Posts Tagged ‘klaten’

Buronan Mertua

28 Juli 2010

Siang panas terik dalam perjalanan Jogja – Klaten, kecepatan sekitar 70 km/jam, lalulintas cukup ramai. Sebuah truk mengikuti di belakangku dalam jarak cukup dekat. Truk itu kelihatan gelisah (entah kalau sopirnya), sebentar-sebentar bergeser ke kiri ke kanan mau nyalip nggak bisa-bisa. Sekalinya berhasil nyalip melalui sisi kiriku, wusss…..! Tampak pada bagian belakang bawah bak truknya terbaca sebuah tulisan: “Buronan Mertua”. Wooo, pantesan….

Yogyakarta, 23 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Trancam Bu Mayar Cawas

24 Juli 2010

Kali ini makan siang dengan menu ndeso ke warung Bu Mayar Cawas, cabang Jl. By Pass, Klaten. Menu unggulannya trancam (bukan terancam) + ayam goreng. Trancam: sejenis urap, semua bahannya mentah, mentimun, kemangi, kenikir, wortel, kacang panjang, selada, tauge, diurap dengan sambal parutan kelapa. Ayam gorengnya begitu renyah dan daun pepaya dibumbu santan seperti gudeg. Wusss…sepertinya belum mulai makan, tapi tahu-tahu semua bablasss...!

Klaten, 19 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Di Acara Pernikahan

14 Desember 2009

Di acara pernikahan di Salatiga, menu makannya banyak sekale… Cari yang nggak pernah dimasak simboknya anak-anak, kalau nasi sudah banyak di rumah… Pilihan jatuh ke tengkleng kambing, garang asem ayam, aneka bubur, es puter… Habis itu njuk tanya bagian informasi : “WC-nya dimana ya….?”

(Perjalanan dari Jogja menuju ke Salatiga, menempuh jarak sekitar 75 km. Berangkatnya melalui jalur Klaten – Jatinom – Boyolali. Pulangnya melalui kawasan pegunungan Kopeng – Ketep – Muntilan, menyusuri kaki gunung Merbabu, hawanya suejuk…., menyegarkan, meski lintasannya sempit tapi beraspal bagus….)

Yogyakarta, 13 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Melihat-lihat Tambang Pasir Di Klaten

11 Juni 2009

Sejak siang hingga sore tadi jalan-jalan berkeliling melihat-lihat tambang dan bekas tambang pasir di daerah kecamatan Kemalang, kabupaten Klaten. Tepatnya di seputaran obyek wisata Deles, di kaki timur gunung Merapi. Ada pemandangan menarik kawasan timur kaki gunung Merapi di satu sisi, dan ada pemandangan tidak menarik bekas galian tambang pasir yang tidak tertangani (tidak dilakukan reklamasi) dengan baik.

Tambangnya sendiri sebenarnya merupakan kegiatan penggalian mineral industri yang umum dilakukan di kawasan potensial endapan pasir yang hasil galian pasirnya banyak dibutuhkan oleh berbagai sektor pembangunan. Namun terkadang sistem penambangannya tidak ditangani dengan sebagaimana mestinya sehingga terlihat acak-acakan. Biasanya hal itu banyak dilakukan oleh para penambang liar. Menjadi tugas berat bagi pemerintah untuk mengawasi dan mengelola sistem penambangan yang dapat berakibat pada kurang terkendalinya aktifitas penambangan yang cenderung merusak lingkungan. Padahal pada beberapa lokasi yang sistem penambangannya ditangani dengan baik hingga tahap rekamasinya, lahan bekas tambang itu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendukung sektor pertanian agar lebih produktif.

Para professional yang bergelut di sektor penambangan dituntut untuk berperan serta menata sistem penambangan yang demikian itu.

Yogyakarta, 11 Juni 2009
Yusuf Iskandar

IMG_2647_r

Salah satu aktifitas penambangan pasir

Bekas tambang sedang dilakukan reklamasi

Bekas tambang sedang dilakukan reklamasi

Bekas tambang yang sudah direklamasi, lalu diolah dan ditanami

Bekas tambang yang sudah direklamasi dan ditanami

Ikan Bakar “Lumintu 101”

17 April 2008

Masih perkara makan. Sekedar memberi alternatif menu dan suasana berbeda dalam memenuhi hajat perut. Soal makan ikan bakar, tentu sudah terlalu banyak pilihan, terutama ikan air tawar semisal gurami, bawal, nila, tombro, lele atau udang. Namun tidak ada salahnya sekali waktu mencoba menu yang sama tapi dengan suasana rekreasi yang berbeda, terutama kalau pergi bersama keluarga dan anak-anak. Mari kita pergi ke arah utara agak jauh dari Yogya, yaitu ke jurusan kota Delanggu, Klaten. Tepatnya di desa Janti, kecamatan Polanhardjo, disana ada pondok makan “Lumintu 101”.

