Posts Tagged ‘kepiting’

Nggeblak Di Kamar Hotel

29 September 2010

Menjelang tengah malam baru masuk hotel. Sebenarnya tidak capek-capek amat. Saat maghrib mendarat di bandara Juanda, lalu makan malam dengan menu kepiting dan ikan bakar dan ngobrol. Usai itu baru masuk hotel. Dan, ah…! Kebiasaan lama itu seperti tidak bisa hilang setiap pertama kali masuk kamar hotel, langsung nggeblak.., merebahkan tubuh, menggeliat..! Di sebuah kamar di lantai 12 hotel Somerset Surabaya yang tidak memiliki lantai 13 melainkan langsung 14.

Surabaya, 24 September 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Resto Paripari Jogja

22 Januari 2010

‘Bebas pilih ikanmu’, kata Resto Paripari, Jogja : kepiting bumbu padang, kerang hijau + udang galah bumbu singapore, ikan bakar, cumi goreng….. Bumbunya full, enggak setengah-setengah….. Passs citarasanya!

Yogyakarta, 22 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Di Bawah Purnama Menyantap Udang Bakar Mang Engking

14 April 2009

img_2116_rBagi penggemar kuliner menu udang, nama Mang Engking Jogja sepertinya sudah bukan nama asing lagi. Apalagi sekarang Mang Engking sudah buka cabang di Depok dan Surabaya. Mang Engking yang asli Ciamis dengan nama lengkap Engking Sodikin ini boleh dibilang pelopor dalam bisnis kuliner perudangan di Jogja. Tambak udangnya yang berlokasi di kecamatan Minggir, Sleman, adalah cikal bakal usahanya yang bernama Pondok Udang Mang Engking dengan menu unggulannya udang galah.

Setelah sekitar enam tahunan Pondok Udangnya berkibar di Minggir Sleman, sejak akhir 2007 Mang Engking masuk kota membuka cabang di kawasan jalan Godean. Jurus jemput bola diterapkannya guna menangkap “bola” yang sedang mencari makan malam atau yang merasa kejauhan kalau harus minggir-minggir ke Minggir.

Awalnya Mang Engking masuk kota bergandengan tangan dengan pemilik Banyu Mili Resto yang kemudian buka warung di kompleks Griya Mahkota Regency. Namun gandengan mesra itu hanya berlangsung setahun, sebab setelah itu Banyu Mili Resto menangkap peluang bisnis perkulineran untuk berdiri sendiri. Mang Engking pun terpelanting yang lalu kemudian membuka warung sendiri tidak jauh dari situ. Tepatnya kalau dari arah Jogja menuju Jl. Godean, tidak sampai 1 km kemudian ketemu perempatan pertama belok kiri sejauh 200 m. Judul warungnya adalah Gubug Makan Mang Engking Soragan Castle.

Kalau disebut Gubug Makan, itu karena arena permakanannya berupa sebuah gubug besar dan beberapa gubug (saung) kecil, baik dalam formasi meja-kursi maupun lesehan. Kalau Mang Engking agak gaya dengan nama asing Soragan Castle, itu karena di sana sudah berdiri sebuah bangunan (yang dari depan tampak) megah menyerupai sebuah istana. Rupanya tempat itu sebelumnya merupakan sebuah resto bermenu asing bernama Soragan Castle. Resto masakan asing ini sendiri sempat melayani tetamu turis asing selama lima tahunan sebelum kini ditempati Mang Engking. Dan, istana itu kini masih kokoh berdiri.     

***

Di saat malam purnama, saya sekeluarga mengunjungi istana barunya Mang Engking. Siluet sosok Soragan Castle nampak angker tapi indah di bawah cahaya rembulan yang sedang bundar-bundarnya bagai bertengger di atas bentengnya. Sebuah tampilan malam yang indah sekali. Tidak sabar saya jeprat-jepret dengan kamera digital pinjaman yang sengaja saya bawa. Kami kemudian menju ke sebuah gubuk lesehan agak ke sudut kanan belakang. Lokasi itu saya pilih karena berhadapan dengan sebuah kolam dan dekat dengan persawahan umum di belakang lokasi gubuknya Mang Engking.

img_2112_rSetengah kilogram menu udang bakar madu lalu kami pesan. Ditambah dengan gurami goreng sambal cobek, tumis kangkung, lalapan sambal dadak, dan belakangan menyusul kepiting rebus. Tidak terlalu lama kami menunggu hingga pesanan disajikan. Sebenarnya dalam hati saya agak surprise, kok cepat sekali….. (Sementara sebuah keluarga lain di sebelah saya yang lebih dahulu duduk di sana mulai menggerutu karena pesanannya belum juga keluar. Rupanya tadi sang pelayan salah mengantar pesanan mereka ke tamu yang lain, tapi bukan saya….. Nampaknya malam itu bukan purnama keberuntungan bagi keluarga itu).

