Posts Tagged ‘keranjang’

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 4

16 Oktober 2009

Matahari sudah naik sepenggalah. Tiba-tiba ada suara orang ketuk-ketuk pagar halaman rumah. Bunyinya cukup keras mengagetkan. Ketika saya lihat keluar ada seorang kakek berdiri di depan pagar sambil meletakkan pikulannya (bukan pukulannya). Rupanya kakek itu adalah seorang penjual keranjang yang bermaksud menawarkan dagangannya sambil minta ijin untuk beristirahat sebentar.

Di depan rumah saya memang ada tempat duduk dengan konstruksi tembok berkeramik putih. Cocok untuk duduk santai di kala tidak panas dan tidak hujan (kalau hujan duduk-duduknya harus sambil bawa payung…). Tempat duduk itu juga tidak dilengkapi dengan atap atau kanopi, karena khawatir dikira halte bis. Tanpa atap saja sudah disenangi orang untuk tempat isirahat, seperti kakek yang pagi itu kecapekan berkeliling kampung menjajakan dagangannya sejak pagi.

”Kebetulan…”, kata saya dalam hati. Ini peluang yang tidak datang saban hari atau bahkan sebulan sekali pun belum tentu. Bukan! Bukan peluang untuk membeli keranjang, melainkan peluang untuk melakukan improvisasi.

Saya lalu kembali masuk rumah dan bilang sama ibunya anak-anak : ”Itu ada yang nawarin keranjang untuk tempat pakaian kotor…”. Istri saya menjawab : ”Ah, masih punya kok….”. Pemberitahuan kepada istri saya itu memang sekedar basa-basi karena sebenarnya saya sudah tahu kalau di rumah masih punya keranjang pakaian yang kondisinya masih bagus.

Sebenarnya saya hanya ingin melakukan test. Rupanya apa yang ada di pikiran saya berbeda dengan apa yang ada di pikiran istri saya. Istri saya berpikir praktis-logis-realitis, tanpa perlu mempertimbangkan hal-hal di luar itu. Di rumah sudah ada keranjang, jadi untuk apa beli lagi?. Begitu kira-kira bunyi pikirannya. Sementara yang ada di pikiran saya berbeda.  Ada seorang kakek ndeso yang berjalan keliling kampung seharian sambil memikul menawar-nawarkan keranjang. Kalaupun tidak membeli keranjangnya, apa yang bisa saya lakukan? Begitu kira-kira jalan pikiran saya berimprovisasi.

Wajarnya seorang perempuan ex-officio menteri keuangan negeri rumah tangga, inginnya serba pragmatis. Ini memang bukan soal baik-buruk atau salah-benar. Ini soal permakluman saja. Siapapun harus memaklumi kalau punya menteri keuangan perempuan, maka kadar sentuhan improvisasinya akan berbeda dengan sentuan-sentuhan sektor riil lainnya. Karena saya suka dengan sentuhan yang lainnya itu, maka sentuhan improvisasinya tidak terlalu saya hiraukan.

Ketika kakek tua itu duduk beristirahat, lalu saya tanya : ”Sudah sarapan pak?”. Sebutan kakek sebenarnya membahasakan anak saya, karena usia sebenarnya tentu saja seusia orang tua saya. Kakek itu menjawab : ”Sampun (sudah)…”.

Saya menyadari kalau apa yang saya tanyakan adalah pertanyaan basa-basi. Seandainya benar bahwa kakek itu belum sarapan, saya duga pasti juga akan bilang ”sampun”, khas pembawaan orang desa yang rendah hati (adakalanya campur sungkan dan malu). Karena itu segera saya kembali masuk rumah lalu mengambil air mineral dingin untuk saya suguhkan kepada kakek itu. Kebetulan sekali pagi itu istri saya baru saja membuat perkedel jagung masih hangat. Ini jenis makanan yang jarang dijual orang dan kalau kepingin terpaksa harus bikin sendiri (wuih… enak tenan dimakan dengan cabe rawit….). Maka sekalian saja saya ambil beberapa biji lalu saya taruh di atas piring kecil dan saya bawa keluar disuguhkan kepada kakek itu sebagai sarapan.

Sambil menyajikan suguhan, kemudian saya ikut duduk leyeh-leyeh bareng kakek penjual keranjang yang sedang beristirahat, sambil mengobrol ngalor-ngidul. Wajah tua nan letih tergurat jelas di wajah kakek itu, namun senyum dan rona cerahnya seolah mencerminkan keikhlasan dan kedamaian hatinya. Saya memang hanya menduga. Tapi dari obrolan kami selanjutnya menyiratkan bahwa dugaan saya benar.

Kakek yang biasa dipanggil pak Asmudi dan berasal dari sebuah dusun di kawasan Imogiri, selatan Yogyakarta, masih naik lagi ke arah perbukitan menuju kecamatan Dlingo itu bercerita banyak tentang dirinya. Ketika saya tanya berapa umurnya, dia menjawab : ”Seket gangsal (lima puluh lima)”. Jelas saya tidak percaya, karena berarti lebih pantas saya sebut kakak, bukan kakek. Lalu katanya lagi mengoreksi : ”Tapi ya mungkin sekitar 60 tahun”. Dan saya masih tidak percaya. Akhirnya kami sepakat bahwa umur yang pantas bagi kakek itu adalah 65 tahun. Lha wong sama-sama tidak tahu umurnya, ya demokratis saja, lalu dibuat kesepakatan. Umur pensiun pejabat saja bisa diulur-ulur apalagi kok cuma umur tukang keranjang, yang berapapun umurnya tidak akan berpengaruh apapun bagi nasibnya. Berbeda dengan masa jabatan seorang pejabat.

