Posts Tagged ‘kompas’

Siap-siap Urunan

26 Desember 2010

Agak terusik rasaku (ini memang “tentang rasa”) membaca berita di halaman depan Kompas hari ini tentang Ketua KPK. “Biaya Rp 2,5 Miliar, Kerja Hanya Setahun”. Berarti tahun depan aku bersama lebih 240 juta tetanggaku harus siap-siap urunan lagi untuk mengumpulkan Rp 2,5 Miliar +++.

Kalau bisa untuk empat tahun kenapa hanya setahun?. Uuuuu…uugh…! (kalkulatorku nggak jalan…).

Yogyakarta, 26 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Kompas

25 Oktober 2010

Sebuah kompas, baru ada artinya justru ketika dia dibawa pergi oleh seorang pejalan atau pengembara. “Kompas harus selalu bepergian, dalam perjalanan yang kau tak tahu dimana akhirnya” (kata Helge kepada Svenja dalam film “Tsunami”).

Maka beruntunglah orang-orang yang memiliki kompas yang membimbing keselamatan perjalanannya, walau tetap tidak tahu kemana akhirnya.

Yogyakarta, 19 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

“Sri, Kapan Kowe Bali?”

7 Mei 2010

“Sri, Kapan Kowe Bali?” (Sri, kapan kau kembali)… Kompas hari ini menurunkan tulisan Sindhunata, sebuah tulisan yang sangat elok, cair dan bernas. Melihat Sri Mulyani Indrawati dari sudut pandang sebuah lagu jawa campursari berjudul “Sri Minggat”… (Dengan logat Batak: Sri-nya tak seberapa….., minggoatnya ittuuu…)

Yogyakarta, 7 Mei 2010
Yusuf Iskandar

***

Syair lagu “Sri Minggat” karya Sonny Josz :

Sri, kapan kowe bali
Kowe lunga ora pamit aku

Jarene neng pasar pamit tuku trasi

Nganti saiki kowe during bali

(Sri, kapan kau kembali/Kau pergi tanpa pamit kepadaku/Katamu kau pergi ke pasar hendak beli terasi/Ternyata sampai kini kau belum kembali)

Mas, sepurane wae
Aku minggat, ora pamit kowe

Sepuluh tahun urip karo kowe

Ora bisa nyenengke atiku

(Mas, maafkan aku/Aku minggat, tanpa pamit kamu/Sepuluh tahun hidup bersamamu/Tak bisa menyenangkan hatiku)

Maskapai ”Pokoke Mabur”, Oedan Tenan…

4 Mei 2008

Pada mulanya saya membaca olokan maskapai “Pokoke Mabur” (yang penting terbang) saya tafsirkan hanyalah sekedar gaya bahasa sebagai ekspresi ketidakpuasan dan keprihatinan terhadap perilaku maskapai Adam Air dalam menjalankan bisnisnya. Saya setuju dengan olokan itu karena kedengaran enak di telinga.

Ee… lha kok kenyataan yang sebenarnya malah jauh lebih parah dari sekedar julukan itu. Coba bayangkan, naik pesawat terbang tinggi lebih 9 km di atas permukaan bumi, dengan kondisi pesawat yang asal terbang. Kata Departemen Perhubungan, ada baut-baut dan paku pesawat yang tidak lengkap. “Ini, kan berbahaya sekali”, kata Budhi Mulyawan Suyitno, Dirjen Perhubungan Udara (Eee…alah, Pak De… Pak De…., kok baru sekarang Sampeyan ngasih tahu saya, telanjur 3 tahun ini saya midar-mider dengan pesawat “Pokoke Mabur”, jangan-jangan pesawat yang menghunjam di laut dekat Sulawesi karena ada bagian yang coplok di udara….).

Bukan itu saja, menurut koran “Kontan” hari ini, Adam Air ternyata tidak mengoperasikan pesawatnya sesuai aturan. Proficiency check alias kecakapan pilotnya tidak dilakukan oleh instruktur yang sudah ditunjuk, pelatihan sumber daya manusia tidak sesuai program (sesuatu yang tidak ikut aturan, oleh orang Jawa disebut sak geleme dhewe…). Malah koran “Kompas” hari ini juga menyebut bahwa perawatan pesawat udara tidak sesuai company maintenance manual, dan ketidakmampuan teknis memperbaiki kerusakan (jadi kalau ada kerusakan pesawat jangan-jangan malah menjadi semakin rusak, lha wong ora biso ndandani… tidak bisa memperbaiki…).      

