Posts Tagged ‘kolam ikan’

Mentertawakan Diri Sendiri

25 Oktober 2010

Sambil bersih-bersih dan merapikan tanaman di halaman depan rumah, istriku berkhayal kepingin bikin kolam ikan. Kudengarkan dengan seksama gagasan dan rencana-rencananya tentang kolam ikan. Setelah selesai, sambil mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan, kukatakan: “Tapi tetap saja mobil kita nggak bisa keluar-masuk…” (Lihat status sebelumnya). Terkadang mentertawakan diri sendiri itu perlu agar irama hidup ini terjaga keseimbangannya…

Yogyakarta, 24 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Pesta Pecel Lele

25 Oktober 2010

Pagi-pagi mancing lele di kolam belakang toko. Itu yang tadi dilakukan seorang pegawai toko Madurejo, Jogja. Maka siang ini semua pegawai pesta pora makan siang dengan pecel lele sepuasnya. Pemiliknya juga…(kalau ini wajib). Lalapan mentimun, tomat dan daun kemangi yang dipetik di pinggiran sawah yang daunnya lebar-lebar.

Order kerja spesial untuk besok, besoknya dan besoknya besok, masih sama: Lanjutkan pestanya, habiskan lelenya…!

Yogyakarta, 21 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kolam Lele ‘Taman Sari’ Madurejo

24 Mei 2010

Kolam di belakang toko saya lama tak terurus. Kini sudah dirapikan. Kalau difoto keindahan lanskapnya mirip Taman Sari (padahal Taman Sari nggak mirip sama sekali dengan kolam ini… Maka sebaiknya lihat di fotonya saja).

Saya belikan 500 ekor bibit lele ukuran jari @Rp100,-/ekor, sekedar tanda bahwa kolam itu ada penghuninya. Enam minggu lagi siap untuk pesta pecel lele. Sak mblengere… (sampai kenyang). Silakan bawa bumbu sendiri dan nangkap lele sendiri…

(Tentu saja, kolam yang ada di belakang toko saya ini bukan ‘Taman Sari’ dalam arti sebenarnya, melainkan sekedar sebuah kolam ikan lele dimana saya sebagai pemiliknya bangga menyebutkannya bak sebuah Taman Sari… — Toko saya itu, “Madurejo Swalayan” berlokasi di Jl. Prambanan – Piyungan Km. 5, Sleman, Yogyakarta)

Madurejo – Sleman, 18 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Keburu Mau Yasinan

23 April 2010

Seharian ini kerja jadi tukang batu di rumah. Kolam ikan di belakang rumah bocar-bocor saja, jadi terpaksa dibongkar dan disemen lagi lantainya. Menjelang maghrib baru tuntas. Ketika ‘boss’ yang sudah mem-PHK saya jadi sopirnya pulang, kubilang: “Ongkos tukangnya Rp 50.000,”. Dijawab: “Ya nanti…”. Karena saya ini tukang yang baik hati dan tidak sombong, dijawab begitu saja sudah bersyukur, apalagi kalau ingat ini kan malam Jum’at.., keburu mau Yasinan, maksudnya…

Yogyakarta, 22 April 2010
Yusuf Iskandar

Menu Ikan “Boyong Kalegan”

16 April 2008

Makan lagi, makan lagi dan makan lagi. Bagi orang Yogya dan sekitarnya, barangkali nama “Boyong Kalegan” sudah cukup dikenal. Ini terkait dengan nama rumah makan yang menyediakan menu ikan air tawar, seperti gurami, nila atau bawal, dibakar atau digoreng.

Bagi yang belum kenal, rumah makan “Boyong Kalegan” adalah generasi penerus (maksudnya, mengikuti dan meneruskan) kesuksesan rumah makan “Moro Lejar” yang sudah lebih dahulu populer. Sejak “Moro Lejar” ngetop, bermunculanlah rumah-rumah makan sejenis ini di seputaran Yogya. Sejenis dalam hal menu yang disajikan, sejenis dalam hal pilihan lokasinya, dan sejenis dalam hal penataan ruangnya. Karena itu, “Boyong Kalegan” sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat makan lainnya yang juga menawarkan menu ikan air tawar.

Soal penyajian biasa-biasa saja. Soal rasa, lidah saya menilainya “cukup enak” saja, masih di bawah kategori “uenak tenan”. Meskipun begitu toh apa yang saya pesan, lalu disajikan, ternyata habis juga saya lahap bersama istri dan anak-anak. Ya dasarnya memang suka makan, dan siang itu sedang terlambat makan siang.

Namun, “Boyong Kalegan” mempunyai keunggulan yang jarang dijumpai di rumah makan sejenis lainnya di Yogya. Pertama, lokasinya strategis dan pencapaiannya mudah. Dari Yogya, ikuti saja jalan Kaliurang dan terus naik sampai menjelang masuk daerah Pakem. Lalu belok kiri atau ke barat di pertigaan jalan alternatif menuju Turi dan jalan raya menuju Magelang. Ikuti terus jalan alternatif yang naik-turun dan belak-belok ini hingga sampai pada jembatan sungai Boyong, dimana di sisi kiri dan kanan sebelum jembatan ada terlihat pondok-pondok rumah makan. Nah, “Boyong Kalegan” ada di sisi yang kanan.

Demikian juga jika masuk dari arah jalan raya Yogya – Magelang, maka belok ke kanan atau timur ketika ketemu dengan pertigaan Tempel yang menuju ke jalan alternatif menuju Kaliurang dan Prambanan. Ada rambu jalan yang cukup mudah diikuti. Letaknya pun berada agak di bawah badan jalan alternatif, sehingga pondok-pondok makannya nampak jelas terlihat dari jalan.

Keunggulan kedua, memiliki pemandaan alam yang cukup bagus dan angin yang semilir karena lokasinya berada agak di lembah, di sisi sungai, selain topografinya memang lebih tinggi dari kota Yogya.

Keunggulan ketiga, di tengah kawasan pondok makan ini dibuat kolam ikan yang di sana disediakan gethek (rakit bambu). Kolamnya memang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk anak-anak berakit-rakit (tanpa berenang-renang). Dengan naik rakit itu, anak-anak bisa ikut memberi makan para ikan yang ada di kolam. Orang tuanya kalau mau ikutan naik rakit juga boleh.

Untuk ukuran Yogya, tempat ini cukup enak dikunjungi. Meskipun sebenarnya biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan pondok-pondok makan sejenis yang banyak bertebaran di daerah Jawa Barat. Intinya adalah, jika kita berkunjung ke “Boyong Kalegan” lalu harus membayar agak mahal, maka harus dipahami bahwa sebenarnya kita memang sedang membeli nilai tambah dari keunggulan-keunggulan yang ditawarkan. Selebihnya, tidak lebih dari sekedar membeli makan sambil relaks beristirahat.

Sejenak beristirahat ketika sedang berada di sisi utara kota Yogya, sambil makan siang dan berekreasi bersama keluarga………… Monggo, “Boyong Kalegan” bisa menjadi salah satu pilihan.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 25 Juli 2004