Posts Tagged ‘ketinting’

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(4).   Ketika Gadis Jawa Tertipu Di Teluk Bayur

perahu3Niatnya mau mencari jalan terobosan dari jalan raya menuju ke tepian sungai Segah. Tapi rupanya sulit. Semak dan rawa menghadang. Terpaksa kudu mencari jalan lain, dan satu-satunya jalan adalah mengambil jalan memutar menyusuri sungai Segah. Berarti harus menyewa ketinting atau perahu motor di pelabuhan Teluk Bayur.

Siang itu panas cukup terik di tengah cuaca yang masih tidak menentu, karena tiba-tiba angkasa bisa berubah menjadi mendung dan turun hujan. Agar perjalanan berikutnya lebih bersemangat, kami istirahat makan siang dulu. Tempat yang kami pilih adalah Taman Hutan Wisata “Sei Tangap”. Di dekat gerbang taman ini kami duduk lesehan di tanah sambil menikmati bekal makan siang yang sudah disiapkan sejak pagi. Hawa sejuk di bawah kerimbunan pepohonan membuat suasana santai dan menyenangkan.

Hutan Wisata “Sei Tangap” adalah kawasan hutan milik Inhutani I yang dulu pernah menjadi kebanggaan masyarakat Berau sebagai taman rakyat. Di sana ada aneka jenis tanaman yang dirawat dan dikelola dengan baik. Konon ada juga koleksi hewan liar yang ada di hutan Berau. Ya, itu dulu pada masa jayanya industri perhutanan. Sebab sekarang taman itu tampak sekali tidak terurus, kotor dan tidak ada menarik-menariknya babar blass…. Kecuali tinggal pintu gerbang masuknya yang masih utuh. Itu pula yang paling pantas difoto.

Kini, hewan-hewan koleksi taman ini tidak jelas kemana perginya, entah dipelihara orang, dijual, mati atau malah kabur menyelamatkan dirinya masing-masing, ya dirinya hewan-hewan itu. Kalau pepohonannya jelas masih ada di sana, lha siapa yang mau ngangkut…., tapi tidak terurus dan tampak rimbun dengan semak belukar. Sayang sekali sebenarnya.

***

Setelah perut terisi, perjalanan dilanjutkan menuju pelabuhan Teluk Bayur. Langsung saja kami menghampiri deretan ketinting yang tertambat di dermaga kayu (maksudnya dermaga yang terbuat dari konstruksi kayu, bukan dermaga untuk mengangkut kayu). Setelah tawar-menawar, lalu disepakati biayanya Rp 150.000,- untuk jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Harga itu sudah termasuk sewa perahu, jasa sopirnya dan BBM. Termasuk murah, karena di tempat lain ada yang sampai 2-3 kali lipat biaya sewanya. Tapi ya itulah satu-satunya cara untuk menuju tepian sungai yang menjadi tujuan semula.

Sebuah ketinting berukuran sedang segera meninggalkan pelabuhan Teluk Bayur ke arah hulu sungai. Perahu berjalan santai, terkadang di sisi kiri sungai, terkadang menyeberang di sisi kanan sungai. Padahal lebar sungainya sekitar 75 meteran dengan tanaman bakau mendominasi di sepanjang pinggiran sungai, selain semak belukar. Tidak banyak terlihat pemukiman penduduk kecuali yang ada di seputar pelabuhan Teluk Bayur.

Belum jauh melaju ke hulu, terlihat kawasan pelabuhan batubara dan tongkang-tongkang yang sedang memuat batubara yang diangkut dari tambang. Perjalanan saya menyusuri sungai Segah ini memang masih terkait dengan pelabuhan pemuatan batubara. Ketika tiba di lokasi yang sudah direncanakan yang semula hendak ditembus lewat darat, perahu kami berhenti sebentar sambil sekilas mengamati keadaan sekeliling, memetakan lokasinya dan mendokumentasikannya. Inilah lokasi yang dipandang ideal untuk dibangun infrastruktur pelabuhan pemuatan batubara sebagai bagian dari tahapan proses penambangan batubara. Jaraknya sekitar 45 menit berketinting dari pelabuhan Teluk Bayur ke arah hulu.

Teluk Bayur adalah kota kecamatan yang jaraknya sekitar 6 km dari kota Tanjung Redeb ke arah hulunya. Sama-sama terletak di tepian sungai Segah. Rumah-rumah kayu mendominasi kawasan pemukiman di pelabuhan nelayan Teluk Bayur.

