Posts Tagged ‘kerinci’

Menuju Pendakian Terindah Ke Puncak Rinjani

23 Desember 2009

Pada sekitar pertengahan Desember yll. saya bertanya kepada sahabat kecilku : “Tahun baru nanti mau kemana?”. Pertanyaan ini dipahami oleh sahabat kecilku (Noval, 15 tahun) yang mulai ‘gila’ mendaki gunung yang maksudnya adalah mendaki gunung apa? Tahun baru setahun yll. saya temani sahabat kecilku mendaki puncak Merapi dan tahun baru sebelumnya ke puncak Lawu. Rupanya kali ini Noval belum ada rencana. Ketika saya tanya apakah tahun baru nanti mau muncak? Noval mengiyakan.

Majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi, yang bertajuk “55 Pendakian Terindah” yang barusan saya beli serta-merta saya sodorkan kepada Noval untuk dibacanya. Setelah itu saya beri penawaran : “Pilih satu gunung dan Insya Allah bapak temani untuk mencapai puncaknya pada Tahun Baru nanti, mumpung bapak masih sehat ‘gilanya’. Kecuali puncak Carstensz karena untuk yang satu itu memerlukan persiapan yang sangat khusus dan kita belum siap”. Akhirnya terpilih nominasi antara gunung Semeru atau Rinjani. Setelah kemudian mempertimbangkan tingkat kesulitan, tingkat bahaya dan kondisi cuaca, maka dipilihlah gunung Rinjani di pulau Lombok, NTB. Di balik itu sebenarnya saya bermaksud memenuhi janji saya untuk menemani Noval yang menyimpan obsesi ingin mendaki semua gunung di Indonesia dan mengalahkan bapaknya.

Puncak gunung Rinjani (3.726 mdpl) dapat disebut sebagai puncak tertinggi ketiga di Indonesia setelah Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) sebagai bagian dari pegunungan Jayawijaya di Papua dan gunung Kerinci (3.800 mdpl) di Jambi. Tahun 1995 saya pernah mendaki Carstensz hingga mencapai batas esnya saja. Memang sengaja pendakian itu tidak dimaksudkan untuk mencapai puncaknya mengingat persiapan teknis maupun perlengkapan yang sangat terbatas jika harus mendaki gunung es.

Puncak Kerinci sudah pernah saya capai pada tahun 1995 dalam sebuah pendakian menuju puncak di bawah hujan lebat di tengah belantara Sumatera yang masih menyembunyikan harimau, berdua dengan ditemani seorang gadis sahabat saya Winda. Sedangkan puncak Rinjani pernah saya capai pada tahun 1991 juga berdua dengan seorang sahabat saya Riady Bakri yang kini menekuni hobi fotografi, dan sempat menikmati momen yang begitu menggetarkan hati ketika kami sholat subuh berjamaah menjelang mencapai puncak.

Melalui tulisan ini saya ingin mengenang dan menyampaikan terima kasih disertai penghargaan setinggi-tingginya kepada kedua sahabat saya itu (kalau mereka sempat membaca tulisan ini, terutama Winda yang sekarang entah dimana). Mereka telah membuktikan menjadi teman seperjalanan pendakian yang luar biasa di tengah upaya yang tidak mudah menaklukkan kedua puncak gunung itu menjadikannya sebagai pendakian terindah.

Pendakian ke Rinjani pada tahun 1991 kami tempuh selama tiga hari dengan mengambil rute mendaki melalui daerah Senaru di sisi utara dan turun melalui daerah Sembalun di sisi timur daratan pulau Lombok. Kali ini kami akan mengambil rute sebaliknya yaitu mengawali pendakian dari Sembalun dengan pertimbangan medan pendakiannya relatif landai dan akan turun melalui Senaru yang medannya lebih terjal selama empat hari karena akan menyempatkan untuk mengeksplorasi kawasan danau Segara Anak yang memiliki bentang alam yang sangat eksotis (seperti sering terlihat di awal acara kumandang adzan maghrib stasiun TV7).

Cuaca pada akhir tahun memang selalu kurang menguntungkan bagi pendaki gunung karena bersamaan dengan datangnya musim penghujan. Oleh karena itu kemungkinan terburuk harus sudah kami antisipasi termasuk jika harus gagal mencapai puncak ketika cuaca tiba-tiba berubah sangat ekstrim. Kerugian lain adalah kemungkinan tidak dapat menikmati pemandangan indah di puncak gunung akibat tebalnya awan, kabut atau malah hujan lebat. Situasi terburuk itu sangat kami sadari peluang terjadinya, termasuk biaya yang tidak sedikit Jogja – Lombok pp.

Oleh karena itu sambil bercanda tapi serius, saya bilang kepada Noval : “Kita memang akan mendaki Rinjani hanya berdua, tapi kita memohon kepada Sang Maha Pemilik Rinjani agar bersedia menjadi pemimpin pendakian. Maka mulai sekarang juga kita jangan berhenti berdoa agar rencana pendakian kita berjalan lancar dan cuaca pun cerah”.

