Posts Tagged ‘kopi o’

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya mengunjungi kota Tanjung Pinang dan sekitarnya di Pulau Bintan, pada tanggal 10 – 15 April 2006. Perjalanan dari Yogyakarta ditempuh melalui Pulau Batam.

(1).  Menuju Kota Gurindam
(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik
(3).  Pulau Penghasil Bauksit
(4).  Ngopi Di Kedai Kopi “Hawaii”
(5).  Menyeberangi Teluk Bintan Naik Pompong
(6).  Purnama Di Tanjung Pinang
(7).  Ada Bunga Sakura Di Kijang
(8).  Semalam Di Batam

Iklan

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik

Waktu makan siang jelas sudah lewat, sedang waktu makan malam belum masuk. Tapi karena perut sudah meronta minta diisi, ya lupakan dulu soal waktu makan. Tidak jauh dari hotel, ke arah timur sedikit, tepatnya di Batu 10 (Km 10), ada kawasan pengembangan kota yang bernama Bintan Center. Kesanalah kemudian kami menuju. Di salah satu sudut kompleks perukoan ada kedai (sebutan umum untuk warung) yang jual nasi goreng. Atas inisiatif seorang rekan yang kebetulan penduduk asli Bintan, kemudian kami masuk ke kedai “Bopet Pak Haji”.

Nasi goreng di kedai ini cukup disukai masyarakat, katanya. Terbukti “Bopet Pak Haji” yang di Bintan Center itu merupakah cabang dari kedai yang sama yang ada di kota Tanjung Pinang. Tidak ada salahnya dicoba. Sebab prinsip saya kalau berada di tempat baru adalah mencoba sesuatu yang beda dan khas, tidak perduli enak atau tidak. Rule of thumb-nya adalah bahwa makanan itu hanya ada dua jenis : uenak dan huenak sekali.

Satu piring nasi goreng pun tandas. Sangking laparnya sampai tadi lupa merasakan sebenarnya nasi goreng ini cukup uenak saja apa huenak sekali sih…. Paling tidak, ya lumayan uenak-lah, meki taste-nya tentu beda dengan nasi goreng jawa.     

***

Sore serasa belum lengkap kalau belum nyruput kopi panas. Saya pesan kopi di hotel untuk dikirim ke kamar. Petugas hotel bertanya : “Kopi O, pak?”. Saya pun melongo dengan mulut membentuk seperti huruf “O”, mendengar pertanyaan itu. Lalu kata petugas hotel : “Ya, kopi biase tak pakai ape-ape….”, dengan logat Melayunya. Saya baru ngeh : “Ooo…. , itu to maksudnya kopi O…..”, barulah saya bisa mengkonfirmasi : “Iya, kopi O satu!”.

Menangkap ada sesuatu yang baru, saya lalu mencoba mengeksplorasi lebih jauh. “Kalau teh O ada, tak?”, tanya saya. Lalu dijawabnya : “Ada, pak. Teh obeng juga ada….”. Hah!. Teh apa lagi ini? Setahu saya di “Madurejo Swalayan” saya jual teh cap Tjatoet dan cap Tang. Lha ini ada lagi teh obeng….. Rupanya yang disebut teh obeng adalah es teh. 

Saya tersenyum sendiri. Selain karena merasa lucu mendengar sebutan jenis minuman kopi dan teh itu, juga karena berhasil memperoleh pengalaman baru di hari pertama kunjungan saya ke kota Gurindam, Tanjung Pinang. Mulai saat itu saya merasa perlu untuk mulai waspada. Waspada terhadap pengalaman-pengalaman baru yang akan saya temui selanjutnya. Dan inilah bagian yang paling saya sukai setiap kali mengunjungi tempat baru.

Secangkir kopi pun akhirnya saya nikmati di kamar hotel. Yang selalu khas dalam setiap kali kopi disajikan, juga kemudian saya temui di kedai-kedai kopi di tempat lain, adalah secangkir kopi itu selalu disajikan dalam keadaan mbludak, ada tumpahan di cawannya. Terkesan kurang professional dan kurang rapi. Tapi yang demikian ini justru menambah selera ngopi bagi penggemar kopi. Barangkali saja SOP-nya memang demikian.

Sama seperti saya juga tidak tahu kenapa disebut kopi O atau teh obeng. Orang-orang setempat pun tidak ada yang bisa memberi jawaban meyakinkan. Kecuali sekedar clue, barangkali sebutan itu adalah turunan dari bahasa Tionghoa yang memang sejak jaman dahulu kala banyak masyarakat etnis Cina yang tinggal dan hidup di kawasan Kepulauan Riau.

