Posts Tagged ‘kota tambang’

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(4).   Wisata Tambang Di Kota Hantu

Minggu pagi, 6 Agustus 2000, sekitar jam 10:00 saya meninggalkan kota Tempe menuju ke arah timur lalu berbelok ke utara. Hari itu saya merencanakan untuk menyusuri rute Apache Trail dari arah barat melalui daerah pegunungan Superstition.

Negara bagian Arizona adalah satu dari beberapa negara bagian di Amerika yang buminya kaya akan bahan mineral sebagai sumber bahan tambang. Menurut sejarahnya di Arizona ini banyak terdapat bekas-bekas lokasi tambang (terutama emas, perak dan tembaga) yang sebagian diantaranya masih beroperasi hingga kini, baik berskala besar (korporasi) maupun kecil (tambang rakyat). Satu diantara lokasi-lokasi pertambangan itu adalah daerah di sekitar pegunungan Superstition. Di sisi sebelah barat laut dari pegunungan ini ada satu dataran tinggi yang disebut Goldfield (ladang emas).

Sejak pertama kali emas diketemukan di daerah ini sekitar tahun 1891, segera kabar itu menyebar dan para pencari emas pun berdatangan mengadu untung. Dalam waktu yang singkat Goldfield serta merta menjadi sebuah kota yang populasinya mencapai sekitar 5.000-an. Sebuah lonjakan angka yang cukup fantastis untuk ukuran “desa”-nya Amerika. Itu terjadi hanya dalam periode lima tahunan yang kaya dengan emas, dimana saat itu ada sekitar 50 tambang beroperasi. Itulah masa kejayaan Goldfield di periode tahun 1890-an.

Jaman “keemasan” Amerika berlangsung tidak lama, booming emas segera berakhir di penghujung abad ke-19. Demikian halnya yang terjadi di Goldfield, urat bijih (vein) tidak lagi menghasilkan banyak emas, kadar bijihnya (grade) menurun, dan kota Goldfield pun lalu mati perlahan-lahan. Setelah berbagai upaya dilakukan orang untuk membuka kembali usaha pertambangan, akhirnya menampakkan tanda-tanda kehidupann di tahun 1910, namun kemudian pudar lagi tahun 1926.

Kini masa kejayaan ladang emas itu pun tinggal kenangan masa lalu, meninggalkan bekas kota tambang yang dijuluki kota hantu (the ghost town) karena ditinggal penghuninya. Kenangan ini ternyata menjadi kebanggaan masyarakatnya kini. 

***

Mengawali perjalanan untuk menyusuri rute Apache Trail, saya tiba di salah satu lokasi yang tampak dari jauh seperti kota koboi. Tertarik untuk mengetahui tentang bekas sebuah kota ini, maka saya berbelok menuju ke tempat parkir melewati di bawah sebuah struktur besi tua yang ternyata bekas sebuah rangka utama (headframe) sumuran tambang.

Saya lanjutkan berjalan kaki, dalam cuaca yang sangat panas dan tanpa ada pohon pelindung di sekitarnya, saya menuju ke arah bangunan-bangunan yang tampak tua khas bangunan kota kuno di Amerika. Pemandangan ini mengingatkan saya akan kenampakan kota kuno seperti yang sering menjadi setting film-film koboi.

Memandang ke depan ke seberang jalan dari tempat ini tampak pegunungan Superstition yang berprofil “aneh” seperti tumpukan bongkahan-bongkahan batuan monolitikum raksasa, menjulang lebih 900 meter di atas lantai dataran gurun di sekitarnya. Kenampakan seperti ini mendominasi di sepanjang sisi sebelah timur dari areal lembah Salt River. Pegunungan Superstition sendiri sebenarnya hanya bagian dari keseluruhan daerah Superstition yang luasnya hampir 65.000 ha dengan puncak gunung tertingginya lebih 1.800 m dengan beberapa lembah berada di antaranya.

Saya melanjutkan berjalan berkeliling, lalu tiba di lokasi yang menawarkan wisata tambang (mine tour). Saya lihat ada sekitar 15 orang sudah siap mengikuti wisata. Saya tolah-toleh, di situ hanya ada dua orang petugas yang saya taksir usia keduanya di atas 50-an. Seorang menjual karcis dan seorang lagi sebagai pemandu wisata. Saya datangi si penjual karcis lalu saya tanyakan berapa lama kira-kira wisata tambang ini akan memakan waktu. Dijawabnya sekitar setengah jam.

Saya bisa membayangkan kira-kira apa yang bakal dapat dilihat dalam waktu setengah jam. Tidak ada yang menarik, pikir saya. Rasa-rasanya tambang bawah tanah peninggalan Belanda di Lebong Tandai, Bengkulu sana, tempat saya pernah bekerja dulu, akan lebih menarik ketimbang tempat ini. Tetapi bukan alasan itu yang membuat saya kemudian berubah pikiran. Ada yang lebih ingin saya ketahui : Apa sih yang sedang mereka “jual” dan bagaimana cara mereka “menjualnya”, sehingga orang-orang itu yang diantaranya bersama keluarga dan anak-anaknya, mau membayar US$5 per orang untuk mengikuti wisata tambang selama setengah jam?

Karcis kemudian saya beli, bukan kertas sebagai tanda masuknya melainkan sebuah tongkat kayu. Barangkali hanya ingin “tampil beda”. Saya lalu bergabung dengan para wisatawan domestik itu (kali ini saya menjadi wisatawan asing). Sebelum masuk ke dalam kerangkeng (cage) yang akan membawa kami menuruni sumuran tambang (shaft), sang pemandu wisata menjelaskan dengan sangat rinci tentang hal ihwal tambang.

Demikian pula saat kami berada di lorong bawah tanah (tunnel) dan di dalam lombong (stope), berbagai hal teknis termasuk cara-cara pemboran dan peledakan dalam pembuatan lorong, peralatan yang digunakan, sistem penyanggaan, ventilasi, dsb. juga dijelaskannya dengan fasih. Saya hanya menduga-duga saja, sang pemandu wisata ini mungkin dulunya bekas miner (buruh tambang).

Akhirnya setelah naik melewati beberapa tingkat anak tangga, kami tiba kembali di permukaan melalui mulut tambang yang berbeda dengan ketika masuknya tadi. Saya perkirakan tadi itu kami hanya berada sekitar 10-15 meter di bawah permukaan tanah. Tapi itulah gambaran sederhana tentang sebuah tambang bawah tanah berskala kecil yang berhasil dipaparkan melalui wisata tambang selama sekitar setengah jam. Pengunjung tampak puas, anak-anakpun gembira memperoleh pengalaman baru.

Meninggalkan tempat ini saya berjalan melewati beberapa peralatan kuno yang dipajang di sana, diantaranya ada mesin pemboran (rock drill), kereta tambang (mine car) dan relnya, mesin pemboran inti (diamond drill), dsb, hingga saya tiba di sebuah bangunan toko yang di dalamnya ada museum mini yang menggambarkan sejarah tambang-tambang di daerah pegunungan Superstition.

Sekeluar saya dari museum sebenarnya saya berniat untuk segera melanjutkan perjalanan. Namun saat saya berhenti sejenak di teras museum ini, saya merasa ragu-ragu untuk melangkah keluar. Sesaat mondar-mandir di teras bangunan ini sambil pura-pura memperhatikan struktur bangunan kuno biar tidak tampak seperti orang bingung. Saya merasa masih ada yang mengganjal di pikiran : Lha, tambangnya di mana?

Kemudian saya putuskan untuk masuk kembali ke museum dan menjumpai seorang wanita setengah tua, satu-satunya petugas yang ada di situ. Pertanyaan singkat saya ajukan : “Apakah tempat ini dulunya sebuah kota tambang?”. Dan jawab wanita itu : “Bukan, semua yang ada di sini adalah replika dari sebuah kota tambang jaman dulu”. “Termasuk wisata tambang?”, tanya saya lagi. “Ya”, jawabnya.

Dalam hati saya berkata : “Lha rak tenan” (benar, ‘kan), pantesan tadi masuk ke tambang bawah tanah kok tidak perlu memakai topi pengaman (hard hat). Pinter-pinternya orang cari duit. Sebuah kepintaran yang layak ditiru.

Si ibu petugas itu lalu melanjutkan penjelasannya bahwa dulu di daerah ini memang ada puluhan usaha pertambangan, dan tempat ini adalah hasil rekonstruksi dari sebuah kota tambang Old Mammoth. Kota tambang yang telah ditinggalkan sehingga menjadi kota hantu. Satu diantara nama tambang yang hingga kini sangat melegenda dan penuh misteri adalah Lost Dutchman Mine. Penjelasan si ibu ini memang telah membuat ganjalan pikiran saya sedikit terobati, meskipun inti pertanyaan saya sebenarnya belum terjawab.

***

Itulah, satu contoh kecil saja dari hasil sebuah kerja professional. Saya sangat yakin bahwa mereka yang ngurusi tempat wisata ini bukan berasal dari kalangan orang-orang yang bergelar kesarjanaan. Terlepas dari apakah penilaian saya ini benar atau salah, yang pasti adalah bahwa mereka punya pengetahuan dan kebanggaan akan daerahnya, punya ketrampilan, punya naluri untuk bekerja keras, dan punya komitmen yang tinggi untuk “menyelamatkan” kisah masa lalu desa mereka melalui media bisnis yang menguntungkan. Halal, lagi. Memang, sebuah kepintaran yang layak ditiru.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(9).   Jerome, Kota Tambang Di Lereng Gunung

Masih di hari Sabtu, 12 Agustus 2000, hari telah menjelang sore ketika saya tiba di jalur panjang yang menanjak menjelang kota Jerome. Hujan deras mengguyur di sepanjang jalur ini. Di ketinggian lereng barat laut gunung Mingus, sudah nampak bayang-bayang kota Jerome yang saat itu agak berkabut. Hingga akhirnya di sekitar km ke-86 dari kota Flagstaff, saya sampai di jalur jalan yang sempit dan berbelok-belok memasuki kota Jerome.

Sudah sekitar jam 5 sore dengan suasana kota tidak terlalu ramai tapi saya masih ketemu beberapa wisatawan di beberapa sudut kota. Hujan masih menyisakan rintik-rintiknya, dengan bekas hujan deras tampak membasahi kota. 

Jerome, adalah sebuah kota tua yang lebih seabad yang lalu sempat jaya karena menjadi salah satu kota tambang terpenting di Arizona, bahkan untuk daratan Amerika utara. Lokasinya berada di lereng gunung yang cukup curam, sehingga jalan yang membelah melewati kota dan sekarang bernama Highway 89A, dibangun zig-zag, guna mengurangi derajad kemiringannya. Layaknya ramp (jalan melandai) di sebuah open pit (tambang terbuka) yang menghubungkan bagian bawah dan bagian atas kota. 

Rute Highway 89A, melintasi kota ini berubah menjadi jalur jalan yang sempit di sela-sela bangunan-bangunan kuno yang saling berhimpitan dan masih dipertahankan keasliannya. Agaknya di kota ini tidak dikenal jargon “demi pembangunan maka jalan harus dilebarkan dan bangunan di pinggirnya harus dimundurkan”. Kenyataannya toh kenampakan jalan dan bangunan di pinggirnya tetap terkesan rapi, bersih, enak dipandang dan lalu lintas juga lancar. Padahal arus lalu lintas cukup dikendalikan dengan pemasangan rambu batas kecepatan 20 mil/jam (sekitar 32 km/jam).

