Posts Tagged ‘korupsi’

Libur Menulis Status

24 Mei 2010

Setelah seminggu libur menulis status, ternyata statusku tidak berubah. Masih tetap: Menikah + 1 istri + 2 anak kandung (Lha mau berubah keburu ada yg marah, malah pakai ngancam. “Ora sudi”, katanya). Padahal maksudnya cuma kepingin ditambahi + 99 anak asuh. Yo wis, ditunda dulu menunggu masa reses berikutnya (seperti anggota Dewan Yth) untuk melakukan lobi, konspirasi, kolusi, cari dukungan dan bekal tambahan, tapi bukan korupsi….

(Yang dimaksud menulis status adalah menulis update cerita atau aktifitas di halaman Facebook)

Yogyakarta, 17 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 2

11 April 2009

Mengisi waktu sore pada sehari sebelum Pemilu 9 April 2009, saya mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan rumah, lalu merapikan tumpukan sampah di pojokan (meski jelas sampah kadangkala perlu dirapikan juga). Saya sudah siap dengan sebuah korek api dan seberkas kertas bekas. Saya memang hendak mengisi waktu dengan membakar sampah dedaunan kering agar tidak terlalu menggunung di pojokan pelataran rumah.

Kegiatan bakar sampah seperti sore itu memang sudah seperti ritual yang saya lakukan setiap beberapa hari sekali, kecuali kalau saya lagi keluar kota atau hujan. Sambil jongkok membakar dedaunan kering, sesekali bergeser menghindari asap putihnya yang tertiup angin dan sesekali kucek-kucek mata yang berair karena asap putihnya mampir dan terasa pedas di mata. Ini memang sekedar kegiatan iseng dan sepele, tapi saya yakin tidak setiap orang sempat dan bisa melakukannya. Membakar sampah adalah kegiatan mengisi waktu yang cukup menghibur. Saya begitu menikmatinya.

***

Tiba-tiba lewat seorang ibu, lalu mendekat dan dengan suara tidak terdengar terlalu jelas, dia berkata : “Pak, minta sedekah…”. Dengan pandangan agak melongo setengah tidak percaya saya menatap ibu itu. Benarkah yang saya dengar tadi? Sepertinya saya tidak percaya. Sebab menilik penampilan ibu yang saya taksir berumur 40-an tapi terlihat muda yang sore itu tampil berbusana kebaya warna merah muda, berkerudung rapi, wajahnya terlihat kuning bersih dan terawat, senyumnya pun tampak manis (entah kalau dimanis-maniskan). Pendeknya, sama sekali bukan wajah susah yang perlu disedekahi. 

Kemudian terjadi percakapan pendek yang semakin membuat saya tidak konsentrasi pada pokok persoalannya bahwa ibu itu meminta sedekah. Terutama ketika dia menceritakan bahwa dia tinggal di gang sebelah kampung saya. Nyaris saya tidak percaya, sebab itu berarti ibu itu adalah tetangga saya. Lebih empat tahun saya tinggal di situ kok saya tidak pernah tahu keberadaan ibu itu. Sungguh, hal inilah yang mendadak membuat hati saya gelisah berkepanjangan. Pikiran saya melayang kemana-mana sambil saya tetap berdialog.

Kalau benar apa yang diceritakannya tentang tempat tinggalnya. Itu berarti kalau saya terbang agak ke atas dan saya lihat kenampakan dari Google Earth, jarak lurus antara rumah saya dan rumahnya tidak sampai 50 meter. Bagaimana mungkin saya bisa tinggal empat tahun di sana sementara di belakang rumah saya ada orang yang mengalami kesulitan hidup sehingga harus meminta sedekah kepada tetangganya? Dan tetangga itu adalah saya? Tetangga macam apa saya ini……

Berbagai pikiran dan prasangka berkecamuk menjadi satu di otak saya. Apakah perlu saya verifikasi dulu kata-katanya baru saya ulurkan sedekah, atau saya berikan sedekah dulu baru nanti menyusul diverifikasi kebenarannya? Akhirnya saya tepis pikiran buruk itu, lalu saya niatkan memberikan sedekah kepada seseorang yang membutuhkan, tidak perduli apakah dia tetangga saya atau bukan. Sejumlah uang lumayan besar saya berikan kepada ibu itu, sekedar sebagai improvisasi hidup sembari membakar sampah, menyambut Pemilu esok hari (jangan-jangan saya tidak jadi bersedekah kalau tidak ada Pemilu….). Ah, lupakan saja….