Pak Asmudi lalu melepas sandal jepit warna birunya yang untungnya masih tampak berbentuk sandal, lalu mengangkat satu kakinya disilangkan di atas tempat duduknya. Sambil menatap kakinya yang nampak berwarna sawo busuk, mengkilap, berkulit keras, pecah-pecah dan njeber (melebar), pak Asmudi bercerita dengan bangga dan penuh syukur (karena beberapa kali mengucapkan kalimat ”alhamdulillah” dalam omongannya), bahwa empat dari lima anaknya sudah mentas (hidup berumah tangga yang berarti tidak lagi menjadi tanggungannya). Kini, dia dibantu anak bungsunya dan istrnya bekerja menganyam bambu untuk dijadikan keranjang. Kawasan seputaran Imogiri memang merupakan salah satu sentra industri rumahan anyaman bambu. Selain berupa keranjang pakaian yang oleh orang kampungnya disebut gorong, para tetangganya juga membuat tambir atau tampah, kalo atau saringan dari bambu.

Untuk membuat anyaman keranjang bambu sebenarnya melalui tahapan pekerjaan yang tidak sederhana. Bambunya lebih dahulu direndam dalam air sebelum disayat tipis-tipis. Belum lagi ketika mewarnai juga direndam dalam air berwarna (orang desa biasa menyebut di-naptol). Proses rendam-merendam ini bisa berlangsung beberapa hari. Sedangkan untuk menganyamnya sehari bisa selesai. Makanya pak Asmudi setiap empat-lima hari sekali turun ke kota sambil membawa keranjang bertumpuk-tumpuk.

Seperti kebiasaannya setiba di terminal, lalu mulailah berjalan kaki menyusuri kampung-kampung menawarkan keranjangnya. Entah berapa kilometer jarak tempuh perjalanannya sejak pagi hingga sore. Beruntung kalau sehari itu langsung habis, berarti bisa pulang dengan ongkos lebih murah karena tidak harus membayar ongkos angkut keranjangnya yang tentu saja memakan tempat di kendaraan sehingga harus membayar lebih mahal. Kalau hari itu tidak habis? Pak Asmadi berkata lugu : ”Rejeki sampun wonten ingkang ngatur…. (rejeki sudah ada yang mengatur)”, katanya ringan sambil terkekeh kecil.

Satu set keranjangnya biasanya terdiri dari tiga ukuran. Boleh dibeli satu set, boleh juga satu atau dua ukuran saja. Meski keluarga saya sebenarnya sedang tidak membutuhkan keranjang pakaian, pagi itu saya beli juga sebuah yang berukuran paling kecil yang katanya untuk saya dihargai Rp 10.000,- yang akhirnya saya bayar lebih. Karena sesungguhnya saya bukan sedang membeli keranjang (toh sampai sekarang keranjang itu nganggur), melainkan saya sedang membeli peluang untuk memberi kesempatan kepada pak Asmudi memperoleh penghasilan yang halal.

Peluang itulah yang saya beli. Dan sesungguhnya bukan saja peluang itu, melainkan peluang ikutannya seperti memberi sekedar minum dan sarapan. Bahkan memberinya pakaian pantas pakai ketika sebelum pak Asmudi pamit melanjutkan perjalanannya sempat bertanya apa punya telesan (atau basahan, yang maksudnya pakaian bekas yang bisa dipakai di rumah). Apa yang saya lakukan pagi itu sesungguhnya hanya sebuah langkah kecil yang secara kasat mata relatif tidak berarti banyak. Namun saya menganggap bahwa improvisasi hidup semacam itu terkadang perlu dilakukan, agar irama kehidupan ini tidak membosankan.

Tuhan memang ruarr biasa….. telah memberi saya kesempatan berimprovisasi di pagi itu, sambil duduk leyeh-leyeh mengobrol santai ngalor-ngidul dengan kakek penjual keranjang. Kesempatan yang tidak datang setiap saat dan yang ketika datang malah jarang dilihat apalagi ditangkap orang. Betapa sering kita berniat melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang, dan kalau kemudian kesempatan itu datang sepertinya banyak hal menghalangi untuk merealisasikannya.

Yogyakarta, 16 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 3
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 2
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 1

Seorang Kakek Kecapekan

14 Oktober 2009

Seorang kakek duduk leyeh-leyeh di depan rumah, beristirahat setelah berkeliling memikul dan menjajakan hasil kerajinan keranjang anyaman anaknya. Kesempatan, pikir saya…. Ya, kesempatan untuk ber-‘improvisasi’ (lagi)…… Tuhan memang ruarrr biasa kalau mau menawarkan kesempatan dan peluang. Dan jangan lupa bahwa tidak setiap orang memperolehnya…..

Yogyakarta, 9 Oktober 2009
Yusuf Iskandar