Posts Tagged ‘kinahrejo’

Sore Hujan Di Kinahrejo

7 Februari 2011

Catatan dari mengunjungi dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, pada tanggal 2 Pebruari 2011. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng sebagai selingan pengantar week-end…

***

(1)

Hujan deras sore ini mengguyur dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman (desanya Mbah Maridjan). Kabut tebal menyelimuti dan menghalangi pandangan ‘bleger’ (sosok) Merapi. Aliran air hujan yang membawa pasir mengumpul dan menggelontor menuju hulu kali Opak, di lembah Kali Adem…

(2)

Rencana saya untuk menjelajahi desa Umbulharjo sore kemarin gagal. Hujan sangat deras dan lama tumpah di kaki Merapi, termasuk di dusun Ngrangkah 1-2, Pelemsari dan Kinahrejo. Hingga menjelang senja hujan tak juga reda.

Kabut makin tebal, jarak pandang makin terbatas, udara makin terasa dingin. Segelas kopi panas yang disuguhkan Bu Panut (anak pertama Mbah Maridjan, saya berteduh di warungnya) lumayan menghangatkan kebekuan inspirasi…

(3)

Berbeda dengan kawasan Glagaharjo, dusun Kinahrejo desa Umbulharjo dimana almarhum Mbah Maridjan tinggal dan meninggal, jauh lebih ramai pengunjung dan juga lebih banyak bantuan mengalir. Agaknya ke-roso-an Mbah Maridjan cukup menarik dan menjadi alasan untuk datang.

Kini ada puluhan warung berdiri di sana. Bukan saja milik warga asli Umbulharjo, tapi ada juga dari luar desa. Masing-masing mencoba menangkap peluang usaha yang ada, bisnis perwarungan…

(4)

Sebuah warung Mandiri dengan judul “Warung Bu Panut” sedang disiapkan bagi anak pertama Mbah Maridjan itu. Beberapa warung lainnya juga akan disiapkan bagi warga yang memang membutuhkan. Tentu saja tidak bagi semua warga, melainkan sesuai dengan kemampuan donatur yang menjadi sumber dana (hal yang sama juga dilakukan di desa Kepuharjo dan Glagaharjo).

Disanalah aku berdiri…, menunggu hujan tak kunjung reda kemarin sore…

(5)

Belum terlihat tanda-tanda warga desa Umbulharjo yang mulai membenahi apalagi membangun kembali rumahnya. Hampir semua bangunan (bedeng) yang ada adalah warung seadanya.

Namun upaya penghijauan terlihat lebih maju dibanding desa lainnya. Nampaknya bantuan untuk penghijauan memang lebih banyak yang tertuju ke Umbulharjo. Selain karena “nama besar” Kinahrejo dengan Mbah Maridjan-nya, juga kondisi lahan di kawasan itu memang nampak lebih kritis.

(6)

Panggilan hati menjadi relawan terkadang memang tidak masuk akal. Padahal tidak ada keuntungan materi diraih. Seperti Tuti, ibu muda yang anak bayinya baru 15 bulan digendong-gendong ke Umbulharjo, hanya agar bisa turut menemani suami dan teman-temannya sesama relawan bekerja.

Ketika hujan deras tiada reda dan hari hampir malam di Kinahrejo, bayinya pun nekat mau diajak menerobos hujan berbonceng sepeda motor. Uuugh, nggak tega…, akhirnya kuboncengkan naik Jazz…

(7)

Kalau bukan sedang mendung, berkabut dan hujan, bentang alam gunung Merapi terlihat menawan dipandang dari Umbulharjo, Cangkringan.

Kalau dulu sebelum erupsi sosok utuhnya terhalang oleh rimbunnya pepohonan dan pemukiman penduduk. Kini pandangan mata ke arah Merapi terasa lepas bahkan ke seluruh penjuru dengan latar depan kawasan gersang yang mulai sedikit menghijau. Obyek wisata bencana yang sayang untuk dilewatkan…

Yogyakarta, 2-4 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Catatan Harian Untuk Merapi (5)

28 Desember 2010

(35). Hujan Batu Di Cirebon

Hujan batu di Cirebon… Dari gunung Ciremai? Wooo bukan rupanya, tapi dari tawuran antar warga! Huuuuhhh…, mau jadi apa orang-orang ini. Jangan sampai Tuhan memutuskan untuk meletuskan gunung Ciremai agar mereka kompak bersatu bahu-membahu saling membantu…!

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(36). Depe Dan Jupe Jadi Relawan

Depe dan Jupe berkelahi… Aha..! Saya suka berita ini. Bukan karena Depe wal-Jupe-nya, melainkan daripada infotainment ngublek-ublek rumah tangga orang. Jadi, pembandingnya adalah hal yang lebih mudharat. Kalau saya disuruh memilih, Depe, Jupe dan wartawannya saya pilih untuk dikirim ke Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, untuk menjadi relawan…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(37). Ketika Ibu-Ibu PKK Kewalahan

Barusan dihubungi Posko pengungsian desa Madurejo, Prambanan, Sleman, minta dibantu nasi bungkus untuk jadwal besok. Agaknya ibu-ibu PKK sudah kewalahan melayani konsumsi pengungsi yang jumlahnya lebih 1200 orang, dimana dapur umum belum bisa disiapkan. Kebetulan saya sudah menerima transfer dari seorang teman di Jakarta, segera akan saya alokasikan 100 bungkus nasi padang untuk makan siang besok. (Trims untuk mas Tonank).

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(38). Waspada Terhadap Kemungkinan Terburuk

Hingga siang ini Jogja redup, mendung, abu tipis bergentayangan. Gemuruh Merapi dapat dinikmati sampai radius >25 km, terdengar keras saat meletus beberapa jam yll. Seorang teman yang tinggal di Jl. Kaliurang Km-7,8 mengabarkan: Jl. Kaliurang Km-13 ke atas (Pamungkas, Besi, Griya Perwita Wisata) mulai ditinggal penghuninya, menjauh dari radius 20 km.

Untuk warga Jogja, jangan ada kepanikan, melainkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terburuk.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(39). Tetap Waspada

Kawasan Rawan Bencana (KRB) saat ini berada di radius 20 km dari puncak Merapi. Jika dalam perkembangannya diperluas menjadi 25 km, berarti ada di dekat-dekat seputaran Jl. Ring Road Utara, atau dapat diterjemahkan bahwa kota Jogja berada dalam kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan evakuasi.

Bukan menakut-nakuti, melainkan JANGAN LENGAH dan TETAP WASPADA, tapi TIDAK PERLU PANIK, teriring doa semoga tidak sampai terjadi situasi yang lebih buruk…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(40). Bantuan Nyaris Tak Terkelola

Semangat membantu masyarakat kita memang ruarrr biasa… Stadion Maguwoharjo, Sleman yang saat ini menampung lebih 24 ribu pengungsi telah mengubah wajah stadion menjadi menyerupai pasar malam. Roooamainya minta ampyun… (apalagi hari ini SBY berkunjung). Bahkan bantuan yang masuk sangat berlebih, sehingga nyaris tak terkelola dengan baik. Dapat dimaklumi karena lokasinya “strategis”, termasuk full peliputan televisi…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(41). Mengalihkan Bantuan

Semula mau mengirim bantuan ke stadion Maguwoharjo, Sleman. Menimbang lokasi ini sudah “overload” dengan bantuan yang bertubi-tubi, maka lalu dicoba dialihkan ke kampus UPNVY. Ternyata di pengungsian UPNVY pun juga sudah “overload”. Akhirnya dialihkan ke lokasi yang “kurang populer”, yaitu Desa Bokoharjo dan Madurejo, Prambanan, Sleman. Ke sanalah bantuan karyawan Freeport melalui program “Freeport Peduli” kemudian di antaranya disalurkan.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(42). Masalahnya Adalah Pemerataan Bantuan

Menyalurkan bantuan ke lokasi-lokasi yang “kurang populer” terasa lebih puas karena langsung bertemu dengan “end user”. Sedang kalau ke posko-posko di lokasi “strategis”, bantuan akan tertimbun begitu saja karena saking buanyaknya…

Seperti petang tadi ke desa Bokoharjo (lebih 3300 orang) dan Madurejo (lebih 2000 orang), keduanya di kecamatan Prambanan, Sleman, langsung dapat dilihat apa saja dan seberapa kebutuhan utama mereka. Semoga koordinasi semakin baik bagi pemerataan bantuan.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(43). Masih Ada Nasi Bungkus Yang Akan Lewat

Dapur umum adalah salah satu kelengkapan pokok tempat pengungsian. Namun justru sering membuat kewalahan terutama bagi perangkat desa yang kedatangan pengungsi. Maka pasokan nasi bungkus bagi lokasi-lokasi “kurang populer” yang jauh dari jangkauan itu masih diperlukan.

Sore tadi mendrop 650 nasi bungkus ke desa Madurejo, Prambanan. Insya Allah, masih ada nasi bungkus yang akan lewat, eh dikirim… (Trims untuk mas Rachmat UPN).

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(44)Mampir Ke RM “Sabar Menanti”

Pulang dari Madurejo. Uuuh, mulai terasa lapar… Lalu mampir ke RM “Sabar Menanti” di Jl. Solo Km-11, yang menyediakan menu-menu tradisional seperti sayur santan, lodeh, oseng-oseng, mangut, dsb, ala prasmanan. Terkenal dengan oseng cabe hijaunya, tapi sayang malam ini sudah habis. Sambal terasinya terasa benar tapi pedas, sehingga membuat kepala berkeringat. Menunya sama seperti menu nasi bungkus, hanya bedanya tersaji di piring dan dimasak oleh ahlinya..

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(45)Ada Gempa Lemah

Beberapa waktu yll terasa ada gempa lemah. Saya pikir gempa vulkanik dari Merapi, tapi ternyata gempa tektonik (Info Gempa BMKG — Mag: 3.8 SR, 07-Nov-10, 23:08:31 WIB, di darat 12 km baratdaya WONOSARI-DIY, kedalaman:10 km)

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-