Wilayah kecamatan Teluk Bayur dapat dibilang sebagai kota tua di Tanjung Redeb atau Berau. Di daerah inilah dahulu bangsa Belanda banyak bermukim. Maka tidak heran kalau di wilayah ini masih banyak dijumpai bangunan-bangunan tua sisa peninggalan Belanda. Pasti menjadi rumah para meneer yang berkuasa atas operasi penambangan batubara. Hingga kini aktifitas yang terkait perbatubaraan di kecamatan Teluk Bayur pun masih berlanjut. Bahkan semakin marak dengan munculnya para investor, tak terkecuali para spekulan lahan.

Kalau tentang batubaranya sendiri sebenarnya tidak membuat saya heran. Siapapun yang menggeluti dunia pertambangan pastinya tahu bahwa di daerah itu memang banyak memiliki potensi sumberdaya alam, termasuk batubara. Justru yang membuat saya heran adalah kenapa wilayah kecamatan itu dinamai Teluk Bayur? Tadinya saya menduga barangkali di kawasan itu banyak perantau yang berasal dari ranah Minang atau Sumatera. Rupanya tidak. Justru banyak pendatang dari Sulawesi dan Jawa.

Rasa penasaran saya akhirnya “agak” terjawab setelah mendengar cerita dari pak sopir yang mobilnya saya sewa. Saya katakan “agak”, karena sebenarnya cerita itu masih dapat diperdebatkan dan berbau “plesetan”.

***

Alkisah, pada jaman penjajahan Belanda dulu (jaman Belanda adalah sebuah jaman yang sering dijadikan kambing hitam atas cerita yang tidak jelas ujung-pangkalnya). Ada seorang londo Belanda datang ke Jawa. Rupanya sang Londo kepincut dengan seorang gadis Jawa. Sang perawan Jawa pun tak bertepuk sebelah tangan. Lebih-lebih ketika diiming-iming bahwa kalau menikah nanti bakal diboyong ke Teluk Bayur.

Wow… Dalam bayangan sang perawan Jawa ini, Teluk Bayur adalah sebuah tempat di pinggir pantai barat Sumatera nan indah, elok bin menawan. Pendeknya, tempat yang sangat mengasyikkan. Impian pun membawa gadis Jawa itu bak terbang melayang membayangkan sebuah firdaus yang bernama Teluk Bayur.

Namun apa lacur. Entah kenapa, sang Walondo muda dan tampan itu tidak jadi ke Teluk Bayur di pantai barat Sumatera. Barangkali ada rotasi kerja atau mutasi pindah tugas dinasnya, sehingga sebagai anggota kumpeni pun dia tidak bisa menolak surat tugas dari sesama kumpeni yang pangkatnya lebih tinggi.

Sang Londo ternyata harus menyeberang ke Kalimantan. Sama-sama menyeberang dari Jawa, tapi tidak jadi ke Teluk Bayur, Sumatera Barat, melainkan ke kawasan sungai Segah di Berau, Kalimantan Timur. Demi agar tidak mengecewakan gadis pujaannya, maka sang Londo pun berkata kepada gadisnya bahwa mereka tiba di pelabuhan Teluk Bayur. Sang gadis pun meyakini telah berada di Teluk Bayur hingga akhir hayatnya. Maka sampai sekarang kawasan tempat dimana gadis Jawa itu tertipu, disebut sebagai Teluk Bayur.

Benarkah demikian? Wallahu-a’lam, hanya Pangeran Yang Maha Kuasa yang tahu. Bukan soal kebenaran ceritanya yang menarik perhatian saya. Melainkan, kenapa dari dulu yang namanya penjajah itu kok ya senengnya menipu?. Dan hampir semua bangsa yang terjajah di dunia ini, dulunya adalah korban penipuan. Bangsa Indonesia dijajah tiga setengah abad oleh Belanda dan Jepang adalah juga dalam kerangka ditipu, tertipu dan tidak jauh-jauh dari intrik pu-tippu….

Penjajahan hanyalah sebuah sarana, akar persoalannya adalah ekonomi atau bisnis. Suksesnya bisnis VOC adalah karena suksesnya Belanda menerapkan trik tipu-menipu yang sangat sistematis di jaman itu. Siapa lebih cerdas menipu maka dia akan dengan mudah mengelabuhi korbannya dan meraih keuntungan bisnis yang nyaris tak terbatas boanyaknya. Dan sialnya, kok ya bangsa Indonesia yang menjadi korbannya itu. Salahnya sendiri, kaya kok bodoh…… Eh, maaf, bukan bodoh, hanya belum pintar menyadari kekayaannnya dan belum mempunyai kemampuan mengelolanya. 