Maka mulai hari ini ijin terbang (operational specification) maskapai “Pokoke Mabur” milik PT. Adam Air Sky Connection itu pun dicabut.

***

Terlepas dari konflik internal dari para pemegang sahamnya, entah itu karena perkara mismanagement atau ketidakpuasan pribadi, yang jelas konsumen pengguna jasa angkutan udara telah menjadi taruhannya selama ini.

Entah itu kebodohan, kekonyolan atau kekejaman, setiap kali pesawat Adam Air mengudara, maka para penumpang dan awaknya ibarat sedang bermain trapeze, sirkus bergelantungan di udara tanpa jaring pengaman. Tinggal tunggu waktu siapa dari pemain sirkus udara itu yang kebagian sial gagal melakukan akrobatiknya dengan mulus dan selamat, meloncat dari satu gantungan ke gantungan lainnya sambil bermanuver di udara. Benar-benar “pokoke mabur”, oedan tenan……

Mengingat kembali bagaimana awak kabinnya terlihat asal-asalan memperagakan prosedur dan tatacara dalam keadaan darurat dan juga bagaimana sopir-sopirnya mendaratkan pesawat hingga sering mak jegluk…., bisa jadi semua itu adalah ekspresi di luar kesadarannya dari sikap ora urus, tidak perduli dan …., ya “pokoke mabur” itu tadi.

Huh…! Miris rasanya kalau ingat bahwa yang disampaikan oleh Dirjen Perhubungan Udara itu benar adanya. Dan, mestinya ya benar. Masak sih, ngarang-ngarang…..

Kini pemerintah masih memberi kesempatan Adam Air untuk memperbaiki kinerja buruknya dalam waktu tiga bulan. Maka pertanyaannya adalah, apakah pihak manajemen Adam Air mampu “menyulap” semua kegagalan dan ketidakmampuan itu menjadi lebih baik dan sesuai prosedur keselamatan yang benar dalam waktu tiga bulan ke depan? Menurut kalendar di rumah saya, tiga bulan ke depan jatuh pada tanggal 18 Juni 2008 (dengan empat tanggal merah di dalamnya), pas peak season musim liburan sekolah.

Have a safe and nice flight…..!

Yogyakarta, 19 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(2).   Salah Jalan Di Salt Lake City

Jum’at, 21 April 2000, jam 21:15, pesawat yang kami tumpangi dari New Orleans mendarat di bandar udara internasional Salt Lake City, setelah menempuh perjalanan selama 3,5 jam. Baru sekitar jam 22:00 malam saya meninggalkan bandara, dengan menggunakan mobil yang saya sewa di bandara langsung menuju ke hotel yang sebelumnya sudah saya pesan.

Sejak masih di New Orleans saya sudah membuka-buka peta kota Salt Lake City, jalan mana yang harus saya ambil dari bandara menuju hotel, dengan maksud agar nantinya saya tidak bingung. Rupanya karena tiba di Salt Lake City sudah cukup malam, hal ini membuat saya tidak terlampau jeli memperhatikan tanda-tanda petunjuk jalan. Akibatnya saya kebablasan cukup jauh dari jalan dimana seharusnya saya belok sekeluarnya dari bandara. Menyadari hal ini, lalu saya putuskan untuk berhenti dulu melihat kembali pada peta. Tapi untuk berhenti saya tentunya harus tahu berhentinya di mana, sehingga bisa dipakai sebagai patokan saat melihat peta.

Tempat paling baik untuk berhenti adalah di stasiun pompa bensin. Selain tempatnya terang, biasanya berlokasi di sudut persimpangan jalan. Paling tidak saya akan bisa tahu saat itu berada di persimpangan antara jalan apa dan apa. Atau sebingung-bingungnya, saya akan bisa tanya kepada si penjual bensin. Ternyata untuk menentukan lokasi saya saat itu di peta juga tidak mudah, saya perlu mengingat ancar-ancarnya dari bandara tadi bergerak ke arah mana lalu belok ke mana.

