanya, sementara tidak ada yang diharapkan meneruskan generasi bakmi sesudah mereka. Boro-boro menimang cucu. Tadinya saya mau tanya sampai kapan akan berjualan bakmi, namun pertanyaan itu lalu saya batalkan. Ada perasaan tidak tega untuk bertanya lebih lanjut.

Begitu lugu dan sederhananya. Sesederhana warungnya yang hanya diisi sebuah meja dengan tiga buah lincak diterangi cahaya sebuah lampu 25 Watt di atas mejanya, berdinding kerei (dinding penyekat terbuat dari anyaman bambu). Kalau pembelinya banyak, biasanya kemudian mereka rela duduk di trotoar jalan atau sambil nongkrong di atas sadel sepeda motornya. Namun Mbah Slamet begitu pede-nya ketika ditanya kok tidak ada tulisan apapun di depan warungnya agar mudah dicari orang. Jawabnya : “Sampun sami ngertos mas (sudah pada tahu mas)”, yang maksudnya para pelanggannya sudah pada tahu dimana lokasi warung bakminya. Bahkan ketika saya tawari mau saya bikinkan spanduk pun dijawabnya : “Walah, mboten usah mas (tidak usah mas)”. Walah, Mbah Slamet…..

IMG_4404_r1Soal cita rasa bakminya? Karena dalam kamus makan-memakan ini hanya ada dua kategori cita rasa makanan, yaitu hoenak dan hoenak tenan, maka bakmi Mbah Slamet tergolong hoenak. Jam terbangnya di dunia perbakmian sudah membuktikannya. Memulai bisnis perbakmian sejak 37 tahun yll. dan masih bertahan dengan menyajikan sekitar 50 piring per hari hingga saat ini kiranya cukup membuktikan bahwa cita rasa bakmi Mbah Slamet tidak diragukan. Ada yang cocok dan ada yang tidak, itu hal yang lumrah. Dari dulu hingga kini Mbah Slamet tidak pernah mengubah resep racikan bakminya. Ya begitu-begitu itu.

Mbah Slamet memulai bisnis bakminya sejak tahun 1972 dengan lokasi warungnya berada di depan terminal bis THR Jogja (sekarang Pura Wisata di Jl. Brigjen Katamso). Masih jelas dalam ingatan Mbah Slamet, bahwa waktu itu masih jaman Toto Koni (ini sejenis lotere yang di jaman itu masih legal). Bisa ditebak bahwa waktu itu Mbah Slamet melayani para penggemar judi atau lotere yang suka mangkal di depan terminal bis yang biasanya beraktifitas di malam hari, yang sedang kelaparan. Kalau sekarang usia Mbah Slamet 67 tahun, itu berarti Mbah Slamet memulai bisnis bakminya sejak usia 30 tahun.

IMG_4406_r1Ubo rampe bakminya sebenarnya standar saja. Setelah telur bebek digoreng di atas wajan dengan menggunakan pemanas arang di atas anglo, lalu diberi adonan bumbu yang terdiri dari campuran bawang putih, ebi (udang kering) dan sedikit kemiri, lalu dituang air sebanyak kebutuhannya untuk bakmi rebus atau bakmi goreng, ditambah irisan kol dan daun bawang, dua genggam mi putih dan mi kuning, suwiran ayam kampung, lalu diaduk hingga masak. Padahal ya cuma begitu, tapi kok ya hoenak…. Lebih-lebih bakmi rebusnya, sruputan pertama kuahnya yang masih panas itu terasa segar benar. Ukuran sepiring penuh bakminya yang dihargai Rp 7.000,- itu cukup banyak.

Akhirnya setelah kenyang menyantap bakmi rebus Mbah Slamet, kami pun pamit pulang dan tidak lupa saya sampaikan sekedar pujian atas bakminya yang enak sambil berucap “matur nuwun”. Eh, malah dijawab : “Kulo ingkang matur nuwun (saya yang terima kasih)”, katanya sambil tersenyum dengan terus melayani enam orang pembeli yang sudah mengantri. Bakminya Mbah Slamet, hmmmmmm…. bakminya full, enggak setengah-setengah…

Yogyakarta, 22 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

IMG_4408_r