Posts Tagged ‘kediri’

Menyusuri Jalur Misteri Di Gunung Kelud

27 Juli 2008
Penggal jalan yang terlihat seperti naik, tapi sebenarnya turun

Penggal jalan yang terlihat seperti naik, tapi sebenarnya turun

Ada sepenggal jalan, panjangnya tidak sampai 100 m, berada di jalur utama menuju obyek wisata gunung Kelud. Tepatnya di desa Sugihwaras, kecamatan Ngancar, kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penggal jalan ini oleh masyarakat setempat dikenal sebagai jalur misteri. Pasalnya, jalan itu terlihat naik tapi semua kendaraan yang berhenti di atasnya mendadak bisa bergerak sendiri ke arah naiknya jalan.

Sejak gunung Kelud menunjukkan aktifitas vulkanologis tahun lalu, obyek wisata di kaki gunung Kelud ditutup untuk umum. Kini kabarnya sudah mulai dibuka kembali untuk umum. Bersama Kijang LGX 2000, saya dan anak kedua saya sempat berkunjung menyusuri jalan wisata itu ketika obyek wisata gunung Kelud yang waktu itu masih dinyatakan tertutup untuk wisatawan.

Pantesan ketika saya memasuki kawasan itu kok jalannya sepi, pintu gerbangnya tidak ada yang jaga sehingga saya bisa masuk gratis. Tidak ada rambu peringatan yang menyatakan ditutup, sehingga saya pikir siapa saja boleh ke sana. Sebenarnya memang boleh, hanya saja pengunjung tidak bisa mendekat ke danau di kaki gunung karena pagar jalan masuknya digembok.

Ketika memasuki kawasan wisata siang itu tiba-tiba turun hujan, padahal ketika masih di Kediri cuaca panas terik. Jalanan yang sempit dan berkelok-kelok itu tampak sedang diperbaiki di sana-sini. Lebar jalan yang aslinya pas-pasan juga sedang dilebarkan di beberapa lokasi, terutama di tikungan-tikungan tajam. Lalu lintas sepi sekali. Para pedagang dan warung-warungnya juga pada tutup. Tukang ojek banyak yang duduk-duduk saja dan ada pula yang nyambi mencari kayu bakar. Padahal biasanya setiap hari libur para pedagang dan tukang ojek itu panen raya.

Kendaraan kijang warna hitam metalik saya kemudikan perlahan menyusuri dan mendaki jalan yang menuju kaki gunung Kelud yang lokasinya berada sekitar 35 km dari kota Kediri. Karena saya punya tujuan lain untuk melihat jalur misteri di gunung Kelud, maka saya tidak perduli apakah obyek wisatanya buka atau tutup. Setelah bertanya kepada seseorang di Pos Pengamatan Gunung Kelud, akhirnya saya diberi ancar-ancar dimana lokasi penggal jalan misteri itu berada. Kalau lagi musim liburan sebenarnya tidak sulit menemukan lokasi itu, karena di situlah penggal jalan yang biasanya paling ramai dan padat dikunjungi orang, begitu kata tukang ojek. Berhubung hari itu lagi sepi, gerimis dan berkabut, maka saya mesti mencarinya sendiri.

Meski saya sudah menemukan lokasi jalan misteri, perjalanan masih saya teruskan karena ingin tahu dimana ujung dari jalan itu, sambil menikmati pemandangan alam kaki gunung Kelud yang puncak gunungnya memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut. Tetapi ya tetap saja tidak ada yang dapat dipandang, wong cuaca muram berkabut dan gerimis tidak kunjung mereda. Sampai akhirnya saya diteriaki oleh seorang tukang ojek yang lagi nongkrong di warung kopi yang memberitahukan agar sebaiknya tidak di teruskan karena tiga kilometer lagi jalan ditutup dan di sana tidak ada tempat untuk berputar.