Di balik semua rencana pendakian ini sebenarnya saya menyimpan misi khusus. Sebagai seorang ayah, saya akan menjadikan perjalanan pendakian ini sebagai media untuk mengajari Noval tentang kehidupan dan perjuangan hidup. Kedengarannya seperti ambisius. Tapi memang benar, lebih baik ambisius tetapi didahului dengan pematangan gagasan dan pemikiran, rencana aksi, strategi pencapaian dan pemahaman dalam pelaksanaannya, dari pada ambisius tapi tanpa bekal apa-apa seperti orang-orang yang sering kita lihat bergaya di televisi atau di koran-koran akhir-akhir ini.

Bagi mereka yang tidak suka dengan kegiatan ngoyoworo (membuang-buang waktu) seperti mendaki gunung ini mungkin akan berkata bahwa lebih baik biaya besar yang digunakan untuk mendaki gunung disalurkan kepada mereka yang lebih membutuhkan (mohon maaf, tak endhas-endhasi wae….). Jangan khawatir, untuk yang terakhir itu kami sudah mengalokasikan anggarannya tersendiri, dan sisanya baru dipakai untuk mendaki gunung (sisa tapi jumlahnya lebih banyak…..).

Kini saya ingin mengajak sekaligus mengantarkan sahabat kecilku yang adalah anak lelaki saya menuju ke puncak Rinjani mengawali hari baru tahun 2010. Semoga akan menjadi pendakian terindah bagi Noval, sahabat kecilku, dan mengulang salah satu pendakian terindah yang pernah saya lakukan 18 tahun yll.

Tertarik Bergabung?

Jika ada pembaca tulisan ini yang berminat bergabung melakukan pendakian ke puncak Rinjani bersama-sama dengan saya dan sahabat kecilku, silakan menghubungi saya di alamat email dan no. HP di bagian bawah. Siapkan perlengkapan pendakian Anda, sedangkan untuk transportasi lokal dan konsumsi selama pendakian silakan bergabung dengan kami tanpa biaya. Kami tunggu di Mataram, NTB, hingga tanggal 30 Desember 2009 pagi karena siangnya kami akan meluncur menuju desa terakhir di Sembalun, Lombok Timur.

Jika tidak ada aral melintang, rencana pendakian kami kira-kira sbb.:

31-Des-09 pagi : Memulai perjalanan menuju Plawangan Sembalun.

01-Jan-10 dini hari : Menuju puncak (summit attack) dan langsung turun ke danau Segara Anak.

02-Jan-10 pagi : Meninggalkan danau Segara Anak melalui Plawangan Senaru.

Saya akan berusaha mem-posting status perjalanan saya di Facebook, sepanjang ada sinyal dan battery tidak drop. Hidup pendaki gunung…..! (Email : yiskandar_2000@yahoo.com; HP. 08122787618).

Yogyakarta, 23 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Antara Keinginan Dan Doa

3 Oktober 2009

Bencana gempa yang memporak-porandakan wilayah Padang, Pariaman dan sekitarnya di provinsi Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009 dan keesokan harinya terjadi di wilayah Kerinci di provinsi Jambi, benar-benar membuat miris dan prihatin. Bisa dibayangkan betapa penderitaan yang sedang dialami oleh masyarakat korban gempa di sana, sebagaimana hal yang kurang lebih sama juga pernah terjadi di Aceh, Bengkulu, Tasikmalaya, Jogja dan tak terbilang lagi di wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Tayangan televisi yang sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia, semakin membuat dramatis dari kondisi sebenarnya di lapangan. Media televisi telah membuat seolah-olah bencana itu ada di depan mata siapa saja yang kebetulan menyaksikan siarannya. Dampaknya, simpati dan empati masyarakat yang tidak mengalami langsung bencana itu seperti menjadi mudah tersentuh dan tergugah.

***

Menyaksikan siaran televisi yang memberitakan tentang kedatangan tim bantuan dan relawan dari Swiss, Australia dan Jepang, anak saya Noval (15 th) agaknya terusik perasaannya.

“Siapa yang membiayai kedatangan orang-orang dari luar negeri itu, pak?”, tanya Noval.

“Ya pemerintahnya masing-masinglah”, jawab saya sekenanya.

Lha, kalau orang-orang Indonesia yang pada datang ke sana?”, tanya Noval lagi.

“Yaaa… ada yang dibiayai pemerintah, ada juga dari organisasi yang mengirim mereka, ada dari sponsor lain, dan banyak juga yang biaya sendiri terutama orang-orang yang tinggalnya di sekitar Padang sana”, jawab saya lagi.

Diam sesaat, lalu dialog berlanjut. “Dulu waktu ada tsunami di Aceh, ustadku juga dikirim menjadi relawan ke sana”, lanjut Noval yang menyebut guru-gurunya di sekolah dengan panggilan ustad. Saya mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan anakku ini. Maka dialog sengaja ingin saya lanjutkan agar pembicaraan berkembang. Kata saya kemudian : “Ya, itu berarti organisasi ustadmu yang membiayai pengirimannya termasuk biaya hidup di sana”.