Percakapan masih saya lanjutkan, agar saya bisa lebih mengenalnya. Rupanya dia memang seorang ibu yang ramah. Sebut saja namanya Mak Isah, seorang janda yang ditinggal mati suaminya beberapa tahun lalu, tidak memiliki pekerjaan tetap dan mempunyai tiga orang anak remaja yang semuanya tidak sekolah dan tidak bekerja. Mak Isah dan anak-anaknya rupanya selama ini tinggal berpindah-pindah dan terakhir mengontrak sebuah kamar di belakang kampung yang saya tinggali, hanya beda RT. Pantesan saya tidak mengenal keberadaannya.

Ketika saya tanya sore itu dia dari mana, jawabnya : “Baru saja keluar dari rumah”. Ketika saya tanya mau kemana, jawabnya : “Menemui orang-orang”. Pandangan saya cukup lama mengantar kepergiannya meninggalkan saya, sambil pikiran saya terus memproses data-data yang saya kumpulkan : “Jangan-jangan pekerjaannya memang meminta-minta…..”.

***

Malamnya saya panggil seorang takmir musholla dari RT sebelah, sekaligus karena kebetulan ada urusan lain. Setelah mendengar informasi dari takmir musholla itu, barulah saya percaya bahwa semua keterangan Mak Isah itu benar. Bahkan ketika saya ketemu pak RT-nya, saya jadi semakin tahu siapa Mak Isah itu. Rupanya almarhum suaminya dulu adalah seorang pejabat kaya di Sumatera, yang karena tersandung kasus korupsi sehingga semua hartanya disita dan jatuh miskin (rupanya bukan hanya batu yang bisa nyandungin, melainkan korupsi juga…). Lalu keluarga mereka pindah ke Jogja dan harus memulai hidup dari awal. Tragis memang. Lebih tepat kalau almarhum suaminya bukan disebut koruptor, melainkan tupai. Seperti bunyi pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Dan ketika tupai itu jatuh, maka istri dan anak-anaknya yang menjadi korban. Beruntung tupai itu “cepat” meninggal, tapi “cilakak duabelas” bagi istri dan anak-anaknya yang tergelepar-gelepar berusaha kembali ke pohon. Kini rupanya Mak Isah tidak sanggup bekerja keras menggapai ranting pepohonan.  

Mak Isah kini menempuh jalan termudah untuk melanjutkan kehidupannya, yaitu dengan meminta-minta. Beberapa kali tetangganya membantunya dengan memberi pekerjaan sebagai pembantu, buruh cuci, dan apa saja. Tapi rupanya mental Mak Isah tidak siap dengan pekerjaan seadanya seperti itu. Tahulah saya kini, bahwa setiap hari Mak Isah menempuh perjalanan panjang menyusuri jalan-jalan kota Yogyakarta hingga larut malam baru pulang ke rumahnya. Menyambangi dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu toko ke toko lainnya, dari satu warung makan ke warung makan lainnya, demi meminta sedekah. Perasaan malunya sudah sirna di balik paras wajahnya yang tergolong cantik. Sampai-sampai seorang tetangga saya mengatakan, kalau saja Mak Isah ini dimasukkan ke salon kecantikan, maka ketika keluar pasti dikira Meriam Bellina (padahal setahu saya wajah Meriam Bellina jauh berbeda dengan Mak Isah…).