***

Mengingat tadi makan siangnya kesorean, maka acara makan malam pun sengaja dijadwal agak kemalaman. Tapi tidak perlu khawatir tidak kebagian restoran atau kedai yang masih buka. Banyak tempat-tempat makan atau kedai-kedai makan buka sampai larut malam. Salah satunya yang kami tuju adalah kawasan “Melayu Square” yang berlokasi di pinggir laut dekat dengan pelabuhan penyeberangan.

Yang disebut “Melayu Square” ini adalah semacam Pujasera, open air, ada puluhan set meja-kursi tersebar di lapangan terbuka yang dikelilingi oleh puluhan kedai makan dan minum serta jenis makanan lainnya. Ada juga disedikan fasilitas lesehan di atas ruang panggung yang tidak terlalu tinggi. Tempat ini buka sampai larut malam dan nyaris selalu dipenuhi pengunjung setiap malamnya, kata teman yang asli Bintan. Tidak ada jam buka dan tutup yang pasti. Namun biasanya buka sore hari dan baru tutup kalau pengunjung sudah sepi atau pada ngantuk, atau penjualnya yang ngantuk duluan.

Ada sederet menu makan aneka ragam yang kebanyakan berbasis ikan-ikanan, maklum wong dekat laut. Namun pandangan mata saya tertuju pada satu menu khas Melayu yang dahulu saya pernah menikmatinya saat disuguh oleh salah satu keluarga seorang teman di Yogya yang berasal dari Riau, yaitu laksa (dibaca la’se). Kalau tidak salah ini makanan yang berbentuk seperti mie tapi terbuat dari bahan tepung beras. Dimakan dengan kuah ikan seperti kari kental. Disajikan dengan berbagai variasi campuran, diantaranya tauge mentah. Biasanya pedas, dan yang pasti membuat nek (cepat enyang) karena mengandung banyak santan. Karena itu sangat cocok dimakan pada saat perut lagi lapar.

Berbekal semangat ingin mencoba yang beda dan khas, maka meski perut sesungguhnya belum lapar-lapar amat, tetap saja saya pesan sepiring laksa. Dan ternyata tandas juga, meski megap-megap kepedasan. Habis enak sih…..!

Bagaimana dengan minumnya? Mata saya tertuju pada menu kopi tarik. Apanya yang ditarik, atau apanya yang menarik? Kopi dan juga teh tarik adalah campuran kopi atau teh dengan susu yang penyajiannya dengan terlebih dahulu dicampur dalam cangkir alumunium berukuran agak besar. Kalau di Jawa ini cangkir mirip seperti yang biasa digunakan tukang martabak untuk mencampur adonan.

Campuran kopi atau teh susu itu kemudian dituang berkali-kali dan berpindah-pindah dari satu cangkir ke cangkir lainnya. Cangkir pertama yang berisi campuran kopi atau teh susu diangkat agak tinggi lalu dituang ke bawah dan diterima oleh cangkir kedua yang dipegang berada agak ke bawah, lalu bergantian. Prosedur tuang-menuang ini dilakukan sebanyak enam kali (saya tahu karena beberapa kali saya amati dan saya hitung, sekedar analisis statistik cepat), sampai kemudian menimbulkan busa di permukaannya. Barulah dipindah ke gelas sebelum disajikan.

Aroma dan rasanya luar biasa (makudnya di luar biasanya campuran kopi atau teh dengan susu). Nilai akhirnya : huenak dan mantab (diakhiri huruf “b”) sekali….. Pesan sponsor yang hendak disampikan berbunyi : Jangan lewatkan mencicipi kopi atau teh tarik selagi berada di Tanjung Pinang.

Tanjung Pinang, Kepri – 10 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(4).  Ngopi Di Kedai Kopi “Hawaii”

Masyarakat Bintan ini mempunyai kebiasaan unik, yaitu minum kopi. Bukan di rumah, di kantor, di hotel, atau di resto, melainkan di kedai-kedai kopi yang banyak betebaran di setiap sudut kota. Apakah dia orang biasa atau pejabat atau pengusaha, mereka pada pergi ke kedai-kedai kopi kalau dirasa-rasa sudah tiba waktunya kepingin ngopi. Acara ngopi atau coffee break ini bisa terjadi kapan saja. Tidak perduli pagi hujan, siang bolong panas terik, sore mendung atau malam dingin semribit, pokoknya kalau kepingin ngopi ya pergi nongkrong di kedai kopi. Tapi ya jangan lalu dibayangkan semua penduduk Bintan tumplek-blek di kedai kopi. Itu demo namanya!. Njuk nanti siapa yang tunggu rumah atau kantor……