Akhirnya saya dan anak saya malah ikut nongkrong di satu-satunya warung kopi yang buka di sana siang itu. Di bawah cuaca agak dingin, berkabut dan gerimis rintik-rintik, saya jadi ikut nimbrung ngobrol-ngobrol dengan seorang ibu pemilik warung dan empat orang tukang ojek yang lagi istirahat menjelang pulang. Segelas kopi panas dan beberapa potong singkong rebus yang saya makan di warung itu sungguh nikmat benar.

Seorang tukang ojek bernama pak Sukiran malah menawarkan diri memandu saya menuju ke lokasi penggal jalur misteri, saat saya pulang menuruni gunung sambil Pak Sukiran juga hendak sekalian pulang. Kebetulan, setidak-tidaknya saya ada teman cerita-cerita.

***

Di kedai kopi, berteduh dari hujan sambil berbincang dengan para tukang ojek

Di warung kopi, berteduh dari hujan sambil berbincang dengan para tukang ojek

Penggal jalan yang dikenal sebagai jalur misteri itu merupakan penggal jalan paling lebar dibanding lainnya. Rupanya pihak pengelola taman wisata gunung Kelud sudah mengantisipasi karena di situlah biasanya para wisatawan bergerombol ingin membuktikan sendiri adanya jalan “naik tapi turun” (atau, jalan turun tapi terlihat naik?). Di atas permukaan aspal jalan juga ada dibuat garis bercat putih sebagai tanda batas dimana “misteri” itu bekerja.

Pak Sukiran sangat antusias memperlihatkan buktinya. Sepeda motornya dihentikan di tengah jalan, lalu mesinnya dimatikan. Perlahan-lahan sepeda motor itu bergerak “naik” dengan sendirinya dan semakin cepat. Saya pun mencobanya. Kijang hitam 2000 cc saya hentikan tepat di tengah jalan (mumpung lagi sepi), mesin saya matikan, persneling posisi netral. Kijang yang saya kemudikan lalu merangkak perlahan dan semakin cepat ke arah “naik”. Belum puas, kijang pun kembali dalam posisi berbalik arah dan ternyata juga bisa berjalan mundur dan “naik” dengan sendirinya. Masih juga belum puas, sebotol air mineral ditidurkan di atas aspal jalan dan ternyata menggelinding “naik”, dan akhirnya malah hilang masuk semak-semak dan tidak jadi diminum. Ah, sial….!

Lho, kok bisa? Penjelasan ilmiah tentang misteri ini pernah disampaikan oleh Prof. Yohanes Surya, dedengkot Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Bahwa kejadian sebenarnya bukanlah misteri jalan “naik tapi turun” yang kesannya menjadi misterius, melainkan adanya ilusi mata. Diduga fenomena ilusi mata ini juga yang terjadi di Korea dan Arab Saudi yang konon juga terjadi misteri yang mirip-mirip. Dengan kata lain, hanyalah fenomena tipuan pandangan mata. Penggal jalan itu sendiri sebenarnya memang menurun, tapi kemiringannya kecil sekali. Ketika dilihat dari posisi jalan yang kemiringannya tinggi, maka penggal jalan menurun itu terlihat seperti naik. Dan seperti itulah yang terjadi. 

Saking penasarannya saya dan anak saya mencoba berdiri dan melihat penggal jalan itu dari berbagai posisi dan sudut pandang yang berbeda-beda (dasar kurang kerjaan…..). Memang dari satu posisi tertentu mata kita melihat bahwa jalan itu sedikit naik, tapi dari posisi lain terlihat juga bahwa jalan itu memang agak menurun. Penjelasan dan pembuktian inilah yang saya anggap sebagai paling masuk akal untuk menjelaskan misteri jalan “naik tapi turun” itu.

Namun pak Sukiran “tidak terima”. Beliau menceriterakan bahwa dulu pernah ada orang yang membuktikan menggunakan selang diisi air dan katanya hasilnya menunjukkan bahwa jalan itu memang naik. Ya, sudah. Keyakinan seperti yang dimiliki oleh pak Sukiran, juga teman-temannya dan masyarakat lainnya, agaknya memang tetap perlu “dipelihara”. Agar misteri tetap ada di sana dan kawasan kaki gunung Kelud tetap menarik untuk dikunjungi selain untuk alasan menikmati pemandangan alamnya yang indah.

Sayangnya, keyakinan itu menjadi kebablasan ketika tahun lalu ada sebuah truk masuk jurang di daerah itu lalu dihubung-hubungkan dengan adanya jalur misteri dan legenda gunung Kelud. Padahal ya memang sopirnya yang sembrono mengemudikan kendaraan besar di jalur sempit, naik-turun dan berkelok-kelok menyusuri lereng gunung Kelud.

Iklan

Jalur Misteri (Naik Tapi Turun)

16 Mei 2008

Foto 1 — Tampak dalam foto : Pengendara sepeda motor seperti sedang berkendaraan mendaki, tapi sebenarnya sedang menuruni jalan yang kemiringan turunnya sangat kecil. Ilusi mata atau fenomena tipuan pandangan mata telah menyebabkan keadaan jalan seperti “naik tapi turun”.

 

Foto 2 — Tampak dalam foto : Pandangan dari arah sebaliknya dimana lebih jelas terlihat bahwa pengendara sepeda motor dalam Foto 1 di atas sebenarnya sedang berjalan menurun dengan kemiringan turun sangat kecil.

Menyusuri Jalur Misteri Di Gunung Kelud

16 Mei 2008

Ada sepenggal jalan, panjangnya tidak sampai 100 m, berada di jalur utama menuju obyek wisata gunung Kelud. Tepatnya di desa Sugihwaras, kecamatan Ngancar, kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penggal jalan ini oleh masyarakat setempat dikenal sebagai jalur misteri. Pasalnya, jalan itu terlihat naik tapi semua kendaraan yang berhenti di atasnya mendadak bisa bergerak sendiri ke arah naiknya jalan.

Sejak gunung Kelud menunjukkan aktifitas vulkanologis tahun lalu, obyek wisata di kaki gunung Kelud ditutup untuk umum. Kini kabarnya sudah mulai dibuka kembali untuk umum. Saya sempat berkunjung menyusuri jalan wisata itu ketika obyek wisata gunung Kelud masih dinyatakan tertutup untuk wisatawan. Pantesan ketika saya memasuki kawasan itu kok jalannya sepi, pintu gerbangnya tidak ada yang jaga sehingga saya bisa masuk gratis. Tidak ada rambu peringatan yang menyatakan ditutup, sehingga saya pikir siapa saja boleh ke sana. Sebenarnya memang boleh, hanya saja pengunjung tidak bisa mendekat ke danau di kaki gunung karena pagar jalan masuknya digembok.

Ketika memasuki kawasan wisata siang itu tiba-tiba turun hujan, padahal ketika masih di Kediri cuaca panas terik. Jalanan yang sempit dan berkelok-kelok itu tampak sedang diperbaiki di sana-sini. Lebar jalan yang aslinya pas-pasan juga sedang dilebarkan di beberapa lokasi, terutama di tikungan-tikungan tajam. Lalu lintas sepi sekali. Para pedagang dan warung-warungnya juga pada tutup. Tukang ojek banyak yang duduk-duduk saja dan ada pula yang nyambi mencari kayu bakar. Padahal biasanya setiap hari libur para pedagang dan tukang ojek itu panen raya.

Kendaraan saya kemudikan perlahan menyusuri dan mendaki jalan yang menuju kaki gunung Kelud yang lokasinya berada sekitar 35 km dari kota Kediri. Karena saya punya tujuan lain untuk melihat jalur misteri di gunung Kelud, maka saya tidak perduli apakah obyek wisatanya buka atau tutup. Setelah bertanya kepada seseorang di Pos Pengamatan Gunung Kelud, akhirnya saya diberi ancar-ancar dimana lokasi penggal jalan misteri itu berada. Kalau lagi musim liburan sebenarnya tidak sulit menemukan lokasi itu, karena di situlah penggal jalan yang biasanya paling ramai dan padat dikunjungi orang, begitu kata tukang ojek. Berhubung hari itu lagi sepi, gerimis dan berkabut, maka saya mesti mencarinya sendiri.

Meski saya sudah menemukan lokasi jalan misteri, perjalanan masih saya teruskan karena ingin tahu dimana ujung dari jalan itu, sambil menikmati pemandangan alam kaki gunung Kelud yang puncak gunungnya memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut. Tetapi ya tetap saja tidak ada yang dapat dipandang, wong cuaca muram berkabut dan gerimis tidak kunjung mereda. Sampai akhirnya saya diteriaki oleh seorang tukang ojek yang lagi nongkrong di warung kopi yang memberitahukan agar sebaiknya tidak di teruskan karena tiga kilometer lagi jalan ditutup dan di sana tidak ada tempat untuk berputar.

Akhirnya saya dan anak saya malah ikut nongkrong di satu-satunya warung kopi yang buka di sana siang itu. Di bawah cuaca agak dingin, berkabut dan gerimis rintik-rintik, saya jadi ikut nimbrung ngobrol-ngobrol dengan seorang ibu pemilik warung dan empat orang tukang ojek yang lagi istirahat menjelang pulang. Segelas kopi panas dan beberapa potong singkong rebus yang saya makan di warung itu sungguh nikmat benar.

Seorang tukang ojek bernama pak Sukiran malah menawarkan diri memandu saya menuju ke lokasi penggal jalur misteri, saat saya pulang menuruni gunung sambil Pak Sukiran juga hendak sekalian pulang. Kebetulan, setidak-tidaknya saya ada teman cerita-cerita.

***

Penggal jalan yang dikenal sebagai jalur misteri itu merupakan penggal jalan paling lebar dibanding lainnya. Rupanya pihak pengelola taman wisata gunung Kelud sudah mengantisipasi karena di situlah biasanya para wisatawan bergerombol ingin membuktikan sendiri adanya jalan “naik tapi turun” (atau, jalan turun tapi terlihat naik?). Di atas permukaan aspal jalan juga ada dibuat garis bercat putih sebagai tanda batas dimana “misteri” itu bekerja.

Pak Sukiran sangat antusias memperlihatkan buktinya. Sepeda motornya dihentikan di tengah jalan, lalu mesinnya dimatikan. Perlahan-lahan sepeda motor itu bergerak “naik” dengan sendirinya dan semakin cepat. Saya pun mencobanya. Kijang hitam saya hentikan tepat di tengah jalan (mumpung lagi sepi), mesin saya matikan, persneling posisi netral. Kijang lalu merangkak perlahan dan semakin cepat ke arah “naik”. Belum puas, kijang pun kembali dalam posisi berbalik arah dan ternyata juga bisa berjalan mundur dan “naik” dengan sendirinya. Masih juga belum puas, sebotol air mineral ditidurkan di atas aspal jalan dan ternyata menggelinding “naik”, dan akhirnya malah hilang masuk semak-semak dan tidak jadi diminum. Ah, sial….!

Lho, kok bisa? Penjelasan ilmiah tentang misteri ini pernah disampaikan oleh Prof. Yohanes Surya, dedengkot Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Bahwa kejadian sebenarnya bukanlah misteri jalan “naik tapi turun” yang kesannya menjadi misterius, melainkan adanya ilusi mata. Diduga fenomena ilusi mata ini juga yang terjadi di Korea dan Arab Saudi yang konon juga terjadi misteri yang mirip-mirip. Dengan kata lain, hanyalah fenomena tipuan pandangan mata. Penggal jalan itu sendiri sebenarnya memang menurun, tapi kemiringannya kecil sekali. Ketika dilihat dari posisi jalan yang kemiringannya tinggi, maka penggal jalan menurun itu terlihat seperti naik. Dan seperti itulah yang terjadi. 

Saking penasarannya saya dan anak saya mencoba berdiri dan melihat penggal jalan itu dari berbagai posisi dan sudut pandang yang berbeda-beda (dasar kurang kerjaan…..). Memang dari satu posisi tertentu mata kita melihat bahwa jalan itu sedikit naik, tapi dari posisi lain terlihat juga bahwa jalan itu memang agak menurun. Penjelasan dan pembuktian inilah yang saya anggap sebagai paling masuk akal untuk menjelaskan misteri jalan “naik tapi turun” itu.

Namun pak Sukiran “tidak terima”. Beliau menceriterakan bahwa dulu pernah ada orang yang membuktikan menggunakan selang diisi air dan katanya hasilnya menunjukkan bahwa jalan itu memang naik. Ya, sudah. Keyakinan seperti yang dimiliki oleh pak Sukiran, juga teman-temannya dan masyarakat lainnya, agaknya memang tetap perlu “dipelihara”. Agar misteri tetap ada di sana dan kawasan kaki gunung Kelud tetap menarik untuk dikunjungi selain untuk alasan menikmati pemandangan alamnya yang indah.

Sayangnya, keyakinan itu menjadi kebablasan ketika tahun lalu ada sebuah truk masuk jurang di daerah itu lalu dihubung-hubungkan dengan adanya jalur misteri dan legenda gunung Kelud. Padahal ya memang sopirnya yang sembrono mengemudikan kendaraan besar di jalur sempit, naik-turun dan berkelok-kelok menyusuri lereng gunung Kelud.

Yogyakarta, 16 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Nasi Tumpang, Bosok Tapi Nendang

18 April 2008

Kepingin makan nasi pecel? Tidak sulit untuk menemukan tempatnya. Campuran sayur-mayur yang diguyur dengan sambal kacang lalu ditambah kerupuk atau peyek, tahu atau tempe, sebagai asesori tambahannya, banyak dijual dan menyebar hampir di setiap kota. Cari saja warung nasi pecel.

Lain halnya kalau mau mencoba makan nasi sambal tumpang atau biasa disebut nasi tumpang saja. Ke kota Kedirilah tempatnya. Bahan dasarnya nyaris sama, yaitu sayur-mayur. Akan tetapi di kota Kediri tempat asal nasi tumpang, varian sayurnya biasanya tertentu, yaitu daun pepaya, buah pepaya muda yang diiris kecil-kecil, kecambah dan terkadang ada tambahan mentimun. Yang beda adalah sambalnya, yang disebut dengan sambal tumpang.

Sepintas sambal tumpang ini mirip sambal pecel, tapi sebenarnya beda. Tidak menggunakan tumbukan kacang melainkan tempe bosok (busuk) yang rasa dan aromanya agak semangit (sangit). Hanya saja busuknya tempe ini bukan sebab tempe basi atau sisa yang sudah beberapa hari tidak laku dijual, melainkan memang sengaja dibusukkan (seperti kurang kerjaan saja…., bukannya makan tempe segar malah ditunggu setelah busuk baru dimasak). Inilah salah satu kekayaan budaya permakanan Indonesia. Anehnya, justru cita rasa semangit yang diramu dengan kencur, serai, daun salam, daun jeruk, bawang merah-putih dan santan, itulah yang diharapkan mak nyusss….

Bagi kebanyakan masyarakat Kediri dan sekitarnya, menu nasi tumpang ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai bekal sarapan pagi yang murah, meriah, bergizi dan hoenak tenan…. Warung nasi tumpang dapat dengan mudah dijumpai di banyak tempat di kampung-kampung atau di pinggir-pinggir jalan. Mirip warung-warung gudeg saat pagi hari di Jogja. Harga sepincuk nasi tumpang cukup murah wal-meriah, sekitaran Rp 2.000,- per porsi kecil.

***

Sarapan nasi tumpang….. membangkitkan kembali ingatan masa kecil hingga muda saya, sewaktu saya masih sering mengunjungi rumah nenek di Kediri. Mbah saya yang tinggal di kampung Banjaran ini setiap pagi buta beliau sudah kluthikan (bersibuk-sibuk) di dapur saat yang lain masih terlelap, untuk persiapan jualan nasi tumpang di depan rumah kecilnya saat matahari menjelang terbit.

Pelanggannya ya para tetangga sendiri, terutama para pegawai dan buruh yang hendak berangkat ke tempat kerja atau pelajar yang mau berangkat ke sekolah. Orang-orang tua, muda, anak-anak, silih berganti dan rela ngantri membeli nasi tumpang barang sepincuk dua pincuk (wadah daun yang berbentuk corongan lebar). “Ritual” pagi ini berlangsung dalam suasana semanak (penuh kekeluargaan), sambil becanda dan saling berbagi cerita ringan keseharian tentang apa saja. Ah, indah sekali….! Khas kehidupan keseharian para akar rumput dalam suasana penuh guyub, guyon, gayeng…..

Simbah memang sudah meninggal enam tahun yll. Namun saat-saat indah bersama simbah itu sepertinya masih lekat di ingatan, setiap kali saya berkunjung ke Kediri. Sebuah kenangan sederhana yang begitu terasa mengesankan…..

Masih terbayang bagaimana simbah meladeni saya dan cucu-cucunya yang lain dengan sabar dan telaten. Menyiapkan nasi tumpang yang disajikan dalam pincuk daun pisang made-in mbah saya sendiri. Lebih khas lagi, masih ada asesori peyek kacang atau ikan teri yang digoreng sendiri, berukuran kecil-kecil dan bentuknya tidak beraturan tapi berasa gurih dan kemripik. Hingga enam tahun yang lalu ketika simbah masih sugeng (hidup), beliau masih suka mengirimi anak dan cucunya sekaleng biskuit kong guan merah berisi peyek kacang dan teri.    

***

Kini, setiap kali saya ke Kediri, menu nasi tumang nyaris tidak pernah saya lewatkan. Rasanya yang khas dengan sambal tempe bosok yang sama sekali tidak terkesan sebagai makanan busuk, bahkan nendang tenan sensasi semangit-nya…..

Seperti seminggu yang lalu saya berkunjung ke Kediri. Meski bukan saat pagi hari, tapi tetap saja yang pertama saya cari adalah nasi tumpang. Salah satu warung nasi tumpang yang cukup dikenal adalah nasi tumpang Bu Wandi yang berada di bilangan jalan Panglima Polim. Warung ini adalah cabang dari warungnya yang sejak lama ada di kawasan Pasar Paing.

Porsi sepiring nasi tumpang Bu Wandi cukup banyak. Tambahan berupa beberapa lembar peyek yang berukuran setelapak tangan orang dewasa semakin melengkapi kekhasan menu ini. Jika kurang lengkap, bisa ditambah dengan gorengan tahu kuning yang diceplus dengan cabe rawit. Sedangkan sambal tumpangnya sendiri biasanya memang sudah cukup pedas.

Tidak puas dengan satu porsi, saya pun masih nambah dengan seporsi lagi sayur dan sambal tumpangnya thok, tanpa nasi. Pokoknya benar-benar puas, puas, puas….. setelah sekian lama tidak menikmati menu ini. Bahkan anak saya yang sebenarnya kurang suka makan pecel saja bisa menghabiskan seporsi nasi tumpang Bu Wandi dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Enak, katanya.

Sesekali di Jogja saya meminta ibunya anak-anak untuk membuatkan sambal tumpang. Tapi ternyata memang semangitnya tempe Jogja yang dibusukkan sendiri, berbeda dengan yang saya rasakan di Kediri.

Ke Kediri aku kan kembali, menikmati nasi tumpang yang benar-benar membuat kenyang dan nendang sensasi semangit tempe bosok-nya…..

Yogyakarta, 18 April 2008
Yusuf Iskandar