Kini tetangga-tetangga Mak Isah sudah maklum, setiap kali Mak Isah datang, diberinya seribu-dua ribu sekedar sebagai sedekah hari itu.Ya, hari itu. Karena di hari lain Mak Isah akan datang lagi dan minta lagi. Peristiwa sore itu memang tidak seorang pun tahu, tak juga istri dan anak-anak saya. Bahkan tangan kiri saya pun tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan saya. Saya memang ingin melupakannya. Tapi ketika kemudian saya ceritakan apa yang terjadi, mereka malah memberitahu bahwa Mak Isah memang sering mampir ke rumah. Kini tinggal saya menggerutu dalam hati : “Siwalan….., tiwas sore itu saya bersedekah banyak, besok pasti akan datang lagi dan datang lagi….. Tahu begitu, saya cukup memberi sedikit-sedikit saja…..”. Sial benar! Setelah tahu cerita lengkapnya justru membuat saya jadi tidak ikhlas dengan sedekah yang telah saya berikan.

Untuk apa kisah ini saya ceritakan? Saya hanya ingin berbagi kepada siapa saja, bahwa betapa sulitnya menjaga keikhlasan. Improvisasi hidup yang saya lakukan sore itu ternyata rentan terhadap ketidak-ikhlasan. Saya pikir ini adalah perkara keseharian yang sangat manusiawi. Siapa pun pasti pernah mengalaminya. Bahwa suatu ketika malaikat akan mencontreng kolom ikhlas amal kita, di saat yang lain gantian kolom tidak ikhlas yang dicontreng. Meski kemudian score-nya seri bin impas, namun saya berharap punya tambahan contrengan positif karena telah mengingatkan pembaca dongeng ini bahwa menjaga keikhlasan itu tidak mudah. Sangat manusiawi kalau sesekali kita tergelincir menjadi tidak ikhlas. Melakukan improvisasi tetap perlu, tapi menjaga keikhlasannya jauh lebih perlu. Sama perlunya sesekali saya mengisi waktu sore dengan membakar dedaunan kering agar pelataran rumah saya tetap terlihat bersih.

Yogyakarta, 11 April 2009
Yusuf Iskandar

Mantan Gubernur Itu Kini Sedang Terpuruk

12 November 2008

Namanya Edwin Washington Edwards. Tahun 1964 dia terpilih menjadi anggota Senat dan tahun 1965 dia menjadi anggota Congress. Lalu tahun 1972 dia terpilih menjadi Gubernur negara bagian Louisiana yang ke-56. Karir politiknya cukup mengesankan, terbukti dia berhasil menjadi Gubernur Louisiana hingga empat kali masa jabatan, meskipun tidak secara berturut-turut, dalam periode 1972 hingga meninggalkan kantor gubernuran awal 1996.

Namun sayang, menjelang kelengserannya sebagai Gubernur keempat kalinya, dia tersandung dengan urusan yang saat itu “dikiranya” wajar-wajar saja, tetapi kini oleh pengadilan Federal dinyatakan sebagai perbuatan yang sangat salah. Hari Selasa yang lalu (9 Mei 2000) dia dinyatakan bersalah atas 17 dari 26 perkara yang dituduhkan. Dia tidak sendirian, ada 4 terdakwa lainnya yang juga dinyatakan bersalah oleh juri, dan satu diantaranya adalah putranya sendiri. Mereka terbukti telah bersekongkol melakukan pemerasan atas beberapa perusahaan yang mengajukan ijin pengoperasian usaha perjudian, senilai lebih US$ 3 juta. Tentunya cara pemerasan yang dilakukan oleh mereka tidak sama dengan cara yang dilakukan para preman jalanan, meskipun kejadiannya serupa. Kita semua tentu paham itu.

Banyaknya jumlah perkara yang dituduhkan karena cara pembuktiannya tidak dilakukan secara bongkokan menjadi satu gepok perkara : “pokoknya Sampeyan korupsi 3 juta dollar”. Melainkan setumpuk perkara berbau korupsi itu diurai kasus per kasus, lalu masing-masing dibuktikan benar atau salah. Perlu waktu 18 bulan bagi pengadilan Federal untuk menuntaskan kasus itu hingga amar putusan dijatuhkan.