Maka kedai kopi menjadi tempat paling strategis untuk bertemu membicarakan ihwal apa saja. Lobi-lobi politik, transaksi bisnis, silaturahmi, sekedar membuang waktu, nglaras, diskusi serius, ngumpul-ngumpul penuh canda, semua bisa berlangsung setiap saat setiap hari di kedai kopi, tanpa mengenal hari libur atau jam istirahat. Pokoknya kapan saja.

Salah satu kedai kopi favorit di kota Kijang adalah kedai kopi “Hawaii” yang berlokasi di depan pasar Berdikari. Mudah ditemukan lokasinya karena memang kota ini tidak terlalu ramai. Aroma dan rasa kopi di kedai kopi “Hawaii” ini sangat khas dan kuat sehingga membuat setiap penggemar kopi pasti kepincut untuk kepingin kembali ngopi lagi di tempat ini. Maka ada seloroh bagi pendatang baru di kota ini, yaitu dianggap belum sah datang ke Kijang kalau belum pernah singgah ngopi di kedai kopi “Hawaii”.

Sang pemilik kedai adalah seorang Cina tua yang biasa dipanggil A-Eng. Di usianya yang sudah 79 tahun ternyata engkoh A-Eng ini masih terlihat bregas (gagah), gesit, dan tidak menampakkan kelelahan fisiknya. A-Eng suka diajak ngobrol, apalagi kalau menyangkut kedai kopinya. Engkoh ini pun dengan berapi-api akan bercerita panjang-lebar dengan logat Melayu-Cina yang mulai rada susah dipahami karena giginya yang sudah pada hilang dan diganti gigi emas. Konon, air Riau memang terkenal keras dalam mempercepat kerusakan gigi.

Dulunya A-Eng tinggal di pulau Koyang, yaitu sebuah pulau kecil di sebelah timur pulau Bintan. Katanya semasa muda dulu suka berburu menangkapi monyet dan menyucrup otaknya, hingga puluhan ekor jumlahnya. Hmmmmm…….. Itulah selalu jawabnya kalau ditanya apa resep awet mudanya. Tentu saja ini formula yang tidak layak ditiru. Tapi begitulah pengalaman hidup A-Eng hingga di usianya yang sekarang.

Pada tahun 1969 A-Eng pindah ke Kijang. Dia lalu membuka usaha kedai kopi di depan pasar Berdikari yang pada waktu yang sama juga sedang mulai buka. Tentu saja waktu itu kota Kijang masih sangat sepi. Tapi relatif lebih ramai karena kota ini adalah bekas pusat kegiatan penambangan bauksit ketika Belanda masih jaya. Sejak itulah hingga kini A-Eng tidak pernah pindah. Kedainya pun tidak pernah direnovasi, diperbaiki atau sekedar dirapikan, sejak 37 tahun yang lalu. Maka wajarlah kedai kopi “Hawaii” milik engkoh A-Eng yang ada sekarang ini tampak sangat sederhana dan tradisional, meski tidak dipungkiri munculnya kesan kurang bersih.

Perihal nama “Hawaii” untuk kedainya itu, menurut penuturan A-Eng adalah pemberian pak Camat Kijang pada masa itu. Karena A-Eng yang wong ndeso Cina-Melayu ini bingung kedainya mesti dijuduli apa, maka dia pun minta pak Camat Kijang untuk memberinya nama, dan lalu dipilihlah nama “Hawaii” yang bertahan hingga sekarang menjadi trade mark kopinya engkoh A-Eng.

Dulu pernah tersiar rumor, katanya kopinya A-Eng bercampur ramuan daun ganja, makanya setiap sruputan pertama dari kopinya selalu menimbulkan efek thengngng….. di kepala peminumnya, apalagi bagi mereka yang tidak biasa minum kopi. Namun A-Eng membantahnya, diapun tidak merahasiakan resepnya.

Pulau Bintan memang bukan penghasil kopi, makanya A-Eng membeli kopi Sumatra biasa. Menurut A-Tet, satu dari empat orang anaknya yang sekarang tekun membantu usaha babahnya, kopi mentahnya berasal dari kopi Jambi, digoreng sendiri dengan sedikit tambahan minyak wijen dan lalu digilingnya sendiri. Begitu saja, katanya. Kalau kemudian tercipta taste kopi yang khas dan numani (membuat tuman atau ketagihan), itu karena penyajiannya.