“Enak ya….”, kata Noval. Tentu saja kata-kata ini membuat saya celathu (bertanya dalam hati) sambil mengerutkan kening, apa maksudnya enak…. Rupanya belakangan saya baru paham bahwa yang dimaksud dengan enak, adalah bukan enak dalam pengertian bergembira dan bersenang-senang, melainkan dalam pengertian merasa bangga dan berguna karena dapat membantu orang lain yang sedang tertimpa kemalangan.

Setelah terdiam agak lama, tiba-tiba kemudian Noval berkata : “Saya ingin kesana-e…”. Akhiran ‘e’ ini memang khas Jogja banget. Karena saya mulai paham arah pembicaraan Noval, saya pun memancingnya.

Lha ngapain ke sana? Wong orang-orang lagi pada sibuk menangani bencana….. Insya Allah lain waktu kalau ada rejeki kita traveling ke sana”, kata saya menanggapi.

“Ya membantu korban gempa no….”, jawab Noval cepat. Penggalan ungkapan ‘no’ ini juga khas dialek wong Jogja dan Jawa Tengah umumnya.

“Bagaimana bisa, wong kamu masih masuk sekolah dan biaya kesananya kan juga tidak sedikit” kata saya kemudian.

Kan bisa minta ijin”, katanya mematahkan argumentasi pertama saya. Sedang untuk argumentasi yang kedua Noval menghibur diri : “Wah, kalau ada yang mau mengirim kesana, enak ya…..”. Kembali kata ‘enak’ digunakan sebagai ekspresi kebanggaan bisa menolong orang lain.

“Kalau mau membantu kesana, memang praktisnya kalau kita tergabung dalam suatu organisasi relawan. Tapi bisa juga kalau mau datang langsung kesana dengan biaya sendiri dan bergabung dengan tim relawan yang sudah ada di sana”, saya mencoba memberi penjelasan.

Dalam hati sebagai orang tua, saya merasakan sepercik kebanggaan kalau anak saya yang rodo ngglidig… (agak kebanyakan ide dan ulah) ini memiliki empati dengan penderitaan orang lain. Sekalian saja momen obrolan malam di rumah itu saya manfaatkan untuk sedikit cerita pengalaman. Ya namanya juga orang tua, bagaimana pun juga jam terbangnya lebih banyak dari anaknya. Maka mulailah sang bapak ini memamerkan kesombongannya (sudah sombong, pamer lagi…). Ini juga salah satu keterampilan yang perlu dimiliki oleh orang tua, yaitu harus pintar sombong di depan anaknya. Sombong bukan dalam konotasi takabur menurut istilah agama, melainkan dalam konteks memberi motivasi.

Dulu sewaktu usia seputaran SMA, saya pernah menjadi anggota KSR (Korps Sukarelawan di bawah bendera PMI di Kabupaten Kendal). Saya sering ditugaskan untuk membantu kegiatan-kegiatan kemansiaan di sana. Ya, memang masih kelas kabupaten saja. Tapi jelas saya telah belajar banyak tentang ilmu tolong-menolong itu. Dan perasaan saya pada jaman tahun 70-80an itu kok Indonesia jarang dilanda bencana ya…. Barangkali karena umur bumi waktu itu belum setua sekarang (30-40 tahun lebih muda dari sekarang), atau karena informasi dan komunikasi belum seterbuka sekarang, atau malah jangan-jangan memang Tuhan “belum punya alasan” untuk membencanai orang-orang Indonesia.

Tujuan saya pamer kesombongan dengan cerita pengalaman itu sejatinya adalah agar kalau Noval ingin membantu orang lain yang terkena bencana, maka perlu memiliki bekal ilmu yang cukup. Apapun bidang ilmunya. Maksudnya agar di lokasi bencana nanti bukan malah bingung sendiri dan merepokan orang lain. Selain itu, akan lebih baik lagi kalau dapat bergabung dengan organisasi kemanusiaan yang ada.

“Saya kepingin kesana-e….”, kata Noval sekali lagi. Saya bisa merasakan kegalauan hatinya demi menyaksikan pemberitaan televisi tentang bencana gempa di Padang dan sekitarnya. Sementara dia merasa tidak bisa ikut berbuat apa-apa kecuali menyumbang melalui kotak amal yang digendong kemana-mana oleh para simpatisan di setiap perempatan jalan. Karena itu saya kemudian meyakinkan dia : “Niat yang bagus, le…. Insya Allah, suatu saat nanti kamu akan bisa melakukannya”.

Selesai dengan kalimat terakhir itu, saya perlu buru-buru menambahkan : “Meskipun begitu ya jangan lalu kamu berdoa agar terjadi bencana lagi supaya kamu bisa menolong. Apalagi terus berdoa agar bencananya terjadi di dekat-dekat Jogja saja supaya biaya kesananya murah……”, kata saya sambil tersenyum meninggalkan Noval yang lagi tidur-tiduran di depan televisi. Dan Noval pun tertawa sambil berseru : “Ya, tidaklah…..”.

Yogyakarta, 3 Oktober 2009
Yusuf Iskandar