Hari-hari ini mantan Gubernur itu sedang terpuruk. Pak Edwin kini berusia 72 tahun (kurang lebihnya sebaya dengan mantan Presiden kita, Pak Harto; bedanya Pak Edwin masih bersedia menghadiri pemeriksaan dan sidang pengadilan dengan gagah dan jiwa besarnya, dan Pak Edwin punya istri cantik berusia 35 tahun bernama Candy Edwards), dan dia sedang diancam untuk menjalani hukuman 255 (dua ratus lima puluh lima) tahun penjara. Artinya kalau hukuman itu dijalani, tahun 2255 dia “baru” akan bebas, dan saat itu usianya “sudah” mencapai 327 tahun. Selain hukuman penjara, dia juga harus mengembalikan uang sebesar US$ 2,5 juta (sebuah koran lokal menulis : apakah dia saat ini punya uang sebanyak itu?). Dalam keterpurukannya hari-hari ini, dia dan pengacaranya sedang memikirkan upaya banding. Kalau ternyata tidak berhasil, maka segera dia harus masuk penjara untuk menjalani hukumannya.

Itulah hasil kerja keras FBI selama lebih 3 tahun terakhir, mengumpulkan bukti-bukti guna menjerat sang mantan Gubernur. Ternyata Edwin Edwards ini memang sudah sejak lama, bahkan sejak masa jabatannya yang kedua, sudah diincar FBI untuk dijerat dengan hukum atas perkara yang berbau-bau korupsi. Tetapi setiap kali sang Gubernur berhasil menang di pengadilan.

***

Melihat kenyataan bahwa Edwin Edwards telah empat kali terpilih menjadi Gubernur, tentu bukan prestasi politik yang biasa-biasa saja. Kalau tidak, tentunya sebagian besar rakyat Louisiana tidak bodoh mempercayai Edwin sebagai pemimpinnya. Sebab kita tahu bahwa sistem pemilihan dilakukan secara langsung. Rakyat langsung mencoblos namanya saat pemilihan, bukan tanda gambar yang akan memilih perwakilan mereka. Artinya, jasanya bagi masyarakat Louisiana pada masa itu memang diakui, hingga empat kali periode kepemimpinannya.

Namun, barangkali inilah tradisi demokrasi masyarakat Amerika. Pada saat dia layak dipercaya, maka dia akan dipercaya sepenuhnya. Saat sebagian besar rakyatnya memilihnya sebagai pemimpin (meskipun sebagian sisanya barangkali menolaknya), maka diangkatlah dia sebagai pemimpin. Saat dia menunjukkan performance-nya yang baik dan melakukan hal yang benar, ya dihargailah keberhasilannya itu. Akan tetapi juga, saat dia melakukan kesalahan, ya diberilah hukuman atas kesalahannya itu.

Jasa-jasanya di masa yang lalu ternyata tidak harus menjadi pertimbangan untuk memaafkan kesalahannya, meskipun jasa-jasanya itu diakui. Sampai-sampai Edwin ngayem-ayemi (menenangkan perasaan) dirinya sendiri saat menghadapi wartawan dengan mengatakan : “Barangkali ini adalah bab terakhir dalam hidup saya, tetapi ada banyak bab-bab sebelum ini. Banyak hal telah terjadi di bawah kepemimpinan saya selama saya menjabat sebagai Gubernur negara bagian ini dan sebagai anggota Congress”. Maksudnya tentu agar rakyat atau masyarakat Louisiana tidak begitu saja melupakan jasa-jasanya sebagai Gubernur dan anggota Congress.

***

Melihat episode tragis seorang mantan Gubernur itu, yang kemudian terlintas dalam pikiran saya adalah pertanyaan : Mungkinkan esensi keadilan yang demikian itu terjadi di negara kita Indonesia?. Tanpa harus bersembunyi di balik jargon klasik : beda kultur, beda tradisi, beda sistem, dan beda-beda lainnya yang hanya akan melegalisir faktor sungkan dan ewuh-pakewuh….  Ah, yo embuh…….!