Sebelum disajikan, kopi kental itu direndam atau diseduh dalam air panas mendidih agak lama, lalu disaring. Setelah itu tinggal menyajikan dalam cangkir kecil, dan lagi-lagi agak mbludak…… Mau kopi O atau dicampur susu, tinggal pesan saja. Susunya pun tidak sembarang susu, mesti merk “Double Dice” dari negeri seberang. Suatu ketika susunya pernah diganti, ternyata dikomplain penggemarnya. Katanya susunya kurang enak dan akibatnya seringkali kopi dalam cangkir pembelinya tidak dihabiskan. Akhirnya kembali lagi dia menggunakan susu cap “Double Dice” itu hingga sekarang.

Harga secangkir kopinya A-Eng terbilang murah. Cukup Rp 2.500,-. Itu sebabnya kedai kopi “Hawaii” ini laris manis tanjung kimpul. Sehari A-Eng bisa menghabiskan sampai 40 kg kopi, terkadang lebih. Hanya penggemar berat kopi hitam saja yang akan sanggup nenggak kopinya A-Eng lebih dari secangkir, mengingat kental dan aromanya yang kuat, serta sensasi thengngng… di kepala itu.

Iseng-iseng saya tawarkan kepada koh A-Eng untuk buka cabang di Jogja. Waralaba juga bolehlah. Dalam hati saya berkhayal, kalau dijual Rp 5.000,- sampai Rp 15.000,- per cangkir bagi penggemar kopi rasanya masih sepadan dengan sensasi thengngng… yang diberikan, tergantung lokasi dan tampilan kedainya. Mbah A-Eng ini hanya tertawa. Katanya, dia tidak bisa menjamin rasa dan aromanya tidak berubah. Wah…….

Sebagai penggemar kopi yang sudah terbiasa ngopi pagi dan sore, bagaimanapun juga tidak saya lewatkan kesempatan untuk membeli satu kilogram kopi ramuannya A-Eng ini sebagai oleh-oleh untuk saya sendiri. Harganya Rp 25.000,- per kilogram. Tentu dengan harapan agar di Jogja nanti saya akan memperoleh sensasi thengngng….. yang sama seperti ketika ngopi di kedai “Hawaii”.

Pendeknya, sruputan pertama begitu thengngng….., selebihnya terserah Anda…… Mau secangir, dua cangkir atau tiga cangkir mbludak……

Tanjung Pinang, Kepri – 11 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(8).  Semalam Di Batam

Ini sebutan semalam versi saya yang orang Jawa, maksudnya saya menginap satu malam di Batam. Sebab kalau versinya orang Melayu Riau, semalam maksudnya adalah hari kemarin. Ya, kami memang sengaja menyempatkan untuk menginap satu malam di mBatam sebelum kembali ke Jogja. Hitung-hitung sekedar refreshing setelah muter-muter di Bintan.

Siang kemarin telah kami tinggalkan pulau Bintan dengan bauksitnya dan Tanjung Pinang dengan kopi O-nya yang mbludak….. Di pelabuhan feri kami tidak repor-repot lagi membeli tiket penyeberangan, karena  tiket pergi-pulang feri “Baruna” yang kami beli di Punggur saat berangkatya masih berlaku untuk perjalanan kembali dari Tanjung Pinang, ke Telaga Punggur lagi.

Setiba di Batam sebenarnya kami belum tahu hendak kemana. Yang kami tahu hanya ada tempat yang terkenal dengan nama Nagoya. Ya itu saja pedomannya. Maka naik taksi dari Telaga Punggur pun cukup dengan meminta tolong pak sopirnya agar dicarikan hotel murah di sekitar Nagoya. Kata “murah” yang menjadi kata kuncinya. Itulah bedanya dengan dulu sewaktu masih jadi orang gajian di sebuah kumpeni kelas antarbangsa.

Dulu kalau plesir semuanya sudah di-set lengkap sejak sebelum berangkat, termasuk hotel yang berbintang-bintang. Sehingga ketika meletakkan pantat di taksi pun bisa sambil dehem-dehem….., sambil rada nggleleng menyebut nama hotelnya. Sedangkan kini harus memposisikan diri bak seorang petualang kehabisan bekal. Meskipun ada yang mbayarin, namun toh mesti tanggap ing sasmito bahwa itu bukan privilege melainkan sekedar sarana. Toh fungsi hotel sebenarnya hanya untuk nggeblak (merbahkan tubuh) dan buang hajat saja…..  Akhirnya kami temukan sebuah hotel yang agak murah, kelas backpacker naik sedikit, di bilangan wilayah pinggiran Nagoya.

