Posts Tagged ‘kopi aroma’

Berbuka Sederhana

6 September 2010

Berbuka dengan tiga butir kurma dan secangkir kopi Aroma robusta, dilengkapi dengan klepon dan putu (dibelikan anak wedok di depan pasar Lempuyangan, Jogja).

(anak wedok : anak perempuan)

Yogyakarta, 3 September 2010
Yusuf Iskandar

Kiriman Kopi Aroma Dari Bandung

28 Juli 2010

Lha kok ndilalah…, saat bubuk kopi di rumah sudah mendekati sendok terakhir, datang kiriman dari Bandung, dua bungkus Koffie Fabriek Aroma, robusta dan mokka arabika. Belum diseduh saja sudah kebayang sensasi theng-nya. Kertas packing-nya menjamin aroma dan taste kopinya bertahan lama…

(Hatur nuhun kepada kang Eddy Aji Poerwanto untuk oleh-olehnya dan matur nuwun kepada mas Bambang Triwoko untuk jasa angkutnya).

Yogyakarta, 21 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Kluwu

9 Juli 2010

Ketela pohon diberi santan dan gula pasir sedikit lalu direbus (makanan ini ada namanya, tapi saya lupa). Ketelanya jenis mertega (mentega) yang berwarna kuning. Asapnya masih membubung tanda masih panas. Nampak cantik dan menawan tersaji di atas cawan. Tidak sabar ingin cepat-cepat menikmatinya. Dari tampilannya saja saya sudah tahu, whoenak tenan…… Ditemani secangkir kopi Aroma mokka arabika. Wow! Sebuah sarapan yang berbeda.

(Note: Belakangan seorang teman memberitahu bahwa nama makanan itu adalah kluwu)

Yogyakarta, 6 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Secangkir Kopi Aroma

4 Juli 2010

Secangkir ‘Koffie Fabriek’ Aroma van Bandoeng, rasa mokka arabika… (ternyata aku masih punya simpanan dari Bandung). Sruputan dan theng-nya full enggak setengah-setengah… Cocok buat kesebelasan Jerman, Inggris, Argentina dan Meksiko malam ini, agar mereka tidak ngantuk dan produktif mencipta gol-gol indah dan spektakuler…! (Kalau penontonnya yang ngantuk nggak apa-aa, biar saja, nggak ngaruh….).

Yogyakarta, 27 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tetes Kopi Penghabisan

19 Maret 2010

Akhirnya, sampailah pada tetes kopi penghabisan (dari 0,5 kg kopi Aroma). Sepertinya perlu ke Bandung lagi khusus untuk beli kopi, kecuali… (nah, ini bagian terpentingnya) ada yang berbaik hati membelikannya.

Tapi no worries, tidak sedramatis itu lah, di rumah saya masih punya kopi purwaceng (oppo iki..!), atau ngambil saja dari toko ‘boss’ saya (nah, ini bagian terindahnya, mempunyai ‘boss’ jualan kopi, nggak laku dijual ya diminum sendiri…)

Yogyakarta, 18 Maret 2010
Yusuf Iskandar