Udang bakarnya disajikan berupa empat tusuk udang masing-masing berisi empat ekor udang mlungker ukuran sedang. Sajian ini berbeda dengan sebelumnya ketika saya sempat makan menu sama di Pondok Udang Mang Engking yang di Minggir. Sajian bentuk sate seperti ini mengingatkan saya pada menu sate udangnya Bu Entin di Labuan, Banten. Agaknya kini disajikan agar lebih praktis, baik dalam mengolah, menghitung maupun menyajikannya. Tapi jadi terasa kurang alami dan gimana gitu….. Kalau tentang enaknya, tidak saya ragukan, masih sama. Meski pusatnya Mang Engking masih ada di Minggir, Sleman, tapi semua kokinya termasuk yang di cabang Depok dan Surabaya sudah melalui pelatihan ketat di Minggir sebelum diterjunkan ke resto cabang-cabangnya.

img_2111_r1Gurami goreng sambal cobek (tapi sambalnya disajikan di cawan kecil) berhasil kami ludeskan, kecuali duri dan kepalanya tentu saja. Sambalnya yang diracik dengan tambahan bawang merah sekulit-kulit keringnya dan sedikit rasa jahe, terasa pas benar. Saya sengaja memesan setengah kilogram kepiting (rajungan) rebus dengan maksud agar lebih merasakan taste dagingnya yang belum banyak terkontaminasi oleh rasukan bumbu-bumbu pelengkapnya. Rupanya anak-anak saya juga menyukainya. Kalau rasa tumis kangkungnya standar, biasa-biasa saja. Sedang lalapan dengan sambal dadaknya lebih berasa (berasa pedas maksudnya). Namanya juga sambal mentah yang mendadak dibikin dengan campuran irisan tomat. Cukup untuk membuat agak megap-megap disaksikan oleh sang purnama yang menghiasi angkasa Jogja.  

Untuk kenikmatan makan malam plus nuansa indah malam purnama di sebuah gubuk di samping istana Sorogan malam itu, kami sekeluarga berempat harus membayar ganti rugi kepada Mang Engking sekitar Rp 250.000,- (persisnya lupa, karena notanya terselip), belum termasuk ongkos parkir dua ribu rupiah. Kami puas karena semua sajian ludes kecuali nasi putih yang masih tersisa di cething.

Yogyakarta, 14 April 2009
Yusuf Iskandar

img_2120_r

Udang Bakar Madu Khas Banyu Mili Resto Yogyakarta

26 Januari 2009
Banyu Mili Resto

Banyu Mili Resto

Banyu mili, dalam bahasa Jawa berarti air mengalir. Tapi umumnya orang Jawa merasa lebih nyaman kalau mengucapkannya mbanyu mili (dengan imbuhan huruf ‘m’ di depannya) yang artinya kemudian menjadi : seperti air mengalir atau mengalir seperti air. Kosa kata banyu mili biasanya memberi kesan suasana segar, sejuk, indah, santai, disertai suara gemericik air yang mengalir. Nampaknya kesan itu pula yang hendak “dijual” oleh pemilik resto Banyu Mili di kawasan Jalan Godean, Yogyakarta.

Terdorong oleh rasa ingin mencoba menu masakan yang berbeda pada suatu malam di Yogyakarta, maka seperti air yang mengalir pula kami menuju kompleks perumahan Griya Mahkota Regency di Jalan Godean Km 4,5 Yogayakarta. Di sana ada Banyu Mili Resto & Country Club, sebuah pilihan tempat makan yang menawarkan aneka pilihan menu ikan yang bukan saja bernuansa alam melainkan juga bisa menjadi tempat rekreasi bersama keluarga.   

Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari pusat kota Jogja dan mudah dijangkau, berada di kawasan perumahan mewah dengan aneka fasilitas bermain dan rekreasi. Ada danau buatan yang dikelilingi oleh gubuk-gubuk (saung), lengkap dengan fasilitas pemancingan dan kolam renang, atau sekedar menikmati taman yang ditata asri, atau bermain remote control boat dan aero modelling.

Hanya karena tujuan kami malam itu adalah makan, dan bukan mau mandi atau mancing, maka mengalirlah saya dan rombongan berlima menuju ke salah sebuah meja makan di Banyu Mili Resto, yang pada malam itu suasananya tampak sepi.

Lupakan dulu soal kesegaran, kesejukan atau rekreasi, melainkan langsung fokus ke menu makan yang disajikan melalui dua lembar daftar menu berupa kertas dilaminasi bagus dan rapi. Meski sudah tahu menu unggulan resto ini adalah berbahan udang dan gurami, tak urung, bingung juga ketika hendak memesan makanan.

Sebuah kombinasi suasana hati yang nyaris hampir selalu terjadi ketika masuk ke dalam rumah makan yang sebelumnya sudah tersugesti bahwa makanannya berkategori enak atau enak sekali, yaitu lapar tapi bingung… Sudah tahu sedang lapar dan kepingin segera makan, juga sudah tahu kalau makanannya bakal enak, tapi urusan memilih menu ternyata tidak selesai dalam 5-10 menit.

Jalan keluarnya, percaya saja pada menu unggulan atau menu spesial yang ditawarkan, yaitu udang bakar madu ukuran standar (ada juga yang ukuran super), gurami bumbu cobek ukuran sedang (ada juga ukuran besar, tapi ukuran kecil tidak ada) dan kepiting telur saus tiram. Masih ditambah dengan asesori kangkung tumis, sambal terasi dadak, sambal tomat dan tahu-tempe goreng. Kalau menu pelengkapnya memang relatif berasa standar, tapi menu unggulannya itu yang brasa lebih dan lebih brasa….  

img_1040_udangCoba bayangkan….. (walah…., lha saya membayangkan saja serasa seperti benar-benar sedang menyantapnya….). Seporsi udang bakar madu terdiri dari empat tusuk yang setiap tusuknya terdiri dari empat ekor udang. Di balik warna merah-oranye udangnya, bumbunya mrasuk sekali (benar-benar meresap) sampai menembus kulit udangnya dan menyentuh dagingnya yang kenyal-kenyal gurih. Rasa asam berbalut rasa manis madunya terasa pas di selera. Meski sedikit kerepotan memisahkan kulit, kepala dan kaki-kaki udang, tak menghalangi untuk menghabiskan ekor demi ekor udang mlungker yang telah tersaji dua piring di atas meja.

img_1042_guramiGurami bumbu cobek sebenarnya hanya sebuah nama, yaitu gurami goreng disajikan di atas piring dengan guyuran sambal bawang merah, cabe rawit merah, tomat yang digoreng setengah matang, dan bisa ditambah dengan sedikit perasan jeruk nipis. Sebenarnya hanya menu gurami goreng sederhana, tapi takaran sambal setengah gorengnya begitu pas sehingga memberi sensasi sedap dan nikmat (selain karena memang sedang lapar…., dan terkadang ya terpaksa agak rakus juga daripada mubazir…).

img_1039_kepitingMeski bukan restoran spesial seafood, namun cara membumbui kepiting telornya pantas dipuji. Saus tiram yang menyelimuti kepiting goreng dipadu dengan irisan loncang atau daun bawang dan bawang bombay bagai membuat sang pemakan tak ingin berhenti. Sayang telor kepitingnya digoreng matang agak keras, sehingga agak merepotkan untuk diambil dari cangkangnya meski masih tetap bisa dirasakan kemrenyes tekstur kecil-kecil telur kepitingnya.  

Walhasil, semuanya wes…ewes…ewes… bablasss tak bersisa. Tinggal kulit udang, cangkang kepiting dan duri gurami yang njebubuk di atas meja. Soal harga secara umum memang sedikit di atas rata-rata menu sejenis di resto lain di Jogja, namun itu sebanding dengan kenikmatan, kelezatan dan kepuasan yang memang diidamkan oleh para pencari makan.

Resto Banyu Mili yang baru berumur setahunan ini memang termasuk baru di kalangan penikmat makan di Jogja. Namun kreatifitas pemiliknya yang memadukan wisata makan dengan fasilitas rekreasi keluarga yang bernuansa alam dan tertata rapi agaknya cukup menjadi daya tarik tersendiri.

Pengunjung bisa memilih untuk makan di gubuk-gubuk di tepi danau buatan, di ruangan bermeja-kursi, atau bisa juga lesehan. Restoran yang jam bukanya pukul 10.00 – 22.00 ini siap menampung hingga 500 orang tamu sekaligus. Sedangkan fasilitas rekreasinya buka setiap hari dari pukul 07.00 – 18.00. Satu lagi, sebuah pilihan bagi penikmat kuliner di Jogja, sekaligus tempat rekreasi keluarga yang elok dan bersih.

Yogyakarta, 26 Januari 2009 (Tahun Baru Imlek 2560)
Yusuf Iskandar

img_1045_r

Seafood Mr. Asui, Sebuah Ikon Kuliner Di Pangkal Pinang

24 Agustus 2008

Sebuah bangunan lama dengan tampilan luar sangat sederhana, bahkan terkesan tidak terawat, dan tetap dibiarkan seperti itu hingga kini. Bangunan itu dulunya adalah restoran seafood yang hingga kini sangat terkenal di kawasan pulau Bangka, provinsi Babel (Bangka-Belitung). Seafood Restaurant Mr. Asui, namanya. Cara penamaannya yang keminggris, telah menjadi merek dagangnya sendiri.

Kini restoran Mr. Asui menempati bangunan yang tampilannya relatif lebih baru yang berada di belakangnya. Ada sebuah gang selebar 2,5 meteran sepanjang 15 meteran yang menghubungkan jalan besar menuju restoran yang berada di dalam gang. Lokasi restoran ini nyaris berada di posisi tusuk sate, di Jl. Kampung Bintang, Pangkal Pinang. Sangat mudah dicapainya, terutama dari jalan protokol Jl. Jendral Sudirman. Rasanya siapapun pasti tahu dimana restoran Mr. Asui berada.

Seafood Restaurant Mr. Asui seperti sudah menjadi ikon kuliner menu ikan laut di Pangkal Pinang. Menjadi tempat jujukan para penggemar menu masakan seafood yang kebetulan berkunjung ke Pangkal Pinang, tak terkecuali para pejabat dan selebriti. Menu masakan mahluk laut yang ditawarkan cukup komplit dengan citarasa yang tergolong enak.

***

Malam itu, kami tertarik untuk mencoba menu ikan jebung bakar, kakap bakar dan kepiting saos tiram, di antara sekian banyak pilihan ikan laut. Lalu, sepiring ca kangkung adalah asesori sayuran yang kami pesan.

Nama ikan jebung agak asing di telinga saya. Di tempat lain ikan jebung ini disebut juga ikan kambing-kambing (entah kenapa nama kambing tidak cukup disebut sekali saja, melainkan diulang dua kali). Disebut kambing-kambing karena memang profil wajah ikan ini kalau dilihat dari samping sangat mirip dengan prejengan wajah kambing yang sedang meringis kelihatan gigi-giginya.

Tidak seperti ikan bakar biasanya di tempat lain, ikan bakarnya engkoh Asui, baik ikan jebung maupun kakap yang kami pesan, dibakar begitu saja dengan tanpa dibumbui terlebih dahulu. Kalau digado atau dimakan ikannya saja tentu terasa hambar tak berasa. Yang khas di restoran ini adalah sambal cairnya yang menjadi teman makan ikan bakar. Sambalnya berasa manis dan asam. Pas benar kalau dicocol dengan suwiran ikan bakar yang tak berbumbu.

Sambal cair yang warnanya menyerupai saos tomat ini selalu tersedia di atas meja bersama dengan jeruk kunci dan cabe rawit merah. Jeruk kunci adalah salah satu jenis jeruk yang sepertinya jarang saya jumpai di tempat lain. Berukuran sebesar kelereng, sedikit lebih kecil dari jeruk purut, kulitnya halus dan biasa digunakan sebagai penambah rasa asam seperti halnya cuka atau jeruk nipis.    

Sebaiknya dimakan pada saat masih fanas (pakai awalan ‘f’, saking masih panasnya…) atau sebelum dingin. Sebab kalau sudah dingin, serat-serat ikan jebung akan menjadi agak keras ketika digigit dan rasa seafood-nya menjadi kurang mak nyuss… dan malah membuat mudah nek

Bumbu tiram yang mengguyur kepitingnya juga begitu lebih berasa dan berasa lebih. Lebih-lebih kalau dapat kepiting perempuan dengan gumpalan butir-butir telurnya yang berwarna jingga dan kenyal digigit. Kalau kebanyakan nasinya, maka kuah saos tiramnya pun pas benar dicampur untuk menghabiskan nasi putih.

Bagi penggemar menu seafood, Seafood Restaurant Mr. Asui sebaiknya jangan dilewatkan bila sekali waktu berkesempatan berkunjung ke Pangkal Pinang, Bangka. Konon sudah banyak orang-orang Pangkal Pinang yang mencoba berwirausaha membuka restoran sejenis, tapi kebanyakan tidak mampu bertahan lama. Tidak sebagaimana restorannya engkoh Asui yang seperti melegenda dan identik dengan menu masakan seafood di kawasan kota Pangkal Pinang pada khususnya dan pulau Bangka pada umumnya. Entah apa rahasianya.

Yogyakarta, 24 Agustus 2008
Yusuf Iskandar