Acara pertama di Batam adalah jalan-jalan sore, menemukan kedai kopi di salah satu sudut perempatan jalan. Lalu ngopi sepuasnya sambil ngobrol ngalor-ngidul. Menikmati pemandangan lalu lintas kota Batam yang semrawut, lebih-lebih di perempatan jalan yang tanpa lampu lalu lintas. Menikmati berseliwerannya aneka merek dan jenis mobil yang tidak pernah ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tentu saja saya tahu, bahwa pemandangan kesemrawutan yang saya potret sore itu adalah bukan mewakili  keseluruhan lalu lintas di pulau Batam. Sebab di belahan lain pulau ini, terutama di luar kota, saya justru menikmati rapi dan bagusnya pengaturan lalu lintas, penataan rambu jalan dan tata ruang jalan, yang menyerupai di negara maju. Menempuh perjalanan dari Telaga Punggur ke bandara atau ke kawasan kota, rasanya seperti sedang melaju di sebuah highway di Amerika. Sayang, kerapian dan kebagusan ini tidak konsisten saat memasuki kawasan bisnis dan pemukiman.

***

Batam diidentikkan sebagai halaman belakang Singapura. Di sini ada lebih dari 500 perusahaan asing telah menanamkan investasinya, yang berarti terbukanya banyak lapangan kerja. Pulau seluas 400 km2 itupun dikembangkan dan ditata sedemikian rupa agar siap mengimbangi kemajuan bisnis dan investasi yang datang dari tanah seberang. Namun sepintas nampaknya kesiapan penataan ruang dan wilayahnya baru sempat menyentuh sektor-sektor yang terkait langsung dengan kemajuan industri saja.

Bisa jadi penglihatan saya yang hanya semalam ini salah. Namun ketika saya berkesempatan mengunjungi rumah seseorang di sebuah kompleks perumahan, agaknya dugaan saya agak-agak benar. Pertumbuhan penduduknya jauh lebih cepat dari tata ruang yang direncanakan. Akibatnya ibarat kebanyakan menuang kopi O dalam cangkir kecil, ya mbludak kemana-mana tanpa sempat direncana.

Keberadaan industri di Batam telah menarik minat pendatang dan pencari kerja, berduyun-duyun memasuki pulau Batam untuk mengadu untung tanpa bekal keahlian yang memadai. Karena mbludak, maka tingkat pengangguran menjadi cukup tinggi dibanding tempat-tempat lain di Indonesia. Sementara pada saat yang sama Batam dibanggakan sebagai kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.

Memang pertumbuhan penduduknya luar biasa. Tahun 1995 penduduk Batam masih sekitar 196 ribu jiwa, tapi tahun 2002 sudah mencapai lebih 560 ribu jiwa. Sekarang? Suk-sukan ora karu-karuan (berdesakan tidak karuan) di pusat keramaian…… Terhimpun dalam cluster-cluster di tengah hamparan luas tanah gersang yang mengandung banyak macam mineral tambang, karena memang tidak sembarangan boleh membuka lahan untuk pemukiman.

Keadaan ini membuat ingatan saya terbang ke ujung timur, ke kota Timika di Papua. Kejadiannya sungguh mirip dengan Batam. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa pertumbuhan kota Timika akan sedemikian pesatnya sebagai dampak dari beroperasinya perusahaan tambang raksasa Freeport di lokasi dalam radius kurang dari 100 km. Akibatnya pihak pemerintah setempat jadi “telmi”, mangsudnya, benar-benar terlambat untuk memikirkan. Belum sempat selesai memikirkan bagaimana sebaiknya menata ruang dan wilayah kota Timika secara integratif. Eeee….., enggak tahunya pertumbuhan penduduknya lebih cepat luar biasa. Jadinya, ya mbludak ….., penduduk yang bertambah-tambah itu menempel di mana-mana jadi sulit dikendalikan.

Ibarat tanaman, tumbuh sak thukule, asal tumbuh di mana saja. Padahal dulu sempat terpikir untuk membuat penataan kota agar menjadi lebih baik, sehat dan indah. Tapi ya terlambat, keburu para petualang pencari kerja berdatangan dari mana-mana. Ibarat mengambil KPR tipe 36 di atas lahan 100 m2. Belum seperempat cicilan dipenuhi, tahu-tahu sudah mbegogok (nongkrong) rumah tingkat di atas lahan 100 m2 penuh-nuh, tanpa sisa sedikitpun bahkan untuk sekedar menaruh pot bunga. Akhirnya, pak Camat pun bengong-terbengong melongo…..