Tentu saja ini trik sukses sebuah bisnis raksasa yang mestinya tabu untuk ditiru, hanya perlu diambil pelajaran dan hikmahnya. Kecuali kalau tidak ketahuan. Dan yang tidak ketahuan itu rupanya sampai sekarang pun banyak jumlahnya. Hanya saja caranya lebih santun, halus, terhormat dan invisible.

Tapi, yang lebih menghueranken (pakai akhiran ken) lagi, sampai sekarang pun kita tetap menjadi bangsa yang sering tertipu, kena tipu, bahkan naga-naga-nya justru senang kalau ditipu, diakalin, dibodohin, dikelabuhin……. Apalagi kalau dampaknya bisa memberi keuntungan untuk diri sendiri atau lazim disebut oknum (oknum tapi kok banyak?). Tobaaat…. tobat…… (Saya bertobat mudah-mudahan pikiran saya salah).

Yogyakarta, 18 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Goa Tengkorak Yang Tidak Menyeramkan

19 Maret 2008

Menyusuri sungai Kandilo di wilayah kabupaten Pasir, Kaltim, dengan naik ketinting kecil membuat dag-dig-dug juga mulanya. Sedikit saja badan bergoyang patah-patah karena mengatur posisi pantat sambil kedua tangan bertumpu di kedua sisi perahu, maka perahupun ikut oleng. Pendeknya, duduk mesti tenang dan diemmmm….. aja. Tapi lama-kelamaan jadi terbiasa juga menikmati olang-oleng-nya ketinting. Asal tidak tumplek… terbalik saja….. Bukan takut dengan air sungai, melainkan karena ada penghuni lain di sana, yaitu buaya sungai.

Sekali waktu, seorang teman melihat dan memberitahu ada buaya kecil menatap tajam di pinggir sungai. Ketika ditanyakan kepada tukang ketinting (lebih biasa disebut motoris), sang pengemudi perahu diam seribu basa dan cuek saja, pura-pura tidak mendengar. Tanya kenapa? Nampaknya bagi masyarakat sekitar adalah tabu membicarakan perihal buaya di depan beliaunya (beliau buaya, maksudnya). Seperti kata pepatah, biarlah buaya menatap tajam, ketinting tetap berlalu. Agar tidak saling mengganggu dan (insya Allah) selamat…… Pantang untuk saling bertegur sapa dengan buaya.

Selain buaya, jenis binatang yang sering saya jumpai di sepanjang tepian sungai ini adalah berang-berang, kera kampung (saya tidak tahu namanya), bekantan (kera berhidung mancung) dan tentu saja bangsa burung-burungan, tidak termasuk cucakrowo sing dowo buntute… .

Namun yang paling spektakuler adalah ketika melewati sepenggal perbukitan kapur. Dinding batu kapur yang terbelah sungai, di atasnya ditumbuhi pepohonan rimbun, sehingga terasa teduh dan berhawa segar. Pemandangan ke arah timur, di sana terbentang bukit kapur yang menjulang tinggi. Sorotan matahari sore memberi rona bayangan pada dinding bukit kapur yang menjulang tinggi itu jadi tampak kemerah-merahan. Menakjubkan! Sayang adoh lor adoh kidul…., sehingga sulit untuk dijangkau wisatawan.

*** 

Hari sudah menjelang maghrib ketika kami hampir tiba kembali ke desa Kesungai. Pandangan mata tertuju pada dinding batu terjal yang ternyata di atas sana ada sebuah goa. Namanya goa Tengkorak. Menilik namanya, maka kesan mistis, angker dan menyeramkan,  yang pertama terbayang. Apalagi hari sudah rembang petang. Tapi menimbang bahwa kapan lagi bisa nyambangi goa isi tengkorak di tempat terpencil itu, maka terlalu sayang untuk dilewatkan. Ketinting pun menepi ke sisi barat, menurunkan kami. Tukang ketintingnya dipersilakan langsung pulang, sementara kami akan melihat-lihat goa Tengkorak, dan pulangnya jalan kaki saja.

Untuk naik menuju mulut goa tidak terlalu susah, hanya perlu memanjat lebih seratus anak tangga. Ya, susah juga sih sebenarnya….. Ngos-ngosan….. Mulut goanya berada di sekitar pertengahan dinding tegak lurus gunung kapur setinggi lebih 50 meter, yang dari kejauhan tampak berwarna putih. Di sana sudah terpasang menara kayu komplit dengan anak tangga zig-zag. Fasilitas itu memang disediakan oleh pemerintah guna memberi kemudahan bagi wisatawan yang ingin nyambangi tengkorak-tengkorak di dalam goa.