Jerome memang bukan kota yang padat penduduknya, kota ini kini hanya dihuni oleh sekitar 470 jiwa penduduknya. Terletak pada ketinggian sekitar 1660 m di atas permukaan laut. Memandang ke bawah dari bagian atas kota, tampak pemandangan indah bagian bawah kota yang didominasi oleh bangunan-bangunan kuno yang umumnya berkonstruksi tinggi dibandingkan dengan bangunan-bangunan baru.

***

Kota Jerome memiliki sejarah yang sangat panjang sejak ratusan tahun yang lalu ketika Arizona masih belum menjadi bagian dari Amerika. Resminya kota ini terbentuk pada tanggal 8 Maret 1899. Nama kota ini diambil dari nama seorang pemodal dari New York, Eugene Murray Jerome, yang pertama kali membiayai operasi penambangan melalui United Verde Mining Company. Anehnya, Pak Jerome ini selama hidupnya belum pernah berkunjung ke kotanya. Operasi penambangannya dikendalikan dari New York.

Pertama kali mineral diketemukan di daerah ini pada tahun 1876. Perusahaan tambang United Verde sendiri sejak tahun 1889 sempat menghasilkan tembaga, emas, perak, seng dan timbal senilai lebih dari US$1 milyar. Tentu saja hal ini membuat kota tambang Jerome menjadi incaran para pendatang termasuk para imigran yang datang mencari kerja dan mengejar impian untuk segera meraih keberuntungan.

Kota Jerome pun tumbuh dengan pesat dan menjadi kota yang padat dan sibuk. Dalam tempo singkat, kota Jerome telah dipadati dengan sekitar 15.000 jiwa. Berbagai peralatan modern untuk menunjang operasi penambangan dan pengolahan mineral didatangkan. Tambang bawah tanah (underground) serta operasi pabrik pengolahannya segera saja merubah wajah kota Jerome menjadi kota yang tidak teratur. Polusi asap hitam menyelimuti kota, dan mematikan pepohonan serta vegetasi lainnya di sekitar kota di lereng gunung.   

Hingga sampai di awal abad 20, Jerome menjadi kota yang tidak pernah tidur. Belasan hotel, bar dan rumah-rumah pelacuran mewarnai kehidupan kota tambang ini. Belgian Jenny, ratu honky-tonk dari rumah-rumah cinta adalah seorang mucikari yang paling top pada masa itu. Perjudian, minuman keras dan pemakaian obat-obat terlarang telah menjadi bagian dari kehidupan kota tambang ini. Orang-orang muda berdatangan, menghabiskan putaran hidupnya dalam kerja dan kenikmatan yang sepertinya tanpa akhir. Hingga masa Perang Dunia I, kota ini semakin memuncak kejayaannya.    

Tanpa disadari, berbagai potensi bencana pun semakin mengancam kehidupan kota tambang yang sepertinya semakin kurang terkendali. Penggunaan dinamit untuk operasi peledakan, pengoperasian kerangkeng (cage) untuk menaik-turunkan pekerja ke lorong-lorong bawah tanah melalui sumuran tambang (shaft), runtuhnya lorong-lorong bawah tanah serta pengoperasian alat-alat berat, adalah kombinasi sumber bencana yang sangat potensial.

Sekitar tahun 1920-an, sebuah ledakan dahsyat dinamit telah menyebabkan keretakan, lalu longsor. Jutaan ton batu runtuh dari bukit dan menimbulkan suara gemuruh yang sangat dahsyat dan menimbulkan awan debu menyelimuti kota. Korban manusia tak terhindarkan lagi.