***

Sambil jalan-jalan menyusuri pertokoan, saya sempatkan membeli koran Jakarta. Maklum beberapa hari ini rada ketinggalan informasi nasional. Kata seorang pelayan toko yang agaknya pendatang dari Jawa, mengatakan bahwa kalau soal makan maka Batam adalah tempatnya. Jadi tidak perlu khawatir soal makan apa atau dimana. Pernyataan ini tidak salah, namun agaknya ada yang kurang.

Tidak dipungkiri, Batam sudah menjadi pilihan tempat hiburan bagi masyarakat Singapura, juga Malaysia. Soal makan sebenarnya hanya aktifitas sampingan saja. Wong namanya orang hidup ya pasti butuh makan. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa yang sebenarnya menjadi tujuan utama turis akhir-pekanan dari Singapura dan Malaysia (ngngng….. rasanya dari Indonesia juga…..) adalah main golf, berjudi dan “esek-esek”. Yang terakhir inilah yang kemudian mendominasi bisnis hiburan di Batam. Dampaknya meluber ke pulau tetangga dekatnya, yaitu pulau Bintan dan Karimun. Maka sangat beralasan kalau masyarakat penduduk asli ketiga pulau itu yang umumnya adalah masyarakat yang taat dalam beragama, semakin hari semakin risau melihat “kemajuan” jaman yang tidak terelakkan.

Tidak di Batam, tidak di Bintan, tidak terkecuali di pulau Karimun. Seorang teman yang tinggal di Karimun mengeluh bahwa keluarganya terpaksa menjual rumahnya yang ada di kota yang sudah turun-temurun ditinggali, lalu terpaksa pindah. Pasalnya rumah keluarga besarnya yang ada di kota Tanjung Balai, Karimun, itu kini sudah dikepung dengan fasilitas entertainment (ini adalah kata lain untuk bisnis bernuansa “esek-esek”). Akhirnya keluarga teman tersebut merasa risih dan mengalah pindah ke luar kota.

***

Berbekal semangat ingin melihat suasana beda di tempat yang baru pertama kali saya datangi. Maka satu malam di Batam pun tidak ingin saya lewatkan begitu saja dengan nglekerrr….. (tidur nyenyak). Satu-satunya hiburan yang cocok adalah makan. Di Batam banyak pilihan tempat makan, seperti kata penjual koran tadi. Akhirnya kami memilih untuk makan malam di “Nagoya Food Court”. Kelihatannya ini tempat yang representatif untuk menggapai suasana berbeda, di kesempatan yang hanya semalam.

“Nagoya Food Court” adalah arena terbuka sangat luas yang dikelilingi oleh kedai-kedai yang menawarkan aneka menu masakan. Mirip-mirip pujasera yang ada di Tanjung Pinang, bedanya “Nagoya Food Court” ini bangunannya lebih permanen, tertata rapi, bersih dan enak dikunjungi. Ideal juga bagi yang membawa keluarga karena tersedia juga arena bermain untuk anak-anak. Selain itu, di bagian tengah arena makan-memakan ini terpasang layar tancap. Menu utamanya memang ikan-ikanan (sea food), tapi lebih banyak variasi jenis masakannya, termasuk kalau menginginkan masakan ala Jawa.

Memasuki tempat ini, lalu tolah-toleh mencari tempat kosong di antara pengunjung yang cukup ramai. Begitu duduk langsung dikerubuti oleh para SPG yang mengenakan pakaian seragam masing-masing sambil menawarkan produk bir segala macam merek. Karena kami memesan teh obeng, akhirnya mereka bubar jalan. Tinggal pelayan biasa yang menawarkan menu masakan biasa.

Sampai selesai makan, kami masih merasa betah ngobrol sampai malam. Suasananya memang tidak membosankan, hingga kami pun dapat benar-benar menikmati malam di Batam dalam suasana santai. Agaknya inilah suasana berbeda yang dapat saya peroleh dalam masa yang hanya semalam. Saya memang tidak punya banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang Batam. Mudah-mudahan masih ada kesempatan berikutnya. Insya Allah.

“Sampun nggih, pareng ……”

Batam, Kepri – 14 April 2006
Yusuf Iskandar