Yang disebut goa ini sebenarnya hanya cerukan kecil. Tinggi mulut goanya sekitar 1,5 meteran, sehingga untuk masuk ke dalamnya badan mesti rada dibungkukkan. Lebar guanya 2 meteran dan kedalaman ceruk goa ini tidak sampai 10 meter. Tidak jauh dari mulut gua terlihat onggokan tengkorak-tengkorak dan tulang belulang bekas manusia yang tertata rapi berjajar tiga baris.

Kata orang, jumlah tengkoraknya ada 37 buah. Karena penasaran saya hitung juga, ketemunya 35 buah. Dihitung ulang tetap saja 35 buah. Ya sudah, pokoknya percaya saja jumlahnya 37 buah.

Kata orang juga, tengkorak-tengkorak ini harum baunya. Karena penasaran saya coba mengambus-ambuskan hidung sambil membuka lubang hidung lebar-lebar (meskipun saya tahu ukuran lubang hidung saya ya tetap saja segitu), tidak juga tercium aroma harumnya. Ya sudah, pokoknya percaya saja baunya harum. Ketimbang kuwalat.

Masih kata orang, jangan coba-coba mengambil tengkorak atau tulang-tulang yang ada di situ. Yang sudah-sudah, orangnya bakal ketimpa musibah. Ya sudah, tidak usah mengambil tengkorak. Hanya wisatawan kurang kerjaan saja rasanya yang mau nyangking tengkorak di bawa pulang…..

Konon tengkorak dan tulang belulang itu dahulu milik raganya para nenek dan moyangnya masyarakat Pasir, pada jaman kerajaan Sadurengas pada abad 16 Masehi. Masyarakat jaman itu adalah penganut kepercayaan Hindu Kaharingan, sebelum datangnya ekspedisi Islam dari Kesultanan Demak.

Di jaman itu orang yang meninggal dunia mayatnya tidak dikubur, melainkan dipak dengan setangkup kayu yang disebut lungut, atau di-blusuk-kan ke dalam lubang kayu yang sengaja dibuat untuk itu. Proses pengepakan ini berlangsung sekitar setahun hingga jasadnya habis dan tinggal tersisa tengkorak dan kerangkanya. Tidak ada keterangan yang menjelaskan tentang bagaimana menangani baunya. Barulah kemudian tengkorak dan tulang-belulangnya dipindahkan ke ceruk-ceruk atau goa-goa di dinding batu melalui upacara adat. Sebagian di antaranya, ya yang sekarang masih bisa ditemukan di goa Tengkorak itu.    

Untuk mencapai lokasi goa Tengkorak tidaklah sulit. Sebelum memasuki Batu Kajang, desa dimana berada perusahaan tambang batubara PT. Kideco Jaya Agung dari arah Balikpapan lalu masuk ke kanan. Ada petunjuk arah cukup jelas terpasang di pinggir jalan. Masuk menuju desa Kesungai sekitar 4 km, lalu jalan kaki sejauh kurang-lebih satu kilometer menyeberangi dua jembatan gantung beralas kayu yang melintas di atas sungai Kesungai dan sungai Kandilo. Pemandangan dari bawah goa juga cukup bagus, karena memang letaknya di ketinggian.

Meski bernama goa Tengkorak dan di dalamnya banyak tengkoraknya, tapi sungguh ini bukan tempat yang menyeramkan. Kalaupun ada yang menyeramkan, itu karena para tengkoraknya pada meringis (yang tidak meringis berarti tengkoraknya ompong……..).

Selain goa Tengkorak, sebenarnya ada satu goa lagi yang konon lebih besar, lebih misterius tapi indah. Namanya goa Lojang. Letaknya tidak terlalu jauh dari goa Tengkorak, dan tidak perlu menyeberang jembatan gantung. Juga berada di tengah tebing tegak bukit kapur yang lebih tinggi. Dapat ditebak bahwa goa ini indah karena di dalamnya banyak stalaktit dan stalagmit, dan misterius karena tidak seorang pun tahu dimana ujungnya. Mungkin lebih tepat disebut ujung goanya belum ditemukan. Lha wong namanya goa di bukit kapur……..

Namun sayang karena hari semakin gelap, saya tidak sempat menyinggahi goa Lojang. Pasti semakin gelap pula di dalam goanya. Namun sayang yang kedua adalah karena kedua goa itu nampaknya belum menjadi perhatian pemerintah setempat untuk dijual kepada wisatawan. Padahal potensi nilai jual kawasan bukit kapur itu tergolong tinggi. Paling-paling masyarakat Batu Kajang dan sekitarnya yang keluar-masuk daerah itu, termasuk para pegawai tambang batubara di dekat situ.

Yogyakarta, 1 Maret 2007
Yusuf Iskandar