Ke pondok makan “Lumintu 101”, lebih untuk alasan rekreasi, sebab kalau soal menu ikan bakar saja sebenarnya tidak jauh beda dengan yang disediakan oleh rumah makan di tempat-tempat lain. Meskipun masakan “Lumintu 101” dapat saya kategorikan sebagai “enak”. Kelebihannya terletak pada keberanian pondok makan “Lumintu 101” untuk memberi added value bagi warung makannya yang menurut lokasinya sebenarnaya nyaris tidak mudah dikenal orang.

Ada kolam pemancingan kecil tapi cukup representatif, sehingga cocok bagi anak-anak untuk sekedar mencoba memancing ikan. Di sana disewakan perlengkapan mancing bagi anak-anak, termasuk walesan (tongkat pancing dan senarnya), umpan dan ember kecil tempat hasil pancingan. Anak-anak akan senang sekali memancing jenis ikan mas kecil seukuran telapak tangan anak-anak. Tidak terlalu sulit bagi anak-anak untuk sekedar memancing beberapa ekor ikan. Hasilnya, silakan ditimbang dan dibeli. Dapat juga dinegosiasi untuk dikembalikan lagi ke kolam. Mengasyikkan. Buktinya, anak-anak saya yang laki-laki maupun perempuan yang belum pernah mancing, jadi keasyikan dan ogah-ogahan diajak pulang.

Selain kolam pemancingan, tersedia juga kolam renang ukuran sedang. Cukup menghibur bagi yang hobi renang. Maka kalaupun pengunjung merasa biasa-biasa saja dengan menu ikan dibakar atau digoreng, setidak-tidaknya ada hiburan menyenangkan bagi anak-anak. Kalau ada yang perlu disayangkan, adalah upaya menjaga penampilan dan mempercantik lingkungan yang agak kurang diperhatikan. Selebihnya tidak ada yang perlu disesali kalau sudah sampai di sana, meskipun letaknya agak jauh dari Yogya, tapi sungguh mengasyikkan dan santai.

Untuk mencapai desa Janti, ikuti jalur ke timur jalan Yogya – Solo. Sekitar 1,5 km selepas kota Delanggu, setelah tikungan ke kiri, ada pertigaan jalan kecil yang masuk ke kiri (ke arah utara). Masuklah ke jalan ini, lalu terus ke utara melalui jalan aspal yang agak sempit, sehingga jika harus berpapasan dengan kendaraan lain perlu untuk saling mengurangi kecepatan. Setelah berjalan kira-kira 5 km melalui bulak dan persawahan, maka akan sampai pada pertigaan jalan, tepatnya sudah berada di desa Janti. Desa Janti ini terkenal dengan banyaknya usaha kolam pemancingan.

Dari pertigaan Janti ini dapat mengambil rute yang ke kiri atau yang lurus. Jika ambil jalur ke kiri, maka sekitar 100 meter kemudian lalu masuk ke jalan kampung tidak beraspal di sebelah kanan. Di sepanjang jalan kampung yang berbelok-belok ini banyak dijumpai usaha kolam pemancingan yang terletak di belakang rumah-rumah penduduk. Terus saja hingga tembus ke jalan aspal kelas III jalur Klaten – Boyolali. Lalu belok kanan sedikit, mengikuti jalan aspal ini, maka rumah makan “Lumintu 101” berada di sisi kanan.

Jika dari pertigaan Janti lalu mengambil jalur lurus (rute ini lebih mudah), maka akan ketemu dengan jalan Klaten – Boyolali, dan beloklah ke kiri. Nanti akan ketemu dengan pabrik pengolahan ikan PT Aquafarm Nusantara di sisi kiri jalan. Maju terus maka akan ketemu dengan rumah makan “Lumintu 101” juga di sisi kiri jalan Klaten – Boyolali.

Ihwal nama “Lumintu 101” inipun agak kedengaran aneh. Kata lumintu (bahasa Jawa) sebenarnya bukan kata yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Artinya kira-kira, kalau tidak salah….. berkelanjutan atau terus menerus. Misalnya, harta atau rejeki yang lumintu, artinya harta atau rejeki yang langgeng atau terus-menerus membawa berkah bagi pemiliknya. Lalu bagaimana dengan angka 101? Jangan-jangan wak haji si empunya warung terobsesi dengan popularitas anjing Dalmation 101……….

Ada banyak tempat makan dan kolam pemancingan di sana, tapi entah kenapa “Lumintu 101” paling banyak diminati tamu. Sempat terpikir oleh saya, apapun pemicu kesuksesan rumah makan “Lumintu 101”, yang pasti ide untuk memberi nilai tambah berupa kolam pemancingan dan kolam renang telah memberi daya pikat bagi para pengunjung yang tidak sekedar ingin makan, melainkan juga rekreasi dalam suasana santai alam pedesaan.

Ingin makan sekaligus rekreasi keluarga? Monggo….. jalan-jalan ke desa Janti sambil bawa anak-anak.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 22 Juli 2004