Dalam sejarahnya, ternyata kota Jerome ini memang tidak pernah lepas dari ancaman bencana. Paling tidak tercatat ada empat kali terjadi kebakaran hebat yang sempat membuat kota Jerome rata dengan tanah, yaitu tahun-tahun 1894, 1897, 1898 dan 1899. Namun setiap kali kota dibangun kembali, setiap kali pula kebakaran terjadi kembali.   

Ketika Amerika mengalami depresi ekonomi tahun 1930-an, produksi tambang pun mengalami penyurutan. Pada masa Perang Dunia II, kehidupan tambang agak bersinar lagi, namun tidak berlangsung lama. Operasi penambangan masih dilanjutkan dengan sistem tambang terbuka (open pit) karena masih dijumpai kandungan bijih yang kaya.

Hingga akhirnya tahun 1953 ketika operasi penambangan dihentikan, kota Jerome lalu ditinggalkan oleh ke-15.000 orang warganya. Hanya ada sekitar 50 orang yang masih bertahan, dan berubahlah Jerome menjadi seperti kota hantu. Bekas kota tambang yang nangkring di lereng gunung itu meninggalkan lorong-lorong tambang bawah tanah sepanjang sekitar 140 km, layaknya lubang-lubang tikus di bawah kota Jerome.

***

Lalu seperti apa kota Jerome kini? Penduduknya yang masih tinggal di kota ini sejak operasi tambang ditutup, mereka kebanyakan adalah bekas pegawai tambang dan para pensiunan, menyadari bahwa Jerome mempunyai potensi untuk “dijual” kepada para wisatawan. Kota yang kemudian dijuluki sebagai “The Most Unique City in America”, lalu berbenah diri dan mengorganisasikan diri.

Banyak sisa-sisa bangunan sejak kebakaran tahun 1894 dan 1899 kini masih ada, sebagian telah selesai direstorasi dan sebagian lainnya menyusul. Karena lokasinya yang berada di lereng gunung dengan kemiringan rata-rata 30 derajad, menyebabkan beberapa bangunan telah runtuh dan longsor.

Namun masih banyak sisa-sisa bangunan lama yang kini mempunyai “nilai jual” tinggi di mata wisatawan. Diantaranya adalah bekas penjara kota, lalu ada bagian kota yang pernah disebut distrik Cribs yang mempunyai julukan menyakitkan sebagai prostitution row, bekas bangunan hotel, rumah sakit, gereja, sekolah dsb. Termasuk dua tambang bonanza, yaitu tambang United Verde dan the Little Daisy yang sempat meraih masa kejayaan sebelum terjadinya depresi ekonomi tahun 1930-an. 

Sejenak saya memarkir kendaraan, lalu berjalan kaki beberapa puluh meter menyusuri kota Jerome yang sore itu masih gerimis dan mulai sepi. Di satu sudut kota ada sebuah bangunan kuno yang di dalamnya digelar museum mini, diantaranya memaparkan sejarah panjang kota Jerome sebagai kota tambang.

Para pensiunan pekerja tambang yang dulu bertahan ketika Jerome jatuh, dengan upayanya kemudian untuk menyelamatkan sisa-sisa peninggalan para orang tua, kerabat atau rekan-rekan mereka dulu, kelihatannya membuahkan hasil. Kini kota Jerome hidup kembali, tidak hiruk-pikuk karena memang tambang tidak ada lagi, melainkan kehidupan yang lebih bergengsi karena dikunjungi oleh wisatawan dari mana-mana.

Kabarnya, ada perusahaan yang sekarang sedang mengincar potensi mineral yang memang masih ada di bawah kota Jerome. Akankah Jerome kelak akan mengulangi sejarahnya menjadi kota tambang lagi? Sebuah perjuangan yang tidak mudah bagi perusahaan itu, karena itu artinya sama saja dengan menghancurkan kembali kota Jerome, mengingat saat ini saja kota Jerome berdiri di atas lorong-lorong bekas tambang yang cukup riskan terhadap kemungkinan longsor atau runtuh.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar