Posts Tagged ‘kemang’

Sapa Suru Datang Jakarta

22 Maret 2008

Hari sudah gelap di Kemang Timur. Akhirnya dapat taksi juga setelah agak lama menunggu di tepi jalan, gerimis lagi. Begitu duduk di jok belakang kiri, segera terasa bahwa kondisi kendaraan masih agak baru. Meski rada remang-remang, interior dalamnya terlihat bersih, tidak kusam, tidak terkesan jorok, tidak bau apek.  Pendeknya, sudah lama tidak ketemu taksi yang kondisinya seperti yang saya tumpangi pada petang menjelang malam itu.

Terasa nyaman dan enak ditumpangi (tentu saja mbayar…!). Pengemudinya terlihat masih sangat muda. Saya duga usianya setengah usia saya atau lebihnya sedikit, mungkin 24-an tahun. Bicaranya lembut dan sopan, malah terkesan pemalu.

Tiba giliran menyebut alamat tempat tujuan, dengan sopan sang sopir memohon. Kira-kira beginilah bunyinya : “Tolong bapak yang menunjukkan arah jalannya ya, pak…..”. Lho!?

Lha, salah satu alasan saya naik taksi petang itu adalah karena saya tidak tahu jalan dan agar diantar sampai alamat je…. Ini kok sopir taksi malah minta ditunjukkan jalannya. Karena itu saya lalu menjawab : “Ya, kalau begitu yuk kita sama-sama mencari jalannya, mas…..”.

Ini Jakarta, petang menjelang malam hari. Pertama-tama saya merasa tidak bersalah untuk berprasangka buruk.  Jangan-jangan ini adalah awal dari sebuah fragmen “goro-goro”. Meski arah jalan utamanya kami sepakat, tapi kami berdua tidak tahu persis mesti belok kemana di sebelah mana.

Sambil nyopir perlahan-lahan (sopir taksinya, bukan saya…) di tengah kepadatan lalulintas, sambil saya meng-interview sang sopir dan mengamati responnya, sambil tetap waspada jangan-jangan ada sesuatu yang mencurigakan. Sang sopir pun selalu menjawab pertanyaan saya dengan sopan dan rangkaian jawabannya pun logis. Di tengah jalan saya sempat berhenti dua kali untuk tanya kepada orang di pinggir jalan. Saya yang menentukan tempat berhentinya.

Hal lain yang saya perhatikan, sang sopir ini kelewat hati-hati dan terlihat tidak santai. Tidak sebagaimana biasanya sopir taksi yang selalu terlihat terburu-buru dan gesit menyerobot jalan, berbuat serong ke kanan dan ke kiri. Sedikit nyerempet pun jadi.

Hampir sepanjang perjalanan saya berbicara dengan sopir, dengan membolak-balik pertanyaan layaknya petugas screening untuk memperoleh surat keterangan bersih diri dan lingkungan di jaman Orba dulu. Hingga sampailah pada kesimpulan, bahwa sopir taksi itu tidak sedang berbohong dan tidak mengandung unsur tipu-tipu.

Rupanya, orang muda sopir taksi warna kuning nyeter yang ngakunya berasal dari Wonogiri itu adalah sopir anyar gress….., baru mengantongi 8 jam terbang. Dia benar-benar baru pertama kali jadi sopir sejak dilepas dari pool pada jam 11 siangnya, setelah selesai menjalani test dan training. Saya adalah penumpangnya yang keenam di hari pertama itu. Dan sebagai sopir taksi, malam itu adalah malam pertamanya. Pantesan aksi dan gayanya masih rada kaku.

Belum setahun dia lulus sarjana jurusan keperawatan di Solo. Lalu mengadu nasib ke Jakarta dengan menjadi perawat kontrak selama enam bulan di kawasan Depok.  Namanya Tri Wahyudi (seperti tertulis di kartu identitasnya).

Tanggal 6 Januari nanti mas Tri ini mau nikah di Cirebon. Calon istrinya sesama perawat di tempat kerjanya. Karena mau nikah, maka kontrak kerja mas Tri tidak diperpanjang sebab salah satu harus keluar. Mas Tri memilih mengalah keluar dan mencari pekerjaan lain. Hingga akhirnya banting setir menjadi seorang sopir taksi.

Dasar perawat, nyopirnya pun halus sekali (meski tidak semua perawat berperilaku halus, ada juga perawat yang seperti mantan sopir taksi…). Tampak masih takut-takut main serobot dan belum luwes menerobos di tengah kemacetan Jakarta malam itu.

***

Baiklah, lupakan saja dulu perihal pengalaman jadi navigator dadakan sopir taksi. Melainkan saya melihat lebih jauh lagi. Seorang sarjana yang akhirnya jadi sopir taksi karena kehabisan pilihan jenis pekerjaan yang sesuai. Dan, haqqun-yakil mas Tri ini bukan satu-satunya sarjana di Indonesia yang kehabisan pekerjaan. Masih lebih baik tidak menempuh jalan pintas.

Meski ini bukanlah hal yang luar biasa di era reformasi dan keterbukaan ini (termasuk keterbukaan aurat untuk diabadikan dengan ponsel). Cerita semacam inipun sudah berulang kali saya dengar. Tapi malam itu kok tiba-tiba mak gregel….. di hatiku. Setidak-tidaknya sepenggal pengalaman kecil ini mengingatkan saya, bahwa rasanya tidak lama lagi anak-anak saya (juga anak-anak teman sebaya saya) akan berada menjadi bagian dari dunia yang sama. Dunia persilatan rebutan sepotong kue lapangan kerja yang sempit dan tidak lapang (padahal yang namanya lapangan itu mestinya ya luas).

Bagaimanapun saya merasa perlu untuk memberi apresiasi terhadap semangat kerja dan kejujuran mas Tri (termasuk jujur ngajak mencari jalan bareng-bareng malam itu). Maka kalau akhirnya saya memberi ongkos lebih, itu saya niatkan untuk nyumbang rencana pernikahannya dan menyertainya dengan doa.

Bagaimana sebaiknya melihat hal ini? Padahal sebagai seorang sarjana mestinya mas Tri ini punya skill keperawatan. Tapi kenapa mesti keukeuh harus di Jakarta yang sudah umplek-umplekan…… Sapa suru datang Jakarta….!

Apakah memang tempat yang lebih layak sebagai seorang sarjana sudah tertutup bagi mas Tri ini? Mudah-mudahan menjadi sopir taksi hanyalah batu loncatan sebelum terjun ke dunia persilatan entrepreneurship yang tentunya akan bisa membuka lapangan kerja bagi teman-temannya yang lain. Mudah-mudahan tidak kedarung keenakan membanting setir taksi yang dikemudikannya.

Itu kalau tidak keburu keterusan berada dalam comfort zone yang tidak comfortable babar blasss….. hingga tahun 2026. Yang pasti pada saat itu gaya nyopirnya sudah semakin lincah dan gesit srobat-srobot wal serang-serong.

Yogyakarta, 15 Desember 2006
Yusuf Iskandar