New Orleans, 14 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Info Korupsi

12 November 2008

Seorang teman di Indonesia mengirimi saya majalah Tempo layak baca. Ada sebuah artikel yang menarik perhatian saya, berjudul : “Koruptor Mati, Hiduplah Korupsi”, yang diturunkan dalam edisi 13-19 Maret 2000 yang lalu. Pertama, karena di jaman reformasi ini ternyata kasus-kasus beraroma korupsi yang dulu sepertinya tertutup-tutupi, sekarang ini menjadi lebih transparan dan terbuka untuk umum (meskipun ujung-ujungnya ya balik tertutup lagi). Kedua, semakin mudah terbukanya kasus-kasus korupsi itu, semakin terbuka pula demikian mudahnya untuk tertutup lagi. Ketiga, kelihatannya sudah tidak perlu lagi bisik-bisik untuk menuding kasus korupsi, lha wong memang sudah jelas-jelas terjadi (setidak-tidaknya demikian menurut berita media massa).

Ada cerita lain dengan apa yang saya jumpai di sini, setidak-tidaknya di New Orleans. Sejak setahun terakhir ini, entah sudah berapa puluh kali saya jumpai iklan berhadiah di harian “The Times-Picayune”, yang menjanjikan hadiah sampai US$ 100,000 (kira-kira senilai dengan Rp 750 juta) jika Anda punya info tentang perbuatan ilegal, antara lain korupsi, atau perbuatan tidak etis yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah.  Iklan dua kolom itu dipasang oleh The Metropolitan Crime Commission (MCC), yaitu sebuah kelompok LSM yang sangat gencar mengkampanyekan tentang kehidupan pemerintahan yang bersih.

Menurut informasinya, selama lima dekade terakhir ini sebenarnya MCC seperti tidak punya gigi, tidak punya popularitas, dan dianggap enggak ada apa-apanya. Namun tahun-tahun terakhir ini telah berkembang menjadi institusi di luar pemerintahan yang menanjak popularitasnya, cukup bikin kesal (baca : disegani) oleh terutama kalangan hakim dan sheriff, karena memang banyak menyisir polah tingkah dunia peradilan dan kepolisian. Tidak mengherankan kalau keberadaan MCC sempat mengundang cemoohan dari kedua kalangan itu. Keadaan ini mengingatkan saya dengan apa yang sedang menjadi isu hangat di Indonesia, yang juga kedua kalangan itulah yang kini sedang gerah karena sering menjadi sorotan.

Tentang info yang berhadiah besar ini, kalau Anda punya informasi apapun yang ingin disampaikan (tentang tindakan ilegal dan tidak etis), maka Anda tinggal angkat tilpun ke nomor tertentu yang disebut dengan “Watch Dog Corruption Hotline” dan sangat dijamin kerahasiaannya. Setelah itu, info itu akan dikaji lebih jauh oleh MCC, eh siapa tahu, layak untuk diberi imbalan yang sangat menggiurkan untuk hanya sebuah info.

Di bagian akhir dari iklan itu tertulis sebuah ajakan yang sangat menarik : bergabunglah dengan kami untuk menciptakan agar komunitas kita menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk hidup, bekerja dan membina keluarga. Sebuah ajakan yang sangat membangkitkan simpati dan menjadi idaman masyarakat manapun.

Sesungguhnya bukan soal tawaran imbalannya yang menarik perhatian saya, melainkan di balik itu ada mencerminkan betapa perbuatan ilegal dan tidak etis di kalangan pemerintahan, setidaknya di New Orleans, sedemikian menjadi kepedulian umum dalam sistem bermasyarakatnya. (Atau justru sebaliknya, makanya dipasang iklan?. Entahlah). Namun yang patut digaris-bawahi, saya menangkap kesan bahwa hal itu bukan sekedar pemanis wacana politik masyarakatnya.

Dalam hati saya berkhayal : kalau saja itu terjadi di sebuah kumpulan kampung nun jauh di katulistiwa sana yang bernama (saya bangga menyebutnya) Indonesia. Rasanya kita masih boleh berharap banyak kelak di kemudian hari, dengan langkah-langkah yang sudah, sedang dan akan terus dilakukan antara lain oleh Indonesian Corruption Watch. Dan juga mudah-mudahan oleh anak-anak bangsa lainnya yang tidak terbutakan hatinya.

New Orleans, 9 April 2000.-
Yusuf Iskandar