Saat itulah, tiba-tiba saya ingat : “Saya perlu kompas”. Ya, alat navigasi ini banyak sekali membantu saat melakukan traveling. Saya membutuhkan kompas karena mobil yang saya sewa tidak dilengkapi dengan alat navigasi sederhana ini.

Saya punya kebiasaan kemana-mana selalu membawa kompas kecil. Kalaupun tidak saya gunakan untuk menentukan arah jalan, minimal akan membantu saya menentukan arah kiblat. Dulu saya punya kompas kecil yang seperti mainan yang menghiasi tali plastik hitam jam tangan saya. Membelinya di Jalan Malioboro Yogya seharga Rp 2.500,-.

Sejak saya beli lima tahun yang lalu hingga sekarang belum rusak, masih saya simpan dengan baik. Tapi sejak setahun yang lalu tidak saya pakai lagi, karena jam saya habis batereinya dan belum sempat membawanya ke tukang jam di New Orleans. Sebagai gantinya sekarang saya punya gantungan kunci yang ada kompas kecilnya, dan kemana-mana selalu saya bawa.

Ternyata kompas mainan saya ini sangat membantu dalam situasi kesasar seperti yang sedang saya hadapi. Maka dengan bantuan kompas, kemudian dengan mudah saya merekonstruksi tadi bergerak ke arah mana dan harus kembali ke arah mana. Dengan mudah pula saya menentukan lokasi saya di peta dengan berpedoman pada nama persimpangan jalan di mana saya berhenti.

Punya sedikit pengetahuan tentang membaca kompas dan peta memang perlu. Untung saya dulu sejak SD hingga SMA pernah ikut Pramuka di kota asal saya. Mencari jejak adalah jenis kegiatan yang saya sukai. Saya juga masih ingat pelajaran Ilmu Ukur Tanah di tahun kedua kuliah dulu. Makanya kalau sekedar untuk urusan membaca peta dan kompas, rasanya saya tidak akan kesulitan.

***

Saya berbalik arah, menuju ke jalur semula. Cara penamaan jalan-jalan di Salt Lake City pada awalnya membuat saya agak bingung. Sistem jalan-jalan di Salt Lake City umumnya ditulis dalam nomor blok dan arahnya terhadap jalan utama yang dijadikan sebagai patokan. Seperti misalnya 1500 W (blok 1500 ke arah barat), atau 500 E (blok 500 ke arah Timur). Ada juga digunakan cara biasa yaitu setiap jalan diberi nama sebagaimana jalan-jalan di Indonesia.

Sialnya, pada malam itu yang nampak bisa saya jadikan pedoman adalah nama-nama jalan yang ditulis dengan nomor blok dan arah saja. Ini sempat menyulitkan. Akibatnya, setelah kebablasan ke barat, lalu ganti kebablasan ke timur. Lalu akhirnya ya baru paham setelah berhasil mengidentifikasi kemana arah membesar dan mengecilnya nomor blok serta arahnya.

Sebenarnya system jalan di Salt Lake City ini masih lebih mudah dibanding ketika saya jalan-jalan ke kota Miami (di negara bagian Florida) tahun lalu. Di sana system jalan-jalannya dibagi dalam empat grid berdasarkan arah mata angin yang tidak lazim menurut ukuran saya, yaitu arah timur laut, barat laut, barat daya dan tenggara, yang disertai dengan nomor bloknya.

Bagi yang sudah terbiasa dengan sebutan arah mata angin dalam bahasa Inggris barangkali tidak menjadi masalah. Tapi bagi pendatang baru seperti saya, setiap saat mesti berpikir dua kali; pertama membayangkan dulu setiap kali disebutkan arah North-West, South-West, dsb., baru kemudian memahami lokasi dan arah jalannya.

***

Akhirnya baru sekitar jam 23:30, menjelang tengah malam saya tiba di hotel. Padahal lokasi sebenarnya tidak terlalu jauh dari bandara. Ya karena kurang jeli memperhatikan petunjuk jalan di saat hari sudah gelap, sehingga salah jalan.

Anak-anakpun sudah pada nyenyak tidur di mobil. “Kok lama sekali sampainya?”, kata mereka saat tiba di hotel. “Iya, kita salah jalan”, jawab saya maklum atas pertanyaan anak-anak saya. Tentu mereka belum paham apa artinya salah jalan di tempat yang masih asing.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar