Posts Tagged ‘ketupat bengkulen’

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(6).  Membeli Kopi Bengkulu Di Pasar Panorama

Pesan paling pas bagi penggemar kopi kalau kebetulan berkesempatan datang ke Bengkulu adalah : jangan lupa membeli kopi Bengkulu. Pesan itu kini saya amalkan. Bahkan sudah saya amalkan dengan tertib ketika lebih sebelas tahun yang lalu saya masih bekerja di Bengkulu. Setiap kali cuti ke Jogja, pasti saya sempatkan untuk mampir pasar dan membeli kopi Bengkulu. Selain sebagai oleh-oleh juga untuk dikonsumsi sendiri.

Dulu, kalau membeli kopi di pasar Minggu (ini nama sebuah pasar di Bengkulu), langsung digoreng dan digiling di tempat, sehingga aromanya sangat menggairahkan dan lalu dibungkus masih dalam kondisi hangat.

Tentang kopi Bengkulu ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kopi-kopi dari daerah lain yang pernah saya coba rasanya, seperti (saya urutkan dari barat saja) : kopi Medan (meski persisnya tentu bukan dari kota Medan), Jambi, Palembang, Lampung, Jawa, Bali, Toraja, Kupang, Timor, dan masih banyak yang lainnya. Setiap kopi dari setiap daerah masing-masing memiliki kekhasan taste-nya. Dan kopi Bengkulu hanyalah satu dari kekhasan aroma dan taste di antara aneka ria jenis kopi itu. Tapi jelas beda dengan kopi bikinan pabrik yang biasa saya beli di toko, atau bahkan yang dijual di warung saya “Madurejo Swalayan” di Prambanan.

*** 

Untuk memperoleh kopi Bengkulu sebenarnya tidak sulit. Banyak kopi asli Bengkulu yang merupakan hasil industri rumahan. Maka kalau hanya ingin membeli kopi saja sebenarnya tidak terlalu merepotkan. Namun saya akhirnya memilih untuk membeli kopi Bengkulu di pasar Panorama. Pasar Panorama adalah sebuah pasar tradisional yang masih ada di tengah kota Bengkulu.

Saya tergoda untuk pergi ke pasar ini. Karena memang bukan semata-mata mau membeli kopinya, melainkan sambil cuci mata blusukan di pasar tradisional. Suasana khas yang rasanya sudah langka bagi mereka yang hidup penuh kesibukan di kota, dan terlalu sayang untuk dilewatkan ketika berada di tempat yang baru. Selain berharap sensasi thengng… dari kopinya, saya juga berharap sensasi hiruk-pikuk di pasar tradisional.

Di pasar, umumnya dijual ada dua macam kopi, yaitu kopi asli dan tidak asli (kurang tepat kalau disebut tiruan). Beda antara keduanya hanya pada masalah kandungannya, yang satu 100% kopi-pi, yang lainnya ada campurannya (beras, jagung atau entah apa lagi). Karena itu harganya berbeda, warnanya berbeda dan sensasi thengng...-nya juga berbeda. Kopi yang asli dijual dengan harga berkisar Rp 20.000,- per kilogramnya, terkadang lebih sedikit, terkadang kurang sedikit. Sedang kopi yang tidak asli tentu lebih murah dan bervariasi. Kopi yang asli berwarna lebih gelap kehitaman dibanding yang tidak asli. Merek dagangnya juga beraneka merek, dan setiap penjual pun menjadi pemegang mereknya masing-masing.

Tidak perlu pusing untuk memilih kopi yang merek apa, sepanjang masih kopi asli dan tidak campuran, dijamin tidak akan keblondrok (salah pilih). Cara penggorengan, penggilingan, pembungkusannya pun sama. Hanya, tentu saja setiap kopi ditangani oleh tangan berbeda. Oleh karena itu, setiap merek kopi di pasar sudah memiliki penggemar dan pelanggannya masing-masing.

***

Di pasar Panorama, meski yang dijual adalah kopi Bengkulu dan penjualnya pun fasih bercakap Bengkulu. Namun banyak di antara mereka yang aslinya (bukan tiruan) adalah pendatang dari luar Bengkulu. Kata orang sana, kebanyakan kalau bukan dari mBatak, ya Jawa. Jadi ya jangan hueran kalau di pasar tradisional Bengkulu ini di sana-sini ter-celemong dialek Jawa.

Lengkap sudah, ketika saya kembali ke Yogyakarta dengan membawa beberapa bungkus kopi asli Bengkulu yang biasanya dikemas per 250 graman, buat oleh-oleh. Minimal tetangga di kampung saya di Jogja yang gemar minum kopi, bisa turut kecipratan dleweran kopi Bengkulu dan menikmati sensasi thengng…-nya. Selain ada juga oleh-oleh lempuk atau lempok durian kalau suka makanan dodol-dodolan. Hanya perlu diingat satu hal, jangan pernah minta oleh-oleh ketupat bengkulen….., bisa merepotkan.

Yogyakarta, 4 Juli 2006
Yusuf Iskandar

Iklan